[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 3)

Your two warm hands gets cold when I’m cold
Your heart that used to be strong becomes sensitive when I’m hurt
Take my hands silently, hold me silently, I’m only wishing for such little comforts
You don’t know my heart that wanted to do more just for you

Ji Ryeon tidak tahu kenapa ia begitu mau disuruh-suruh. Meski tak punya niat, akhirnya ia ikut juga ke acara yang dikatakan Han Na.

Han Na dan Min Ah sudah menunggunya di halte yang dimaksud, tekad mereka kalau soal ini betul-betul bulat.

“Ji Ryeon-ah!” panggil Han Na. “Cepat ke sini!”

Ji Ryeon berlari kecil ke arah mereka, ia mencoba tersenyum.

“Kau datang juga,” sapa Min Ah gembira menyambut Ji Ryeon. “Mau cari pacar juga?”

“Siapa bilang mau cari pacar. Aku hanya menemani kalian, aku sedang bosan…” bantah Ji Ryeon. “Tapi… kalau lain kali kalian mengajakku lagi, aku tidak mau ikut!”

“Kami tahu…!” jawab Han Na dan Min Ah berbarengan. Mereka tertawa geli.

“Ji Ryeon, bagaimana penampilanku?” tanya Min Ah memutar-mutar diri untuk memperlihatkan kerapian pakaiannya.

“Bagus…” jawab Ji Ryeon mengangguk.

“Elegan kan—?“

“Elegan? Apa bukannya sok imut?” bantah Han Na.

“Apa kau bilang? Aku sok imut?!” tanya Min Ah marah. “Mata Ji Ryeon lebih bagus dari matamu!”

Ya! Kau memang sok imut,” balas Han Na. “Tapi tampangmu tidak ada imut-imutnya!”

“Kalau begitu, kau itu sok seksi!” sela Min Ah. “Sudah sok seksi tapi dadamu rata begitu!”

“Apa?!” seru Han Na marah, “Ini ukuran luar negeri—“

“Kalian mau bertengkar sampai kapan?!” lerai Ji Ryeon, “Busnya sudah datang. Ayo kita naik…”

Selama perjalanan, Min Ah dan Han Na sibuk merapikan diri di depan cermin saku masing-masing.

“Ji Ryeon…” panggil Han Na. “Kau tidak mau dandan?”

“Tidak…” jawabnya. Ia tidak akan mau menghias diri di dalam bus kalau tidak sedang terdesak.

“Begini sudah bagus belum?” tanya Min Ah pada Han Na, “Apa aku perlu pakai lipstik kakakku?”

Min Ah menunjukkan lipstik yang dimaksudnya pada Ji Ryeon dan Han Na. Ji Ryeon kira warna lipstiknya merah muda, namun rupanya merah membara…

“Kau mau jadi office lady?!” seru Han Na.

“Tidak cocok ya…?”

“Kau akan kelihatan 5 tahun lebih tua kalau pakai itu…”

Bus berhenti di depan halte lain dan mereka turun di sana. Lalu berjalan sedikit dan akhirnya tiba di depan sebuah kelab malam, Bacchus namanya.

Ji Ryeon tidak yakin kalau mereka memang akan ke sana, tapi Han Na tidak menampakkan keraguan seperti dirinya dan Min Ah.

“Han Na!” seru Ji Ryeon. “Mau ngapain kita ke sini?”

“Mau apa lagi? Acara pertemuan…”

“Bukannya di café biasa atau tempat karaoke? Kenapa malah ke sini?!”

“Kalau tidak kami bilang begitu, kau pasti tidak mau ikut,” kata Min Ah pura-pura kuat, padahal mentalnya paling lemah di antara mereka.

“Tapi kita belum cukup umur!”

“Anggap saja ini latihan menuju dunia dewasa…” kata Han Na. “Ayo berjuang!”

“Berjuang!” ulang Min Ah.

“Aku pulang saja!” ancamnya, “Kalian! Ya!

Han Na sudah masuk, lalu Min Ah ikut masuk, hanya Ji Ryeon yang diacuhkan. Tapi karena tinggal sendirian dan udara juga sangat dingin, ia memutuskan untuk masuk setelah menelan ludah penyesalan.

Tempat itu berisik sekali, musik disko dan bau alkohol bisa tercium di mana-mana. Belum lagi bau rokok dan sinar lampu yang berputar-putar membuat Ji Ryeon makin pusing. Kebanyakan pelanggan di sana adalah orang-orang dewasa.

Ji Ryeon nyaris disenggol seorang pria botak yang dibantu jalan oleh seorang host wanita.

“Ck… bahaya sekali—kalian…” seru Ji Ryeon takut nyasar, ia menutup kedua telinganya saking berisiknya. “Kita pulang saja ya?!”

“Kau ini ngomong apa?” balas Min Ah yang kurang bisa mendengar.

“Suasana di sini sesak sekali!” kata Ji Ryeon, wajahnya mengerut. “Kita pulang saja!”

“Tahan saja!” jawab Han Na kesal.

Ya, ya! Tunggu aku!”

Tanpa sengaja Ji Ryeon melihat Nam Hee dengan beberapa temannya sedang bercengkerama di tengah keributan begitu. Maka Ji Ryeon buru-buru memberitahu Han Na dan Min Ah untuk menghindari daerah Nam Hee sejauh mungkin. Bibi Geum Ga barangkali sudah tahu tempat nongkrong Nam Hee, tetapi kalau sempat ia juga tahu Ji Ryeon pergi ke kelab malam, sisa nyawa Ji Ryeon dipastikan tinggal setengah.

Karena dilanda grogi yang berlebihan, Han Na menyeret kaki sendiri ketika berjalan naik ke lantai dua dan memantapkan diri saat ada seorang lelaki yang melambaikan tangan padanya, mengisyaratkan kalau merekalah yang akan menjadi ujian berat kali ini.

“Se—selamat malam,” kata Han Na spontan ketika sudah sampai di depan mereka. Kalau tidak salah Han Na bilang ada tiga tetapi menurut mata Ji Ryeon kenapa ada empat lelaki…

Ji Ryeon dan Min Ah hanya bisa ikut menunduk pada mereka yang duduk di sofa coklat tua panjang yang membentuk huruf U mengelilingi sebuah meja besar. Di meja itu sudah ada minuman yang nampaknya bukan soda dan makanan yang tidak dijual oleh bibi penjual kue pedas di depan sekolahnya.

“…Apa kalian murid SMA Gyung Jo?” tanya Han Na.

“Oh! Kalian akhirnya datang juga, siswi SMA Han Jeong kan?” kata seorang anak lelaki berwajah baik, memakai sweater indigo. Ia berdiri menyambut mereka, “Annyeong haseyo.”

Annyeong haseyo.”

“Kenapa agak telat?” tanya cowok berwajah agresif.

“Tadi aku menunggu temanku dulu,” kata Han Na. “Maaf…”

“Maaf,” jawab Ji Ryeon.

“Tidak masalah,” jawab seorang cowok sweater indigo. “Silahkan duduk.”

“Lho, Kang Han Na?” tanya seorang cowok lagi yang dari tadi memperhatikan tiga wajah tidak asing di sekolah.

Ji Ryeon baru sadar kalau salah satu di antara mereka adalah Sung Dong Il!

“Kau kan Park Min Ah—Chae Ji Ryeon! Kenapa kau juga ada di sini?”

Baik Han Na, Ji Ryeon dan Min Ah langsung salah tingkah dan mencoba nyengir biarpun hambar.

“Kau sudah mengenal mereka?” tanya cowok berambut coklat nyaris pirang.

“Tentu saja,” jawab Dong Il yakin. “Mereka kan teman sekelasku.”

“Aaahh… aku iri sekali kau bisa sekelas dengan 3 wanita cantik…” gumam si cowok agresif, Ji Ryeon sudah merasa kalau ia mulai menggoda mereka.

“Saya Kang Han Na, kelas 3 SMA Han Jeong,” kata Han Na, tersenyum masam.

“Saya Chae Ji Ryeon, teman Kang Han Na,” sambung Ji Ryeon agak sinis demi menjaga jarak.

“Saya Park Min Ah, temannya Chae Ji Ryeon…”

“Jangan kaku begitu,” kata si cowok agresif, tertawa melihat mereka yang seperti orang bodoh. “Aku Choi Hae Im, kelas 3 SMA Gyung Jo.”

“Aku Kim Hee Rahm, kelas 3 di sekolah yang sama dengan Hae Im,” giliran cowok berambut coklat muda nyaris pirang.

Si cowok baik hatipun memperkenalkan diri, “Yang Seung Wan, kelas 2 SMA Gyung Jo.”

“…Anak kelas dua…?” tanya Min Ah.

Wae?” balas Seung Wan, “Tidak masalah kan?”

“Ah… tidak kok—” jawab Min Ah, berbisik pada Ji Ryeon, “Anak kecil!”

“Kalian mau pesan apa?”

Ji Ryeon menyenggol kaki Han Na, memberi tanda jangan berbuat yang macam-macam, apalagi kalau sampai mereka juga ikut-ikutan memesan minuman keras.

“Anu… tiga cola saja,” jawab Han Na, bertindak lebih bijak sebagai perwakilan Ji Ryeon dan Min Ah yang mengangguk setuju. Karena dunia orang dewasa menakutkan bagi mereka yang masih culun, mereka tidak tahu makanan dan minuman macam apa lagi yang dijual di sana.

“Baik, tiga cola…” ujar Seung Wan memberitahu pelayan berbaju aneh, seperti cosplayer yang berdiri di samping Min Ah.

Ya, Sung Dong Il,” panggil Han Na galak, “Kenapa kau ada di sini? Ini khusus pertemuan untuk 3 perempuan dan 3 lelaki dari sekolah yang berbeda. Sana kembali ke habitatmu!”

“Kata Hae Im mereka mau ketemuan sama siswi dari SMA kita,” jelasnya, “Kami penasaran makanya ikut juga ke sini.”

“Kami?” tanya Han Na kaget. “Masih ada orang lain lagi?”

“Tentu saja si Jun Sang juga ikut.”

Hati Ji Ryeon mencelos. Kenapa dari tadi ia tidak sadar kalau ada Dong Il, pastilah Jun Sang juga ada.

Ji Ryeon buru-buru ingin pergi dari sana, “Han Na kita pulang saja—“

“—Ah, Jun Sang!” panggil Dong Il ke arah pintu. “Ke sini!”

Mereka telat bergerak dan Jun Sang benar-benar datang. Ji Ryeon sudah tahu reaksinya yang jelek begitu melihat mereka.

“Kenapa ada mereka…?” tanyanya terbelalak sementara ketiganya menunduk malu.

Barulah tidak lama kemudian Jun Sang  langsung mengerti. “Oh… jadi maksud kalian itu… mereka?” Jun Sang menunjuk remeh Ji Ryeon, Han Na dan Min Ah.

“Eh, kau juga sekelas dengan mereka, pasti sudah kenal dekat ya?” kata Hae Im pada Ji Ryeon dan teman-teman perempuannya. “Apalagi mereka ini biang ribut.”

Ji Ryeon hanya melempar senyum getir.

“Cih,” dengus Jun Sang keras-keras, lalu duduk berhadapan dengan Ji Ryeon. “Tahu begini lebih bagus main ke tempat lain…”

“Kalau begitu kenapa masih di sini…” sindir Ji Ryeon, namun wajahnya menghadap ke samping, tidak sudi menatap Jun Sang.

“Memangnya itu urusanmu? Aku cuma penasaran apa benar ada yang cantik di sekolahku,” bela Jun Sang yang mendengar kalimat Ji Ryeon tadi, wajahnya pun sengaja dipalingkan ke dinding. “Aku tidak menyangka selera kalian serendah ini.”

“Rendah?” Ji Ryeon mulai naik pitam, “Kalau mereka rendah, seleramu jauh di bawah garis minus kemiskinan…”

“Garis minus kemiskinan apaan…”

“Mereka ini cantik-cantik kok…” jawab Seung Wan, membuat Han Na dan Min Ah jadi malu-malu. “Betul kan?”

Hae Im dan Hee Rahm manggut-manggut setuju.

“Cantik mananya?” sela Jun Sang, “Seperti monster—“

Ji Ryeon menatapnya tajam.

“Kenapa?” tantang Jun Sang, ikut melotot sehingga pelayan yang datang mengantar pesanan bingung melihat mereka.

Ji Ryeon masih mendelik padanya. Benar-benar kesal.

“Apa maksudmu menatapku seperti setan begitu?” tanya Jun Sang. “Memang matamu ada lasernya? Bisa membuatku buta?”

“Sudah, sudah…” Dong Il melerai begitu tahu anak-anak yang lain agak terganggu dengan mereka, “Kalian ini kenapa tidak bisa akur?”

“Murid teladan ternyata juga suka kencan buta…” sindir Jun Sang.

“Jun Sang!” kata Dong Il. “Mana pantas berkata seperti itu. Kau dulu juga murid teladan, tapi kelakuanmu sangat preman…”

Jun Sang memandang teman-temannya dengan kesal lalu mengambil sekaleng bir dan meminumnya banyak-banyak seperti orang dehidrasi.

 

******

 

“Aku suka atlet basket,” kata Min Ah pada Hae Im. Keduanya tampak antusias padahal sudah lewat 30 menit ini pembicaraan mereka tidak maju-maju dan membosankan.

“Benarkah?” kata Hae Im tertawa-tawa, dan memegang rambut di belakang kepalanya, tanda malu-malu. “Aku sebenarnya juga atlet basket di sekolahku…”

“Waahhh… yang benar?” Min Ah mengeluarkan keahliannya dalam memuji pria, “Kalau begitu kebetulan ya!”

“Mungkin ini yang namanya takdir,” Hae Im sudah mulai merayu Min Ah.

Ji Ryeon tahu Min Ah gampang sekali terbujuk, belum lagi wajah Hae Im bisa dibilang cukup ganteng, tapi kelihatannya playboy.

“Nanti kau kuundang menyaksikan kami bertanding,” kata Hae Im.

“Sungguh?” Min Ah berseri-seri, Hae Im mengangguk singkat. “Wah… aku beruntung sekali!”

Perhatian Ji Ryeon beralih ke Han Na. Ia tidak segampang Min Ah kalau dirayu. Han Na Malah cekcok dengan Dong Il karena dari tadi Dong Il mengganggunya terus.

“Han Na,” kata Dong Il, “Kau tidak ngantuk? Sudah malam begini—”

“Memangnya aku anak TK jam segini sudah mau tidur?” tuntutnya kejam.

“Tapi sudah malam—”

“Diam kau!” lalu ia melanjutkan obrolannya dengan Hee Rahm.

Dong Il masih memutar otak mencari cara mengajak Han Na bicara, “Han Na, pulang nanti kuantar saja—“

“Aku bisa pulang naik bus.”

“Anak perempuan pulang sendiri malam-malam kan bahaya—”

“Ada Ji Ryeon dan Min Ah! Kau bisa diam tidak?!”

Ji Ryeon kembali menyaksikan percakapan Min Ah dan Hae Im. Mereka kali ini betul-betul dekat. Hae Im malah tidak malu-malu lagi memegang tangan Min Ah. Sedangkan Min Ah wajahnya sudah seperti udang rebus karena disanjung-sanjung.

“Tanganmu lembut sekali,” kata Hae Im. “Kau pasti sangat menjaga diri…”

Min Ah yang mengangguk salah tingkah tidak karuan membuat Ji Ryeon jadi ingin menyingkir dari sana.

“Ayo kita nge-dance saja!” ajak Hae Im dan Min Ah langsung bangkit sambil bergandengan tangan dengan Hae Im.

“Han Na…” panggil Dong Il tidak putus asa, “Kita ikut mereka, yuk?”

“Malas!” balas Han Na cuek, lalu kembali melanjutkan cerita konyol dengan Hee Rahm mengenai hantu di SMA Gyung Jo.

Ji Ryeon kini melihat Jun Sang di depannya yang nampak bosan dan dari tadi diam saja seperti dirinya. Ia memalingkan wajahnya, ke tempat yang tidak bisa melihat Ji Ryeon. Sementara itu Ji Ryeon melihat arlojinya, sudah jam 10.55 tetapi teman-temannya belum ada tanda-tanda ingin pulang.

“Ji Ryeon nuna…” panggil Seung Wan.

“Ya…?” jawab Ji Ryeon, pikirannya langsung buyar.

“Kakak kenapa?” tanyanya cemas, “Dari tadi diam saja…”

“Aku baik-baik saja,” balas Ji Ryeon pura-pura, “Kalian lanjutkan saja bicaranya…”

“Tapi kenapa tidak ikut mengobrol?” tanya Seung Wan lagi “Kau bosan ya?”

“Tidak sama sekali,” kata Ji Ryeon menggeleng bohong.

“Lepas saja jaketmu,” sambung Seung Wan, “Di dalam ruangan tidak kepanasan?”

“Sama sekali tidak apa…” kata Ji Ryeon waspada.

“Apa kau juga suka basket?”

“A… aku tidak begitu suka basket…” balas Ji Ryeon segan.

“Lalu kau suka apa?” tanya Seung Wan lagi. “Tenis, sepakbola, atau olahraga lainnya?”

“—Dia tidak bisa olahraga,” sela Jun Sang saat mengeluarkan sebatang rokok dari kotak di kantongnya, lalu menghisapnya, “Jadi percuma saja kau tanya soal itu.”

“…O… oh…” Seung Wan bergumam panjang, menyayangkan fakta yang diutarakan Jun Sang.

“—Bisa kok!” seru Ji Ryeon setelah mengejek Jun Sang dari sudut bibirnya. “Aku bisa renang. Aku juga bisa main basket, lalu voli, senam dan lompat tinggi.“

Tapi bodoh…”

Ji Ryeon dan Seung Wan diam saja mendengar Jun Sang berkata seperti itu. Memang benar ia agak lamban dalam berolahraga.

Selama perkenalan antara Han Na dan Min Ah dengan anak laki-laki terus berjalan, ia sengaja terbatuk-batuk dan suara batuknya diperbesar supaya Jun Sang sadar ada yang tidak suka rokok. Namun bukannya berhenti, Jun Sang malah makin mengisapnya dan menghembuskan asap sebanyak mungkin ke hadapan Ji Ryeon.

“Jun Sang hyung!” tegur Seung Wan, “Jangan merokok di depan mereka. Sopan sedikit!”

“Kenapa?” tuntut Jun Sang sambil melirik Ji Ryeon, “Kalau tidak suka, ditahan saja…”

Ji Ryeon tidak membela diri. “Tidak apa kok. Biarkan saja dia terus merokok.”

“Baiklah,” kata Seung Wan.

“…Anu…” panggil Ji Ryeon.

“Ada apa?”

“—Itu… sebenarnya… ada yang ingin kutanyakan dari tadi. Apa tidak masalah kita di sini? Ini bukan tempat untuk anak SMA kan…?”

“Oh, tenang saja,” jawab Seung Wan. “Kakaknya Hae Im hyung kerja di sini. Kalau ada apa-apa biasanya dia tinggal menghubungi kami.”

“Tapi… ada apa-apa itu maksudnya apa?” tanya Han Na.

“…Eh… kadang ada pemeriksaan atau semacamnya…” kata Hee Rahm agak enggan, “Tapi tenang saja kok! Kami sudah terbiasa dengan yang semacam itu. Tidak akan ketahuan! Pokoknya kalian tenang saja!” ia menjentikkan tangannya sebagai tanda ‘tidak masalah’. Mana bisa mereka yang anak perempuan di bawah umur dan pertama kali masuk ke sana bisa tenang.

“Lama-lama kalian akan terbiasa kok,” tambah Seung Wan.

Jun Sang melihat Ji Ryeon yang kebingungan dari ujung matanya, lalu memanggilnya dengan setengah cuek setelah mematikan rokoknya ke asbak.

Ya, kau—“

Ji Ryeon tidak menghiraukannya. Biarkan saja Jun Sang terus memanggilnya seperti itu…

“Kau…”

Ji Ryeon melotot memandang Jun Sang.

“Kau pulang saja,” perintah Jun Sang setelah ia menegak sebotol minuman keras lagi.

“Memangnya kau itu polisi ketertiban?” tanya Ji Ryeon saat menikmati colanya, namun ia juga menggigit-gigit sedotannya.

“Kau tidak pantas berada di sini,” Jun Sang memperjelas lagi apa maksud perkataannya tadi. “Nanti reputasimu yang bersih itu bisa hancur.”

Ji Ryeon meletakkan gelasnya dengan keras dan bangkit sangat cepat sehingga mereka kira kali ini ia benar-benar meledak.

“Ji—Ji Ryeon… kau kenapa…?” tanya Dong Il terlonjak saking kuatnya suara gelas beradu meja.

“—Aku keluar sebentar…” katanya dan berjalan cepat-cepat.

Ji Ryeon pergi mencari toilet. Selama berjalan ia terus marah-marah. Ia mencuci muka di toilet untuk menyegarkan wajahnya yang kusut gara-gara Jun Sang. Ji Ryeon mencubit-cubit dan memukul-mukul wajahnya.

Jun Sang yang sekarang begitu menyebalkan, Ji Ryeon tidak tahu harus berbuat apa lagi padanya. Ia ingin segera melampiaskan kekesalannya pada bantal di rumahnya.

Ji Ryeon menghembuskan nafas panjang dan menerawang ke pusaran air di wastafel sambil mencoba tenang. Ia tidak punya ide bagus apapun karena otaknya sudah terlampau penuh. Jadi lebih baik ia segera mengelap wajahnya yang basah dengan saputangan yang dari tadi dicarinya dalam tas.

“—Ji Ryeon-ah!” Han Na tiba-tiba menghampirinya ke dalam toilet dengan nafas berantakan. “Syukurlah kau ada di sini—aku mencarimu ke mana-mana. Kenapa tidak angkat ponselmu?!”

“Ada apa?” tanya Ji Ryeon heran.

“Ayo cepat kita keluar dari sini—ada razia—ayo cepat!” Han Na melompat-lompat untuk mengurangi rasa takutnya.

“Razia?!” Ji Ryeon kaget bukan kepalang. Kalau ia tertangkap polisi, maka habislah sudah. Neneknya akan marah besar dan mengurungnya di rumah sepanjang hidupnya.

“J—jadi kita harus bagaimana? Bagaimana ini?!” tanya Ji Ryeon. “—Sembunyi di sini saja!” tambahnya, berniat mengurung diri dalam salah satu bilik di toilet itu.

“Kabur! Ayo kita kabur!” seru Han Na menarik Ji Ryeon kuat-kuat.

Mereka berdua nyaris tersesat kalau saja tidak ada para anak lelaki yang sudah biasa melarikan diri dari tempat itu.

Ya, kalian! Ke sini!” panggil Hae Im yang menggandeng Min Ah. Min Ah sepertinya amat terharu…

Ji Ryeon dan Han Na menurutinya. Han Na lebih dulu berlari, Jun Sang yang ada di dekat Hae Im malah datang menghampiri Ji Ryeon.

“Dari mana kau?!” ia marah pada Ji Ryeon, dan tanpa menunggu jawabannya, ia langsung menarik Ji Ryeon ke tempat yang dimaksud Hae Im.

Ji Ryeon merasa sangat bodoh karena jantungnya berdegup kencang sekali. Itu pertama kalinya Jun Sang memegang tangannya setelah sekian lama…

Mereka melewati lantai disko dengan serampangan, menabrak beberapa orang dan pelayan yang membawa gelas-gelas brandy dan melewati satu koridor sempit yang punya tangga rahasia di ujungnya ke suatu tempat persembunyian. Dari situ mereka keluar dari Bacchus dan sekarang berada di sebuah lorong gelap dan sempit yang sangat sepi. Sepertinya tempat itu adalah jalan belakang Bacchus, tempat yang sepertinya agak berbahaya.

“Sudah kubilang kau pulang saja!” teriak Jun Sang tiba-tiba saat mereka menutup pintu keluar itu. “Untung kali ini kau selamat!”

“Jun Sang!” seru Dong Il, “Kecilkan suaramu!”

“—Kalau kau tertangkap bagaimana, hah?! Apa masih bisa pergi ke sekolah dengan tampang suci?!”

Ji Ryeon malu pada teman-temannya karena dimarahi Jun Sang.

“—Han Na, Min Ah, kita pulang…” katanya tanpa melirik sedikitpun pada anak laki-laki.

Han Na dan Min Ah takut melihat reaksi Ji Ryeon kali ini. Maka mereka berdua memutuskan untuk menuruti  keinginan Ji Ryeon.

“—Kami pulang dulu ya!” kata Min Ah dengan tampang tidak rela meninggalkan Hae Im dan kisah cinta kilat mereka.

“S—sampai jumpa lagi…” tambah Han Na. “Kami minta maaf sudah merepotkan!”

Ji Ryeon sudah lebih dulu pergi dari tempat itu, ia seperti berlari sambil jalan. Ketika mereka sudah benar-benar menjauh, ia memarahi Han Na dan Min Ah.

“Aku kan sudah bilang jangan pergi ke sini! Kalian begitu keras kepala! Apa kalian mau orangtua kita menjemput di kantor polisi?!”

“Kami minta maaf! Tapi kami kan tidak tahu akhirnya malah begini!” Han Na membela diri.

“Makanya daripada ambil resiko lebih bagus tidak sama sekali! Kalian membuat jantungku hampir copot, tahu tidak?! Untung sekarang kita masih hidup…”

Han Na dan Min Ah terdiam, sedikitnya juga merasa bersalah pada Ji Ryeon yang ikut terlibat karena ulah mereka. Namun sebetulnya yang membuat Ji Ryeon sangat marah bukan karena itu. Ia melampiaskan kemarahan pada mereka karena tadi Jun Sang membentaknya dengan kasar. Ditambah lagi tangannya terasa sakit karena ditarik Jun Sang dengan kuat.

 

Si brengsek itu… memegang tanganku sekuat itu… Memangnya aku ini apa?! Tampang suci apanya?! Tampangku di sekolah apa adanya kok!

 

Ji Ryeon mendadak teringat seorang anak perempuan yang memandangnya rendah, yang ada di kelab itu dan terlupakan.

“Nam Hee masih ada di sana—dia juga di bawah umur!” ucapnya khawatir.

“Pikirkan diri sendiri!” desis Han Na mencegah Ji Ryeon kembali. “Kalau sudah selamat jangan cari perkara lagi—!”

Tiba-tiba mereka dicegat seorang laki-laki yang nampaknya mabuk berat. Usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari murid SMA. Wajahnya memerah dan bau alkohol menyengat dari badannya, lebih parah dari yang ada di Bacchus. Jalannya saja gontai dan menabrak-nabrak dinding begitu. Ji Ryeon belum pernah melihat orang mabuk separah itu sebelumnya.

“Halo….” kata si lelaki, senyumnya menjijikkan, “Kalian cuma bertiga…?”

Ji Ryeon yang dilanda kesal tidak mau mempedulikannya dan melewati si lelaki itu dengan cuek.

Agassi… kenapa kau tak memperhatikanku…? Apa.. aku tak pantas bersamamu…?” kata si lelaki mabuk. “Aku kekasihmuuu… Aku di sini untukmuuuu… selamanyaaa…”

Karena jengkel, Ji Ryeon mendorong lelaki yang merentangkan tangannya untuk memeluk itu supaya menyingkir dari jalan sebelum sempat menyentuhnya.

“Apa-apaan sih?!” bentaknya. Ji Ryeon berjalan lagi, seakan lelaki itu cuma seekor lalat.

Han Na dan Min Ah jijik melihat lelaki itu kini terkapar di aspal setelah ditolak Ji Ryeon, padahal Ji Ryeon tidak kuat-kuat mendorongnya.

Agassssiiiiiiiiiiiii!” kata si lelaki itu, kemudian ia bangkit dan menghadang mereka di depan, “Kau kejam sekali mendorongku seperti itu….!”

“Kau mau apa? Hah?!” teriak Han Na ketika si lelaki malah memegangnya alih-alih Ji Ryeon, padahal ia sendiri sudah takut. “—Jangan sentuh-sentuh!”

Lelaki itu kembali terjatuh karena Han Na memukul tampangnya dengan amat kuat. Mungkin ada satu atau dua gigi depannya goyang. Si lelaki lagi-lagi bangkit dengan sisa semangatnya.

“Tolooong! Teman-teman, tolong akuuuuu….” teriaknya parau. “Tolong akuuu….! Perempuan ini gila!” katanya menunjuk-nunjuk Ji Ryeon dan yang lainnya. “Gigiku patah dibuatnyaaaa….!”

Ji Ryeon dan teman-temannya terkejut melihat yang dipanggil kira-kira ada sekitaran 6 orang langsung datang dan mengepung.

“Wooooww…” salah satu dari mereka bersiul genit, memegang dagunya sambil berpikir-pikir. Wajahnya tidak jelas seperti apa. Tapi tidak perlu dilihat juga pasti sama dengan lelaki yang sebelumnya. “Anak ini cantik sekali… Kau temani kami saja bagaimana?”

“Boleh juga….” kata lelaki yang ketiga, senyam-senyum, tampangnya mesum, Ji Ryeon ingin menendangnya saja. “Daripada mereka dilukai, lebih bagus kita perlakukan dengan baik…”

“Ayo, nona manis….”

“Mau apa kalian?” tanya Ji Ryeon, mendelik ke semuanya dengan mengacungkan tinju. “Kuperingatkan ya! Aku sudah sabuk hitam tahu!”

Tapi mereka semua nampaknya tidak mendengar. Mereka mengoceh terus dan meminta Ji Ryeon, Han Na dan Min Ah untuk kencan bersama. Kalau bisa muntah, Ji Ryeon sudah muntah dari tadi karena rasa benci yang berlipat ganda.

“Ji Ryeon-ah…” bisik Min Ah mau menangis. Ia dan Han Na juga sudah dikepung, “Kita lari ke mana nih?”

Ya, Agassi… kita ngeceng bareng yuk…” kata pria berjenggot pada Ji Ryeon.

“—Jangan! Sama aku saja, kita pergi ke laut…” kata si pria botak.

“Apa kau bilang?!” balas si pria berjenggot. “Nona ini milikku! Kau sama yang lain saja!”

“—Kubilang jangan sentuh ya jangan sentuh pemabuk brengsek!” Ji Ryeon benar-benar marah dan mengeluarkan jurus andalannya; meninju ke segala arah ketika ada satu tangan nyaris mendarat ke pundaknya.

Agassi…” kata seorang pemabuk lagi. “Jangan kasar-kasar, nanti kami jadi tidak suka pada kaliannnn… HA… HA… HA… HA….”

Pemabuk yang lain malah ikut-ikutan tertawa.

“Siapa yang peduli pada kalian?!”

“Non… mojok bareng dong…”

“Mau coba lagi? Hah?!” bentak Ji Ryeon. Sebenarnya ia berbohong mengenai sabuk hitam yang ia maksud. Jangankan bela diri, nilai olahraganya saja pas-pasan seperti yang dikatakan Jun Sang.

Ji Ryeon dan Han Na mencoba yang terbaik, mereka menendang (untung Ji Ryeon memakai ankle boots dengan hak runcing), meninju, memukul dengan barang yang ada di tangan mereka, sementara Min Ah berteriak-teriak ketakutan dan berlindung di antara kedua temannya. Entah karena terlalu mabuk atau karena memang pukulan Ji Ryeon dan Han Na yang ganas, beberapa dari mereka ada yang terjatuh, tetapi bangun lagi. Mereka tidak patah arang, malahan lebih beringas dari yang sebelumnya, pasti marah karena Ji Ryeon dan Han Na menghajar mereka.

Gemuruh langkah cepat dan ringan tiba-tiba datang dari belakang. Ji Ryeon melihat kalau Jun Sang dan yang lainnya berlarian ke tempat mereka. Para pemabuk itu dibereskan hanya dalam beberapa detik saja. Tanpa perlu susah payah seperti yang Ji Ryeon dan Han Na lakukan.

“KAU MAU KAMI HAJAR?!” seru salah satu di antara pemabuk.

Jun Sang tidak perlu mengeluarkan suara, apalagi tenaga lebih. Hanya dengan tatapan matanya yang kejam saja, tukang mabuk yang tadi banyak omong besar langsung mundur cepat-cepat dan mereka kabur terbirit-birit meninggalkan temannya yang tergeletak pingsan di tengah jalan begitu saja.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya Seung Wan.

Ji Ryeon mengangguk.

Tapi belum saja para pemabuk itu betul-betul pergi, datang lagi masalah lain.

“Kalian!” tegur seorang polisi dan membawa tongkat sambil naik sepeda. “Sedang apa kalian di sini malam-malam?”

Semuanya tidak bakal menjawab pertanyaan itu. Datang pula seorang polisi lagi dan mendekati mereka.

“Kalian murid SMA mana?” tanyanya mendekat.

Haish…”

“Se—selamat malam, Paman—“ kata Ji Ryeon grogi.

“Bukan menyapa! Kita lari, bodoh!”

Mereka semua kabur berpencar-pencar. Han Na entah kemana dibawa oleh anak laki-laki. Tapi Min Ah sedang dibawa oleh Hae Im. Tanpa keraguan mereka melanjutkan sesi pacaran yang tertunda gara-gara razia. Min Ah benar-benar senang, biar tadi sudah hampir pingsan ketakutan, sekarang ada pahlawan impian yang menyelamatkannya. Keduanya berjalan di trotoar sambil mengatur nafas.

“Eh, yang lainnya pada ke mana?” tanya Hae Im padanya.

“Ti—tidak tahu…” jawab Min Ah cemas hampir-hampir menangis. “Semoga Ji Ryeon dan Han Na tidak tertangkap—bagaimana ini…”

Hae Im malah menemukan celah kesempatan untuk mengajak Min Ah pergi jalan.

“…Park Min Ah…”

“Ada apa?” balas Min Ah dengan manisnya dan segera melupakan kekalutan tadi.

“Daripada mencemaskan mereka, kita pergi ke café saja, kau mau?”

“Tapi… bukannya lebih baik kita cari mereka?” tanya Min Ah, padahal ia lebih memprioritaskan jalan dengan Hae Im.

“Ah… tidak perlu!” jawab Hae Im enteng, “Kan ada teman-temanku yang lain, mereka pasti aman-aman saja kok!”

“Eh… benar juga ya…”

“Ayo, kita cari tempat yang bagus…”

Min Ah malah setuju dan ikut dengan Hae Im. Ia tidak punya tenggang rasa pada temannya yang sedang kesusahan…

Han Na sembunyi bersama Hee Rahm, Dong Il dan Seung Wan di belakang mobil truk yang terparkir di dekat tumpukan kardus-kardus bekas.

Dong Il sebal pada Hee Rahm dan Seung Wan yang mengganggu waktunya dengan Han Na.

“Kalian berdua… kenapa ikut-ikut kami?”

Wae…?” tanya Seung Wan heran, “Bukannya kau yang ikut-ikutan pergi dengan kami?”

Dong Il menyesal sudah pergi dengan mereka.

“Han Na…” tegur Dong Il, “Kita cari tempat yang lain saja.”

“Kau saja cari tempat lain…” balas Han Na seraya mengintip polisi yang berjalan di seberang tempat mereka, “Di sini sudah terlalu sempit. Lagipula silahkan keluar kalau mau tertangkap polisi…”

Dong Il kecewa bukan main, padahal tempat persembunyian mereka masih cukup untuk dua orang lagi.

“Eh—mana Ji Ryeon dan Min Ah?” tambah Han Na melihat ke kiri dan kanan, baru sadar kalau kedua temannya tidak ada.

“Hae Im membawa cewek yang rambutnya keriting itu…” kata Seung Wan.

“Lalu Ji Ryeon dengan siapa?”

“Apa dengan Jun Sang…?” tanya Hee Rahm celingukan. “Jun Sang juga tidak ada—”

“Apa?!” Han Na dan Dong Il terbelalak, lalu sibuk berharap-harap.

“Tuhan… lindungi Ji Ryeon dari si berandal itu…” bisik Han Na langsung berdoa dan menutup matanya untuk berkonsentrasi.

“Semoga mereka baik-baik saja…” timpal Dong Il yang mendukung sepenuhnya doa Han Na. “Semoga tidak ada tragedi apapun…”

Tingkah Han Na dan Dong Il membuat Seung Wan dan Hee Rahm kebingungan.

“Kalian ini kenapa sih…”

Jun Sang memang sedang bersama Ji Ryeon yang sedang dibungkam mulutnya karena nafasnya dari tadi tidak teratur supaya polisi patroli tidak mendengar ada suara mencurigakan di balik tong sampah besar di dekat sebuah toko kelontong.

Setelah polisi itu lewat dan memantau entah ke mana, Ji Ryeon buru-buru bangun, melepaskan tangan Jun Sang dan pergi ke halte di dekat toko kelontong itu. Kakinya lecet.

Sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih, kata-kata pedas keluar lagi dari mulut Jun Sang.

“Sudah kubilang kan? Kau pulang saja! Makanya jadi perempuan jangan kecentilan!” kata Jun Sang tiba-tiba, tidak ada baik-baiknya, “Pergi malam-malam dengan dengan penampilan begitu, kau mau menggoda om-om?!”

“Aku mau menggoda om-om atau tidak, bukan urusanmu!” balas Ji Ryeon, dahinya berkerut karena dituduh ingin bertemu om-om.

“Sudah ditolong bukannya bilang terima kasih!” sanggah Jun Sang.

“Aku tidak minta ditolong.”

Ya…”

“…Apa lagi…?”

“Kuperingatkan… semua temanku itu anak-anak paling nakal di sekolah. Mereka suka bolos, tidak punya tujuan hidup, kerjaannya hanya main—“

“Apa bedanya denganmu…”

Jun Sang menelan ludah. Tapi daripada kalah bicara, ia terus mengomel pada Ji Ryeon, “Ya… mereka itu playboy—jadi jangan sampai kau masuk ke dalam jebakan mereka.”

Ji Ryeon tetap cuek.

“—Kau tidak bisa lihat teman-temanmu itu sudah dipengaruhi? Kalau sudah akut seperti si Park Min Ah, kau tidak bisa sembuh lagi!”

“Aku tidak akan pernah bisa kena penyakit seperti Min Ah…”

“Kalau tidak percaya, ya sudah!” erang Jun Sang. “Tapi jangan menyesal setelah ini—“

“Kau pikir aku bisa dengan gampang ditipu?” tanya Ji Ryeon yang hampir kalap, “Aku tidak sebodoh yang kau kira…”

“Kau sudah tahu kan?” tanya Jun Sang, “Makanya jangan dekat-dekat dengan mereka lebih dari ini—“

“Aku tidak akan berdekatan kalau tidak punya kepentingan…” balas Ji Ryeon nyaris naik pitam, “Aku masih punya harga diri, juga masih tahu diri…”

Jun Sang agak kaget dan bengong cukup lama, lalu ia kembali ngomong seenaknya.

“Baguslah…! Kalau kau tahu diri…” kata Jun Sang mengangguk-angguk sambil menguap. “Bagus sekali… ada Wakil Ketua Kelas yang tahu diri…”

Kalau bawa embel-embel Wakil Ketua Kelas di luar sekolah, itu artinya Ji Ryeon sedang diejek. Ia tidak mau membalas dan terus berjalan tapi geram karena Jun Sang masih membuntutinya.

“Mau apa kau?” tuntut Ji Ryeon. “Pergi sana! Jangan mengikutiku…”

Jun Sang menggigit bibir karena bingung mau bilang apa lagi. “…Perempuan ini betul-betul bikin marah… kau saja yang pulang sana! Cepat pulang!”

“Apa hakmu menyuruh-nyuruh pulang?” tuntut Ji Ryeon heran. “Mau aku tidur di sini, mau makan di sini. Kau ibuku?”

Ya, kau—!“

“Aku punya nama!”

“—Wakil Ketua Kelas…!” jawab Jun Sang, ia memanggil namanya seakan mereka berada di seberang sungai. “Ya!”

Jun Sang menyambar lengannya namun Ji Ryeon melepaskan diri lebih cepat. Ia memandang Jun Sang seperti elang marah, alis matanya terpaut membentuk huruf V.

“Namaku Chae Ji Ryeon!” teriak Ji Ryeon sakit hati, “Kau tak bisa mengingatnya?!”

Ji Ryeon tidak sadar matanya sudah memerah dan nafasnya ikut naik turun. Lalu pergi meninggalkan Jun Sang dan naik ke dalam bus, duduk di bangku yang tersisa sambil menghapus airmatanya dengan keras. Ji Ryeon betul-betul cengeng dan seperti orang idiot. Sejak pertama kali pindah ke Seoul selalu menangis gara-gara Jun Sang. Namun tanpa diketahuinya, Jun Sang masih memandang sosoknya yang makin menjauh dengan perasaan bersalah…

 

Akhirnya gw keluarin juga part 3. Hmm… biarkanlah…

Part 3 ini bagian akhir dari bab 1, jadi sebenernya masih cukup banyak part yang bakal dipublish di sini

Maaf ya ngeganggu postingan berita dengan intermezzo gw >.<

Today’s Song:
Super Junior – No Other

Photo credit: xdashkax@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Baca juga: [Fan Fiction] 사랑 – Love (part 1), [Fan Fiction] 사랑 – Love (part 2)

Posted on December 21, 2010, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 15 Comments.

  1. PART 3 KEREEEN~!!!
    wowwowoooww.. pengen punya cowo kaya jun sang, berandalan tapi care. hahahaahh.
    fanfict part selanjutnya ditunggu.. gak sabar bacanya

  2. Pnasaraaaannnn..
    Ayo ayo lnjtnnya ageeee……..

  3. ayo lanjutin zuyu….

    akhirnya nulis komen juga disini…

  4. Part 3 Keren abisss…….Zuyu nanya dong nie FF imajinasi lo ndiri ato gabungan dari drama2..

  5. hahaha… harus bayangin aktor dulu biar afdol?
    ckckck… yang ngga2 aja ^^
    punya cowok berandal emang keren, apalagi klo dia care haha gapen!

  6. Ji Ryeon ini tipikal orang yang tabah tapi musti selalu dilindungi~ kekekke
    seperti yg aku bilang padamu yu, kunantikan adegan dimana melakukan hal romantis. halah..
    next!! xD

  7. berasa kek baca skrip drama yang dinarasiin nih, hehehe.. tokohnya banyak jadi harus bener” konsen bacanya, kalo nggak buyar .. kudu baca lagi dari awal =D

    tapi detail di tiap ceritanya oke bener, seperti yang aku bilang, kamu pintar mem-visualisasi-kan *ribet nih* tiap adegannya jadi bikin pembaca berasa ada di sana dan ngeliat langsung apa yang sedang mereka lakukan.

    oke, it’s going to be a long way to go, lanjut ke part berikutnya. Hwaiting!!! ^^

    p.s.
    backsound saat baca ini:
    One – SHINee
    Don’t Cry – Park Bom
    *mari kita galau bersama*

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: