[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 7)

The person I will love, please look at me
My appearance is different, but the heart is the same
Even though I don’t have the courage to face you
Please love me, please turn around and look at me

Murid-murid SMA Han Jeong berkumpul di depan papan pengumuman di luar gedung sekolah. Mereka melihat hasil ujian di bagian anak kelas 2 yang baru saja ditempel pagi ini.

Jun Sang dan Ji Ryeon sama-sama meraih nilai tertinggi dalam semua mata pelajaran. Tidak ada cacat pada apa yang telah mereka kerjakan. Nilai seratus untuk keduanya. Nama Ji Ryeon ada di urutan kedua. Itu saja Ji Ryeon sudah senang, karena sudah terbiasa peringkatnya berada di bawah Jun Sang.

Kebetulan Jun Sang lewat di depannya. Ini kesempatan. Kalau Ji Ryeon mencoba berkomunikasi lagi, mungkin Jun Sang mau bicara dengan wajar padanya. Sejak pertama kali Ji Ryeon ke Han Jeong, Jun Sang biasanya bersama Dong Il. Kalau Jun Sang sendirian, Ji Ryeon malah sedang bersama Han Na dan Min Ah.

“Jun Sang…” sapanya sambil mendekati Jun Sang. “Sudah lihat papan pengumuman? Kau di peringkat pertama. Chukae!”

“Oh ya…?” tanya Jun Sang.

Ji Ryeon mengangguk bersemangat, namun hatinya masih bertanya-tanya. Ia tidak puas dengan tanggapan Jun Sang.

“…Kau selalu saja jadi juara satu. Dan dari dulu nilai-nilaiku selalu mengekor di belakangmu… ternyata sampai sekarang terus begini… hahaha…”

Jun Sang masih tidak berkutik.

“Eh… ng… hari ini cuacanya cerah kan…?”

Ji Ryeon salah ucap. Harusnya bukan tentang cuaca, lagipula Jun Sang tidak memberi jawaban apapun.

“Ah… lalu kau juga jadi ketua kelas lagi…” sambung Ji Ryeon yang seperti orang bodoh karena suara tawanya benar-benar kelihatan dipaksa, “Apa waktu SMP kau juga jadi ketua kelas? Sepertinya iya ya…? Hehehe…”

Jun Sang berhenti berjalan. Ji Ryeon agak susah mengikuti langkahnya yang besar-besar itu.

“—Kau sakit?” tanya Jun Sang, matanya menyipit tajam.

“Ti—tidak…”

Jun Sang berjalan lagi tanpa mempedulikan Ji Ryeon yang heran kenapa Jun Sang malah bertanya soal kondisinya.

“Jun Sang… kau… kenapa?” tanya Ji Ryeon, “Kau marah padaku ya?”

Jun Sang diam saja dan Ji Ryeon dapat menyimpulkan satu hal sehingga ia mundur perlahan.

“Kalau aku membuatmu marah… kalau aku punya salah padamu, aku benar-benar minta maaf…”

“—Aku tahu maaf saja bagimu tidak cukup,” lanjut Ji Ryeon buru-buru. “Aku mau melakukan apa saja supaya kau tidak marah lagi.”

“­—Aku tidak marah. Kau tidak perlu melakukan apapun.”

“…Tapi kenapa kau kelihatan kesal terus?” tanya Ji Ryeon. “Kalau aku melihatmu, kau selalu melotot…”

“Wajahku memang begini…” jawabnya.

Ji Ryeon menelan ludah. “Oh… begitu…”

Sebetulnya ia tidak begitu saja mau percaya pada Jun Sang. Yang ia tahu Jun Sang itu sangat ceria. Sebelumnya Ji Ryeon sudah pernah mengajukan pertanyaan soal Jun Sang pada Dong Il, namun tidak membuat Ji Ryeon benar-benar yakin karena tingkah dan air muka Dong Il agak mencurigakan.

Jun Sang berhenti, menyadari tidak ada lagi Ji Ryeon yang mengikutinya.

“Tunggu apa?” tanya Jun Sang pada Ji Ryeon yang berdiri bengong di belakangnya, “Ayo masuk…”

Tumben sekali Jun Sang yang mau bicara duluan. Untuk pertama kalinya semenjak ia pindah ke Han Jeong, Ji Ryeon benar-benar senang. Ia merasa dihargai. Ia tidak mau menyia-nyiakan momen ini dan melangkah dengan ringan untuk kembali berjalan dengan Jun Sang. Untuk saat ini saja, ia melupakan soal ‘wajah Jun Sang yang dari dulu memang begitu‘ itu sejenak.

Bahasa Inggris adalah pelajaran pertama hari itu. Pak Han sibuk mencatat grammar di papan tulis.

Ji Ryeon memajukan badannya lebih dekat ke bibir meja, menopang dagu dengan tangannya dan melirik perlahan-lahan ke sebelah kiri.

Isi tenaga. Istilah Ji Ryeon untuk mengembalikan semangatnya dengan memperhatikan Jun Sang yang sedang menyimak pelajaran. Sosok Jun Sang ketika belajar tidak pernah berubah.

Caranya memegang alat tulis, gaya duduknya, dan sinar matanya yang penuh pengetahuan…

Kalau bosan di kelas, Ji Ryeon selalu menulis nama Jun Sang lengkap dengan simbol hati di buku catatannya dan harus buru-buru mencoret hasil keisengannya saat ada yang ingin menyalin tulisannya. Tidak hanya itu, tugas apapun yang diberikan guru terasa mudah waktu ia menganggap Jun Sang tidak suka cewek bodoh. Semangat belajarnya meningkat drastis. Otaknya dipenuhi Jun Sang. Seluruh kelas terisi oleh Jun Sang. Jatuh cinta, benar-benar perasaan yang luar biasa.


******


Setelah istirahat, Jun Sang malah tidak ada di kelas.

Ibu Kim tiba-tiba melempar sebatang kapur ke arah belakang. Ia mengira Jun Sang yang bikin ricuh di saat kelas sedang tenang.

“Mana Yoon Jun Sang?” tanya beliau.

“Tidak tahu, Bu,” jawab Dong Il seadanya.

Ji Ryeon sudah cukup sering menengok ke bangku kosong itu. Jun Sang tidak pernah sebandel itu waktu SD, dan tidak pernah bolos sekalipun.

Saat jam sekolah selesai, para murid biasa membersihkan kelas.

Ya… kenapa di zaman seperti ini masih ada piket?” keluh Min Ah seraya melempar kain lapnya ke meja guru, “Aku percaya di Seoul ini hanya sekolah kita yang mewajibkan muridnya membersihkan kelas. Sekolah semewah ini masih memeras tenaga murid, aku harus protes pada Ibu!”

Ibu Min Ah adalah Kepsek Han Jeong. Min Ah sudah berkali-kali mengomel tentang hal yang sama tetapi nampaknya protesnya tidak terealisasikan atau mungkin tidak digubris ibunya.

Ji Ryeon mendapat giliran mengepel dan ia harus pulang paling belakangan untuk mengembalikan ember ke gudang. Min Ah juga bilang ia buru-buru karena ingin menonton reality show yang akan tayang mepet.

Saat itu ia tidak tahu Jun Sang dan Dong Il rupanya memilih daerah itu untuk nongkrong sambil merokok. Tempat itu sudah jadi daerah kekuasaan mereka, padahal tempat jajahan Jun Sang di sekolah sudah tergolong cukup banyak.

“Kelompok yang kemarin itu ngajak berantem lagi…” kata Dong Il menyerahkan lighter pada Jun Sang, “Gimana? Mau diteruskan saja?”

“Kemarin sudah kalah tidak mau ngaku…?” tanya Jun Sang.

“Kata mereka kau berbuat curang,” ujar Dong Il, “Sekarang mereka mau balas dendam lagi—”

“Mereka saja yang bodoh… Aku lagi capek, nanti saja dipikirnya…” jawabnya, “Kalau Iblis Kim memanggil Paman Gong Hyun terus, aku jadi tidak enak padanya…”

Orang yang dimaksud adalah kepala pelayan di rumah Jun Sang. Tugasnya mengawasi Jun Sang dan bertanggung jawab atas seisi rumah karena orangtua Jun Sang hampir-hampir tidak pernah ada di rumah dalam waktu yang lama.

“Dia masih betah mengurusimu?” tanya Dong Il, “Kalau aku jadi dia, mungkin aku mengundurkan diri saja…”

“Jangan bicara sembarangan,” balas Jun Sang, “Selama ini dia yang membantu kita kalau kena masalah tahu…”

“—Eh… tadi Ji Ryeon tanya lagi—“

“Kenapa kau sewot sekali…?!” cerca Jun Sang separo cuek, “Soal itu tidak perlu kau besar-besarkan…”

“Bukannya aku mau sewot,” sahut Dong Il dari samping, sama-sama duduk di atas bangku yang tidak terpakai, “Dia ingin tahu kenapa kau suka bolos. Melihat ekspresinya saja, aku tahu dia pasti tidak percaya.”

“Kalau tidak bisa jawab, tidak usah kau jawab,” kata Jun Sang, “Acuhkan saja dia.”

“Mana bisa aku mengacuhkannya,” kata Dong Il, “Kalau aku berbuat begitu, Han Na bisa marah padaku… aku juga lelaki yang baik dan setia kawan, tidak bisa melihat perempuan seperti yang kau lakukan padanya.”

Jun Sang menghembuskan asap rokok ke udara dengan sedikit gaya sambil memandang langit. “…Aku mau hidup santai…”

Waktu akan keluar dari gudang, Ji Ryeon tidak mendengar penuh dialog yang barusan. Namun yang ia tahu kalau yang sedang bicara di samping gudang adalah Dong Il entah dengan siapa. Ji Ryeon ingin lekas pulang namun nuraninya menyarankan kalau ia lebih baik sembunyi di sana sambil menguping agar tahu apa yang sedang dibicarakan Dong Il.

Apa mereka sedang melanggar aturan sekolah…?

Ji Ryeon hanya mendengar bagian selanjutnya saja.

“Heh… kau ini kenapa…?! Dari pertama kali Ji Ryeon jadi murid di sini, kau tidak pernah mau bicara padanya, dulu kalian tidak bisa lepas…”

Dari topik yang mereka bahas, Ji Ryeon langsung tahu lawan bicaranya adalah Jun Sang. Tapi apa yang mereka bicarakan sampai bawa-bawa namanya segala?! Ya Tuhan, Ji Ryeon ingin pergi dari sana supaya ia tidak bisa dengar apapun dari mereka. Ia takut mereka akan menjelek-jelekkannya. Tapi sebesar apapun keinginannya untuk pergi, tak bisa dilakukannya karena ia begitu penasaran pada jawaban Jun Sang.

Dong Il sialan, Ji Ryeon akan melindasnya dengan truk kalau Dong Il bicara macam-macam pada Jun Sang.

“Aku kasihan padanya, dia masih mau berteman denganmu, kau malah berbuat begitu…” tambah Dong Il.

Jun Sang masih saja cuek. Dong Il yang sudah hilang sabar penasaran, apa Jun Sang bisa tetap membuang mukanya jika ia memberitahukan tentang hidup Ji Ryeon yang sekarang.



“…Ibunya sudah meninggal…”



Jun Sang hanya bisa bengong menggigit puntung rokok yang masih menyala di bibirnya. Ia menelan ludah, memindahkan rokoknya ke sela jari telunjuk dan jari manis, lalu malah menjawab dengan ketus.

“—Heh, dengar,” balasnya, “Jangan bicara soal dia lagi padaku. Ngerti?”

“…Kau… masa tidak kenal Bibi Eun Yeong lagi?”

Jun Sang sudah habis kesabaran, “Aku ke sini bukan untuk membahas soal itu!”

Dong Il naik darah melihat Jun Sang secuek itu. Biar bagaimanapun, Ji Ryeon juga sahabatnya. Mereka juga sudah berteman sejak TK. Sekarang Dong Il adalah satu-satunya orang yang tahu kalau Ji Ryeon suka pada Jun Sang. Tapi temannya yang satu lagi—yang duduk di sampingnya malah sebaliknya.

“…Apa kau tidak pernah berpikir sepertinya Ji Ryeon suka padamu…?”

Jun Sang mulai terdiam, menelan ludah, menahan nafas dan dihembuskannya bersamaan dengan asap rokok. Sedangkan Ji Ryeon gemetaran menunggu respon Jun Sang.

“Cih… jangan asal cuap—“

“Siapa yang asal cuap…?” balas Dong Il, “Dia terus bertanya kenapa kau sering bolos dan dipanggil Iblis Kim. Wajahnya selalu gelisah waktu kujawab kalau tabiatmu memang begitu… sudah seperti itu, bukannya dia memang suka?”

Jun Sang memalingkan wajahnya, cemas ia harus bilang apa pada Dong Il.

“…Aku tidak tertarik padanya…”

Rasanya ada sambaran halilintar masuk ke telinga Ji Ryeon.

Apa maksudnya… Jun Sang membencinya?

Apa Ji Ryeon harus dibawa ke rumah sakit bagian ICU sekarang juga karena kasus halilintar masuk telinga?

“Aku tidak mau melihat wajahnya,” tambah Jun Sang, “Dia malah makin membuatku kesal. Kalau ada dia, aku tidak leluasa…”

Jun Sang tidak mau melihat wajahku.

Jun Sang tidak mau melihat wajahku.

Jun Sang tidak mau melihat wajahku.

Kalimat itu terus terngiang di pikiran Ji Ryeon. Berkali-kali. Sampai ia tidak bisa mendengar apapun. Sampai seluruh saluran pernafasannya terasa disumbat kalimat tersebut.

Aku membuatnya kesal.

Ia begitu menyebalkan di mata Jun Sang…

Kalau ada aku, dia tidak leluasa…

Jadi, upaya Ji Ryeon selama ini sia-sia.

“Kalau Ji Ryeon mendengarnya, dia pasti sangat sedih…” kata Dong Il.

Ji Ryeon sudah terlanjur menguping.

Kalau bukan karena Jun Sang yang selalu perhatian padanya, Ji Ryeon mungkin hanya menganggapnya seorang teman atau kakak. Tidak akan ada Ji Ryeon yang selalu memandang Jun Sang dari jauh, berpura-pura menengok ke jendela padahal ia memperhatikan Jun Sang. Dan jika Jun Sang bergerak sedikit saja, ia langsung membalikkan badan dengan rasa cemas apakah Jun Sang menyadari kalau ia sering diam-diam melihatnya dengan jantung yang berdebar kencang.

Jun Sang terlalu baik, Ji Ryeon tidak bisa lupa segala sesuatu yang pernah Jun Sang lakukan untuknya. Seorang anak kecil, manja, cengeng dan dibesarkan di lingkungan orang dewasa, memiliki teman pertama yang tidak hanya setia tapi juga selalu melindungi. Jun Sang sangat berkesan sampai tidak bisa dilupakan sedikitpun.

Bahkan Ji Ryeon panas dingin bahkan sampai jatuh sakit setelah Jun Sang mencuri ciuman pertamanya. Dan ia tersiksa memendam suka dalam waktu empat tahun.

Ji Ryeon pikir, Jun Sang masih menyukainya…

Apa Ji Ryeon segampang itu untuk Jun Sang… atau hanya Ji Ryeon saja yang terlalu berlebihan. Barangkali sejak awal Jun Sang tidak punya perasaan apapun padanya. Ji Ryeon jadi terlihat besar kepala. Tapi ia benar-benar suka pada Jun Sang…

Ji Ryeon merasa dirinya sangat menyedihkan, terlalu menyedihkan dan rasanya saat ini ia sangat ingin dikasihani. Ia sudah ditolak mentah-mentah.

Kakinya mati rasa, dan akhirnya tidak sengaja menyenggol bangku-bangku yang ditumpuk ke atas. Semuanya terjatuh sehingga menimbulkan suara besar.

Jun Sang curiga dan datang menuju gudang bersama Dong Il. Ia membuka pintu itu dengan paksa, namun Ji Ryeon mencoba menahannya. Karena tenaga laki-laki lebih kuat, Ji Ryeon kalah.

Jun Sang melongo, di depannya ada Ji Ryeon dengan wajah merah.

“Lho, Ji Ryeon…” panggil Dong Il melotot penuh makna, memandang bergantian Jun Sang dan Ji Ryeon.

Ji Ryeon mencoba tertawa. Tetapi siapa yang percaya Ji Ryeon baik-baik saja kalau ia tertawa gemetaran.

“Eh… kalian sedang apa?” tanyanya, “…Ke—kebetulan ketemu di sini…”

“Ji Ryeon kau kenapa?”

“A—Ah…” gumamnya, sambil membereskan kembali kursi-kursi plastik itu. “Tadi kepalaku terbentur, sakit sekali… hahaha…”

“Biar kubantu,” kata Dong Il.

Jun Sang mau tak mau juga membantunya membereskan kursi berisik itu. Tetapi yang ia lihat hanya Ji Ryeon yang menunduk terus sampai semuanya beres kembali.

“Terima kasih…” ucap Ji Ryeon sangat sengau.

“Kepalamu sakit?” tanya Dong Il bego, “Sebaiknya kau segera ke UKS?”

“Tidak usah, nanti juga sembuh lagi,” jawab Ji Ryeon, “…A—aku pulang dulu ya… permisi…”

Ia berjalan secepatnya melewati Jun Sang dan Dong Il. Berjalan kencang sekali, seperti setengah berlari. Ia sangat malu. Saking malunya, airmatanya tidak bisa keluar…

“Apa dia baik-baik saja…?” gumam Dong Il, masih tetap bodoh.

Jun Sang bertingkah aneh dan gerak-geriknya menunjukkan kalau ia khawatir. Dong Il yang cerewet soal sakitnya Ji Ryeon yang dihiperbolakan olehnya menambah galau Jun Sang. Namun ia tetap pada pendiriannya, berpura-pura tidak terjadi apapun. Jun Sang hanya mau menganggap kalau apa yang dilihatnya bukan kenyataan. Walau tindakannya persis seorang brengsek yang pengecut.

Ji Ryeon masuk ke dalam taksi, padahal biasanya naik bus. Ketika taksi mulai berjalan Ji Ryeon diam saja. Wajahnya kaku seperti disuntik dengan obat bius, mirip patung lilin mengerikan. Dan saat sampai di rumah, ia naik tangga, berbelok ke kanan dan mencapai kamarnya yang ada di ujung koridor, lalu mengunci diri di dalam. Ji Ryeon bahkan tidak mendengar pelayan di rumah menyapanya.

Ia terduduk lemas di lantai. Airmatanya tidak bisa ditahan lagi.

Hanya bisa menangis. Untuk saat itu, hanya menangis. Sekuat yang ia mampu. Bahkan sampai kehilangan tenaga.

Bukan kepalanya yang sakit, tapi hatinya.

Apa ia harus membuang wajahnya supaya Jun Sang tidak benci lagi? Dan apa menurut Jun Sang ia hanya jual tampang di depannya?

Besok mereka akan bertemu di sekolah. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Jun Sang pasti tahu ia menguping. Nasibnya jauh dari keberuntungan.

Apa… ia masih boleh diam-diam memperhatikan Jun Sang, seperti rakyat jelata yang jatuh cinta pada seorang raja…?

Walau tahu tidak punya kesempatan sekecil apapun… apa ia masih boleh berharap?

Biar hari ini menangis sepuas-puasnya. Sampai matanya bengkak dan harus mengurung diri seharian di kamar supaya tidak ketahuan.


******


Ji Ryeon sudah naik kelas 3, di kelas yang sekarang ia tempati. Murid-murid 3-1 memilih lagi pengurus kelas untuk tahun berjalan. Hasilnya agak mengejutkan. Ji Ryeon hanya kalah selisih dua suara dari Jun Sang. Ia kira sebagai murid yang baru setahun mencoba membaur, ia tidak punya kesan yang begitu baik.

“Kalian lihat sendiri votingnya,” kata Ibu Kim melipat kedua tangannya agak sok, “Ketua kelas periode ini masih sama seperti dua tahun sebelumnya, Yoon Jun Sang, dan wakilnya adalah Chae Ji Ryeon. Kemudian bendahara dan sekretaris kalian adalah Kim Seong Soo dan Kang Han Na.”

Keempatnya berdiri di depan kelas, menunduk pada teman-teman. Karena voting inilah Ji Ryeon dipanggil ‘Wakil Ketua Kelas’ oleh Jun Sang yang enggan memanggil nama aslinya.

“Kalian sudah dipilih,” kata Ibu Kim pada para pengurus kelas, ”Berikan yang terbaik. Tidak boleh menyeleweng, mangkir, atau apapun yang bisa mempermalukan kelas ini. Kemampuan kalian di atas rata-rata anak kelas lain, jadi harus pertahankan martabat. Ngerti?”

“Ya…”

Ibu Kim seperti mengidap obsesi ‘si nomor satu’. Para pengurus kelas ini duduk kembali di bangku masing-masing. Ji Ryeon di samping Han Na, Jun Sang di deretan belakang, sedangkan Seong Soo di bangku paling depan.

“Oh ya, selamat untuk Chae Ji Ryeon, tahun ini kau yang peringkat satu,” ucap Ibu Kim tersenyum bangga pada Ji Ryeon.

Teman-teman sekelas bertepuk tangan dan ikut mengucapkan selamat. Ibu Kim benar-benar senang obsesinya itu terwujud secara besar-besaran, walaupun ia belum begitu senior mengajar di sana.

Lalu Ibu Kim mendelik pada Jun Sang yang mendadak kecut. “Heh… Yoon Jun Sang, kulihat peringkatmu jatuh ke urutan 24, tapi kau masih bisa santai. Istirahat nanti kau ke ruang BP. Dengar?!”

Jun Sang sangat santai menjawabnya, “Ya…”

“Yoon Jun Sang!” tambah Dong Il di sampingnya dengan suara yang sangat besar biarpun mereka duduk bersebelahan. “Kau juga sebaiknya ucapkan selamat pada Ji Ryeon!”

Murid sekelas diam kembali. Jika ada yang bersiul, teman di sebelahnya akan memperingati untuk tidak ribut. Mayoritas dari mereka menganggap rasa cinta Jun Sang berubah jadi benci gara-gara Ji Ryeon merebut posisi juara pertama darinya.

“Sung Dong Il benar,” tambah Ibu Kim, yang herannya malah setuju-setuju saja pada usul Dong Il, “Chae Ji Ryeon bisa mempertahankan peringkat kelas ini dan menggantikanmu… usahanya itu sudah sangat bagus.”

Jun Sang nampaknya tidak mau menjawab. Wajahnya jengkel sekali. Tetapi Dong Il dan Ibu Kim memelototinya seperti setan.

“…Selamat… Wakil Ketua Kelas…” katanya terpaksa tanpa memandang Ji Ryeon.

Murid yang lain dan Ibu Kim tak bisa berbuat apa-apa melihat mereka seperti itu. Mendengar Jun Sang mengucapkan selamat saja pada Ji Ryeon itu sudah yang paling baik. Memang sejak kejadian di gudang itu, aura antara Ji Ryeon dan Jun Sang jadi lebih mengerikan lagi.

“Terima kasih,” jawab Ji Ryeon kaku.

Ibu Kim hanya geleng-geleng kepala saja, heran melihat dua murid pemilik nilai tertinggi di kelasnya itu, “Baiklah, kita mulai saja pelajaran pertama…”

Ji Ryeon berusaha membalas perlakuan Jun Sang. Tidak mau menegur Jun Sang lagi, tidak mau tersenyum lagi, dan mereka terus bersikap jauh lebih dingin satu sama lain. Hanya itu yang bisa dilakukannya agar ia tetap kuat menjalani harinya. Untuk menunjukkan bahwa ia juga bisa berbuat demikian, agar Jun Sang menyadari dan mengakui keberadaannya.

Akhirnya bab 2 selesai jugaa *nangis* mungkin beberapa hari ke depan gw bakal jarang posting berita. maklum ujian T_T

Buat yang besok juga bakal ujian, semangat ya!!!!!! Hajar tuh soal2! Kalo perlu yang jagain ujian juga dihajar wkkk

Semoga author lain kaga sibuk2 amat. Amin.

Today’s Song:
Lee Seon Hee – 내가 사랑할 사람

Photo credit: gabulinka@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 2, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Yupina oh ha ni

    Hiyaaaaa…
    Mkin pnsaran ajaaa…

    Haa
    Klo yg jg ujian d hajar, bs jd mhssw abadi, oga ah, hee
    Smga yg mnjlni ujian final dr bsok mpe slese mndpat nilae yg baguuusss… Amiiiennn….
    Heee

  2. part 7 buat gw nyesek..hikhikhik..kereenn..lanjot dong Zuyu..tapi dikau ujian ya..met ujian ya, moga tu soal sukses lo hajar hahaha..btw part 7 pendek amat ya…: (

  3. wohooo.. part 7 keluar!
    kasian ji ryeon nya, mending ga usah denger deh. hehe
    part 8 hari rabu ya? woahh.. hari rabu masih lama nih.. ckck..
    author, sukses yaaa ujiannya! cepet posting lagi, aku menunggu🙂

  4. “Apa… ia masih boleh diam-diam memperhatikan Jun Sang, seperti rakyat jelata yang jatuh cinta pada seorang raja…?” –> Love this part! Paradoxically sad, huaaaaaaaaaaaaaa :((

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: