[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 6)

Every time I walk, you come in my thoughts
Every time I sleep, I want to see you
My love that I long for, why did you love me then?
For my dry heart, it was only one day of just memories

Selain menjadi pelayan restoran, Ji Ryeon juga bekerja di toko bridal sebagai asisten perancang gaun pengantin. Karena pekerjaannya ini tidak selalu sibuk, ia hanya bekerja di saat ada pesanan saja. Dan ketika sedang membantu mengurus hiasan manik-manik yang ditempel pada gaun di manekin, Ji Ryeon disuruh menemui seseorang yang ternyata adalah supir Nenek.

Ji Ryeon diminta ikut dengannya untuk bertemu dengan Nenek di hotel tempat Nenek menginap. Katanya, Nenek sedang sibuk, makanya hanya bisa mengutus anak buahnya saja. Ji Ryeon mengikuti keinginan Nenek dan mereka sampai di hotel mewah yang tarifnya paling mahal di Jinju. Ji Ryeon tidak akan pernah masuk ke hotel itu—kalau Nenek tidak menyuruhnya ke sana.

Ia dituntun masuk ke dalam kamar bernomor 103, dan si supir tadi menutup pintunya dari luar. Neneknya sedang menelpon seseorang di depan meja kerja dan kelihatan sibuk. Saat melihat Ji Ryeon, ia langsung menyegerakan diri untuk menghentikan aktivitasnya dan mempersilahkan Ji Ryeon duduk di sofa.

Ji Ryeon tidak mau bertanya soal yang kemarin itu. Biar Nenek saja yang berbicara lebih dulu. Padahal ia berharap kalau neneknya akan memberi kebebasan untuk memilih dalam jangka waktu yang lebih masuk akal.

“Apa sudah kau pikirkan baik-baik?” tanya Nenek ikut duduk di sofa seberang, “Kau akan pindah ke sana kan? Kalau sudah yakin, malam ini juga kau bisa langsung berkemas. Besok kita akan kembali ke Seoul.”

“—Kenapa terlalu terburu-buru? Aku belum bisa memberi jawaban yang pasti…” kata Ji Ryeon.

Sang Nenek malah menghela nafas, kecewa. Sementara itu Ji Ryeon menelan ludah, takut kalau neneknya makin marah dengan permintaannya.

“Tapi sudah hampir seminggu,” balas Nenek.

“Nenek… apa aku boleh menolak?”

Nenek melotot saking kagetnya.

“Kenapa menolak?”

“…Aku… tidak begitu tertarik ke sana,” jelas Ji Ryeon. “Aku sudah betah di sini. Ada Bibi, jadi tidak usah cemas padaku. Aku baik-baik saja sampai sekarang.”

“…Aku sudah pernah membahas ini dengan bibimu,” kata Nenek, “Dia bilang, sebaiknya aku bertanya padamu. Makanya aku datang menemuimu lagi. Ga In menyerahkan semua keputusan padamu. Dia tidak mau ikut campur soal ini…”

Ji Ryeon kesal pada Bibi. Bibi harusnya mengatakan pada Nenek kalau ia tidak akan membiarkan Ji Ryeon pindah. Kenapa harus memberi kebebasan pada Ji Ryeon untuk memilih. Padahal Bibi tahu kalau ia paling lemah menghadapi dilema, apalagi kasusnya seperti ini.

“Kau tahu kan, kalian bukan keluarga sedarah,” potong Nenek membuyarkan lamunan Ji Ryeon, “Aku sebagai nenek kandungmu, merasa sakit hati melihat cucu sendiri hidup dengan orang lain. Rasanya, aku tidak berguna…”

“Aku sudah menganggap Bibi sebagai Ibu sendiri,” bantah Ji Ryeon, “Setelah Ibu meninggal, Bibi yang merawatku sampai sekarang. Dan dia tidak minta imbalan apapun dariku, dia bekerja keras di pabrik untuk membiayai hidup kami. Lagipula, Bibi juga sudah tua. Dan nampaknya aku juga tidak cocok hidup di sana…”

“Ga In memang baik…” jawab Nenek, “Tapi sebaiknya kau tidak merepotkannya lagi? Kalian hidup berdua, kondisi ekonomi kalian juga tidak terlalu bagus, makanya kau bekerja sambilan kan? Sudah waktunya kau sedikit meringankan beban bibimu… tanpamu saja, hidupnya sudah cukup berat…”

“Tapi… kalau harus meninggalkan Ibu…” kilah Ji Ryeon, “Kalau aku tidak mengunjunginya, rasanya berat sekali…”

“Eun Yeong pasti lebih mementingkan kebahagiaanmu…” jelas Nenek—kontradiksi pada dirinya sendiri, “Seorang ibu tidak pernah mementingkan dirinya lebih dari anaknya.”

Ji Ryeon sudah tidak tahan lagi ingin mengutarakan pendapatnya, juga tidak tahan ingin menemukan jawaban atas pertanyaan yang mengganjal di hati selama bertahun-tahun, dan kembali muncul beberapa hari belakangan ini.

“—Nenek, aku ingin tanya sesuatu.”

“Katakan saja.”

“Apa Nenek pernah mengunjungi upacara pemakaman Ibu, empat tahun lalu?”

Nenek terpaku tidak bisa menjawab, seperti dugaan Ji Ryeon.

“Nenek pernah melihatku sebelumnya…? Kenapa tidak dari dulu menemuiku…?”

Ji Ryeon bukannya ingin dikasihani, namun ia kecewa. Ia merasa diperlakukan seenaknya.

“Sebagai anak kecil, aku kebingungan… bertanya-tanya setelah Ibu tidak ada lagi aku harus ke mana… Kukira aku akan dimasukkan ke panti asuhan. Berakhir di tempat itu menunggu ada yang memungutku seperti kucing buangan. Untung Bibi mau mengurusku…”

Dari cara Ji Ryeon menyindir halus, Nenek yakin kalau Ji Ryeon punya pemikiran yang cerdas.

“…Kenapa… baru sekarang…?” tanya Ji Ryeon, “Kenapa baru sekarang aku bisa bertemu denganmu… Kenapa harus menunggu wasiat Kakek…?”

“Itu…” jawab Nenek gugup, “Aku baru bisa menemukanmu sekarang.”

“Artinya Nenek pernah berusaha menemuiku?”

“Ya,” jawab Nenek bohong.

“Nenek tidak menganggapku sebagai harta warisan kan?”

“Ji Ryeon, kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Nenek tersinggung.

“Aku bukan properti, bukan harta warisan dari wasiat Kakek…” bela Ji Ryeon, “Ibuku pasti punya alasan lebih untuk berkata kalau Nenek sudah meninggal.”

Ji Ryeon ternyata sama sulitnya seperti Bibi sehingga membuat Nenek kelabakan. Kalau sudah begini Nenek harus mengatakan yang sebenarnya walau ia harus malu pada Ji Ryeon.

“…Sebelum aku menyusul Eun Yeong, aku ingin bertemu denganmu,” jelas Nenek, “Saat suamiku meninggal dengan keinginan terakhirnya yang harus terpenuhi, aku sangat menyesal kenapa tidak dari dulu membawa kalian kembali ke rumah… sekarang akibatnya sudah kutanggung sendiri. Aku salah, padahal dia anakku…”

“Nenek ibunya ibuku, tapi bukan ibuku.”

Nenek tertusuk mendengar ucapan Ji Ryeon. “Tapi aku keluargamu…”

“Aku sayang pada Ibu yang mengalami kesulitan waktu hidupnya. Aku kasihan melihat Ibu yang bekerja keras sendirian untuk menghidupiku, kami bisa punya rumah yang bagus, dan kami bisa memenuhi kebutuhan kami. Makanya aku tidak mau melakukan hal-hal yang dibenci olehnya. Aku tidak mau ikut denganmu kalau Ibu tidak menginginkan itu!”

“—Ji Ryeon, aku memang bukan ibu yang baik… tapi aku berusaha memperbaiki kesalahanku…” potong Nenek yang cemas kalau Ji Ryeon akan menolaknya, “Tolong bantu aku… aku harap, dengan membawamu kembali, dia bisa memaafkan kakekmu dan memaafkan aku…”

“Hanya karena Ibu memilih karir yang disukainya, kalian marah sampai begitu,” balas Ji Ryeon kesal. “Karena Ibu bekerja makanya kami tidak menggelandang. Kami punya pegangan supaya tidak meminta-minta dari orang lain. Karena kebaikan Ibu aku masih bisa hidup sampai sekarang, bukan karena Nenek atau Kakek! Bukan karena kalian, tapi karena ibuku!”

“Ji Ryeon…”

Ji Ryeon menunduk sebelum ia pergi dari sana, “Maaf, Nyonya… tidak bisa. Aku tidak mungkin pergi dari sini, aku tidak mau tinggal denganmu—”

Namun tiba-tiba seorang wanita lagi mengetuk pintu dan datang mengejutkan mereka berdua. Wanita itu lebih tua dari Ji Ryeon tetapi lebih muda dari Nenek. Wajahnya kentara sekali capek dan khawatir.

“Ji Ryeon…” panggilnya.

“—Bibi…”

 

******

 

Bibi dan Ji Ryeon pulang ke rumah. Ji Ryeon ngambek pada Bibi karena tadi sore bukannya mendukung Ji Ryeon malah bertindak sebaliknya.

“Urusan kepindahan sekolahmu, sudah diatur oleh Nenek. Soal pekerjaanmu juga… lalu, kau bawa yang perlu-perlu saja,” kata Bibi waktu mengemasi barang-barang Ji Ryeon ke dalam satu koper dan satu tas gandeng. “Sampai di sana kau bisa beli banyak baju baru. Aku kenal dekat dengan nenekmu. Dia orang baik, jadi tidak perlu sungkan kalau mau minta uang padanya…”

“Bibi… aku tidak akan pergi ke sana kok…” balas Ji Ryeon, “Bibi tenang saja, ya…?”

“Lebih cepat kau pergi, akan lebih baik lagi…”

“Bibi, aku tidak akan pernah pergi ke sana!” ulang Ji Ryeon mulai marah lagi.

“Harus pergi…” jawab Bibi, “Itu tempatmu yang sebenarnya, bukan di sini. Kau layak hidup di sana—”

“Bibi!” seru Ji Ryeon, meraih tasnya dan mengeluarkan seluruh isinya.

“Dengarkan kataku!”

“Tidak mau!” Ji Ryeon ikut teriak.

“Di Seoul kau tidak perlu lagi kerja sambilan! Tidak perlu hidup susah seperti di sini!” balas Bibi merebut kembali tas dan mengisinya lagi. “Kau tidak usah bangun pagi-pagi buta mengantar koran! Itu saja kau tidak mau terima…”

“Siapa bilang aku hidup susah di sini?!” tantang Ji Ryeon, “Aku hidup senang!”

“Senang apanya?!” kata Bibi, “Kau jadi capek! Harus mengatur waktu kerja dan sekolah, memangnya ibumu akan senang melihatmu begini? Hah?!”

“Bibi kenapa mau mendukung Nenek itu?!” tanya Ji Ryeon, “Bukannya Bibi tidak suka padanya? Kulihat Bibi selalu cemberut di depannya!”

“…Kau tidak dengar tadi nenekmu bilang apa…?” kata Bibi kesal, “Ini demi kebaikan ibumu… juga demi kau. Nenekmu sudah menjamin semuanya, kau mau masuk sekolah paling mahal di Korea, dia sanggup membayaimu. Kalau kau kuliah, pasti ditanggung. Dengan uang hasil kerja sambilan, memangnya cukup?”

“…Bibi tidak suka aku di sini…?” tanya Ji Ryeon, teringat pada ucapan Nenek, “Memangnya aku merepotkan…?”

“Kau sangat merepotkan,” jawab Bibi sehingga membuat Ji Ryeon kecewa, “Kau itu cucu orang. Harusnya jangan hidup dengan yang bukan keluargamu.”

“Bibi kan keluargaku…”

“Aku bukan keluargamu,” kata Bibi, “Aku hanya bekas pelayan ibumu…”

“Sekarang kan tidak lagi…” kata Ji Ryeon cemberut, “—Bibi ikut saja ke sana!”

“Aku tidak mau.”

“Kalau Bibi tidak ikut, aku tidak akan pergi.”

“Ji Ryeon-ah, kau tidak perlu memikirkan aku,” kata Bibi, “Aku sudah terbiasa hidup sendiri.”

“Tapi aku sudah terbiasa hidup dengan Bibi,” kata Ji Ryeon bersandar pada bahu Bibi, “Tadi Nenek bilang masih ada anggota keluarga lain, bagaimana kalau mereka tidak bisa menerimaku…? Memangnya mereka mau menerima orang asing sepertiku, datang tiba-tiba mengganggu mereka. Siapapun tidak akan suka…”

“Tidak mungkin begitu, kau belum merasakan jangan bilang tidak mau…” balas Bibi meyakinkannya, “Kau tidak ingat, waktu kubilang kita menetap di sini, kau menangis ingin pulang ke rumahmu…”

“Itu… kan… dulu… sekarang tidak lagi!” seru Ji Ryeon, “Lebih baik aku di sini saja… bersama Bibi…”

“Mungkin kalau sudah di sana, kau malah akan lupa pada kami semua,” ujar Bibi, merapikan kembali baju-baju yang Ji Ryeon keluarkan dari koper.

“Makanya aku tidak mau pindah, supaya tidak lupa dengan orang-orang yang ada di sini…”

“Harus pindah!” balas Bibi jengkel, “Mereka orang yang baik… nenekmu pasti sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Mestinya tidak ada yang keberatan.”

“Bibi… kalau aku sudah tinggal di sana, kalau liburan aku masih boleh pulang ke sini kan…?”

“Rumah ini terbuka untukmu,” balas Bibi, “Kau boleh pulang kapan saja kau mau…”

“Apa benar?” tanya Ji Ryeon, “Nanti kalau aku melakukan kesalahan, aku bisa diusir… kalau diusir, aku kembali ke sini ya?”

“Jangan sengaja membuat kesalahan,” jawab Bibi. “Dasar…”

“Aku tidak mau pindah…” kata Ji Ryeon, “Aku ikut jalan ibu saja…”

“Kalau nenekmu tidak ada, maka ibumu dan kau juga tidak ada!” seru Bibi kesal, “Kau juga harus berterima kasih padanya! Makanya kau harus menghargai niat baiknya! Ngerti?!”

Ji Ryeon masih mau berdebat, “Kenapa bukan Bibi saja yang jadi nenekku…?”

Bibi terdiam. Ia juga ingin punya cucu seperti Ji Ryeon. Betapa baiknya hati anak perempuan yang dari tadi bertengkar dengannya. Tapi sampai sekarang saja ia tidak pernah sekalipun menikah.

“Bibi yang merawatku, kenapa aku harus pergi dengan orang lain…” gumam Ji Ryeon, “Kalau boleh, aku ingin jadi cucumu saja…”

“Mana mungkin aku jadi nenekmu…” kata Bibi setengah mendengus, “Aku masih terlalu muda punya cucu setua kau…”

“Muda dari mana…?” kata Ji Ryeon melihat bibinya dengan tatapan separo mengejek, “Sudah keriput begini, anak kecil biasanya memanggilmu Nenek…”

Bibi menghela nafas. Capek menghadapi Ji Ryeon.

“Ibunya ibu… rasanya agak mengerikan…” kata Ji Ryeon.

“Kau takut padanya ya? Dia bukan hantu,” jawab Bibi.

“Bukan begitu maksudku! Padahal belum seminggu bertemu dengannya, tapi sangat buru-buru mengajakku ke sana…” jelas Ji Ryeon, “Apa kata teman-temanku… hari ini aku masih sekolah, besoknya tiba-tiba sudah pindah…”

Bibi kasihan pada Ji Ryeon. Di matanya, Ji Ryeon seperti piala bergilir. Tapi nenek Ji Ryeon yang punya hak sah untuk mengasuhnya.

“Kalau aku pergi… bagaimana dengan ibuku…”

“Masih ada aku di sini. Aku yang akan membersihkan makamnya,” ujar Bibi, “Sudah… kau tidur saja… Semua barang-barangmu akan kusiapkan… tidur…”

Di kamar, Ji Ryeon mengemasi barangnya. Saat ia akan memasukkan pernak-pernik yang terjejer rapi di atas meja belajarnya, matanya tertuju pada kumpulan foto dalam bingkai di sebelah tumpukan buku pelajaran.

Ibunya… kalau saja ibu di foto itu bisa memberinya petunjuk. Apa yang harus dilakukannya tanpa ibu. Keputusan berat seperti ini, untuk tinggal dengan keluarga yang bagai bukan keluarga…

Apa ibunya akan mengizinkannya tinggal dengan Nenek.

Apa ibunya mau memaafkan orangtuanya jika ia diasuh oleh mereka. Hanya dengan memberi Ji Ryeon tempat di rumah mereka, apa ibu sudah puas?

Apa dengan itu masalah bisa selesai?

Dan Jun Sang yang amat disukainya. Kalau mereka bisa bertemu lagi di Seoul, kembali menjadi sahabat dekat, ia mungkin tidak akan menyesal. Tapi bagaimana caranya supaya bisa bertemu Jun Sang…

Jaminan yang diberikan Nenek tidak termasuk kembalinya apa yang pernah dialami Ji Ryeon pada masa kecil.

 

******

 

Teman-teman sekelas sepakat berkumpul di tepi sungai tempat mereka biasa bermain air. Semuanya perempuan, karena di sekolah mereka kelas laki-laki dan kelas perempuan dipisahkan. Pesta perpisahan dadakan diselenggarakan dengan menyalakan api unggun sambil membakar ikan dan bercerita.

“Hari terakhir aku bisa bermain di sini,” ucap Ji Ryeon setelah mereka kenyang, “Gomawo. Kalian mau menemaniku…”

“Ji Ryeon-ah…” panggil Yu Ri. Ji Ryeon sedih harus meninggalkan Yu Ri yang sudah lengket dengannya sejak kelas 1 SMP, “Sampai di sana kau harus hati-hati ya. Jangan takut sama preman, kau ancam saja kau sudah sabuk hitam…”

Ji Ryeon mendengus geli, sudah mau berpisah Yu Ri masih saja bercanda. “…Iya…”

Lalu Yu Ri melanjutkan kalimatnya, “Kalau kau tidak ada, aku berteman dengan siapa…”

“Yu Ri, kan masih ada kami!” seru teman-teman yang lain tersinggung.

“Kalian hanya bikin susah!” sambung Yu Ri jengkel.

Teman-teman yang lain tidak mau kalah bicara, semuanya mengatakan hal-hal positif padanya.

“Ji Ryeon, kirim surat pada kami ya.”

“Kau harus kalahkan anak-anak di Seoul! Harus jadi juara satu lagi!”

“Kalau kau sudah terkenal, jangan lupakan kami…“

Ji Ryeon mengangguk-angguk sambil tertawa dan menangis. Bagi mereka, Ji Ryeon adalah seorang teman yang kehadirannya sangat penting. Selain jadi andalan dalam pelajaran, Ji Ryeon tidak membeda-bedakan teman dan mau bergaul dengan siapa saja. Dari orang tua hingga lebih banyak lagi anak kecil menyukainya. Hampir semua orang di desa itu kenal dengan Ji Ryeon.

“Ji Ryeon, ini hadiah dari kami,“ kata Yu Ri menyerahkan sesuatu yang tipis dan berbentuk petak dilapisi kertas kado dan pita padanya, “Kami semua membuatnya buru-buru. Maaf kalau hasilnya jelek…”

Ji Ryeon membuka hadiah pemberian Yu Ri. Di tangannya ada sebuah papan yang dilapisi kertas krem, tertulis kalimat-kalimat penyemangat untuk Ji Ryeon dengan tanda tangan masing-masing anggota kelas. Puluhan tulisan berwarna-warni itu mengelilingi sebuah gambar karikatur wajahnya yang menyungging senyum ramah. Dan sudut kiri, ada foto mereka semua saat main di sungai sepulang sekolah.

“…Jelek apanya…” kata Ji Ryeon sangat tersentuh, airmatanya mulai menetes-netes lagi, “Ini bagus sekali…”

“Kalau kau melihatnya, kau akan teringat pada seluruh temanmu. Jadi, sering-sering dilihat, supaya kau ingat nama kami…”

“Pasti…” kata Ji Ryeon, “Aku akan ke sini tiap tahun, lalu kita akan berkumpul sama-sama seperti ini. Kalian juga jangan lupa padaku ya?”

Mereka serentak menangis. Semuanya terharu, baru kali ini di antara mereka yang harus pergi jauh. Apalagi Ji Ryeon adalah anak baik-baik. Lingkungan mereka sempit. Meskipun pergaulan terbatas, namun justru itu yang membuat mereka solid.

 

******

 

Pagi yang tidak menggairahkan. Saat sudah semalam suntuk ia merenung untuk memutuskan akan mencoba menolak lagi, akhirnya ia malah terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan. Biasanya ia bangun di pagi buta untuk mengantar koran dengan sepeda, lalu berangkat ke sekolah dengan teman-teman yang ditemuinya di jalan. Sekarang ia tidak lagi bekerja apa-apa, dan bukan lagi murid sekolah di sana.

Sebelum berangkat, subuh-subuh sekali waktu kebanyakan orang masih terlelap, ia mengunjungi ibunya terlebih dahulu dengan membawa beberapa tangkai bunga white lily segar yang baru dipetik. Ji Ryeon meletakkan bunga itu di depan nisan Eun Yeong dan duduk di sampingnya.

Eomma… ini, bunga kesukaanmu,” Ji Ryeon berlutut, meletakkan bunga di atas gundukan tanah makam Eun Yeong. “Hari ini terakhir kali aku bisa membawanya seminggu sekali…”

“Aku akan pindah ke Seoul… Nenek menjemputku… aku akan bertemu dengan seluruh anggota keluargamu…”

“Nanti aku tidak bisa sering-sering mengunjungimu, tidak apa-apa kan…? Bibi bilang, dia akan merawatmu.”

Ji Ryeon menggenggam rerumputan di atas anah kuburan Eun Yeong. Ia menunduk.

Eomma… apa ini benar…?” tanyanya, “Bagaimana jika ternyata mereka menolakku? Aku takut tidak diterima dengan baik…”

Ya. Itulah ketakutan terbesarnya. Ia tidak tahu apa yang sedang menunggunya di Seoul. Sesuatu yang baik—keberuntungan, atau malah bencana?

“Ibu… adalah ibuku satu-satunya…”

“Kalau aku boleh ke sana, mohon lindungi aku…”

“…Maaf ya, Ibu… Tapi aku akan sangat rindu padamu…” tambahnya, menahan tangis dan isakan. “Aku sangat rindu…”

Dengan berat hati Ji Ryeon pergi dari sana. Ia sulit dipisahkan dari ibunya, karena dulu mereka hidup hanya berdua dan kasih sayang yang dilimpahkan Eun Yeong padanya betul-betul luar biasa. Kepribadian Ji Ryeon yang sekarang pun terbentuk dari didikan ibunya.

Ji Ryeon menatap datar mobil Nenek yang lagi-lagi terparkir di depan rumah Bibi. Mobil yang tidak disukainya.

Lalu Bibi dan Nenek keluar dari dalam rumah, sementara bawahan Nenek yang sampai saat itu Ji Ryeon tidak tahu namanya membantu membawakan koper-koper Ji Ryeon.

Ji Ryeon langsung beralih pada Bibi, “Bibi… aku akan sering-sering datang ke sini…”

“Kalau kau sibuk, tidak sering juga tidak apa-apa,” balas Bibi ketika menyerahkan tas Ji Ryeon padanya, “Makam ibumu biar aku yang urus…”

“Ya…” jawab Ji Ryeon.

“Belajar yang benar,” ujar Bibi, “Kau sudah diberi kesempatan, tidak boleh disia-siakan. Masalah apapun yang kau hadapi, harus tetap tegar… dan jangan cengeng… kau selalu begitu…”

Ji Ryeon memeluk Bibi, “Bibi, kau sudah tua, tidak boleh terlalu capek bekerja… kalau kau sakit, harus cepat minum obat… kalau tidak sempat masak, pesan saja dari restoran… ya…?”

“Harusnya aku yang bilang itu padamu…”

Di lain pihak, Nenek iri pada Bibi. Ji Ryeon lebih akrab dengan Bibi daripada dengannya.

Lalu Ji Ryeon melepasnya. Perlahan ia melangkah masuk ke dalam mobil, tempat Nenek menunggunya dengan sabar. Saat itu Ji Ryeon kelihatan seperti orang kampung yang akan dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di kota…

Sampai ia benar-benar jauh, rumah Bibi tidak bisa dilihat dari dalam mobil lagi. Maka saat kaca jendela kembali dinaikkan, ia duduk patuh di samping neneknya.

“Kau baik-baik saja, Ji Ryeon…?” tanya Nenek.

“Ya…” jawab Ji Ryeon tersenyum.

“Maafkan aku,” balas Nenek, “Maaf sudah memaksamu… Kalau saja bisa, aku ingin aku saja yang menggantikan Eun Yeong… seharusnya aku yang lebih dulu meninggal…”

Ji Ryeon agak terkejut, “Halmeoni…”

“Dunia ini… seringkali tidak adil… keinginan kita berbanding terbalik dengan kenyataan… tapi, jika tidak begitu, hidup tidak akan berputar,” Nenek menghela nafas, “Aku sudah banyak melewati masa-masa sulit… dan setiap masalah yang kuhadapi seringkali berujung masalah lain. Tidak tahu, kenapa takdirku seperti itu… Aku ingin sekali setelah ini tidak ada lagi masalah. Aku hanya ingin mati dengan tenang…”

 

******

 

Bibi pernah bilang keluarga Chae adalah keluarga yang biasa-biasa saja. Tapi apa dibayangkan Ji Ryeon jauh berbeda dari bukti yang ada. Setelah berkunjung sebentar ke makam Kakek untuk memberi salam, mereka pulang ke rumah. Dilihat dari depan pagar saja rumah Chae sudah bisa diprediksi dalamnya begitu besar. Rumah itu memang berada di kawasan elit di Seoul, tetangga mereka juga punya rumah yang sama besarnya.

Saat melewati halaman yang begitu luas dan hijau, Ji Ryeon langsung berpikir kalau tempat itu bisa dipakai untuk memelihara puluhan ekor ayam atau berkebun. Dan rumah Chae ini bertingkat dua dengan balkon dan jendela-jendela yang bisa muat orang lewat tanpa harus menundukkan kepala.

Ji Ryeon dituntun masuk ke ruang keluarga oleh seorang pelayan. Ruang keluarga hampir sama seperti ruang tamu yang baru dilewatinya, gorden klasik, sofa panjang klasik dengan bantal besar, kabinet dan lemari transparan tempat menyimpan koleksi, dan lantai yang diberi karpet tebal. Di satu sisi dinding, ada televisi flat super besar, di sisi lain dihias banyak likusan dan di sudut ruangan kalau tidak ada vas bunga, pastilah lampu tegak. Tetapi yang menjadi perhatiannya bukanlah si gorden atau si lukisan, melainkan seorang wanita separuh baya yang cantik, itu Bibi Geum Ga beserta anaknya Nam Hee. Mereka berdua duduk di salah satu sofa cantik milik mereka.

Geum Ga menyambut Ji Ryeon dengan tangan terbuka seperti sudah lama tidak melihat saudara yang sepuluh tahun terdampar di Antartika tanpa berita.

“Ini bibimu, Geum Ga,” kata Nenek, “Dia kakak ipar Eun Yeong.”

Annyeong haseyo,” sapa Ji Ryeon sambil menunduk hormat.

“Selamat datang…” katanya sangat ramah, saat memeluk Ji Ryeon. Geum Ga memperhatikan wajah Ji Ryeon dengan teliti. Dari ujung mata sampai ujung dagu diperhatikan terus olehnya, “Kau nampak mirip dengan Eun Yeong. Benar-benar ibu dan anak. Eun Yeong pasti senang punya anak cantik sepertimu… semoga kau hidup betah di sini…”

Kamsahamnida,” jawab Ji Ryeon polos dan tersenyum-senyum malu.

Lalu Nam Hee menyapanya, “Eonni! Aku Chae Nam Hee.”

Ji Ryeon membalas, “Annyeong haseyo, Chae Ji Ryeon imnida.”

“Dia juga anak tunggal, masih kelas 3 SMP,” sela Geum Ga, “Jadi karena kalian paling muda di sini, kalian harus akrab.”

“Karena dia lebih tua dua tahun darimu, kau harus sopan padanya,” ujar Nenek pada Nam Hee, “Di sekolahnya, Ji Ryeon anak yang pintar, kau bisa belajar banyak dengannya…”

Nam Hee menyungging senyum manisnya, “Ya, Nenek…”

“Nah, Ji Ryeon, kau capek kan?” tanya Bibi, “Kamarmu sudah disiapkan. Nam Hee, antarkan Ji Ryeon ke kamarnya.”

“Kakak, ayo!” Nam Hee melingkarkan tangannya ke lengan Ji Ryeon.

Waktu Ji Ryeon dan Nam Hee naik ke lantai dua, Geum Ga mulai mewawancarai ibunya dengan beberapa pertanyaan yang sudah disiapkannya.

“Ibu, bagaimana?” tanya Geum Ga, “Apa Ga In marah?”

“Seperti yang kau bilang,” jawab Nenek sambil berjalan ke kamarnya, “Dia sebenarnya tidak mau menyerahkan Ji Ryeon… wajar saja dia seperti itu, memang salah kita dari awal…”

“Kenapa harus menyalahkan diri sendiri…” sambung Geum Ga mengikuti Nenek, “Bukan sepenuhnya salah kita. Karena tindakannya yang tidak pantas itu, Ga In dikeluarkan dari sini…”

“Tapi niatnya untuk membela Eun Yeong,” ujar Nenek, “Kalau Eun Yeong tidak salah, maka apa yang dilakukan Ga In juga tidak salah…”

Mereka sekarang ada di kamar Nenek, ia masuk belakangan dan menutup pintunya.

“…Aku sempat mengajak Ga In kembali ke sini…”

“Untuk apa Ibu berbuat begitu?!” seru Geum Ga, “Ibu mau harga diri kita terlihat rendah di depannya?!”

“Tapi dia menolaknya…”

Geum Ga menghela nafas, lega. Sementara itu Nenek melepas blazernya. Ia termenung menatap motif bunga-bunga di sofa yang ia duduki.

Eomeonim…?” panggil Geum Ga cemas.

“Ga In… menyinggung Ae Ri…”

Geum Ga melotot, “…Ae Ri…?”

“Hanya untuk menyindirku…”

“Wanita itu… sampai kapan baru puas menghina?” balas Geum Ga, “Dia pikir Ae Ri jadi begitu juga karena kita?!”

“Sudah,” kata Nenek, “Tidak baik menjelek-jelekkan orang yang sudah meninggal… biarkan Ae Ri tenang di sana…”

Geum Ga yang memegang-megang lehernya karena khawatir akhirnya berhenti mengomel walau mulutnya masih ingin bicara panjang lebar.

“Oh ya, kau harus jaga mulut di depan Ji Ryeon,” perintah Nenek, “Jangan pernah menyinggung-nyinggung soal Jong Hae atau Ryang Seok di depannya. Dia tidak boleh tahu apapun sebelum waktunya untuk tahu. Aku takut mentalnya akan jatuh kalau tahu soal ini… lalu apa Nam Hee sudah tidak marah lagi?”

Mwo? Ah, dia hanya cemburu,” jelas Geum Ga, “Kalau keduanya sudah akrab juga tidak akan ada masalah.”

“…Sebentar lagi aku akan mati… kalau aku ketemu suamiku dan Eun Yeong di sana, aku harus bilang apa kalau Ji Ryeon belum juga kuasuh…”

“Jangan bahas soal mati-mati segala,” kata Geum Ga kaget, “Ibu masih sehat begini, di pabrik masih banyak yang memerlukanmu… juga masih kuat marah-marah…”

“Apa?”

“Ah—tidak.”

“Ngomong-ngomong pabrik, aku harus ke sana,” sela Nenek. Ia bangun dan kembali memakai blazernya.

“Baru sampai mau pergi lagi?” tanya Geum Ga, “Istirahat dulu.”

“Aku tidak capek,” jawab Nenek.

“Kalau begitu aku juga kembali ke sana.”

“Apa proses produksi berjalan lancar?”

“Pak Cheol bilang para buruh minta kenaikan upah,” kata Geum Ga, “Katanya yang mereka terima kemarin tidak sebanding dengan jam lembur mereka. Apa kita harus menaikkan gaji para pekerja? Tahun ini keuntungan kita merosot. Konsumen berkurang karena kondisi ekonomi kita masih belum stabil.”

“Ada-ada saja, baru sebulan lalu upah dinaikkan…” kata Nenek, “Biar aku bicarakan saja dengan Pak Cheol.”

 

******

 

Kata Nenek, kamar yang ditempati Ji Ryeon adalah milik ibunya dulu. Ji Ryeon jelas tidak akan keberatan. Kamarnya lengkap dengan segala macam barang untuk anak gadis. Juga banyak elektronik terkini yang hanya bisa dilihat Ji Ryeon di reklame. Ada notebook di meja belajar, tv di depan ranjang dan cd player di sampingnya.

Eonni, kutinggal dulu ya,” kata Nam Hee.

“Baik,” jawab Ji Ryeon, “—Terima kasih…!”

Setelah Nam Hee menutup pintunya, Ji Ryeon melihat-lihat seluruh isi kamarnya. Luas. Wallpaper bunga. Sama mewah seperti ruangan di lantai bawah. Ia mengetes menggunakan mesin jahit listrik di meja bundar di tengah kamar, yang dari dulu sangat diinginkan Ji Ryeon.

Di kamar mandi pribadi, ada bath tube besar dan alat mandinya lengkap—seperti meja riasnya yang dipenuhi kosmetik buatan perusahaan Nenek, handuk-handuk putih, dan bar soap yang dibentuk bermacam-macam hewan yang disimpan di lemari kaca. Dari balkon kamarnya bisa terlihat halaman depan, dengan rumput dan bunga-bunga yang tertata rapi—yang tadi dilihat Ji Ryeon saat sampai di depan rumah.

Ada satu pintu lagi yang dikiranya lemari menempel di dinding. Ternyata lemari itu lebih besar dari ukuran lemari normal sampai-sampai Ji Ryeon bisa masuk ke dalam. Setiap hanger sudah digantung pakaian, persis seperti yang Bibi bilang. Baju dalam diletakkan di bagian masing-masing, pakaian sehari-hari ada di satu deret panjang dan pakaian lain dikategorikan sesuai keperluan. Aksesoris, sepatu, tas, semuanya adalah model paling baru dan bisa dijadikan modal untuk membuka butik. Nenek memang hebat.

Setelah puas melihat-lihat, Ji Ryeon tidur di ranjang barunya yang besar dan empuk, bahkan juga ada boneka-boneka besar di atasnya. Di depan matanya, ada lukisan sang ibu. Masih muda, kira-kira seusia dengannya. Ji Ryeon duduk, menyandarkan dagunya di frame ranjang sambil memandang ibunya, dan menyadari bahwa mereka benar-benar mirip. Terutama sekali mata mereka.

Kemudian ia ingat harus menelpon bibinya. Maka Ji Ryeon buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas dan mulai cemas karena Bibi lama mengangkatnya.

“Bibi…?!” panggilnya antusias, “Aku sudah sampai di Seoul.”

“Oh ya…?” tanya Bibi dari seberang telpon, “Kau pasti capek.”

“Sedikit…” jawab Ji Ryeon, “Tapi aku diberi kamar Ibu. Mulai sekarang aku tidur di sini.”

“Kamar ibumu?”

“Ya,” balas Ji Ryeon, “Bibi, kau pasti pernah masuk ke sini.”

“Itu dulu sekali,” balas Bibi, “Sudah sangat lama…”

“Ternyata Ibu seorang putri… kamar yang bagus sekali…”

“Bagaimana? Menyenangkan kan?”

Ji Ryeon agak tidak enak menjawabnya, “…Ya…”

“Sudah kubilang mereka orang baik…” kata Bibi. “Kau tidak perlu takut tinggal dengan mereka…”

“Tapi lebih menyenangkan kalau ada Bibi…”

Kemudian mereka berdua malah terdiam.

“—Bibi ada urusan,” balas Bibi buru-buru, “Telponnya kututup ya.”

Belum sempat Ji Ryeon bicara, Bibi sudah memutuskan sambungannya. Bibi nampaknya tidak tertarik pada cerita Ji Ryeon. Akhirnya Ji Ryeon hanya bisa termenung di dalam kamar barunya itu. Dan ia ketiduran sampai makan malam tiba.

“Kakak…” panggil Nam Hee dari luar, lalu kepalanya nongol, “Ayo turun.”

“Oh… sebentar…”

Ji Ryeon yang baru saja memasukkan pakaiannnya ke dalam lemari mengikuti ke mana Nam Hee berjalan karena ia sama sekali belum hafal denah rumah itu. Ketika sampai di dekat tangga, ia baru benar-benar memperhatikan foto keluarga Chae yang terpampang di dinding di antara ruang keluarga dan ruang makan. Ji Ryeon tertarik pada foto itu, waktu ibu dan saudaranya masih remaja.

Kakek dan neneknya duduk di tengah sedangkan ketiga anak mereka berdiri di belakang. Yang paling kiri pasti ayahnya Nam Hee, dan yang tengah adalah ibunya. Ada seorang wanita di sebelah kanan, wajahnya juga cantik, tapi kelihatan seperti orang yang pendiam (bahkan Ji Ryeon yang tidak begitu banyak omong saja wajahnya tidak sepilu wanita itu) dan tidak mirip siapapun di antara mereka.

“Kakak, kau ngapain lama-lama di situ?” tanya Nam Hee.

“Eh… Nam Hee…” panggil Ji Ryeon ragu-ragu. “Paman ini ayahmu ya?”

“Ya,” balas Nam Hee.

“Ayahmu sepertinya sangat sibuk.”

“Ayahku sudah meninggal,” balas Nam Hee, “Kanker otak.”

“Maaf…” kata Ji Ryeon buru-buru.

“Tak apa…” balas Nam Hee. Meski begitu matanya merah, dan ada getaran aneh pada suaranya. Ji Ryeon tahu bagaimana sedihnya kehilangan orangtua dan ia mulai berpikir kalau Nam Hee ternyata juga bukan anak gadis sempurna yang memiliki segalanya.

“…Ng… boleh aku tahu siapa wanita ini?” tanya Ji Ryeon, menunjuk ke gambar wanita asing itu.

“…Perempuan gila itu?”

Perempuan gila? Kalau kedengaran Nenek, mungkin Nam Hee akan dibelah jadi dua.

“Dia anak bungsu Nenek …” sambung Nam Hee.

“Berarti dia Bibi kita juga ya?”

“Yah…” jawab Nam Hee malas-malasan.

“…Kenapa kau mengatakan dia… perempuan gila…?”

“Ya karena dia gila!” seru Nam Hee serius sehingga Ji Ryeon perlu penjelasan yang benar-benar tepat.

“…Dia—benar-benar gila?”

“Kakak tidak percaya ucapanku?” tanya Nam Hee, namun Ji Ryeon diam saja. “Wajahku kelihatan seperti orang yang suka bohong?”

Aniyo…” jawab Ji Ryeon bodoh, bagaimanapun juga, rasa-rasanya ucapan Nam Hee tetap tak bisa dipercaya.

“Namanya Ae Ri…” sambung Nam Hee.

“Oh…” gumam Ji Ryeon, “Lalu… Bibi Ae Ri sekarang di mana?”

“Sudah meninggal.”

Sama dengan ibunya, juga sama dengan ayah Nam Hee. Ji Ryeon merasa iba pada Nenek. Semua anaknya sudah tidak ada lagi, meninggalkannya sendirian. Pantas saja Nenek terus membujuknya ikut dengannya…

“Kenapa bisa meninggal?” tanya Ji Ryeon, “Kapan meninggalnya? Dia punya anak tidak?”

Nam Hee menggeleng, lalu menariknya ke ruang makan, “Ayo Kakak jangan bengong saja! Cepat jalan…”

“I—Iya…”

Makan malam yang dilewatkan Ji Ryeon pertama kali di rumah itu tergolong menyenangkan dan mewah. Bibi khusus membuatkan banyak makanan enak. Ji Ryeon malah teringat masakan Bibi yang sederhana di kampung…

 

******

 

Ji Ryeon masuk ke kelas barunya, kelas 2-1. Anak-anak di sana langsung ribut karena penasaran pada seorang makhluk cantik yang berdiri kaku di samping iblis penakluk kelas. Ji Ryeon sedang menebak-nebak jangan-jangan ini yang dimaksud Dong Il dengan Iblis Kim…

“Namanya Chae Ji Ryeon,” kata Ibu Kim di hadapan mereka setelah memukul meja dengan tongkat andalannya, “Dia pindahan dari Jinju dan mulai hari ini jadi anggota kelas kita.”

Annyeong haseyo…” sapa Ji Ryeon tanpa melihat mereka.

“Kalian harus bersikap baik padanya. Buat anak laki-laki, mentang-mentang dia perempuan tidak boleh menjahilinya. Dan buat yang perempuan, kalian harus berteman baik. Ngerti?!” sambung Ibu Kim yang dijawab dengan manis oleh seisi kelas.

Kemudian Ibu Kim berbicara pada Ji Ryeon.

“Kalau kau tidak mengerti soal seluk beluk sekolah, tidak usah ragu bertanya pada teman-temanmu, atau pada pada ketua kelas… Yoon Jun Sang!”

Telinga Ji Ryeon langsung kesetrum saat nama Jun Sang diucapkan lagi. Mereka sekelas lagi untuk yang ketiga kalinya…

Jun Sang mengacungkan tangannya.

“Soal tempat dudukmu belum sempat diatur…” kata Ibu Kim menilik ke kursi murid-murid. Ibu Kim tidak suka melihat murid wanitanya duduk di deretan paling belakang. “Baru saja kursimu diletakkan pagi ini. Tapi kalau anak perempuan duduk di situ kasihan juga… “

Ji Ryeon sudah antisipasi di kursi manapun ia akan duduk, walaupun tubuhnya bukan termasuk pendek, “Tidak apa—“

Mendadak Jun Sang pindah dari bangkunya. Ia duduk di tempat yang dimaksud Ibu Kim, menyisakan kursinya untuk Ji Ryeon. Mereka semua, Ibu Kim, dan Ji Ryeon tidak bisa menyembunyikan kekagetan saat Jun Sang melakukan hal itu. Serentak keluarlah sorakan menggoda disertai siulan para siswa.

“Lihat apa?” tanya Jun Sang pada mereka. Tidak ada yang berani menjawab. Kalau Jun Sang sudah mengeluarkan nada seperti itu artinya ia marah.

Ibu Kim tersenyum, “Kalau begitu Chae Ji Ryeon bisa duduk di kursi Yoon Jun Sang.”

Ji Ryeon mematuhi Ibu Kim dan duduk di tempat yang disediakan Jun Sang. Ibu Kim memerintahkan mereka untuk kembali ke pelajaran dan semuanya mulai membuka buku.

“Chae Ji Ryeon…” panggil seorang cewek di bangku depan, “Aku Kang Han Na. Kita berteman, ya?”

Akhirnya, ini yang ditunggu-tunggu Ji Ryeon. Ada satu teman wanita yang mau menyapanya.

Ji Ryeon mengangguk senang, “Ye. Salam kenal.”

“—Aku Park Min Ah,” sela cewek di samping kanan Ji Ryeon. “Kalau ada yang tidak mengerti, kau bisa tanya padaku—“

“Heh, dia yang rugi kalau bertanya padamu,” balas Han Na.

Ji Ryeon tertawa, “Mohon bantuan kalian…”

Dong Il ada di samping kiri dan nyengir ramah padanya. Ji Ryeon juga berusaha tersenyum lagi pada Jun Sang yang pindah ke belakang Dong Il. Tetapi Jun Sang tidak membalas sehingga senyum Ji Ryeon berubah jadi kemurungan mendadak.

Part 6!!!!!!!! Ternyata susah mencari art yang pas. Terpaksa gw ganti deh gambar2 kmaren >.<

Happy reading!!

Today’s Song:
Hwanhee – My Person

Photo credit: gabulinka@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on December 31, 2010, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. WAAAAHH~!! akhirnya part 6 beneran keluar hari ini.. yeeyy..
    thanks author.. yang ini keren, sedih sedih gimana gitu.. klo jadi ji ryeon, ninggalin Ga In pasti susah..
    jadi penasaran sama Ae Ri deh..
    ayoo part 7 nya ditunggu!

  2. yupina oh ha ni

    aisshh…
    pnasaran ne part 7 nya, hee
    jun sang nya nongol bentaarr ajaaa seeehh, heee

  3. @zuyu: referensi lagumu bagus2 ya.. hehehehe

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: