[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 1)

You’re my angel the words I want to say so much
You’re my angel as my pain spreads

I need you to hold me steady when I stumble
If you can do that even once
I think I can breathe again

Seorang anak laki-laki turun dari mobil yang dikendarai supirnya. Mereka berhenti di depan sebuah rumah putih, berpagar putih, dan taman yang dihiasi jejeran white lily di sepanjang tangga dan topiari berbentuk dua ekor gajah. Pintu pagar rumah dibuka pelayan dan ia masuk begitu saja, berlarian menaiki anak tangga hingga kepintu masuk demi menemui penghuni rumah tersebut.

“Ji Ryeon-ah!”

Si empunya nama, seorang anak perempuan—berambut panjang dengan poni rata, bando di atas kepala dan pakaiannya manis seperti nona kecil. Ia sedang belajar di ruang keluarga, dan begitu melihat orang yang memanggil, langsung berdiri menyambut.

“Jun Sang!”

Jun Sang mendekat dan menggandeng tangannya. “Ayo kita main!” ajaknya.

Ji Ryeon mengangguk, air mukanya berubah ceria. Tapi saat melihat buku tulisnya masih terbuka di atas meja, ia menolak. “Andwae.”

Wae?” tuntut Jun Sang, “Ayo main denganku!”

“Aku harus belajar. Tugasku belum selesai,” kata Ji Ryeon, kembali duduk dan mengambil pensilnya.

“Ah… itu gampang,” bujuk Jun Sang, “Lihat punyaku saja!”

“Tidak mau!”

Jun Sang garuk-garuk kepala, melihat sekeliling dan rasanya ada yang kurang, “Ibumu ke mana?”

“Ke rumah sakit.”

“Sakit lagi?”

Ji Ryeon mengangguk. Bibirnya jadi agak manyun sehingga Jun Sang gemas melihatnya.

“Mana pr-mu? Sini aku ajarkan.”

Jun Sang ikut duduk di sebelah dan membantunya, dengan cepat mendeteksi kesalahan-kesalahan dalam perhitungan Matematika hasil kerjaan Ji Ryeon.

“Ini salah!” kata Jun Sang, menunjuk angka-angka yang ditulis Ji Ryeon pada nomor 2, “Kau selalu saja terjebak di bagian itu,  kau harus mengalikan yang pertama dulu, baru jumlahkan dengan yang berikutnya. Kalau dengan caramu nanti hasilnya akan beda…”

Ji Ryeon memperhatikan tangan Jun Sang dengan lincahnya menunjuk angka-angka yang ada di buku milik Ji Ryeon.

“Sudah ngerti?”

Ji Ryeon mengangguk kuat, “Aku ngerti! Hehehe…!”

“Kau ini bodoh sekali…”

Ji Ryeon menggertak Jun Sang dengan tinjunya yang mungil, namun Jun Sang sama sekali tidak takut. Ji Ryeon kembali menatap buku pr dan kembali menghitung-hitung.

“…Chae Ji Ryeon… kau mau kan masuk ke SMP yang sama denganku?”

Mwo?”

“Nanti kita akan lulus SD,” jelas Jun Sang spontan, “Kita pilih sekolah yang sama. Lalu kelas yang sama juga!”

Ji Ryeon berhenti menatap bukunya dan berpikir sejenak, lalu menjawab dengan singkat dan lugas sambil membuang muka. “Aku tidak mau…”

“Kenapa tidak mau?” tanya Jun Sang marah.

“Habis kau memaksaku. Aku mau masuk ke sekolah lain saja…”

Jun Sang mengamuk tak percaya mendengar jawaban Ji Ryeon, “Kita sudah berteman sejak TK, kau harus mau—harus! Aku kan ketua kelasmu, jadi kau harus menuruti perintahku!”

“Apa kau bisa selamanya jadi ketua kelas?”

“—Keurae! Aku ini kan lelaki yang terhormat! Keluargaku juga terpandang! Aku bos di rumahku!”

“Aku tidak mau jadi anak buahmu terus-terusan,” jawab Ji Ryeon. “Sekali-kali aku juga ingin jadi bos…”

Jun Sang kecewa. Ia juga tidak mau mengalah dan menyerahkan posisi bos pada Ji Ryeon. “Jadi… kau tidak mau sama-sama lagi?”

Ani.”

Ji Ryeon nyengir ketika melihat Jun Sang tertunduk lesu.

“Yah, sudahlah…” jawab Jun Sang, menghembus nafas panjang. “Aku pulang…”

“—Aku main-main kok! Aku mau!”

Jinjja?” langsung saja raut wajah Jun Sang berubah cerah dan ia nyengir sangat lebar.

Ji Ryeon mengangguk.

“Lalu, kita masuk ke SMA dan universitas yang sama juga ya? Kita juga akan satu kelas lagi kan?”

“Iya! Aku mau sekali!”

Keduanya tertawa.

“Kalau aku lihat kakak-kakak, mereka sangat keren…” tambah Ji Ryeon berseri-seri. “Mereka terlihat pintar, dan sering bicara hal-hal dewasa!”

“Kalau sudah seperti mereka aku juga bisa jadi keren kok!” balas Jun Sang tak gentar. “Jadi kau jangan menyukai mereka, ya!”



“…Kau menyukaiku saja…



“Ng…?”

Jun Sang menggeleng. “Aku tidak mengatakan apa-apa!”

“Jun Sang…”

“Ya?”

“Apa di sana aku akan dapat teman…?” Ji Ryeon memelintir pensilnya dengan cemas. “Bagaimana kalau mereka mengerjaiku lagi…?”

“Kau tidak usah memikirkan mereka—kau kan sudah punya aku!” seru Jun Sang bangkit dengan gaya sok gagah, bertolak pinggang layaknya orang dewasa. “Aku kan temanmu, kalau mereka menjahatimu, aku pasti akan terus melindungimu… Makanya… kita sekolah sama-sama lagi…”

Kali ini Ji Ryeon yang tersenyum senang. Wajahnya yang imut dan menggemaskan membuat Jun Sang sangat suka melihatnya.

“Aku akan menepati janjiku,” sambung Jun Sang sembari mencubit pipi Ji Ryeon. “Makanya kau juga harus janji…”

Ye… aku percaya padamu kok,” jawab Ji Ryeon.

Perhatian Ji Ryeon kembali beralih pada tugasnya yang dari tadi tidak selesai-selesai. Baru saja beberapa detik, Jun Sang memanggilnya kembali.

“Chae Ji Ryeon!”

“Ng—?”

Jun Sang menciumnya secepat kilat. Tepat di bibir. Keduanya masih duduk di Sekolah Dasar. Ji Ryeon sangat kaget dan mematung sedangkan Jun Sang langsung membalikkan badan, meraih ranselnya dan kabur dari sana.

“Aku pulang!” serunya amat malu.

Ji Ryeon ditinggal sendirian. Ia terbengong-bengong melihat Jun Sang berlari sangat cepat keluar dari rumahnya setelah melakukan tindakan yang berani itu. Dan wajah Ji Ryeon jadi sama merahnya dengan wajah Jun Sang…

Di mata banyak orang, Chae Ji Ryeon adalah seorang anak perempuan yang istimewa. Ia cantik dan cerdas, keturunan keluarga yang konon sudah terkenal sejak Dinasti Joseon. Ia berasal dari keluarga berada. Neneknya adalah salah satu pengusaha kosmetik tersukses di Korea, Cherir. Bahkan di antara relasi yang berhasil dibangun, sudah beredar gosip kalau Ji Ryeon akan meneruskan usaha keluarga mereka yang saat ini masih bersekolah di SMA paling prestisius di Seoul, SMA Han Jeong—almamaternya banyak dari universitas yang termasuk lima besar terbaik di Korea. Ji Ryeon sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan segera lulus.

“Chae Ji Ryeon!”

Ia sebetulnya sama seperti murid lain. Berseragam biru tua, memakai kaos kaki dan sepatu, dan menenteng ransel di punggung, tapi rambutnya yang hitam sepunggung diberi hiasan di kedua sisi kepalanya dengan poni seperti helm yang tersisir rapi, serta mata teduhnya (lebih sering disalahartikan memelas) sangat menawan untuk ukuran anak SMA biasa.

“Tunggu aku!” Kang Han Na buru-buru mengejar sampai ngos-ngosan. “Kau jalan cepat sekali…” masih menunduk capek. Setelah mengambil nafas beberapa kali, ia menegakkan kepalanya bersemangat, “—Bagaimana dengan murid kelas 2-4 itu?”

“Siapa?” tanya Ji Ryeon bingung sehingga Han Na jadi cemberut melihatnya, “Oh, dia…”

“Sudah kau pikirkan?”

“Pagi-pagi sudah tanya soal itu…” balas Ji Ryeon. “Harusnya kau bilang, “Pagi yang cerah Ji Ryeon” atau “Apa kau tidur nyenyak?”.”

Haish… kau ini… bukan hanya menarik kumbang dewasa, anak ingusan juga kau sambar…” ejek Han Na. “Apa jawabanmu? Kau tolak lagi?”

“Yah…”

“Dasar sombong. Kau sudah kelas 3, paling tidak terima satu saja.”

“Habisnya, dia masih kecil sih…”

“Adik kelas atau bukan kau tetap saja menolak…”

Mereka naik ke lantai 2 menuju kelas 3-1.

Yoon Jun Sang kebetulan lewat di samping mereka ketika ada di depan pintu kelas. Jun Sang juga murid kelas 3-1. Makhluk tampan yang berdiri tegap setinggi 183 senti, rambutnya cepak, dan punya tatapan tajam yang bisa menjatuhkan derajat orang. Jun Sang terkenal sangat bandel, sering terlibat perkelahian dengan murid lain tetapi prestasinya sungguh mengagumkan. Hanya saja sejak Ji Ryeon datang ke Han Jeong, nilai-nilainya mulai amburadul.

Jun Sang melihat Ji Ryeon sekilas saja. Saat itu ia kembali memalingkan wajahnya dengan dingin, seperti biasanya jika mereka bertemu pandang.

Omo!” Han Na menggelengkan kepalanya dan mereka berdua duduk di kursi masing-masing, “Orang seperti itu bisa jadi ketua kelas?! Aku tidak menyangka…”

“Kau juga memilihnya waktu itu kan?!” Park Min Ah—salah satu anak 3-1, ikutan nimbrung begitu mendengar Han Na mengomel.

“Itu—itu karena dipaksa Dong Il!” jawab Han Na, “Kau sendiri kan juga memilihnya?!”

“Alasanku sama denganmu!” sambung Min Ah. “Untung kau wakilnya, Ji Ryeon…”

Ji Ryeon pura-pura tak dengar apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi matanya melirik ke arah Jun Sang yang pergi keluar setelah meletakkan ransel ke meja yang ada di deretan paling belakang.

“Kalau tidak ada kau, kelas kita pasti berantakan…” bela Min Ah. Tingkah lakunya agak centil kalau Ji Ryeon boleh mengatakannya begitu. Ia suka berkunjung ke salon milik keluarga Han Na untuk merapikan penampilan atau sekedar mengeriting rambut, dan senang menghabiskan uang untuk berbelanja, sedangkan Han Na adalah cewek berbadan kekar dan wajah agak galak yang tidak mensyukuri profesi orangtuanya.

Ya… kenapa kau tidak mau menerima satu saja dari mereka yang pernah menembakmu?” tanya Han Na.

“—Jadi yang kemarin itu mendatangimu benar-benar sudah menembakmu?!” seru Min Ah.

“Tapi ditolaknya,” sambung Han Na. “Dia sedang menghina kita yang tidak pernah ditembak cowok nih…”

“Bukan maksudku begitu…”

“Kalau kau bersikap seperti itu terus, kau akan dikira sama saja seperti Jun Sang,” kata Han Na serius, “Tahu begini, aku tidak heran kalau kalian bermusuhan…”

“Nanti kau dikira punya kelainan orientasi seks—“

“Maksudmu aku lesbi?!” tanya Ji Ryeon marah, “Seenaknya saja…”

“Kalau bukan lesbi, jadi siapa yang kau suka?”

Tepat saat pertanyaan dari Han Na diucapkan, Jun Sang masuk kembali setelah bel berbunyi. Ia langsung mengelak saat Jun Sang sadar dilihat olehnya. Hal yang seperti ini bisa terjadi beberapa kali dalam seharian mereka di sekolah.

Jun Sang kemudian duduk santai dengan memangku sebelah kaki di kursinya.

“Tak ada…”

Biar mereka sekelas, Jun Sang nyaris tidak pernah bicara dengannya. Padahal keduanya terpilih sebagai ketua kelas dan wakil ketua kelas untuk periode tahun ini. Itu gara-gara ulah seorang murid bernama Sung Dong Il yang sengaja mengusulkan mereka sebagai kandidat. Hasilnya, Jun Sang menang seperti biasa dan Ji Ryeon mendapat suara terbanyak kedua.

Tapi usaha Dong Il tidak berhasil. Spekulasi yang beredar mengungkapkan kalau Jun Sang tidak suka pada Ji Ryeon yang merebut posisi murid teladan darinya. Ia berpikir kalau Jun Sang enggan bersaing secara akademis dengan Ji Ryeon.

“Enaknya jadi Chae Ji Ryeon… tak perlu usaha banyak sudah laris duluan—”

Ya, kau benar-benar ingin punya pacar?” tanya Han Na.

Min Ah mengangguk serius.

“Nanti malam jangan lupa datang ya!”

“Nanti malam?” ulang Ji Ryeon. “Kalian mau ke mana?”

“Kita kan pernah sepakat setelah ujian akan bersenang-senang. Aku sudah mengatur acara pertemuan dengan anak-anak SMA tetangga, kalian sudah kuikutsertakan…”

Ji Ryeon ternganga, “…Kenapa tidak bilang dulu?! Kau selalu mengambil keputusan seenaknya, hah? Tidak bisa minta izin dulu kalau mau bawa-bawa aku…?”

Han Na sudah bisa menebak itu yang diucapkan Ji Ryeon, “Biasanya kau menurut…”

“—Aku mau kok!” sela Min Ah.

“Aku tidak mau,” Ji Ryeon menantang.

“Kau harus ikut!” kata Han Na. “Semua biayanya aku yang tanggung. Kau tinggal datang, duduk, dan bicara saja…”

“Tugasku banyak.”

Suneung sudah lewat, kita tinggal menunggu hasilnya saja…!”

“Po—pokoknya tugas rumahku jauh lebih banyak lagi.”

“Apa di rumah kau itu pembantu?” tuntut Min Ah, “Nenekmu mana mungkin menjadikanmu sebagai pelayan—”

“Ah… nanti kita makan di kantin saja!” elak Ji Ryeon, “Ye…? Eh—Ibu Kim sudah datang.”

Han Na dan Min Ah saling pandang. Ada kerutan di dahi mereka.


******


“Meja itu kosong. Kita ke sana.”

Ji Ryeon dan Min Ah menuruti Han Na, tetapi seorang cowok yang tidak disukai Han Na, Sung Dong Il malah menempatinya. Dong Il adalah teman Ji Ryeon sejak TK sampai sekarang, sama seperti Jun Sang. Tetapi ia tetap baik terhadap Ji Ryeon dan selalu menyapanya sambil terkekeh-kekeh.

“Ah…! Han Na-ya!” kata Dong Il senang dan mengajak mereka gabung. Ia merapikan rambut warna coklat mudanya sambil menarik bangku, “Kalian mau duduk di sini?”

Han Na langsung kesal melihatnya, “Tidak jadi! Kita ke sana saja…”

Ji Ryeon jadi kasihan melihat Dong Il yang kecewa namun tidak pernah menyerah mengejar Han Na biar terus-terusan dicuekin seperti tadi.

Mereka berjalan menuju tempat lain, berselang dua meja dari tempat Dong Il duduk. Tapi Chae Nam Hee, anak kelas 1 yang sifatnya lebih parah dari Min Ah sudah keburu lebih dulu duduk di sana dengan teman-temannya.

Ya, Chae Nam Hee…!” seru Han Na, meletakkan nampannya di meja Nam Hee, “Kau pikir kau siapa?! Tidak sopan pada senior… minggir sana!”

Nam Hee yang makanannya masih dalam mulutnya berusaha menjawab perintah Han Na dengan diplomatis, “Kami yang lebih dulu menempati meja ini. Siapa cepat, dia yang dapat…”

Salah seorang teman Nam Hee takut dan berbisik padanya, “Nam Hee-ya… kita pindah saja…”

“Kalian berisik sekali!” teriak Nam Hee sehingga makanannya muncrat-muncrat. “Eonni, cari tempat lain bisa kan? Aku benar-benar kelaparan…”

“Cih… dasar anak kecil tidak tahu senioritas—“

Ji Ryeon memotong ucapan Han Na, “—Tak apa. Kita ke tempat Dong Il saja—”

Bunyi kelontang keras terdengar dari gelas kaca Ji Ryeon yang jatuh ke lantai. Sweater dan roknya basah, sementara itu Jun Sang ada di hadapannya.

Mulai dari Han Na, Min Ah, Dong Il sampai murid-murid lain langsung terdiam begitu sadar apa yang telah terjadi.

“Ji Ryeon-ah…” Min Ah datang menghampirinya. Ia mengambil alih nampan Ji Ryeon dan mencoba mengelap sweater di balik blazernya. “Kau tidak apa-apa kan? Seragammu jadi basah begini…”

“—Ya!” seru Han Na sampai Jun Sang pun ikut tersentak.

“—Biarkan saja,” sela Ji Ryeon.

Nam Hee hanya menonton Ji Ryeon dari bangkunya sambil mendengus geli. Ia punya sedikit niat untuk menolong dan lebih tertarik melihat Ji Ryeon seperti ini.

Mwoya?” Jun Sang keburu mendekati mereka dengan gaya berandalannya yang ditakuti anak-anak lain dan mata mautnya seperti ingin membunuh.

Ya, Yoon Jun Sang!” Min Ah mengibaskan rambutnya yang ikal terawat, “Kau menumpahkan air ke seragam Ji Ryeon. Minta maaf!”

MWO?!” teriak Jun Sang, semuanya kaget.

“Kau menumpahkan air!” kata Han Na memberanikan diri.

“Kenapa harus minta maaf padanya?!”

“Jun Sang, sebaiknya kau minta maaf saja,” sela Dong Il yang berada di belakang Jun Sang, Han Na mengangguk.

Teman-teman Jun Sang yang lain juga datang menyerbu. Han Na dan Min Ah mengira mereka akan dikepung. Tetapi bukannya membela Jun Sang, mereka malah mengkhawatirkan Ji Ryeon.

Nuna tidak terluka kan?”

“Bahaya sekali…”

“Untung gelasnya tidak pecah.”

“Jun Sang…” panggil salah satu teman sekelas mereka, “Minta maaf saja, kan kau yang menyenggolnya—“

“Kenapa malah membelanya?!” seru Jun Sang, “Itu bukan milikku, jadi bukan salahku—”

“Kau—“

“Han Na!” seru Ji Ryeon, ia tahu ini tidak akan baik karena seluruh kantin kini memperhatikan mereka.

“Salahnya sendiri tidak hati-hati…”

Ji Ryeon terus menahan diri untuk tidak meledak di kantin.

Jeosonghamnida.”

“Kalian dengar?” tuntut Jun Sang biarpun juga heran pada Ji Ryeon. “Dia sendiri yang minta maaf, jangan menyalahkan orang lain—”

Nam Hee yang mengintip kejadian ini mendengus menghina Ji Ryeon, pandangannya seolah mengatakan “Eonni, kau tolol.”

“Aku permisi…” sela Ji Ryeon tanpa memandang wajah Jun Sang sedikitpun, sedangkan Han Na dan Min Ah yang tidak tahu harus berbuat apa berinisiatif mengikuti Ji Ryeon.

“Yoon Jun Sang!” seorang wanita dari luar berteriak parau memanggil Jun Sang dan langkahnya berat seperti robot.

“Ji Ryeon-ah,” kata Han Na kelabakan. “Tu—tunggu kami…”

Ji Ryeon pergi dari kantin dengan langkah besar-besar, mungkin ia tidak mendengar Han Na tadi memanggilnya.

“Ah, Chae Ji Ryeon… mana si Jun Sang?” sapa Ibu Kim ramah ketika berpapasan dengannya. Namun saat melihat rok dan kemejanya yang nampak basah dengan tetesan air yang terus menetes, serta ekspresi Han Na dan Min Ah yang kebingungan, ia bertanya “Apa yang terjadi…?”

Ji Ryeon menunduk lalu berjalan lagi. Ibu Kim tidak perlu ragu penyebabnya karena melihat Jun Sang membatu di dekat mereka.

“EAKH!” teriak Jun Sang, pandangannya pada Ji Ryeon buyar ketika Ibu Kim menjewer jambangnya.

Ya, Yoon Jun Sang!” serunya sangat emosi. “KAU INI… IKUT AKU KE RUANG BK!”


******


Ibu Kim membuka pintu ruang BK keras-keras. Ruang itu masih sama seperti yang dilihat Jun Sang dua hari lalu setelah tertangkap basah merokok di kelas; sebuah kursi yang berhadapan dengan dua kursi di seberang meja, susunan kursi yang tidak terpakai, kalender di dinding dan lemari besi yang berisi arsip khusus catatan kelam murid nakal sepertinya. Bagi yang awam dan bermental lemah, ruangan itu adalah bilik hukuman, tapi Jun Sang langganan masuk ke sana.

“Cepat masuk!” perintahnya sambil membanting pintu dengan kuat. ”Duduk!”

“Ibu tidak bosan membawaku ke sini?” tanya Jun Sang, duduk sangat tenang seperti dijamu makan. “Kalau mau ceramah sebaiknya Ibu cari kalimat yang baru—“

“…Ceramah?” ulang Ibu Kim, giginya gemeretakan menahan emosi. “Kau pikir guru itu apa?!—Jangan meletakkan kakimu di meja!”

Jun Sang tidak kaget lagi melihat reaksi Ibu Kim yang hampir tiap hari dilihatnya. Dari kelas satu hingga sekarang, Ibu Kim diberi tanggung jawab mengurus kelas yang ada Jun Sang-nya.

“Aku sudah capek mengurusimu… Kau dan teman-temanmu—semuanya terlalu sulit diatur!”

“Salah sendiri mau jadi guru…” gumam Jun Sang sambil menguap bosan. “Sudah tahu murid di sini bandel-bandel…”

Ibu Kim menggebrak meja dengan tongkat yang berhasil didapatkannya dari belakang lemari arsip, sehingga murid yang ada di luar (dan teman-teman Jun Sang yang sedang serius menguping) terlompat beberapa senti dari lantai.

“Yang menularkannya kan kamu!”

Ibu Kim bertolak pinggang dan berputar-putar bingung mencari kalimat yang sesuai untuk hari ini. Rasanya ratusan omelan dengan isi yang sama sudah dikeluarkannya untuk Jun Sang.

“Antingmu itu,” lirik Ibu Kim ke telinga Jun Sang, “—Cepat kau copot!”

“Nanti saja dilepasnya—“

“Mau kulepas sekalian dengan telingamu?!”

Jun Sang terpaksa menuruti Ibu Kim dan menyimpan antingnya dalam saku. Paling-paling sesudah keluar dari ruang itu ia akan memakainya kembali.

Ibu Kim membuka pintu dengan tiba-tiba dan menyaksikan sekelompok anak bandel tadi menunduk dan sedang mencuri dengar.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!!”

Suara Ibu Kim begitu menggelegar seperti guntur, belum lagi ia membawa tongkat yang bisa saja dilemparkannya ke tampang mereka satu per satu.

“Iblis dataaaaang…..!!!” teriak mereka kalang kabut dan langsung pontang-panting menghilang dari sana.

“Iblis kalian bilang?!” serunya marah sambil mengejar mereka meski tidak ada satupun yang berhasil ditangkap. “Nama kalian sudah ada di daftar hitam! Awas saja nanti!”

Sebelum emosi mereda, Ibu Kim kembali berkonsentrasi pada masalah intinya. Ia berdiri lagi di hadapan Jun Sang dengan menenteng tongkat panjang itu di bahunya.

“Kapan kau mau berubah, hah?” seru Ibu Kim, mengetuk-ngetuk meja dengan tongkat, “Tadi Pak Han menegurku lagi, katanya kau bolos pelajaran dan merokok di gudang belakang dengan anak-anak lain. Kau itu sudah kelas 3 memangnya masih pantas bersikap seperti anak kecil?! Sudah berapa kali kubilang jangan merokok di sekolah! Keponakanku yang masih kelas 1 SD saja tidak separah dirimu…! Kelas 3 kan sudah harusnya kau jadi lebih dewasa! Kau punya tanggung jawab sebagai anak tunggal! Keluargamu pasti berharap banyak padamu—apa kau dengar?!”

“Aku dengar… dengar…!”

“Ini keadaan yang kritis…” Ibu Kim berpikir keras, “Prestasimu dulu sangat bagus, sekarang kenapa hancur-hancuran begitu?! Kau sudah gila? Kalau begini bagaimana bisa meneruskan usaha keluargamu?! Mau terus-terusan jadi preman? Setelah lulus mau jadi mafia?! HAH?!”

Jun Sang lantas menjawab, “Mafia kan pekerjaan juga…”

Ibu Kim berusaha menahan amarahnya lagi. Asal ia bicara, entah alasan apa saja yang dikeluarkan Jun Sang.

“Andai saja aku bisa bicara dengan orangtuamu…” kata Ibu Kim. “Apa mereka tidak bisa datang sekalipun ke sini?! Begitu sibuk dengan pekerjaan sehingga menjenguk anak sendiri saja tidak sempat?!”

“…Ibu tahu sendiri kan orangtuaku bagaimana?” jelas Jun Sang, “Mereka tidak akan datang karena masalah seperti ini. Paling-paling kalau kalian mau memanggil mereka, yang akan datang juga asisten mereka… Lagipula mereka sudah menyumbangkan dana untuk sekolah ini. Jumlahnya pasti tidak sedikit. Jadi menurutnya aku akan baik-baik saja. Itu jaminan dari sekolah kan?”

Ibu Kim menghela nafas lagi. Prihatin terhadap sekolah yang berlandaskan materi dan prihatin pada Jun Sang. Ia hanya sekali melihat orangtua Jun Sang, pada tahun pertama Jun Sang menjadi murid baru di sana, saat sekolah mengadakan rapat orangtua murid.

“Dengar,” kata Ibu Kim capek. “Aku memang tidak tahu apa yang kau lakukan pada Chae Ji Ryeon, tapi aku tahu itu bukan hal yang baik.”

Ekspresi Jun Sang berubah lagi ketika mendengar nama Ji Ryeon.

“Aku belum pernah melihatnya semurung itu. Sepertinya dia menahan diri untuk tidak menangis. Kurasa anak itu sudah mencapai batas kesabaran.”

Jun Sang sudah malas saja kalau Ibu Kim mengungkit-ungkit soal Ji Ryeon yang selalu dibicarakan asal ia masuk ke ruang BK.

“Kau harus minta maaf pada Chae Ji Ryeon,” ujarnya lagi, “Apa kau tidak tahu kalau kau sangat kejam padanya, hah? Kalau kau tidak suka padanya karena prestasinya, jangan memusuhinya. Dia pasti sedih diperlakukan seperti itu oleh teman sendiri, apalagi dia wakil ketua kelasmu. Kalian harusnya bisa bekerja sama—anak ini pada guru sendiri tidak sopan begini… sudah kubilang turunkan kakimu!

Jun Sang menurunkan kakinya lagi.

“Dia murif yang baik, kurasa di sekolah ini hanya kau yang bersikap kurang ajar padanya. Lagipula kalian sudah mau lulus, maka buatlah kenangan yang manis. Setidaknya kalian tidak menyimpan rasa dendam dan kebencian…”

“…Ibu bicara seperti di film-film saja…”

Ibu Kim melihat ada raut tidak suka pada wajah Jun Sang yang biasa keluar ketika bicaranya sudah membosankan.

“Sudahlah!” kata Ibu Kim. “Kau boleh keluar sekarang…”

“Ya…” gumam Jun Sang langsung berdiri, menunduk pada Ibu Kim.

“Jangan lupa pulang ini bersihkan kelasmu dengan Sung Dong Il! Yang lain juga dapat hukuman yang sama di kelas masing-masing!”

“Iyaaaa…..”

“Minta maaf pada Chae Ji Ryeon! Itu yang paling penting! Mengerti?!”

“Iyaaaaaaa…… Ibuuu…. Kiiiim….”

“Tidak usah panjang-panjang!”

Dan sebelum Jun Sang betul-betul menarik gagang pintu, ia berbalik dan berkata pada Ibu Kim.

“Ibu…” panggil Jun Sang nyengir sehingga Ibu Kim curiga, “Kau begitu galak, pantas saja tidak ada lelaki yang berani mendekatimu—“

YAAAAAAAAA! DASAR ANAK KURANG AJAR!” Ibu Kim menjerit, lalu menggebrak meja lagi, Jun Sang cepat-cepat kabur dari sana.

“Oh… kalian masih di sini?” katanya ketika ia sudah keluar sambil mengorek telinga.

Hyung, bagaimana?”

Jun Sang meregangkan otot-otot lehernya, “Biasalah… kena hukum lagi…”

“Ibu Kim betul-betul seperti iblis…”

“Kekuatannya seperti Hercules,” tambah Jun Sang. “Sudah berapa banyak tongkat yang dibuat patah olehnya. Kalau begitu terus sekolah bisa bangkrut…”

“Pantas saja tidak ada yang mau dengannya—“

“KALIAN BILANG APA?!”

“Kedengaran olehnya?”

“TENTU SAJA KEDENGARAN, PABO!”

Jun Sang dan teman-temannya melarikan diri sejauh mungkin dari sana.

Cuap-cuap dari author:

Err… sebenernya ini ff udah dari tahun lalu gw bikin, dan cuma untuk konsumsi temen2 gw. Sempat bakal dimasukin ke blog lain, tapi menurut gw kalo HC bisa nampung apa aja, gw rasa ga masalah diposting ke sini. Cuma mau berbagi hehehe…

Kalo kalian suka fanfic, mungkin kalian bisa baca ini, tapi kalau kalian tidak suka dan tidak mau baca tulisan gw, atau tidak suka gaya penulisan gw, ga masalah😉 just leave it.

Ceritanya di awal agak membingungkan, tapi lama-lama juga bakal clear kok😀

Bagi yang sudah baca, komen ya😀 kritik juga boleh, gw sangat menghargainya ^^

Today’s Song:
Fly to the Sky – My Angel

Photo credit: xdashkax@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on December 13, 2010, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 28 Comments.

  1. akhirnya nongol juga di sini🙂
    buat author fanfic, tetep semangat ya🙂
    btw kapan sambungannya diposting lagi? #gasabar

  2. 이게 읽었어요… Bagus kok ceritanya, aku malah belum baca yang part setelah ini hehehe.. Bisa ga dipostingnya 2x seminggu? Hahahaha ^^

  3. waaah, akhirnya fanfict muncul!
    yaay.. yaaay~! part 2 nya ditungguuuu..

  4. wuah,, sebentar tak maen kesini ada fanfic,, >.<
    critanya bagus kOw,,
    keep writin yaw,,
    cepetan apdet jg,, *digampar gra2 baweL

  5. Ada yang baru lagi di HC \(^_^)/ ceritanya bagus, selamat buat peluncuran perdana fanficnya…..Aku juga suka nulis tapi paling gagap kalo nyari nama Korea (susah euy -_-‘)

  6. purplee, Queen_Bee, Mistly
    thanks atensinya gals😉 ane bakal rajin apdet hehe…

    nama korea bisa dikarang kok🙂 tapi kasus di gw, udah cape2 nyari nama yg langka eh ternyata di korea ada nama itu betulan. capedehhh…

  7. dari awal dah bagus FF-nya buat penasaran..terus berkarya ya .. jempol dah..mau lanjut baca nie…

  8. Haaaaaaaaaaaaaaaiiii~~ akhirnya aq mampir ke postingan ini (walau td baca lwat hape) dan merasa berdosa karena baru sempat hari ini bacanya. Okay! Mari kita review *cough* fanficmu,aq sebagai pembaca fanfic dan bukan sesama author HC disini ^^~~
    Mulai!!!
    Fanficmu adalah tipikal fanfic yang disukai karena menampilkan cerita anak sekolahan, apalagi tokoh utamanya cantik. Aku suka. So far,, aku enjoy bacanya karena ini kayaknya bakalan jadi ff dengan chapter yang banyak jika melihat cerita part 1 yang masih tanda tanya. Ada apa dengan Jun Sang?? Kenapa mendadak jutek?

    Tapi..
    ff ini terlalu panjang dalam satu postingan, sebaiknya saat awal zuyu cut saja antara prolog dan part 1, karena part 1 cukup panjang.
    Prolog akan lebih gereget jika zuyu tidak menyebutkan nama Jun Sang sejak awal. Kalau zuyu nyebutin dengan ‘anak lelaki’ saja, orang akan penasaran dengan siapa sebenarnya teman kecil Ji Ryeon. Jun Sang ataukah Dong il.

    Tapi!! aku tidak berlagak sok ya dalam mengomentari.. ini asli pendapatku sebagai pembaca fanfic. ^^terus menulis, kau akan menjadi ahli karena terbiasa.
    Fighting! *lanjut baca chap berikutnya*

    • onn!!!!!!! gomawo udah komen hehhehe…

      iya, kmaren ane sempet konsul ama dearmarintan onn, katanya ff ane terlalu panjang dan katanya lagi orang ga bakal betah baca di depen kompi lebih dari 3 menit (masi inget, pembelajaran >.<)

      tapi ane udah terlanjur memposting agak panjang
      beberapa part ke depannya udah ane kurangi sih😀

      makasi atas saran dan kritiknya, sangat membantu ane ke depannya

  9. Sssssssseeeeeeemmmmmaaaaaaannnnngggaaaaatttt zzzzzuuuuuuyyyyyyuuuuu!!!!!! *kalo mo protes, protes ke yupina dy yg ngajarin Zuyu LOL

    • YupinaCheonsaHaniya

      Iy deehh..
      Ane stia ko nungguinn…
      heee
      Sssssssseeeeeeemmmmmaaaaaaannnnngggaaaaatttt
      zzzzzuuuuuuyyyyyyuuuuu!!!!!!
      Haa kopi pazta ajja,,,
      Mismissss….
      Dr td kaw bkin ane keleeleeeppppp……
      Huhuhuhu

      • Iya ni lg nunggu donlotan belom selesai trus disini lg g da yg bisa di llllllllleeeeeeelllllllllleeeeeeppppppin jd gangguin Yupina deh ^^V

  10. hehehe… pantesan zuyu pengen jadi script writer drama korea, baca FF-nya bikin gw serasa lagi beneran nonton drama korea… ^^ (lanjut baca part 2 dan seterusnya…)

  11. alwayskpop4ever

    nice ff chingu….

    o iya chingu mampir ke blog ku juga ya…tapi tentang fanfiction kpop

    http://alwayskpop4ever.wordpress.com/

  12. sudah kubaca………………bagus! pasti de juyu membayangkannya tiap adegannya dengan sempurna… tp hati2 kalo pas adegan ciuman hehe…..

  13. Ibu Kim benar2 keren sunbae…
    ㄱㄱㄱㄱ
    Semoga di FF nie sunbae nyeritain dia kawin buat mematahkan stigma yang terlanjur diberikan Junsang!!

  14. Iseng mampir di sini gara2 tahu sama salah satu authornya. Nice FF, penasaran knp tau2 Junsang berubah. Lanjut baca dulu ya~~ ^^

  15. akhirnyaaaaa….ketemu juga ni fic….sumpah nyarinya udh kemana2*lebay* tapi kenapa link yg lain’y ga bisa dibuka???
    aduuuuh author….dimana bisa baca ini??T^T
    Jun Sang kenapa jadi bandel kya gitu ya…?apa ada masalah ma Ji Ryeon?

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (part 2) « Hallyu Cafe

  2. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 3) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: