[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 5)

I will be a person with pretty heart
And become a person who is selfless
I’ll keep the love of my mother’s wishes
I think of mother who used to share my dreams and brush my hair

Dan sampailah mereka berdua di sana. Makam Eun Yeong terletak di tengah padang rumput di atas perbukitan. Tempatnya rapi dan terawat karena setiap minggu Ji Ryeon bersama Bibi Ga In selalu membersihkan tempat itu.

Nenek meletakkan sebuket bunga segar di atas pusara Eun Yeong, sedangkan Ji Ryeon menunggu Nenek dari tempat yang agak jauh supaya Nenek bisa lebih leluasa.

Nenek menangis. Kakinya gemetaran, dan tangannya yang menyentuh batu nisan seakan ingin menggali lagi kuburan Eun Yeong. Ia tidak sempat melihat saat-saat terakhir putrinya masih hidup, malah ia tidak peduli pada cemoohan orang luar tentang kekejaman dirinya yang bersikap dingin atas berita kematian Eun Yeong dan lebih mementingkan martabatnya. Sekarang ia baru tahu, martabat tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nyawa putrinya.

Putri yang paling disayanginya tumbang begitu saja bahkan di saat usianya belum mencapai 40 tahun dan harusnya masih bisa menikah lagi, menjalani kehidupan rumah tangga jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun Eun Yeong bersikeras untuk hidup menjanda, tidak mau mendengarkan nasehat orangtuanya dan malah menjauh dari mereka.

Sebagai seorang ibu, ia merasa terkutuk. Tidak becus. Tidak layak punya anak. Ia juga tidak pernah menjenguk Eun Yeong waktu sakit dan tidak melihat jasadnya yang terbujur kaku, ditangisi oleh satu-satunya keluarga sedarahnya—Chae Ji Ryeon.

Dulu ia tidak mau tahu bagaimana pertumbuhan Ji Ryeon hanya karena kemarahannya pada Eun Yeong yang membangkang perintahnya. Ia tidak tahu bagaimana hari-hari Ji Ryeon setelah Eun Yeong meninggal. Bersyukur ketika tahu Ji Ryeon berada dalam perawatan Ga In, namun sayang Ji Ryeon mengiranya sudah mati…

Setelah setengah jam lebih di depan makam Eun Yeong, Nenek akhirnya selesai dan mereka berjalan menuju mobil yang diparkir di pinggir jalan besar.

“Aku telah melakukan banyak kesalahan padanya,” kata Nenek. “Aku hanya ingin permintaan maafku diterima Eun Yeong.”

“Ibu pasti mau memaafkan,” jawab Ji Ryeon. “Ibu sering bilang, walau berkali-kali disakiti, jika seseorang minta maaf dengan tulus, harus kita maafkan…“

Nenek menunduk malu saat mendengar Ji Ryeon berbicara, “…Benarkah…?”

Ji Ryeon mengangguk senang, “Ibu orang yang pemaaf. Waktu kecil aku sering membuatnya kesal karena terlalu manja. Tapi setelah itu Ibu langsung memelukku dan malah minta maaf. Padahal aku yang salah…”

Nenek tersenyum mendengar kenangan Ji Ryeon yang diutarakan dengan penuh rasa sayang.

“Nenek, kalau menurut Nenek… ibuku itu orangnya bagaimana…?” tanya Ji Ryeon.

“Eun Yeong anak yang patuh…” balas Nenek, “Dia rajin dan cerdas.”

“Oh…” gumam Ji Ryeon, seperti apa yang diduganya selama ini kalau ibunya memang perempuan yang baik.

“Dia juga ceria…” kata Nenek, “Anak yang sangat baik karena hampir tidak pernah menangis. Waktu dia baru lahir kami sempat heran dibuatnya… jarang ada bayi yang begitu penurut dan tidak rewel sepertinya…”

Rupanya si ibu agak berbeda darinya. Ji Ryeon ini sangat cengeng, tidak seperti Eun Yeong…

“Dia suka melukis,” sambung Nenek, “Dan permainan pianonya nomor satu di antara teman-temannya…”

“Aku juga diajari melukis dan piano oleh Ibu,” kata Ji Ryeon. “Kalau Ibu tidak kerja, kami suka melakukannya bersama…”

Nenek tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu bersama anak-anaknya.

“Ibumu perempuan hebat, bisa membesarkan anak sendirian.”

Halmeoni…”

“Dulu, dia memutuskan untuk menjadi artis dan berhenti kuliah, kami sekeluarga marah padanya…” kata Nenek, “Gara-gara itu, hubungan kami makin berantakan…”

“Jadi, karena itu kalian bertengkar?”

Nenek tersenyum sedih. Ji Ryeon kembali menyimpulkan kalau pikirannya benar. Mendadak ia teringat akan satu hal yang juga tidak pernah diceritakan ibunya, sampai-sampai nama keluarganya mengikuti nama keluarga Eun Yeong.

Halmeoni… apa Nenek tahu siapa ayahku?”

“Ng?”

“Siapa ayah kandungku? Bisa Nenek ceritakan bagaimana Ayah…?” tanya Ji Ryeon, “Apa dia baik? Apa Nenek tahu, Ayah dimakamkan di mana?”

Nenek melihat Ji Ryeon tambah sedih.

“…Nenek… tidak tahu?”

Mianhae… Ji Ryeon…” balas Nenek, “Semenjak dia keluar dari rumah, kami tidak sekalipun bertemu. Bahkan kabarpun tidak ada…”

“Masa’ Nenek tidak tahu…” gumam Ji Ryeon, ia langsung patah arang. “Aku sedikitpun tidak tahu tentang Ayah… aku ingin dengar cerita tentangnya, walaupun hanya sedikit…”

“—Masuklah,” ujar Nenek buru-buru, “Aku antar kau pulang…”

Bukan hanya diantar pulang, bahkan Ji Ryeon dibelikan oleh-oleh makanan mahal dari toko kue setempat. Lalu mereka sampai di depan rumah.

“Nenek tidak mau masuk dulu?”

“Sampai di sini saja,” kata Nenek dari dalam mobil di depan pagar rumah.

“Ya…”

“Kau pikirkan lagi apa yang sudah kita bicarakan…” bujuk Nenek, “Aku berharap kau setuju denganku… dengan begitu keluarga kita bisa berkumpul lagi…”

“Ya, Nenek…”

“Kalau sudah memutuskannya, kita akan bertemu lagi…” sambungnya, “Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa lagi,” jawab Ji Ryeon melambaikan tangan hingga mobil hitam mengkilap itu berderu pergi dari sana.

Setelah itu Ji Ryeon mencari-cari bibinya yang sudah mengintip kalau Ji Ryeon turun dari mobil yang sama dengan mobil yang datang kemarin.

Ahjumma…!” panggil Ji Ryeon, “Ahjumma!

Bibi berpura-pura sedang membuat sayur di dapur untuk lauk makan malam.

“Ada apa kau berteriak-teriak begitu?”

“Aku bawa ini,” kata Ji Ryeon menyodorkan bungkusan kue padanya, “Kita makan bersama ya?”

Bibi tidak menjawab dan membiarkan Ji Ryeon membuka bungkusan itu. Bibi sudah bisa menebak itu pemberian Nenek.

“Kau dapat dari siapa?”

Ji Ryeon bingung mau jawab apa, ia sebenarnya mau menutupi pertemuannya dengan Nenek.

“Dari… seorang kenalan…” balasnya, “—Bibi, kelihatannya enak kan? Bibi mau? Aku pilihkan yang paling enak, ini dia!”

Bibi malah menatap heran saat Ji Ryeon akan menyuapinya. Ji Ryeon akhirnya malah menelan kue itu sendiri.

“Enak lho, Bibi…”

“Kau banyak makan kue sebelum makan malam, nanti jadi gendut baru menyesal,” sela Bibi.

“Aku banyak makan juga tidak bisa gendut…”

“Nanti penyakit bisa cepat datang…” balas Bibi.

Bibi tidak bicara lagi dan kembali beralih pada taugenya. Saat itu Ji Ryeon kembali mencari cara supaya Bibi mau cerita sedikit atau paling tidak kelepasan ngomong soal kedatangan Nenek ke rumahnya.

“Bibi…” panggil Ji Ryeon sambil bermanja-manja di sampingnya. “Aku bantu buat ini ya…?”

“Tidak usah.”

“Tapi aku mau bantu,” sela Ji Ryeon mengambil segenggam kecil tauge di dalam baskom. Tetapi ia malah memelintir tauge-tauge itu sambil kepikiran apa ia sebaiknya tanya saja soal Nenek atau ia harus diam saja sampai Bibi sendiri yang bilang padanya.

“Bibi…”

“Ada apa?”

“Keluarga Ibu itu seperti apa…?” tanya Ji Ryeon.

Bibi tidak begitu kaget saat mendengar pertanyaan Ji Ryeon, “Kenapa tiba-tiba tanya yang seperti itu?”

“Aku… belum pernah benar-benar dengar… makanya aku penasaran…” balas Ji Ryeon, “Kalau dipikir lagi kan aneh kalau sudah sebesar ini aku tidak tahu siapa leluhurku…”

Bibi sebenarnya tidak mau bilang, tetapi ia harus membungkam mulut Ji Ryeon yang kalau sudah bertanya tidak bisa berhenti.

“Keluarga yang normal-normal saja…”

“Kenapa Ibu tidak cerita sedikitpun soal keluarganya padaku?” tanya Ji Ryeon, “Apa ada yang diharasiakan?”

“Tidak ada…”

“Kalau tidak ada rahasia kenapa harus begitu tertutup?” ia terus menyerang Bibi.

Bibi memukul kepalanya dengan baskom yang ada sampai Ji Ryeon meringis.

“Kalau kau tidak ada kerjaan, lebih baik kerjakan saja tugas sekolahmu.”


******


Nenek tidak mau menunda-nunda terlalu lama seperti yang ia tahu sekarang kalau mungkin itulah tabiat orang suka berbisnis. Baru lewat sehari, besoknya Nenek kembali menemui Bibi di rumah sementara Ji Ryeon tidak ada.

“Kau pintar mencari waktu,” kata Bibi setelah menyajikan secangkir teh pada Nenek, “Begitu Ji Ryeon tidak ada di rumah, kau datang ke sini…”

“Kita sama-sama tidak mau Ji Ryeon mendengar percakapan kita,” jawab Nenek sama dinginnya.

Nenek menyeruput teh tersebut, setelah itu diletakkannya kembali dengan anggun ke meja beserta tatakannya, “Aku sudah bertemu dengan Ji Ryeon di tempat kerjanya… aku juga sudah mengatakan kepentingan kami. Tinggal menunggu jawabannya saja.”

“Apa kalian mengungkit-ungkit soal Eun Yeong dan suaminya?”

“Tidak,” balas Nenek, “Aku tidak akan membocorkan itu padanya. Sebelum kau sendiri yang memberitahu, tidak akan keluar apapun dari mulutku… akan kuanggap aku tidak kenal suaminya…”

Bibi hanya bisa membisu. Kalau misalkan Nenek menjawab ‘ya’, Bibi akan marah dan bersiap-siap melempar meja di depannya. Namun ia sudah tahu Nenek tidak akan memberitahukan soal orangtua Ji Ryeon. Kalau tidak, Ji Ryeon pasti sudah tidak bisa bersikap pura-pura polos seperti kemarin sore.

“…Ji Ryeon pantas tinggal di rumah kami,” kata Nenek, “Dia memiliki hak Eun Yeong yang telah diberikan kakeknya.”

“Setelah Tuan Besar meninggal, baru meributkan Ji Ryeon…” sanggah Bibi, “Gara-gara wasiat itu langsung ingin mengambilnya kembali? Kalian pikir dia apa? Barang?!”

“Aku tidak pernah menganggapnya begitu.”

“Mana bisa dia tinggal dengan monster seperti kalian?!” balas Bibi melotot, “Mungkin Eun Yeong memang tahan, tapi kalau Ji Ryeon? Apa dia juga akan tahan? Dia tidak akan terbiasa!”

“Kami tidak akan menyakitinya,” jawab Nenek percaya, “Dan aku yakin Ji Ryeon punya mental yang kuat.”

“Cih…” dengus Bibi sambil tertawa, “Mental kuat? Dia saja takut pada kecoak, mau menghadapi kalian lagi?!”

“Di sana tidak akan ada kecoak seekorpun,” Nenek bersilat lidah, “Aku sudah bilang, kalau Ji Ryeon pindah, dia akan belajar di sekolah terbaik, begitu waktunya lulus kuliah, dia sudah memiliki jabatan di perusahaan kami. Sepertinya dia begitu sibuk bekerja sambil sekolah. Aku takut nilai-nilainya terganggu—”

“Ji Ryeon selalu peringkat satu di sekolah,” jawab Bibi bangga.

“Aku juga khawatir pada kesehatannya,” kata Nenek, “Apa dia sering sakit?”

Bibi tidak ingin mengatakannya, tetapi ia terpaksa menjawab jujur.

“Kadang… demam… tapi tidak sampai dua hari juga langsung sembuh. Di sini aku merawatnya dengan baik, jadi kau tidak perlu mencemaskannya.”

“Kau sebaiknya ikut pindah ke sana. Aku mempersilahkanmu kembali dengan tangan terbuka—”

“—Di sini lebih nyaman,” sanggah Bibi membuang muka, “Biarpun jelek dan tidak mewah seperti rumahmu, setidaknya ini rumahku. Aku bukan pembantu lagi, dan tidak ada yang berhak mengusirku dari sini…”

Wajah Nenek jadi kecut karena sindiran Bibi mengena sekali padanya. Bibi ingin balas dendam padanya.

“…Ji Ryeon pasti akan dapat kehidupan yang jauh lebih baik lagi,” kata Nenek mengalihkan pembicaraan, “Kau juga menginginkan yang seperti itu kan? Bukankah Eun Yeong juga berharap sama denganmu, makanya dia bekerja keras sampai jatuh sakit dan akhirnya meninggal? Kalau Ji Ryeon ada pada kami, aku bisa jamin semuanya—”

“Apa kau bisa jamin masalah Eun Yeong tidak akan sampai ke telinganya?” tanya Bibi, “Kalau dia tahu, kalian bisa berbuat apa? Kalau dia ngamuk pada kalian, bagaimana?!”

“Yang tahu soal itu hanya kau, Geum Ga dan aku.”

Bibi mendengus keras lagi. Seharian ini ia sering sekali mendengus di depan Nenek.

“Ji Ryeon bukan keluargamu. Dia tidak punya sedikitpun hubungan darah denganmu. Sebaiknya kau tidak usah mempertahankannya…”

“Dia sudah kuanggap anak sendiri.”

Geureona, kau harus ingat kalau kau bukan ibu kandungnya. Kamilah yang lebih berhak mengasuhnya…”

“Cih… lalu untuk apa Eun Yeong memintaku membawa Ji Ryeon jauh-jauh dari kalian?” protes Bibi, “Kau tidak tahu Eun Yeong sangat sakit hati mendapat perlakuan seperti itu?”

“Aku… benar-benar menyesal soal itu…” jawab Nenek pasrah dan menundukkan wajahnya.

“Kau memang hanya bisa menyesal…”

“Ga In…” balas Nenek pilu, “…Aku benar-benar menyesal. Aku memang sudah membuat Eun Yeong begitu menderita. Aku benar-benar salah waktu itu…”

“Hanya pada Eun Yeong?” tantang Bibi walaupun Nenek sudah berurai airmata, “Pada Ae Ri tidak? Dia kan anakmu juga…”

Nenek seperti akan pingsan begitu mendengar nama Ae Ri, ia berhenti menangis dan raut wajahnya berubah, “Dia tidak usah dibahas…”

Bibi malah tertawa jahat. Kalau Ji Ryeon melihatnya, ia pasti takut dan menyangka Bibi sedang kemasukan setan. Bibi tidak pernah tertawa seperti itu, bahkan saat menyaksikan film komedi yang bisa membuat Ji Ryeon jungkir balik menontonnya.

“Harga dirimu sebagai nyonya besar ternyata belum luntur… ha?” potong Ga In kejam dan tidak berperasaan, “Bahkan kau tidak mau memandang Ae Ri yang juga sama-sama sial… tidak… kalau kupikir-pikir, dia jauh lebih sial dari Eun Yeong… kau benar-benar seorang ibu yang kelewatan… pada anak kandungmu saja kau begitu, terlebih lagi pada anak tirimu…”

“Aku tidak pernah membeda-bedakan anak…”

Bibi tertawa lagi, benar-benar seperi orang tidak waras, bisa bahaya kalau ada tetangga yang dengar. “Tidak pernah membeda-bedakan tapi jelas kau tidak pernah menyukainya. Kau anggap dia anak haram yang harus kau tanggung. Kau menyiksanya dengan sikapmu yang dingin. Kau menyuruhnya tidur di gudang—“

“Tidak usah memperpanjang masalah.”

“Kau memperlakukan Ae Ri dengan semena-mena setelah Hyun Jung meninggal—“

“Aku yang paling sakit hati!” teriak Nenek marah, “Aku…!” ia menunjuk dirinya sendiri dengan mata merah, “Aku yang istri sah harus menanggung penderitaan karena dia! Kalau dia tidak menikah dengan suamiku—kalau dia tidak tergiur dengan harta kami—aku tidak akan membencinya! Kalau Ae Ri bukan anak mereka, aku dengan senang hati menampungnya di rumah! Hyun Jung telah merebut posisiku! Dan kau terlalu subjektif memandang permasalahan ini! Kalau kau jadi aku, apa kau tidak berbuat seperti yang kubuat?!”

Bibi terdiam. Karena tidak mau kalah debat, ia pun ikut marah, “Lalu kenapa harus Eun Yeong? Kenapa dia yang kau jadikan korban?”

“Aku menyayanginya…” balas Nenek.

“Tahukah kau, Eun Yeong jadi seperti apa?” tantang Ga In. “Kau merampas semua miliknya. Kau menjauhkan Ryang Seok darinya. Bahkan kau tidak menampakkan diri di prosesi pemakamannya. Kau hanya tertarik pada harta tapi kau bilang menyayanginya. Kalau kau bilang Hyun Jung mengincar kekayaan kalian, maka kau mencoba menambah timbunan emasmu dengan cara yang tidak manusiawi. Kau tidak lebih baik dibanding Hyun Jung.“

Nenek menahan diri. Bisa-bisa perdebatan mereka jadi panjang dan nanti Ga In malah melarangnya bertemu Eun Yeong. Ia langsung buru-buru mencoba menenangkan suasana, “Langsung ke intinya saja…”

“Pulanglah,” balas Bibi jengah, “Pulang ke rumah yang kau cintai itu. Juga jangan datang ke sini kalau untuk membuatku marah. Aku sibuk.”

“—Ga In, tolong aku!” tiba-tiba Nenek berlutut menyembah-nyembah Ga In yang spontan kaget. Sepertinya, belum pernah ada majikan yang menyembah pelayannya.

“Tidak mau,” balas Bibi menghentakkan kakinya, tetapi Nenek memeluk lagi pergelangan kaki Ga In, “Apa yang harus kukatakan pada suamiku kalau aku bertemu dengannya nanti?”

“Bilang saja kau tidak mau.”

“Ga In…” panggil Nenek, “Apa kau tidak mau membantuku sekali saja? Bukannya kau sudah berkali-kali kutolong… sekali ini tolong aku…”

“Karena takut pada suamimu?” tanya Bibi, “Apa kau benar-benar tulus ingin merawat Ji Ryeon? Karena tahu kau salah? Atau hanya karena takut kehilangan muka di depan Tuan Besar?”

“Ga—Ga In…”

Nenek hanya bisa menatap Bibi dengan kecewa, “Kalau begitu, tolong kau bantu aku membujuk Ji Ryeon pindah ke Seoul—“

“Aku sudah bilang tidak mau. Kau saja yang membujuknya,” bantah Bibi membuang muka. “Aku tidak punya urusan soal masalah ini, aku tidak punya hubungan darah dengannya. Kalau dia ingin pergi, silahkan bawa dia dari sini…”

Nenek terdiam, keriput di dahinya makin banyak. Ia berdiri susah payah, tetapi Ga In tidak menolongnya.

“…Baiklah… kalau Ji Ryeon lebih gampang dibujuk, aku akan mencoba menemuinya lagi,” katanya, saat sudah sampai di ambang pintu, ia hanya menambahkan, “Kau juga… jangan terlalu keras kepala. Aku pulang dulu…”

Bibi tidak benar-benar mengacuhkan apa yang telah diucapkan Nenek panjang lebar padanya.


******


Di sekolah, Yu Ri memaksa Ji Ryeon menceritakan padanya masalah yang kemarin itu. Maka saat jam olahraga mereka mengambil kesempatan duduk di bawah pohon sambil menyaksikan murid lelaki yang sedang bermain bola. Setelah mendengar keluh kesah Ji Ryeon, Yu Ri bereaksi seperti orang yang kebingungan saat mendapat hadiah mobil mewah padahal tidak pernah ikut undian apapun.

“Pindah ke Seoul?!”

Ji Ryeon mengangguk, “—Ssstt!”

“—Maaf…” balas Yu Ri menutup mulutnya refleks, “Tapi Ji Ryeon, yang benar saja kau mau pindah? Mereka tidak salah orang kan?”

“Sebenarnya…” jawab Ji Ryeon enggan. “Nenekku sudah pernah sekali menemui Bibi…”

“Kapan?!”

“Kira-kira… seminggu lalu…”

“Kau baru bilang sekarang padaku?! Kemarin kau bilang tidak mengenalnya!”

“Habisnya, waktu itu kupikir memang salah orang!”

“Kalau begitu, tidak mungkin salah—bibimu juga akan ikut ya?”

“Aku… tidak tahu…” kata Ji Ryeon, “Aku tidak akan tanya dulu pada Bibi…”

“Ji Ryeon, bagaimana kau hidup di sana?” sela Yu Ri, “Masa’ kau mau kembali ke sana… kau tidak sayang pada kami di sini?”

“Yu Ri-ya, aku tidak akan pindah kok!” balas Ji Ryeon sambil merangkul pundaknya, “Nenek itu memintaku untuk pikir-pikir lagi. Dan sudah kupikirkan aku tidak akan pergi ke sana…”

“Dasar konyol…” balas Yu Ri, “Aku tahu semua kegiatan mereka dikontrol menggunakan teknologi, tapi apa semua orang kota serba terburu-buru? Kenapa mereka suka sekali menindas orang kampung seperti kita? Mereka pikir kita bisa dibeli dengan uang?!”

Yu Ri hanya membesar-besarkan masalah. Tetapi Ji Ryeon tentu tidak ingin meninggalkan teman-temannya di sekolah. Ia tidak ingin melewatkan istirahat seperti saat ini di bawah pohon sambil bercerita dengan Yu Ri, memakai seragam yang sama sambil memandang ke arah siswa laki-laki yang salah tingkah dipandangi oleh mereka saat sedang bermain bola. Ia juga tidak ingin melewatkan jam pulang sekolah bersama-sama mengayuh sepeda sambil berlomba menaiki tanjakan yang susah didaki, kerja sambilan di banyak tempat dan kegiatan menyenangkan lainnya.

“Tidak heran sih, kau kan memang berasal dari Seoul,” tambah Yu Ri, “Siapa yang tidak bisa maklum kalau kau akhirnya juga akan kembali ke sana…”

“Tapi… aku tetap tidak percaya aku masih punya keluarga,” kata Ji Ryeon, “Padahal aku sudah terbiasa menganggap keluargaku cuma Ibu dan Bibi… sekarang malah bertambah seorang nenek… rasanya tidak logis…”

“Kenapa tidak tanya saja pada bibimu?” potong Yu Ri, “Dia kan tahu soal nenekmu. Kau bilang nenekmu datang berkunjung ke rumahmu. Bibimu itu, penuh rahasia seperti agen inteligen… soal gosip di lingkungan sini juga, pasti dia tahu banyak tapi pelit sekali membagikan rahasianya…”

“Kau kan tahu sendiri Bibi seperti apa,” kata Ji Ryeon, “Kata Nenek sebaiknya aku tidak menyinggung soal ini di depan Bibi. Nenek pasti sudah tahu kalau kulakukan nanti yang ada malah tambah masalah… makanya Nenek bilang kalau dia yang akan berbicara pada Bibi…”

“Ji Ryeon, kau benar-benar tidak  akan pergi ke sana, kan?” tanya Yu Ri, “Nanti kami akan ikut memohon pada nenekmu. Kalau kau tidak ingin pergi, mereka kan tidak bisa memaksa…”

“Ck… aku saja ragu nenekku akan mengabulkan keinginanmu…”

“Kan belum dicoba,” balas Yu Ri, “Mungkin begitu dia tahu kau lebih bebas tinggal di sini, dia akan menyerah dan membiarkanmu… dan juga tetap akan memberikan uang saku yang banyak padamu…“

Ji Ryeon merenung memandang jauh entah ke mana sambil mengela nafas. Yu Ri yang melihat Ji Ryeon seperti itu jadi cemas dan penasaran.

“Eh… kau baik-baik saja?”

Ji Ryeon melihat Yu Ri sebentar sambil tersenyum hambar, lalu ia termenung lagi.

“Baru saja terpikir olehku… apa sampai Ibu meninggal mereka masih menyimpan kemarahan dan tidak mau memaafkannya?” ucap Ji Ryeon, “Kenapa pada waktu di pemakaman Ibu tidak ada yang menyatakan diri sebagai keluargaku…”

“Ji Ryeon, mungkin saja keluargamu tidak tahu ibumu sudah meninggal…”

Memang benar waktu Eun Yeong meninggal sangat sedikit orang yang tahu. Walau seorang aktris besar, kehidupan pribadinya adalah rahasianya sendiri. Tidak ada media yang tahu. Tetapi Nenek bukan pencari berita, dia ibunya ibu. Apa Nenek tidak pernah ingin tahu tentang putrinya? Tidak ingin mengantar Eun Yeong ke liang lahat, seperti ibu-ibu lain yang menangis saat tahu anaknya meninggal? Lalu,bagaimana dengan nasib cucunya? Mungkin seorang cucu tidak begitu berharga di matanya.

Mendadak ia ingin marah pada neneknya. Tetapi begitu mengingat wajah Nenek yang menangisi Eun Yeong, keinginan itu langsung sirna.

“Ji Ryeon-ah…” balas Yu Ri sayang, “…Mungkin nenekmu baru bisa menemukanmu sekarang. Bisa saja kan dia sudah mencarimu dari dulu tapi tidak ketemu-ketemu. Kau jangan berpikir yang aneh-aneh…”

“Aku iri padamu…” kata Ji Ryeon menatap Yu Ri dengan pandangan separo kosong, “Tidak perlu sibuk memikirkan masalah keluarga. Nenek dan kakekmu masih hidup, orangtuamu juga rukun. Kau punya banyak adik, punya kakak…”

“Coba kalau kau jadi aku,” bantah Yu Ri, “Kau akan menderita seumur hidup. Kakakku itu, pelitnya minta ampun—adikku, dia sering membuatku kesal… kakekku sudah pikun, aku capek sekali harus mencarikan kacamatanya yang hilang terus…”

“Menderita seumur hidup juga tidak masalah…” jawab Ji Ryeon, membuat Yu Ri merasa salah bicara, “Kalau aku bisa merasakannya walau hanya sehari… kalau aku bisa makan nasi setiap hari dari beras di sawah kakek, bisa makan kimchi buatan nenek dan saling ejek dengan adik…”

Yu Ri merasa kasihan pada Ji Ryeon. Dan beberapa hari ini Ji Ryeon makin sering menghabiskan waktu pergi mengunjungi ibunya. Ia kerap melihat Ji Ryeon memperhatikan sepasang suami istri bersama anak-anaknya yang berkunjung ke restoran mereka, atau ketika mereka belanja di supermarket dan menatap ke arah anak yang merengek pada ibunya untuk dibelikan es krim.

Ji Ryeon mendambakan keluarga seperti itu. Ia ingin seperti teman-teman di sekolah yang biasa menceritakan keadaan rumah mereka. Mengenai orangtua mereka yang cerewet soal sekolah, kakak yang sok berkuasa dan adik yang menyebalkan. Ia tidak pernah merasakan kehangatan keluarga secara utuh. Ibu berperan ganda sebagai ayah. Dan walau tidak pernah diungkapkannya, ia ingin memiliki saudara yang bisa berbagi kesamaan fisik dengannya.

Singkat kata, Ji Ryeon kesepian.

Lama tidak meng-update ff >.<

Walau bagian ini agak membosankan (maaf) gw harap bisa menghibur wkkkk *apanya yang menghibur Zuy…*

Today’s Song:
SNSD – Dear. Mom

Photo credit: gabulinka@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on December 30, 2010, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 15 Comments.

  1. Hee..
    Klo ne d pelemin, kyakny emak saiya bakalan sukkaaa bangett..hee
    Ayo ayo lnjtanny ageee…
    Nghbur ko ^^

  2. yupina oh ha ni

    ur welcome🙂

  3. klo nasib gw kayak si ji ryeon pasti juga bakal ngiri..
    hmm.. okee, ditunggu part selanjutnya!

  4. Huhuhuhu 너무 슬프다… T_T

  5. jadi inget Brilliant Legacy deh kalo baca ini, .. ntar malem pasti aku mimpi dibawa pergi sama ibu” tua yang ternyata adalah nenekku *entah dari orang tua yang mana* .. terus masalahnya bakal jadi begini:
    si nenek ternyata punya cucu lain yg luar biasa ganteng, kami sama” suka, tapi kebentur gara” kami sepupu … ternyata belakangan ketauan itu cucu bukan cucu aslinya, .. lalu kami bahagia berdua selamanya.

    err … oke, lanjut baca lagi.

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: