[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 2)

I wanna be with you
There’s nothing more to say
There’s nothing else I want more than to feel this way

Ketika istirahat usai dan murid lain sudah masuk ke dalam kelas, Ji Ryeon masih berada di halaman belakang sekolah di dekat deretan wastafel sambil menunggu sweaternya kering. Nodanya susah dihilangkan, ditambah lagi kecerobohannya bengong padahal air terus-terusan disiramkan ke bagian yang terkena noda, jadilah bajunya benar-benar dua kali lipat basah sampai merembesi kemeja dan rok sekolahnya, airnya sampai menetes-netes ke tanah.

Ji Ryeon duduk di tepian deretan wastafel sambil menatap langit. Ia menarik nafas dalam, kemudian dihembuskannya lagi seperti tidak punya semangat hidup.

“Chae Ji Ryeon… hidupmu di Seoul tidak baik,” gumamnya. “Mungkin sebaiknya kau kembali ke kampung…”

Waktu menegakkan wajah, Ji Ryeon melihat seseorang berdiri di dekatnya dengan gaya yang angkuh. Mulanya ia tidak mau bicara, tapi Jun Sang masih ada di sana dan tidak mau pergi.

“Ada apa? Mau cari masalah lagi?” tanya Ji Ryeon mencoba dingin seraya mengipas-ngipas kemejanya. “Tapi kau salah tempat…”

Ya!” bentak Jun Sang, kemudian suaranya memelan. “…Aku ke sini mau minta maaf…”

Ji Ryeon tidak menyangka Jun Sang akan berkata seperti itu, namun ia masih kesal karena kejadian siang tadi.

“Aku sudah minta maaf. Aku yang salah…”

Sejenak Jun Sang bingung mau berkata apa. Ia membuka mulutnya dan menutupnya lagi. Tapi karena merasa begitu direndahkan, Jun Sang berteriak sambil mendekatinya dengan kalimat apa adanya.

“Aku mengaku salah!” seru Jun Sang, “Kau tidak perlu minta maaf—sudah puas?!”

Sekarang Ji Ryeon yang tidak mau menjawab. Jun Sang kelihatan tidak berniat sepenuhnya padanya.

“Apa kau tak pernah bisa menghargai niat baik orang?” tanya Jun Sang. “Aku kan sudah minta maaf, kau dengar tidak?!”

“…Aku sama sekali tidak menyalahkanmu…”

“Cih…” dengus Jun Sang.

“Kau ke sini karena dipaksa Ibu Kim kan?”

Mulut Jun Sang tertahan lagi. “Bagus kalau sudah tahu,“ jawabnya, “Aku tidak perlu diam-diam lagi. Memang benar aku dipaksa…“

“Kau tidak perlu menuruti Ibu Kim…” kata Ji Ryeon, “Kalau tidak mau, ya tidak usah. Begitu lebih baik…”

“Kau memang hebat, Wakil Ketua Kelas—! Mendengar permintaan maaf saja tidak mau—”

Kalau otak Ji Ryeon isinya air, pasti sudah mendidih. Ia lelah. Kalau ia tidak dicuekin, pasti dibentak-bentak seperti ini. Jun Sang selalu begitu padanya.

“Yoon Jun Sang,” panggilnya, “Aku tidak mau cari masalah denganmu… kenapa kau tidak pernah baik padaku? Kau pikir aku suka diacuhkan begitu saja?”

Ji Ryeon menarik nafas, menghembuskannya pelan. Jangan cepat naik darah. Jangan cengeng. Jangan gugup. Ia ingin memastikan kalimat berikutnya benar-benar bisa didengar oleh Jun Sang.

“Maaf… maafkan aku…”

Jun Sang menatapnya heran, dan tidak mempercayai bagaimana bisa Ji Ryeon berkata dengan suara seperti itu padanya.

“Kurasa, aku membuatmu sangat terluka. Mungkin kau tidak akan pernah memaafkan aku. Tapi sekali lagi, maaf—”

“Ji Ryeon-aaahhh…!” panggil seorang anak perempuan dari balik tembok, “Ayo masuk!”

“Han Na…” kata Ji Ryeon. Timing Han Na tidak tepat.  “Bukannya sudah masuk kelas dari tadi?”

“Aku menjemputmu,” jawab Han Na, menatap Jun Sang dengan rasa tidak suka yang amat sangat. “Ngapain kau?”

“Bukan urusanmu!” seru Jun Sang langsung pergi dari sana.

“Huh!” dengus Han Na. “Apa dia datang ke sini mau cari gara-gara lagi?”

“Tidak ada yang mau cari gara-gara.”

“—Eh, apa dia bakal mengumpulkan pasukannya untuk mencegatmu pulang sekolah nanti?”

“Tidak mungkin begitu,” balas Ji Ryeon, pergi dari sana sambil merapikan pakaiannya. “Pikiranmu tidak pernah jauh-jauh dari situ…”

“Jadi untuk apa ke sini?” Han Na benar-benar penasaran, matanya mendelik khas ingin sekali tahu.

“Tidak ada.”

“Hah!” dengus Han Na. “Jelas-jelas dia bicara padamu sampai teriak-teriak begitu kau masih membelasnya?! Ya… apa otakmu kemasukan air cucian atau apa?”

“Mana aku tahu! Mau kemasukan air cucian atau air kaldu memangnya tidak boleh?! Kau ini banyak sekali tanya…”

Haish… kau hari ini benar-benar emosian…” jawab Han Na menghindari Ji Ryeon dan menyilangkan kedua tangannya. “Pasti gara-gara si Jun Sang itu…”


******


Jam sekolah usai. Ji Ryeon, Han Na dan Min Ah sudah berada di luar gedung sekolah. Han Na tidak mau ngomong apa-apa lagi karena ia tahu kalau Ji Ryeon sudah marah seperti tadi sebaiknya tidak usah diganggu. Namun Han Na benar-benar tidak tahan untuk tidak mengeluh saat Jun Sang lewat di dekat mereka dengan sepeda motornya, hampir menyerobot Ji Ryeon yang berdiri di samping jalan.

“Lihat, sombong sekali…” kata Han Na, kakinya menendang kosong ke arah Jun Sang. “Lebih baik pulang dari sini tertabrak saja dia—”

Ji Ryeon tetap diam setelah mendapat perlakuan seperti itu. Sebagai teman dekat, yang membuat Han Na selalu sebal padanya adalah sikap Ji Ryeon yang keras kepala tapi kadang bisa juga sangat pasif, seperti gunung berapi yang tidak aktif tapi bisa mendadak meletus tanpa peringatan.

“—Itu ada tteokbokki…”

Ji Ryeon menghampiri bibi penjual makanan ringan langganan murid-murid yang berdagang di luar pagar sekolah.

Ahjumma, tteokbokkinya 3 porsi,” kata Ji Ryeon.

Ji Ryeon dan Han Na mengambil masing-masing satu piring kertas yang diberikan bibi itu.

Ya, Park Min Ah,” kata Han Na yang memperhatikan Min Ah sangat lahap, “Kau makan tiada henti seperti itu…”

“—A… air!” seru Min Ah tersedak.

Ji Ryeon memukul punggung Min Ah dan mengulurkan segelas air padanya. Setelah minum, Min Ah makan lagi.

“Di sini kau ditindas Yoon Jun Sang, di rumah ditindas Siluman Ular,” balas Han Na, “Apa kau tidak merasa ingin lari?”

Ji Ryeon menggeleng, “Aku tidak pernah ditindas. Nam Hee baik padaku.”

“Eh, Ji Ryeon, kenapa kau selalu sabar disepelekan oleh adikmu itu?” tanya Min Ah, “Kalau aku melihatnya tanganku mendadak panas, aku jadi ingin menamparnya… rasanya ingin kujambak rambutnya itu…”

Ya… kau begitu penurut pada adikmu yang sok itu…” sambung Han Na. “Tapi tadi kau melawan Jun Sang. Aku heran padamu, pada anak perempuan saja tidak berani… apalagi dia lebih muda, kalau ibunya marah, kau kan punya nenekmu…!”

Ji Ryeon diam sambil merogoh dompetnya dan memberikan selembar uang seribu won. Ketika ada bus yang berhenti, ia naik dan duduk di tempat yang kosong. Min Ah bersama Han Na, sedangkan Ji Ryeon duduk di belakang mereka.

“Ji Ryeon-ah…” kata Han Na membalikkan tubuhnya ke hadapan Ji Ryeon dan irama suaranya sangat ketahuan sedang berharap-harap cemas.

“Sampai kapanpun tidak akan.”

Han Na tersinggung, “Tapi aku belum bilang apapun—“

“Aku sudah tahu maksudmu.”

“Oh ya…?” balas Han Na tertawa, “Chae Ji Ryeon, selain pintar di pelajaran ternyata kau juga pintar menebak-nebak ya…”

Han Na menyenggol-nyenggol lengan Min Ah untuk membantunya.

“Benar sekali!” tambah Min Ah, “Apa kau punya bakat meramal? Aku jadi ingin diramal olehmu deh… kau sangat hebat, aku salut padamu—“

“Cara kalian sama sekali tidak berhasil…”

“Ayolah… pergi dengan kami ya?” bujuk Min Ah dengan lebih manja. “Mau ya? Kumohon…”

“Kan sudah jutaan kali kubilang aku tidak mau…” jawab Ji Ryeon.

“Kau itu—kapan mau menuruti keinginanku sekali saja?!” seru Han Na, persis ibu-ibu memarahi anaknya yang bandel ingin minta dibelikan mainan baru.

Ya…” balas Ji Ryeon, “Kalian… memangnya tidak tahu setiap manusia punya hak masing-masing…”

“Apa sulitnya membantu teman yang sedang susah?”

“Kalian mau bersenang-senang di sana, bagian mana yang susah?”

“Makanya yang bersenang-senang kan bukan cuma kami,” kata Min Ah, “Kami juga mengajakmu kan…?”

“Tidak.”

Senyum Han Na dan Min Ah yang sempat merekah kembali hilang tak bersisa. Ji Ryeon akhirnya mau melihat wajah mereka setelah lama memandang ke luar jendela.

“Kita sudah mau lulus. Masih ada yang lebih penting daripada pertemuan tidak penting seperti itu. Kalau tidak lulus, bagaimana? Persiapkan mental dari sekarang…”

“…Chae Ji Ryeon… Murid Teladan… Wakil Ketua Kelas…!”

Ji Ryeon jengkel mendengar Han Na memanggilnya dengan beberapa sebutan dari anak-anak sekolahnya, terutama panggilan yang terakhir itu, membuatnya teringat pada Jun Sang.

Ya… tidak bisa kau manfaatkan kesempatan yang ada untuk bersantai?” sambung Han Na, “Lagipula, ini pertemuan untuk 3 orang. Jumlah kita sudah pas, kalau kurang satu kan aneh. Ke mana rasa toleransimu pada sahabat sendiri?”

Toleransi apanya kalau selalu membuatnya terjebak masalah…

“Besok hari Minggu, kau pasti tidak punya kegiatan apapun… hari ini kita main sampai tengah malam.”

Ji Ryeon tetap pada pendiriannya.

“Kau kenapa sepelit itu pada kami?”

“Ayolah, Ji Ryeon!” Han Na ikut mendukung Min Ah. “Aku juga selama hidup sebagai remaja belum pernah ke acara itu. Kalau tidak ada kau, kami bisa malu. Wajah kami yang sudah dari lahir jelek ini mau kami ke manakan?”

Min Ah menatap Ji Ryeon dengan tampang memelas yang sulit ditolaknya.

“Ji Ryeon tolong aku dong… resolusiku tahun ini bisa gagal… setidaknya kabulkan saja satu permohonanku… selama ini aku memang merepotkanmu, tapi kalau nanti aku benar-benar dapat pacar, aku tidak akan menyeret-nyeretmu lagi kok…”

“—Aku… nanti kupikirkan lagi deh…”

Han Na dan Min Ah kembali berseri-seri, mereka malah bertepuk tangan.

“Wah… bagus…! Bagus sekali…!” kata Min Ah, “Itu baru betul!”

“Nah… itu sifat teman yang suka menolong…!”

“Tidak perlu memuji,” sela Ji Ryeon, “Sudah senang kan…? Kalian betul-betul memerasku…”


******


Chae Ji Ryeon dan keluarga besarnya sedang makan malam di ruang makan. Ada neneknya, bibinya, dan Nam Hee. Suami Geum Ga—anaknya Nenek, sudah meninggal dunia karena kanker otak.

Di tengah-tengah makan malam buatan Geum Ga, Nenek tiba-tiba batuk keras saat minum air.

Halmeoni, tidak apa-apa?” tanya Ji Ryeon.

“Tidak apa-apa…” jawab Nenek, mengambil tisu yang diberikan Ji Ryeon.

“Apa airnya tidak higienis?” balas Geum Ga yang berniat memanggil salah satu pelayan.

“Sudahlah…” sahut Nenek, masih kepayahan dengan batuknya yang kian parah, “Namanya juga penyakit tua…”

“Nenek akhir-akhir ini sering sakit…” balas Nam Hee, “Apa sebaiknya tidak ke dokter saja?”

“Benar, Ibu,” kata Geum Ga, “Ibu selalu menolak pergi ke dokter…”

“Aku tidak apa-apa,” jawab Nenek, “Yang penting saat ini adalah hasil ujian Ji Ryeon. Kalau kau berhasil, aku akan sangat bangga punya cucu sepertimu…”

Ye,” jawab Ji Ryeon. Tentu maksud Nenek kalau gagal dalam suneung maka mereka sekeluarga akan kehilangan muka.

“Kau sudah belajar dengan rajin, aku yakin kau akan dapat yang terbaik,” sambung Nenek, “Selama ini kau selalu membanggakan…”

Nam Hee yang melihat Ji Ryeon terus yang dipuji malah merengek pada ibunya.

Eomma…” kata Nam Hee manja, “Nanti aku akan pulang malam.”

“Kau butuh uang?” tanya Geum Ga.

Nam Hee mengangguk, “Seperti biasa.”

“Jangan terlalu boros,” sela Nenek, “Apa di sekolahmu tidak diajarkan seperti itu?”

Nam Hee tidak menjawab. Ia menunduk, wajahnya langsung kelihatan memerah malu dan jengkel.

“Keluarga kita membangun bisnis dari nol,” sambung Nenek. “Kau yang masih kecil mana tahu susahnya bekerja.”

“Ibu, biarkan Nam Hee sekali-kali,” kata Geum Ga membela anak tunggalnya itu. “Dia kan bosan di rumah saja.”

“Sekali-kali? Bosan apanya? Di rumah segalanya sudah terpenuhi,” kata Nenek begitu galak. “Kau juga membiarkannya keluar tengah malam. Apa kau bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya nanti? Bagaimana kalau anak kesayanganmu ini kenapa-kenapa di luar?”

Geum Ga tidak bisa lagi menjawab, ekspresinya sama seperti anaknya.

“Nam Hee-ya,” tegur Nenek, “Kau contoh kakakmu ini. Dia belajar tiap malam dan hasilnya bisa kita lihat. Memang apa saja kerjamu di sekolah?”

Eomeonim!” sela Geum Ga. “Jangan berkata kasar begitu…”

“Kasar…? Itu kenyataan…” balas Nenek. “Dia sudah bukan anak-anak lagi. Jangan kebanyakan main kalau mau sukses. Nanti kau juga akan bekerja, turun langsung ke masyarakat. Kalau kau begini terus, kau akan kumasukkan les privat lagi. Kau mengerti, Nam Hee?”

Nam Hee mengangguk singkat, tetapi sebetulnya sudah naik darah. Ia bangun dan keluar dari ruang makan sebelum menyelesaikan makannya dan berjalan dengan langkah yang kuat dan besar-besar, sampai Bibi Hyo Min—pelayan rumah mereka—yang membawa teko air, hampir ditabraknya.

“Nam Hee, kau mau ke mana, Nak?” tanya Geum Ga cemas. “Nam Hee-ya…!”

“Biarkan saja dia begitu,” sambung Nenek tanpa menatap Geum Ga. “Kau juga harusnya introspeksi diri. Bukannya menjaga anakmu, malah membiarkannya bertingkah…”

“Ibu kenapa bersikap seperti itu pada Nam Hee?!”

“Dia patut diberi pelajaran. Kau tidak ingat tiga hari lalu dia pulang mabuk-mabukan?! Untung aku sudah menyita mobilnya, kalau tidak apa jadinya dia?!”

“Zaman sekarang anak remaja kan wajar-wajar saja berlaku seperti itu—“

“Wajar?” tanya Nenek, “Kau lihat Ji Ryeon, apa dia pernah berbuat aneh? Pergaulan macam apa yang diterima anakmu…”

Geum Ga juga langsung kabur dari sana tanpa basa-basi sehingga Nenek hanya geleng-geleng kepala. Sebelumnya ia sempat melempar tatapan dingin pada Ji Ryeon. Menurutnya, dan menurut Ji Ryeon sendiri, kehadirannya membawa suasana keluarga Chae jadi tidak harmonis lagi. Ji Ryeon memang tidak tahu bagaimana kondisi mereka sebelum ia datang ke sana, namun sepertinya tidak sejelek yang sekarang.

“Ji Ryeon-ah…” panggil Nenek. “Jangan bengong. Biarkan saja mereka seperti itu. Nanti juga kembali seperti biasa…”

Ye.”

“Walaupun adikmu itu nakal dan susah diatur, tapi dia punya sifat baik sepertimu,” kata Nenek pada Ji Ryeon. “Hanya saja, dia terlalu manja untuk anak seumurannya.  Sudah saatnya dia bersikap dewasa.”

“Ye, halmeoni.”


******


Geum Ga mengetuk pintu kamar Nam Hee yang dikunci dari dalam. Nam Hee memang selalu ngambek seperti itu kalau permintaannya tidak dituruti. Biasanya Geum Ga akan membujuknya dan akhirnya harus mengalah pada Nam Hee.

“Nam Hee-ya…” panggil Geum Ga, “Ibu boleh masuk ya, Nak?”

Nam Hee dari tadi memainkan jam weker klasik berbingkai kuningan miliknya, ia tidak mau menjawab, telungkup di kasur sambil menutup telinganya dengan bantal.

“Nam Hee…”

Akhirnya di panggilan kedua Nam Hee membuka pintunya. Yang pertama itu hanya untuk menguji ibunya. Nam Hee kembali melempar diri ke ranjang dengan keras dan tidak mau melihat Geum Ga yang duduk di sampingnya.

“Biarkan saja Nenek dan Ji Ryeon,” kata Geum Ga, “Kau kan masih diizinkan pergi, nanti uangnya Ibu yang berikan—”

Nam Hee tidak mau bicara.

“Nenekmu kan sudah biasa seperti itu,” ujar Geum Ga mengelus-elus kepala Nam Hee, “Lagipula Nenek sudah tua, pasti tidak akan ingat lagi apa yang dikatakannya padamu. Nanti juga marahnya reda sendiri.”

“Tetap saja aku tidak bisa terima!” kata Nam Hee, “Mentang-mentang Kakak pintar dan lebih tua dariku! Mau masuk universitas favorit ya masuk saja, memangnya aku tidak bisa?!”

Geum Ga tahu Nam Hee sangat iri pada Ji Ryeon, tetapi mau tak mau harus mengakui kalau keponakannya lebih cerdas dibanding anaknya sendiri.

“Di sekolah selalu saja Kak Ji Ryeon yang dibicarakan!” kata Nam Hee, dengan mata berkaca-kaca, “Tiap hari teman-temanku selalu memujinya! Aku capek dengarnya! Rasanya ingin pindah saja dari sana!”

“Masa kau tidak bisa sabar?” kata Geum Ga. “Sebentar lagi Ji Ryeon akan lulus…”

“—Apa Ibu tidak panas mendengar eonni terus yang dibanggakan?!” balas Nam Hee, “Ibu tidak pernah diperlakukan seperti aku ya? Coba kalau Ibu jadi aku, memangnya bisa tahan kalau lihat aku terus yang disalahkan—?!”

“Nam Hee-ya… jangan bicara soal Ji Ryeon lagi. Yang penting kau kan sudah bisa pergi. Persiapkan dirimu… nanti Ibu beri uang…”

Nam Hee masih tutup mulut. Ia tidak puas kalau tidak mencurahkan seluruh kekesalannya.

“Nam Hee,” panggil Geum Ga, “Kau tidak mau pergi? Betulan? Ya… Nam Hee…? Ya sudah, kesempatan tidak datang dua kali.”

Nam Hee perlahan-lahan menoleh pada ibunya, “Aku boleh pergi…?”

Ye!”

“Hehehe… eomma memang paling baik sedunia!” puji Nam Hee sambil memeluk-meluk Geum Ga.


******


Ji Ryeon berada di dalam kamarnya yang dulunya adalah milik ibunya. Kamar itu seperti kamar seorang putri, wallpapernya bermotif bunga-bunga lembut dan perabotnya dari kayu ukiran klasik warna krem. Baju seragamnya yang baru dicuci tergantung di gagang pintu balkon. Ada lukisan ibunya waktu masih remaja terpampang besar di dinding di depan ranjang. Wajahnya dengan wajah Ji Ryeon memang mirip. Orang akan merasa jika memandang Ji Ryeon akan teringat Eun Young, terutama pada mata. Mata yang berbentuk bulan sabit jika mereka tersenyum.

Lukisan itu hingga sekarang tidak dilepas. Ia pikir, Nenek pasti sangat sayang pada Ibu.

Karena sakit akibat banyak bekerja, ibu Ji Ryeon meninggal dan ia pindah bersama Bibi Ga In ke Jinju. Akibatnya Ji Ryeon dengan terpaksa tidak bisa menepati janjinya pada Jun Sang, bahkan ia tidak mengucapkan kata perpisahan dan menghilang begitu saja. Ji Ryeon menyadari kesalahannya dan bisa maklum kalau sampai sekarang Jun Sang mendiamkannya mungkin karena hal itu, namun sampai sekarang Ji Ryeon tidak punya kesempatan yang baik untuk minta maaf padanya.

Ia duduk di depan meja belajar dan mengambil buku sketsa dari dalam lacinya. Saat baru setengah jalan menggambar bagian leher pada blus untuk musim semi, perhatian Ji Ryeon terarah pada foto dalam bingkai lucu di depannya, dengan sebuah medali emas tergantung pada bingkai itu. Ji Ryeon memegang medali tersebut, kemudian tersenyum melihat dua sosok anak kecil yang berpose di arena pertandingan taekwondo.

Anak laki-laki yang merangkul seorang anak perempuan itu adalah Jun Sang, bahkan waktu kecil ia juga tampan dan percaya diri. Jun Sang memakai dobok (seragam taekwondo) dan sabuk merah. Ia lebih tinggi beberapa senti dari Ji Ryeon. Di leher Ji Ryeon tergantung medali emas yang sama dengan yang dipegangnya sekarang. Itu adalah hadiah kemenangan yang diberikan Jun Sang untuknya.

Keduanya tersenyum penuh sampai gigi-gigi mereka kelihatan, senyum yang sekarang tidak lagi mereka nampakkan pada satu sama lain.

Ya, Chae Ji Ryeon…!” serunya sambil menyentil Ji Ryeon kecil di foto itu. “Apa kau sudah gila…? Kenapa foto ini masih kau simpan…?”

Ji Ryeon yang tadi melotot, raut wajahnya sekarang berubah lembut.

“…Memangnya… bagus sekali ya…?”

Pendapatnya secara pribadi, mungkin kejiwaannya sedikit terganggu.

“Chae Ji Ryeon…” gumamnya lagi, kembali melotot. “Apa kenangan yang dulu itu begitu indahnya…? Sampai kau tak bisa melupakannya? Hah? Ayo katakan!”

Ia diam lagi dan menyimpan jawabannya dalam hati. Lalu mulai bicara kembali dengan perasaan malu pada diri sendiri.

“Apa kau… kau suka padanya…? Kau masih suka padanya hingga sekarang…?”

Ji Ryeon memandang Jun Sang kecil di foto itu, namun teringat Jun Sang yang kini sudah beranjak dewasa, Jun Sang yang jauh berbeda. Tidak seperti Jun Sang yang dulu suka senyum-senyum di depannya, bertengkar dengannya, memeluknya tiba-tiba, mencium pipinya dengan iseng, suka melarang-larangnya dan menemaninya kalau sedang sedih.



“…Joa…?”



Ji Ryeon tersenyum, setengah melamun, suaranya sangat kecil dan pelan ketika mengucapkan kata ‘suka’.

Ia teringat kejadian hampir dua tahun lalu ketika pertama kali mereka bertemu kembali setelah berpisah sejak lulus SD. Waktu itu Ji Ryeon yang masih jadi anak baru sedang berjalan di lobi depan. Kebetulan Jun Sang lewat dan tidak sengaja menyenggolnya. Sejak itu Jun Sang memang sering sembarangan menabraknya di sana, entah disengaja atau tidak, Ji Ryeon tidak tahu.

Jun Sang berbalik menatap Ji Ryeon. Ia kaget setengah mati melihat Ji Ryeon ada di depan matanya. Namun Ji Ryeon tidak menyadari eskpresi Jun Sang yang seperti melihat hantu itu.

“…Yoon Jun Sang…?” tanya Ji Ryeon agak ragu begitu melihat Jun Sang. “Kau… Yoon Jun Sang kan…?”

Jun Sang tidak menjawab, lebih tepatnya tidak mampu menjawab karena terlalu kaget.

“Apa masih ingat aku?” tanya Ji Ryeon antusias karena sepertinya ia benar. “Aku Chae Ji Ryeon! Temanmu waktu kecil!”

“Kau salah orang.”

Jun Sang tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau ia masih ingat Ji Ryeon yang sedang tersenyum dan menyapanya dengan ramah.

“Kau… bukan Yoon Jun Sang?” tanya Ji Ryeon, mimiknya langsung berubah.

“Aku tidak kenal denganmu,” jawab Jun Sang ketus.

“Ah… maafkan aku sudah sok tahu,” balas Ji Ryeon menunduk malu, “Habis… kau mirip sekali dengan sahabatku. Joesonghamnida! Joesonghamnida!

Ya, Jun Sang!” panggil suara laki-laki dari luar gedung dan datang menghampiri Jun Sang. “Tunggu aku!”

Ji Ryeon dengan jelas mendengar suara itu menyebut-nyebut nama Jun Sang. Tapi bagaimana bisa ia salah orang kalau memorinya waktu kecil tidak berubah hingga sekarang? Bagaimana bisa Jun Sang bilang tidak mengenalnya padahal mereka sudah bertahun-tahun berteman akrab…

“Siapa perempuan ini?” tanya si laki-laki yang umurnya kira-kira sebaya Jun Sang, memperhatikan sosok Ji Ryeon dengan seksama, lalu ia menunjuk-nunjuk Ji Ryeon sarat akan kepastian. “Lho? Kau kan, Chae Ji Ryeon…? Yang paling sering nangis itu kan?”

“Apa… kau Sung Dong Il?” balas Ji Ryeon. “Dong Il kan?!”

“Kau masih ingat padaku?” kata Dong Il senang, mereka berdua saling berpelukan dan malah melompat-lompat saking senangnya. Dong Il menepuk-nepuk punggung Ji Ryeon sampai beban Ji Ryeon rasanya berat sekali. “Hahaha! Kupikir kau hanya ingat pada Jun Sang… hahaha… Baguslah kau tidak lupa padaku!”

“Tentu saja aku masih ingat…” jawab Ji Ryeon yang berharap kalau Jun Sang akan bersikap seperti Dong Il.

“Apa kau juga di sini?” tanya Dong Il memperhatikan pakaian Ji Ryeon, “Kulihat seragammu sama dengan seragam siswi di sini. Tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Oh… begini…” kata Ji Ryeon. “Sebenarnya mulai hari ini aku jadi murid baru di sini. Mohon bantuannya.”

“Baguslah! Dulu kau tak kunjung datang, Jun Sang terus menunggumu—”

“Dong Il!” seru Jun Sang tampak marah. Ji Ryeon terlonjak kaget mendengarnya. Ia takut dan tidak menyangka Jun Sang bisa bersuara keras begitu.

“Lho, kenapa?” tanya Dong Il heran, “Apa kau malu? Dari dulu kau kan naksir padanya.”

Jun Sang tidak menjawab. Tampangnya bete sekali.

“Jun Sang,” kata Dong Il cengar-cengir, mendorong-dorong Jun Sang untuk mendekati Ji Ryeon. Tetapi Jun Sang tidak suka tindakannya dan melepaskan tangan Dong Il. “Kenapa kau diam saja? Jun Sang, ayo peluk dia! Cium dia!”

“APA?!”

“Dong Il, kau sepertinya sudah keterlaluan…” kata Ji Ryeon yang berusaha memaklumi tingkah Jun Sang. “Aku… tidak masalah kok…”

“Bukankah kau juga rindu padanya?” tanya Dong Il pada Jun Sang.

“Masuk,” kata Jun Sang, sama sekali tidak mempedulikan Ji Ryeon. “Kita sudah telat.”

“Tapi Ji Ryeon kan teman kita juga—”

“MASUK!”

“B—Baik, baik!” Dong Il menurut dan garuk-garuk kepala. “Ji Ryeon, kami pergi dulu, sampai jumpa lagi—“

“Tunggu sebentar!” balas Ji Ryeon nyaris saja lupa, “Anu… ruang guru ada di mana?”

“Oh! Kau lurus saja di koridor ini nanti ketemu sendiri,” jawab Dong Il, “Semoga kita bisa sekelas lagi! Dan hati-hati kalau ketemu Iblis Kim!”

Ji Ryeon mengangguk dan melambaikan tangannya pada Jun Sang dan Dong Il yang menaiki dua-tiga anak tangga dalam sekali langkah.

Ia sedih melihat sikap Jun Sang. Padahal Ji Ryeon begitu bahagia bisa mendengar suaranya yang berubah berat, melihat wajahnya, badannya yang tinggi… Padahal salah satu tujuannya ke Seoul adalah untuk menemuinya lagi kalau mereka memang bisa bertemu. Memang beruntung, atau mereka ada jodoh. Tetapi bukan yang seperti ini yang diinginkannya. Ekspektasinya jauh di luar kenyataan.

Sesuai harapan Dong Il, Ji Ryeon memang dipindahkan ke kelas mereka. Saat itu Ji Ryeon masih berharap Jun Sang bisa sedikit peduli padanya, setidaknya ia tidak perlu seacuh yang sekarang. Namun setelah berhari-hari dan sudah setahun lebih lamanya, Jun Sang bagaikan orang lain. Ji Ryeon memutuskan untuk melupakan apa yang dulu pernah terjadi, apalagi waktu itu mereka masih anak-anak.



Jadi, apa sekarang Ji Ryeon masih menyukainya?


Tentu saja.


Ji Ryeon sangat menyukai Jun Sang. Jun Sang mengacuhkannya, ia tetap suka, Jun Sang membencinya sekalipun, ia tetap suka. Jun Sang adalah orang yang paling disukainya selain ibunya.

Tetapi Jun Sang yang tadi sore menyebutnya seperti biasa—Wakil Ketua Kelas, kembali membangkitkan amarahnya. Biarpun Ji Ryeon punya salah padanya, apa ia harus seperti itu sampai bertahun-tahun tanpa mau tahu sebabnya? Toh ia juga sudah kembali lagi ke Seoul. Menurut Ji Ryeon, akan lebih bijak kalau Jun Sang menghentikan perseteruan mereka.

Ji Ryeon meletakkan bingkai foto itu kembali ke tempatnya setelah mengelap permukaan kacanya dengan pasrah, meski tiap hari ia juga mengelapnya sampai-sampai kacanya jadi begitu bersih, lebih bersih dari tempat lain yang ada di kamarnya. Lalu ia kembali memusatkan perhatian pada buku gambarnya.

“Ck…” dengusnya ketika menekan goresan pensilnya keras-keras ke atas buku sampai kertasnya hampir berlubang. “Ya sudah… untuk apa kuingat lagi soal yang itu…”

Satu pesan dari Han Na masuk ke ponsel Ji Ryeon yang sedang di-charge, membuyarkan lamunannya. Dan isinya membuat Ji Ryeon tambah jengkel.

Chae Ji Ryeon, kami menunggumu di halte biasa jam 8.30 malam ini. Kalau tidak datang, persahabatan kita putus!!

Kang Han Na yang baik hati

Ji Ryeon meletakkan kembali ponselnya lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Dasar…! Mereka semua memang tukang paksa,” katanya. “Memangnya siapa yang mau pergi ke acara konyol itu. Coba saja tunggu aku sampai acaranya selesai… aku tidak jadi datang!”

Author bawel pengen digampar readers:

Gw agak ragu ngepost part 2 karena jujur gw malu banget!!!!!!!!!! Berasa ff gw ga ada gunanya dimunculin di sini hikz…

Ya sudahlah, walaupun dalam hati (mungkin) ada yang mengumpat, mencaci, menghina, meng-konyol-isasikan ff gw, hah… gw biarkan urat malu gw putus >.<

Jangan lupa komen ya. Kalo kalian bingung dan ada yg mau ditanyain, silahkan tanya, akan gw jawab dengan senang hati. Kalau mau kritik juga boleh, gw terima dengan lapangan sepak bola😛

Today’s Song:
Mandy Moore – I Wanna be with You

Photo credit: xdashkax@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Baca juga: [Fan Fiction] 사랑 – Love (part 1)

Posted on December 15, 2010, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 15 Comments.

  1. Orang yang bilang ff Alois g ada gunanya berarti terlalu iri karena g bisa bikin sendiri. Kritik n masukan bagus buat perbaikan kedepannya jadi harus diterima lebih lebar dari pada lapangan sepak bola hahaha Baca curhatanmu dibawah jd bikin gw senyum-senyum sendiri karena gw pernah ngerasin hal yang sama juga hehehe kata orang publish sesuatu yang kita bikin sama rasanya seperti melepas anak kita masuk sekolah dihari pertamanya, bikin deg-degan. Tapi itu bukan alasan buat berhenti, semangat terus y ^^V

  2. ditunggu lagi lanjutan ff nyaa…

  3. @all, thanks ya🙂 dan jangan lupa ffnya tetep dibaca😉

  4. tambah bikin penasaran..gw jadi bayangin si Jun Sang nie mirip Lee Wan..hahaha

  5. wuah onn kebanyakan nonton K-Drama nich? *sotoy*
    jalan ceritanya mirip2 K-Drama
    tapi tetep suka dd^^dd krn aq emang suka gaya nulis yg sepeti in!

  6. si nam hee tuh anak ABG korban ‘Gaul’ whuahhahaha~
    Dong Il itu bakal jadi orang ketiga kah?
    ok… next!

  7. wah, Ji Ryeon sadis euy…
    Han Na cs juga segitunya ma ji Ryeon…

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (part 3) « Hallyu Cafe

  2. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: