[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 4)

Though I’ve made hurtful wrong choices
You silently watched over me from behind
But now I think more than an innocent child
The meaning of mom’s silent prayers

Waktu itu awal-awal musim semi. Ji Ryeon baru saja duduk di kelas 2 SMA. Ketika pulang sekolah dengan teman-teman dan kini tinggal sendirian menyusuri jalan ke rumah bersama sepeda yang tidak dikayuhnya, ia melihat ada sebuah mobil sedan warna hitam mengkilap terparkir di depan rumahnya yang sederhana, dengan teras yang tidak begitu luas dan pagar tembok tinggi dari bata merah. Mobil seperti itu hanya terlihat di kota-kota besar, dan hampir tidak pernah melewati desa mereka.

Ia pikir itu mobil yang hanya numpang parkir. Tetapi perkiraannya salah saat melihat dua pria berpakaian rapi dan seorang wanita yang kelihatan jauh lebih tua dari Bibi Ga In dengan blazer merah baru saja keluar dari rumahnya. Wanita yang berbadan agak ringkih itu sekarang dikenalnya sebagai neneknya. Sedangkan dua laki-laki itu adalah bawahan Nenek di kantor.

Bibi ikut mengantar mereka sampai ke depan rumah, lalu nenek berbicara sesuatu padanya. Tetapi Bibi tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresi tidak suka. Baru setelahnya ketiga orang itu masuk ke dalam mobil dan bergerak pergi.

Ji Ryeon yang memperhatikan dari jarak yang cukup jauh mulai mendekati Bibi yang masih berdiri di luar pagar.

“Ji Ryeon-ah,” sapa Bibi kaget, “Kau sudah pulang…”

“Bibi… mereka siapa…?” tanya Ji Ryeon.

“Masuklah,” jawabnya tanpa mempedulikan pertanyaan Ji Ryeon.

Ji Ryeon menuruti Bibi dan tidak bertanya-tanya lagi karena Bibi nampak sedang kesal dan cemas. Bahkan sampai makan malampun Bibi berusaha menghindari percakapan dengan Ji Ryeon. Tetapi Ji Ryeon tahu ada hal yang tidak baik kalau Bibi sudah mendiamkannya.

“Bibi… kau baik-baik saja?” tanya Ji Ryeon, “Bibi…?”

“Ng…?” gumam Bibi separo sadar, “Ah… tidak apa…”

“Bibi… yang tadi sore itu tamu Bibi?” sambungnya.

“Bukan,” jawab Bibi, “Mereka cuma salah alamat… mereka minta padaku memberitahu jalan.”

“Tapi… kalau salah alamat kenapa harus masuk ke rumah segala?”

“Kan tidak baik membiarkan tamu hanya di luar saja,” sambung Bibi ceria, “—Kau makan yang banyak ya… Bibi membuatkan udang goreng untukmu… ayo dimakan…!”

Ji Ryeon terpaksa mengalah dan menuruti paksaan bibinya. Dan beberapa hari kemudian Ji Ryeon langsung melupakan hal itu karena sepertinya mereka memang bukan orang yang penting sampai harus begitu dikhawatirkan.

Pada suatu hari waktu ia bekerja sambilan di sebuah restoran bibimbap kecil sebagai pelayan. Nama restorannya Jinjja Jinju—Benar-benar Jinju. Nenek—kali ini berbaju hijau dengan blazer coklat muda, datang ke sana saat Ji Ryeon sedang membersihkan meja pelanggan dan menumpuk piring-piring kosong.

“Selamat datang…!” sapa Ji Ryeon ketika mendengar bunyi pintu yang digeser.

“Selamat siang…” balas Nenek, bahkan bahasa yang digunakannya adalah bahasa formal.

Ji Ryeon agak kaget begitu melihat wanita itu lagi. “Silahkan duduk, Nyonya.”

“Kau Chae Ji Ryeon kan?”

Ji Ryeon mengangguk dan ekspresi Nenek mendadak senang bercampur sedih.

Nenek menyentuh wajah Ji Ryeon tiba-tiba. Matanya berkilau karena timbunan airmata. Ada replika anaknya di hadapannya. Mirip tetapi berbeda. Nenek mengingat Eun Yeong muda, yang waktu seumuran Ji Ryeon masih bersikap manja dan sedikit egois.

Ji Ryeon bingung dan agak menjauh melihat Nenek waktu itu, “Ada apa?”

“Apa kau… bekerja di sini?” tanya Nenek lagi.

Ji Ryeon mengangguk takut. Wanita tua itu masih melihatnya dengan penuh perasaan sampai bulu kuduknya merinding.

“—Boleh aku minta waktumu?”

Ji Ryeon bengong tapi kemudian nyengir bingung.

“…Tapi…” gumamnya, “Aku sedang bekerja…”

“Ji Ryeon-ah!” panggil suara si pemilik restoran dari dapur, “Tolong bantu aku!”

“Aku segera ke sana!”

“Bisa aku bertemu dengan pemilik restoran ini?” Nenek terus bertanya maju tak gentar sehingga mau tak mau Ji Ryeon memberitahukannya.

“Tunggu sebentar…”

Ji Ryeon berjalan ke dapur sambil membawa piring bekas dan menemui bosnya yang sedang memberi yukhoe—daging cincang mentah dengan bumbu penyedap pada bibimbap.

“Ada apa, ahjussi?”

“Sudah kubilang jangan panggil ahjussi!” seru pemilik restoran saat sedang memindahkan mi dari wajan ke mangkuk, “Kau potong timun dan ambil bayam yang ada di lemari es—“

Ye,” balas Ji Ryeon yang dengan sigap mengambil sayuran yang dimaksud si pemilik restoran, “Bos, ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya si pemilik restoran.

Ji Ryeon mengangkat bahunya sementara pisau di tangannya sudah mulai mengiris mentimun, “Tidak kenal…”

“Wanita?” tanya pemilik restoran antusias.

Ji Ryeon mengangguk sehingga membuat bosnya sibuk merapikan rambutnya dengan gembira. “Tapi sudah tua sih…”

Haish… bilang dari tadi!” jawab pemilik restoran sebal, lalu berjalan melewati Ji Ryeon.

Ji Ryeon sedikit mengintip dengan cemas pada bosnya dan Nenek yang duduk di sudut restoran. Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, suasana terlalu berisik.

Yu Ri, teman sekerjanya dan juga teman sekelas datang sambil membawa setumpuk mangkuk dan mengambil lagi pesanan untuk diantar ke meja pelanggan. Tidak lama kemudian ia masuk kembali.

“Ji Ryeon…” kata Yu Ri, “Siapa mereka?”

“Entah…” jawab Ji Ryeon.

“Kok agak menyeramkan ya?” tanya Yu Ri lagi, “Kulihat bawa mobil mewah, pakai pengawal segala… apa Bos punya masalah dengan mereka?”

Ji Ryeon tidak berani mengatakan kalau mereka juga pernah datang ke rumahnya beberapa hari yang lalu.

“Chae Ji Ryeon…!” panggil pemilik restoran.

“Eh… kau dipanggil Bos tuh…” kata Yu Ri saat menyalakan keran cuci piring, “Ada apa lagi?”

“Ji Ryeon, hari ini kau bebas tugas,” tambah bosnya yang kini sudah berdiri di ambang pintu.

“Tapi aku belum selesai bekerja—”

“Sudahlah!” jawab pemilik restoran malah mengambil alih pisau dari tangannya, “Hari ini kau kuliburkan—ayo cepat kau datangi Nyonya itu, dia menunggumu!“

Ji Ryeon sudah mulai curiga mereka memang ada maksud padanya.

“Tapi kan…”

“Bos, kalau Ji Ryeon diapa-apakan bagaimana?!” balas Yu Ri.

“Mana mungkin Ji Ryeon diapa-apakan!” serunya gampang, “Mereka kelihatannya tidak jahat kok!”

“Tidak jahat apanya?!” balas Yu Ri, “Aku sering melihat yang seperti mereka di film-film barat tentang gangster dan perdagangan manusia—betul kan, Ji Ryeon?!”

Ji Ryeon mengangguk patuh, perkataan Yu Ri malah membuatnya makin takut.

“Kau kebanyakan nonton film sih!” balas pemilik restoran.

“Bos, mereka bilang apa padamu sampai kau begitu penurut?”

“Katanya ada perlu dengan Ji Ryeon, urusan pribadi jadi aku tidak boleh tahu—“

“Betul kan kubilang!” sela Yu Ri, “Jangan-jangan mereka marah padamu—apa kau pernah berbuat salah pada mereka?”

“Tidak pernah!” jawab Ji Ryeon yakin, “Kenal saja tidak…”

“Ji Ryeon, coba kau datangi saja mereka…” balas pemilik restoran. “Tidak baik meninggalkan tamu seperti itu.”

Ji Ryeon mengangguk lagi, sementara Yu Ri malah bertengkar dengan pemilik restoran mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia berjalan ke tempat Nenek menunggu di luar, bahkan entah kenapa sekarang jadi kelihatan lebih menakutkan karena nyalinya mendadak ciut.

“Ternyata… ada perlu denganku ya?” tanya Ji Ryeon nyengir bodoh.

“Ji Ryeon-ah, Nenek ingin bicara denganmu,” balas Nenek, “Tolong ikut denganku…”

“Tunggu!” seru Ji Ryeon sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, “Kita mau ke mana?”

“Kita cari tempat yang leluasa untuk bicara,” jawab Nenek.

“Eh… aku jalan kaki saja deh…” kata Ji Ryeon, “Tidak biasa naik mobil… hahaha…”

“Kau akan segera terbiasa…”

Cih… terbiasa apanya… Ji Ryeon akan sangat tidak senang kalau naik mobil dengan pengawal seperti mengawal orang penting begitu…

“Tunggu sebentar ya…” balas Ji Ryeon, lalu masuk kembali ke dapur di mana Yu Ri dan pemilik restoran sedang mengintipnya dari dalam.

“Ji Ryeon, ada apa?” tanya Yu Ri.

“Mereka menyuruhku pergi ke luar…” balas Ji Ryeon sambil memegang tengkuknya yang agak merinding, “Aku permisi dulu ya…?”

“Ji Ryeon, tunggu sebentar!” balas Yu Ri, menghadang Nenek di depan Ji Ryeon. “Nyonya, kau ada perlu apa dengan temanku?”

“Yu Ri-ya!” sanggah Ji Ryeon, “Kau masuk saja!”

“Kalau alasannya tidak jelas, tidak akan kami beri izin!” kata Yu Ri. “Kalian ingin membuat perhitungan dengannya?!”

Lalu pemilik restoran yang tadi setuju-setuju saja malah tergugah semangatnya untuk membela Yu Ri.

“Itu betul!” kata pemilik restoran sok keren sambil mengibaskan sapu tangannya. “Tolong katakan ada masalah apa baru kami beri izin!”

“Aku ikut senang Ji Ryeon punya teman yang begitu perhatian…” Nenek tertawa, “Tapi ini soal keluarga kami…”

Apa Ji Ryeon tidak salah dengar…

“…Keluargaku?” tanya Ji Ryeon heran.

“Keluarga Ji Ryeon?” ulang Yu Ri tidak percaya. “Nyonya, jangan rayu kami, kami tahu kalian ada maksud tidak baik pada Ji Ryeon—!”

“Yu Ri-ya!” Ji Ryeon menutup mulut Yu Ri dan menyeretnya ke dapur bersamaan dengan pemilik restoran.

“Jangan begitu!” kata Ji Ryeon malu. “Kau terlalu berlebihan!”

“Kau jangan termakan ucapannya! Mungkin dia bohong padamu!”

Ji Ryeon berpikir sejenak atas apa yang dikatakan Yu Ri, “Kurasa… dia tidak bohong…”

“Kau tahu dari mana nenek tua itu jujur?” tambah Yu Ri, “Kau dengar caranya bicara, seperti orang kaya yang akan menenggelamkanmu dengan uang kalau kau tidak sengaja menyenggol mobil mewahnya!”

“Dari wajahnya saja sudah ketahuan dia jujur kok!”

“…Tapi, ibumu kan sudah meninggal…” balas Yu Ri kasihan. “Siapa sisa keluargamu? Hanya bibimu kan?!”

Ji Ryeon tetap menyimpan rasa penasaran soal wanita tua itu, makanya ia tidak mau bilang kalau mungkin saja ini juga ada hubungannya dengan bibinya.

“Aku tahu kok…”

Pemilik restoran dan Yu Ri sama-sama menghela nafas. Lalu Yu Ri melepaskan seuntai kalung dari lehernya dan memberikannya pada Ji Ryeon.

“Apa ini?” tanya Ji Ryeon bingung.

“Tuh… jimat untukmu,” kata Yu Ri.

“Ini kan kalung pemberian pacarmu,” kata Ji Ryeon jengkel, mengembalikan kalung itu pada pemiliknya.

“—Kau pakai saja sementara!” balas Yu Ri sambil memasangkan kalungnya ke leher Ji Ryeon secara paksa. “Dengan itu paling tidak kau bisa terlindungi…”

“Ji Ryeon, ini juga jimat dariku…” kata pemilik restoran tidak mau kalah dari Yu Ri. Tetapi yang diberikannya jauh lebih mengerikan dibanding kalung Yu Ri, yaitu sebilah pisau panjang untuk memotong daging. “Kau selipkan saja di bajumu, kalau ada apa-apa tinggal kau keluarkan saja—tapi ini hanya untuk mengancam—!”

“Bos ini apa-apaan?!” balas Ji Ryeon seraya meletakkan pisau tadi ke meja dengan kesal. “Ini bisa lebih dulu membunuhku!”

Gara-gara Ji Ryeon sendiri yang mengatakan kata ‘bunuh’, si pemilik restoran dan Yu Ri sekarang malah bertampang pilu.

“Ji Ryeon-ah, kau sudah kuanggap seperti adik sendiri…” pemilik restoran menepuk-nepuk bahunya dengan mata berkaca-kaca, disambut anggukan Yu Ri. “Kuharap kau baik-baik saja… kalau dalam dua jam kau tidak pulang ke rumah, kami akan mencarimu secepatnya…”

“Tidak usah dicari juga tidak masalah…!” desis Ji Ryeon bergantian memandangi mereka dengan heran, “Kalian… seperti aku akan mati saja. Sudah… aku pergi dulu ya…”

Ji Ryeon pergi naik mobil Nenek. Di tengah jalan ia hanya bengong dan senyum tidak jelas waktu wanita itu berbalik menatapnya. Tetapi untungnya saja mereka memperlakukannya dengan baik dan sopan. Jangan-jangan itu malah strategi untuk membuatnya lengah…? Ji Ryeon lagi-lagi merinding memikirkannya.

Mereka masuk ke sebuah cafe, yang tentunya saja jauh lebih berkelas daripada restoran tempat Ji Ryeon bekerja. Untungnya pria-pria asing yang menjadi supir Nenek tidak ikut masuk ke dalam dan tidak duduk di antara mereka. Kemudian seorang pelayan wanita—yang mungkin gajinya juga lebih tinggi daripada gaji bulanan Ji Ryeon, datang menghampiri mereka.

“Mau pesan apa?” tanya pelayan itu.

Ice coffee…” jawab Ji Ryeon setelah membuka buku menu dan hanya melihat daftarnya dalam sedetik.

“Dua ice coffee,” kata Nenek. Lalu pelayan itu menyingkir dari sana, membiarkan Nenek dan Ji Ryeon berbicara dengan leluasa.

Ji Ryeon ingin buru-buru sampai ke topiknya saja, tidak perlu basa-basi. Tapi kalau dilihat sepertinya Nenek lebih suka pendekatan yang halus, jadi Ji Ryeon harus bersabar demi urusannya datang ke café itu.

“Kau pasti bertanya-tanya soal kedatanganku menemuimu,” kata Nenek.

“Sebentar…” gumam Ji Ryeon malu, “Kenapa Nyonya bisa tahu namaku?”

“Kau cukup memanggilku ‘Halmeoni’,” kata nenek.

Belum habis rasa penasaran Ji Ryeon, kali ini wanita di depannya meminta yang aneh lagi, “…Nenek?”

“Aku ibu kandung Eun Yeong…”

Berarti… nenek yang kelihatan seperti orang kaya ini adalah neneknya? Dan bodyguard yang dari tadi menjaganya itu siapa? Apa bodyguard ibunya juga? Ia tidak pernah menyangka kalau hidup ibunya selain dipenuhi keglamoran dunia selebritis,  juga penuh teka-teki.

“Yang benar saja…” kata Ji Ryeon tidak percaya dan setengah tertawa, “Nenekku sudah lama meninggal…”

“Sudah lama meninggal?!” tanya Nenek kaget sehingga Ji Ryeon takut melihatnya. Tetapi kemudian raut wajah Nenek kembali lembut, “Ah…”

“Maaf, Nyonya…” balas Ji Ryeon.

“Nenek…”

“Maaf, Nenek…” ulang Ji Ryeon grogi.

“Eun Yeong yang bilang aku sudah mati?”

Ji Ryeon tidak enak kalau menjawab pertanyaan itu. Ia diam saja supaya Nenek bisa mengambil kesimpulan sendiri.

“Tidak mengherankan…” gumam Nenek.

“Nyonya,” balas Ji Ryeon kembali menyebutnya nyonya, ”Ibuku sudah meninggal. Orangtuanya juga sudah lama sekali meninggal. Jadi tidak mungkin kalau Anda adalah keluargaku…”

“Kau pernah melihat keluarga ibumu sebelumnya?”

Benar. Ji Ryeon belum pernah melihat satupun anggota keluarga Eun Yeong. Hanya gambar-gambar Eun Yeong dan dirinya yang biasa menghiasi dinding rumah mereka. Dan tidak pernah sekalipun Eun Yeong bercerita tentang keluarganya.

“…Ani…”

Nenek mengeluarkan beberapa lembar foto waktu Eun Yeong kecil. Itu memang ibunya, mereka berdua mirip. Lalu ada beberapa foto Eun Yeong sedang bersama Nenek yang wajahnya tidak sekeriput sekarang. Wajah mereka di foto dengan wajah aslinya memang mirip sekali. Jadi apa Ji Ryeon boleh mengambil kesimpulan kalau Nenek yang ada di depannya memang benar nenek kandungnya…

“Masih tidak percaya?” tanya Nenek, namun Ji Ryeon tidak menjawab, “Aku datang untuk menjemputmu kembali ke Seoul.”

Ji Ryeon masih saja kesenangan. Ia baru bertanya balik saat sudah selesai melihat foto-foto itu semua, “Ye…?”

“Aku datang untuk menjemputmu ke Seoul,” ulang Nenek.

Ji Ryeon langsung terbelalak, “Menjemput?! Menjemput ke mana?”

“Almarhum kakekmu memintaku untuk mencarimu dan membawa pulang ke tempat yang seharusnya. Kau akan dibawa ke Seoul.”

“Seoul?” ulang Ji Ryeon. “Mana mungkin aku tinggal di sana. Aku tinggal di sini… besar di sini karena bibiku yang merawatku.”

“Apa bibimu tidak bilang?”

Ji Ryeon langsung menggeleng bodoh, Nenek menghela nafas seperti mengisyaratkan ‘sudah kuduga’.

“Mungkin dia butuh waktu untuk mengatakannya.”

“Kenapa… ingin aku pindah ke Seoul?” tanya Ji Ryeon yang kadar keterkejutannya masih belum reda. “Untuk apa aku pindah ke sana?”

“Ini wasiat dari suamiku,” balas Nenek lagi. “Dia ingin cucunya kembali ke rumahnya. Dia ingin kau tahu kalau dia adalah kakekmu…”

Ji Ryeon ingin teriak di café itu sekuat-kuatnya. Tapi ia masih ingat malu.

Apa-apaan nenek tua di depannya ini, baru pertama kali bertemu saja sudah bicara soal orangtua ibunya. Ji Ryeon tidak mau percaya mentah-mentah walau ia sudah menerima buktinya.

“Anda pasti salah orang,” jawab Ji Ryeon, “Wanita ini memang mirip sekali dengan ibuku, tapi pasti bukan ibuku…”

“Itu memang Eun Yeong.”

“Ah, Nyonya benar-benar salah orang…”

“Kau tinggal dengan mantan pelayan ibumu kan?” balas nenek, “Namanya Han Ga In dan sudah empat tahun kau tinggal dengannya. Benar?”

“…Tapi, kalau Nenek masih ada… apa… aku boleh tahu kenapa Ibu tidak pernah berkomunikasi denganmu…?”

Nenek bingung, “Sampai sekarang kau tidak tahu kenapa?”

“Dibilang tidak tahu… bagaimana ya… tapi tidak tahu juga tidak sih…” jawab Ji Ryeon, “Soalnya Ibu tidak pernah bicara soal keluarganya sedikitpun padaku. Tapi menurutku, sepertinya Ibu punya masalah…”

Nenek hening sementara Ji Ryeon terus berpikir kemungkinan lainnya.

“Benar ya?” sela Ji Ryeon, “Tapi aku hanya menebak-nebak lho… tidak usah dipikirkan apa yang kukatakan…”

Nenek tersenyum pahit saat menjawabnya, “Kau tidak salah.”

“…Oh…” gumam Ji Ryeon.

“Kau mirip dengan ibumu…” tambah Nenek, “Saat melihatmu, aku teringat pada Eun Yeong…”

Ji Ryeon lantas bingung. Nenek mendadak jadi sesentimentil itu dan tiba-tiba menangis…

“Nenek… jangan menangis begitu…” balas Ji Ryeon, padahal ia juga ingin nangis, “Aku kan jadi tidak enak dilihat orang…”

“…Eun Yeong dimakamkan di sini kan?”

Ji Ryeon mengangguk.

“Apa aku boleh pergi ke makamnya?” tanya Nenek, “Aku ingin bertemu dengannya…”

“Tentu saja boleh,” jawab Ji Ryeon senang, “Aku bisa mengantar Nenek ke tempat Ibu.”

Part 4 gw potong sampe segini, setelah konsul ama author dearmarintan ㅋㅋㅋㅋㅋ…

Ini adalah bagian flashback Ji Ryeon sebelum pindah ke Seoul. Jadi gw pake gambar yang ada jam pasirnya, dan nanti ada beberapa hal yang tidak dijelaskan di bagian awal (kalau kalian sadar😉 ) akan sedikit jelas nantinya ㅋㅋㅋㅋㅋ

Simak terus ya😀 dan jangan lupa komennya😄

Today’s Song:
SNSD – Dear. Mom

Photo credit: gabulinka@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on December 23, 2010, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. wow!! keluar juga akhirnyaa.. hoho..
    hm.. klo nenek gw punya bodyguard kayak gitu seru kali yaa.. hhihihihi..

    ayoo part 5 nya ditunggu… ^^

  2. yaahhhh
    yaahhhh
    pngel lnjtanx agee,,
    heeeee….

  3. Hehehe kok namaku disebut2?

    Lanjut baca part 5 aaaaahhh🙂

  4. bagus.. bagus.. *terbang ke part 5*

  5. part ini oke! tapi mataku melihat kalimat ini…
    Ji Ryeon mengangkat bahunya sementara pisau di tangannya sudah mulai “mengupas mengiris” mentimun, “Tidak kenal…”
    ^^v

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: