[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 8)

Your childlike eyes when you smile
I find myself smiling along with you
Every morning, I receive the sunshine with your song

I won’t let you go
You are the one, what a good girl
You are my god, what a good girl,
The one who has become the breath to my heart
You’re my only girl, always

Karena hari ini hari Minggu, Ji Ryeon akan menghabiskan waktunya di perpustakaan kota. Han Na tidak ikut karena membantu ibunya di salon, sedangkan Min Ah katanya akan berkencan dengan Hae Im.

Ji Ryeon menyisir rambut, menggerainya lurus seperti biasa tetapi tanpa hiasan rambut. Ia berpakaian rapi, lengkap dengan mantel dan turun ke lantai satu.

Di ruang keluarga ada neneknya yang sedang membaca buku. Ji Ryeon menghampirinya untuk izin pergi.

Halmeoni?”

“Ji Ryeon-ah,” balas Nenek, “Kau rapi sekali, mau pergi?”

Ye. Sedang baca apa? Sepertinya bagus sekali…”

Ji Ryeon ingin melihat cover buku yang dipegang neneknya. Buku tentang tanaman. Nenek memang suka bertanam di kebun belakang rumah ditemani Ji Ryeon dan Nam Hee.

“Nenek kelihatan pucat, apa baik-baik saja?”

“Aku hanya sakit kepala. Ini sudah baikan,” jawab Nenek.

“Sudah minum obat?” tanyanya lagi, “Sakitnya apa dari kemarin? Nenek batuk-batuk terus pasti sedang sakit, apalagi cuacanya sedang dingin. Waktu sarapan Nenek malah tidak bicara apapun.”

“Benar-benar tidak apa-apa!” balas Nenek, membesarkan suara walaupun tenggorokannya jadi terasa sakit, “Hari ini libur, kalau kau mau jalan-jalan, pergilah ke mana saja. Ke tempat-tempat yang kau sukai dan menghibur diri bersama teman-temanmu. Ya kan?”

Ji Ryeon masih diam di sana. Ia ragu pada ucapan Nenek.

“Sudahlah, jangan pikirkan Nenek,” balasnya, “Di sini masih ada orang, kalau ada perlu aku bisa panggil mereka. Jangan takut begitu.”

Halmeoni, pulang nanti aku akan membawa bibit bunga baru. Kalau Nenek sudah lebih baikan, nanti kita tanam sama-sama ya?”

Nenek mengangguk dan tersenyum waktu Ji Ryeon mencium kedua pipinya.

“…Kalau begitu,” jawab Ji Ryeon, “Aku pergi dulu. Nenek istirahat saja.”

“Hati-hati.”

Dan di ruang tamu ia bertemu Nam Hee. Lebih tepatnya, Nam Hee mencegatnya.

“Nam Hee…” sapa Ji Ryeon agak kaget. ”Ada perlu apa?”

Nam Hee melirik Ji Ryeon dari atas sampai bawah. “Eonni… mau ke mana?”

“Ke perpustakaan,” jawab Ji Ryeon.

“Perpustakaan?” tanyanya kecewa. Ia kira Ji Ryeon akan pergi belanja.

“…Kau mau ikut?” tanya Ji Ryeon sekadar basa-basi.

Ani…” kata Nam Hee memainkan kukunya.

“Aku pergi ya…” gumam Ji Ryeon heran.

“Nam Hee-ya!” panggil Nenek, “Kau ikut saja. Daripada kau keluyuran tidak jelas, lebih baik pergi dengan kakakmu. Ji Ryeon, kau tidak keberatan Nam Hee sedikit mengganggu kan?”

“Tentu saja tidak,” balas Ji Ryeon.

“…Baiklah…” balas Nam Hee yang ingin ngambek pada Nenek beberapa hari lagi, “—Aku ikut!”

Tapi waktu ditunggu di halaman ternyata Nam Hee sudah naik ke dalam mobil milik Ji Ryeon yang disetir oleh salah satu supir keluarga. Setelah berhenti di depan, si supir memberikan kunci pada Ji Ryeon dan kembali masuk ke dalam rumah.

“Nam Hee, kalau ke perpustakaan saja kita tidak perlu bawa mobil,” ujar Ji Ryeon.

“Aku sedang sakit. Kalau naik bus aku juga sering mual-mual,” Nam Hee mengeles waktu turun, “Lagipula naik mobil saja lebih cepat sampai. Kakak yang bawa ya…”

Bilang saja sebenarnya Nam Hee malas naik angkutan umum dan Ji Ryeon yang harus jadi supirnya karena Nam Hee masih cukup parah dalam urusan mengemudi.

“…Eh… Nam Hee…” panggil Ji Ryeon saat ia sedang menyetir.

Nam Hee yang dari tadi keenakan mendengarkan lagu dengan beat kencang yang membuat telinga Ji Ryeon sakit, “Ya…?”

“Semalam kau pergi ke mana?”

“Main dengan teman-temanku…”

Itu sih, Ji Ryeon juga tahu. Dan nampaknya Nam Hee tidak tahu Ji Ryeon juga ada di sana di waktu yang sama. Ia harus berhati-hati kalau bicara.

“Sepertinya menyenangkan ya?”

“Lumayan,” balasnya, “Kenapa Kakak tiba-tiba tanya soal itu?”

“Ah, aniya…” kata Ji Ryeon, “Apa kau baik-baik saja…? Kau tidak terlibat masalah kan?”

“Maksudmu?”

“Yah… maksudku… kau tidak berurusan dengan polisi kan? Atau petugas keamanan misalnya—?”

“Kakak! Memangnya aku perempuan macam apa bisa berurusan dengan hukum…”

“Aku cuma tanya saja kok!”

“Pertanyaan yang tidak masuk akal…”

Ji Ryeon heran. Padahal harusnya ada petugas kepolisian datang ke rumah sambil membawa Nam Hee, lalu pelayan mereka membangunkan Ji Ryeon untuk sama-sama mengintip Nam Hee yang diomeli nenek. Belum lengkap itu, harusnya juga ada Bibi Geum Ga yang habis-habisan membela Nam Hee seperti biasa.


******


Ada satu perkumpulan khusus di kalangan wanita pebisnis Seoul, di mana mereka narsis bercerita tentang diri sendiri dan terkadang menggosipkan kehidupan finansial keluarga chaebol. Perkumpulan itu tidak bernama, tetapi sudah lumayan terkenal karena isinya adalah istri pejabat atau istri pengusaha. Geum Ga adalah salah satu anggotanya dan ia hampir rutin mengikuti acara sebulan sekali.

Ada sekitar belasan perempuan setengah baya duduk berkumpul dalam satu meja panjang dan semuanya sibuk mengobrol. Karena sedang musim dingin, mereka membooking satu tempat khusus di sebuah restoran mahal. Biasanya mereka mengadakan pertemuan outdoor, dengan banyak promosi perhiasan dan lain-lain.

Geum Ga dapat tempat agak di tengah meja. Beberapa kursi masih kosong karena ada tamu yang belum datang.

“Kemarin,” kata seorang teman akrab Geum Ga yang memakai rompi bulu, “Suamiku baru saja mendapat proyek besar. Jadi bulan depan kami berencana berlibur lagi ke Hawaii bersama anak dan menantuku.”

“Aku dengar proyek kali ini datang dari keluarga Yoon? Apa benar mereka akan membuat perusahaan lagi?”

“Ya,” jawab nyonya berompi bulu. Keluarga Yoon adalah chaebol yang memimpin bisnis nomor satu di Korea, dan bagi wanita ini, adalah kesempatan besar jika bisa memenangkan tender suaminya. “Kami sangat diuntungkan. Makanya hari ini aku juga mengundang Jang Ri Na-ssi datang ke sini.”

Geum Ga mendadak merasa tak enak begitu dengar nama Jang Ri Na. Kalau saja temannya memberitahu Jang Ri Na diundang, ia tidak mau datang.

“Istri Yoon Ji Seok-ssi?” tanya wanita lainnya. “Bukannya dia sedang ada di Prancis?”

“Dia baru sampai ke sini kemarin pagi, jadi aku mengundangnya,” balas si nyonya rompi bulu, bangga dengan nada sedikit angkuh. “Kami juga sempat minum teh bersama di rumahnya.”

“Geum Ga-ssi, bagaimana hubunganmu dengan Ri Na-ssi? Apa sudah membaik? Kalian sama-sama menantu dari keluarga Chae dan Yoon,” jawab wanita di seberang Geum Ga yang memakai anting bundar dan rambut disanggul ke atas. “Apa itu juga mempengaruhi pandanganmu terhadapnya?“

“…Ah…” balas Geum Ga, senyumnya agak kaku sambil merapikan rambutnya. “Itu masalah yang sudah lama sekali, untuk apa diungkap lagi. Aku juga sudah lupa…”

“Tapi mungkin Ri Na-ssi belum lupa,” sindir seorang wanita yang tidak menyukai Geum Ga.

Annyeong haseyo,” sapa seorang wanita yang terdengar di seberang Geum Ga. Seorang wanita berbadan semampai dan berpakaian kasual yang baru diantar pelayan restoran ke tempat mereka.

“Jang Ri Na-ssi!” sapa mereka kagum. “Ri Na-ssi kenapa baru muncul?”

“Lama tidak jumpa,” balas Ri Na. Kemudian ia duduk di sebelah wanita yang barusan menyindir Geum Ga.

“Nampaknya kau betah sekali tinggal di luar negeri? Sudah enam tahun kau tidak tinggal di sini.”

“Ri Na-ssi juga punya karir yang lebih baik di Paris, pasti senang ya?”

Ri Na kewalahan dibombardir banyak pertanyaan padahal ia baru saja duduk.

“Apa kali ini menetap di Seoul?”

Ani… hanya sebentar saja,” balas Ri Na. “Anakku tahun ini akan masuk universitas, aku harus melihat keadaannya.”

“Anakmu yang tampan itu kan? Bukankah dia jenius?”

Ri Na merendah, “Namanya Jun Sang.”

Aigoo… pasti tidak perlu usaha keras baginya untuk masuk ke universitas favorit. Anakku bilang dia sangat pintar.”

“Dia mirip dengan ayahnya, juga mirip pamannya,” sahut lainnya.

“Ri Na-ssi sangat beruntung,” kata wanita berompi, “Kau punya suami kaya dan anak yang cerdas.”

Ri Na tersanjung mendengar pujian untuknya, “Kamsahamnida.”

“Kalau saja anakmu dan putri bungsuku bisa dipertemukan,” balas satu wanita yang lain lagi. Ia merasa tingkatannya sudah selevel dengan Ri Na, “Aku rasa tidak ada salahnya kita rencanakan masa depan mereka.”

“Sook Ah-ssi, kau bisa saja!”

Mereka mulai tertawa cekikikan. Mudah menebak apa yang diinginkan ibu-ibu tua itu. Ri Na hanya tertawa mengikuti alur. Tetapi ia punya pikiran lain di kepalanya.

Konyol…

Ri Na mana mau kalau anaknya dijodohkan dengan salah satu anak mereka. Bukan levelnya.

Chogi… bukankah keponakan Geum Ga-ssi bersekolah di tempat yang sama dengan anak Ri Na-ssi?” sahut wanita beranting bundar. “Dia juga akan masuk universitas tahun ini kan?”

Geum Ga memperhatikan raut wajah Ri Na yang tertegun lama. Menanti apa tanggapan wanita itu soal keponakannya, “Ye…”

“…Jeongmal?” tanya Ri Na.

Ye,” balas Geum Ga, sedikit terpaksa.

Nampak Ri Na menghela nafas setelah keterkejutannya tadi. “Siapa namanya?”

“Chae Ji Ryeon,” jawab Geum Ga. Padahal ia ingin mengatakan pada Ri Na, tidak perlu berpura-pura polos.

“Oh…” balas Ri Na tersenyum, dan menyeruput teh miliknya, “Bagus sekali…”

Ri Na dan Geum Ga bertatapan cukup lama. Tidak ada yang tahu apa yang mereka pikirkan sementara ibu-ibu yang lain asyik bercerita.

“Apa perusahaan Geum Ga-ssi jadi meluncurkan krim anti aging yang baru?” tanya seorang ibu lagi, membuyarkan perhatian Geum Ga terhadap Ri Na.

“Ya,” jawab Geum Ga, “Sebelum musim semi tahun ini, kami berniat mengedarkannya ke pasaran. Target kami juga mencapai Eropa dan Amerika, produk-produk sebelumnya selalu punya tempat di sana.”

“Aku juga memakai kosmetik perusahaanmu,” sambar Ri Na, “Bagus sekali di kulitku. Semua modelku juga memakainya. Apalagi lipstiknya.”

“Aku mewakili perusahaan sangat senang mendengarnya,” jawab Geum Ga pas-pasan, dan tanpa mau panjang-panjang.

“Geum Ga-ssi, pasti ada pestanya kan?”

Keurae,” jawab  Geum Ga, sehingga para ibu matre tersebut cekikikan lagi, “Kalian semua pasti diundang…”


******


Ji Ryeon mengambil beberapa buku dari rak, sementara Nam Hee malah bersantai-santai membaca entah buku apa yang sudah diambilnya. Merasa sepi tidak ada temannya, tapi ada merekapun biasanya hanya membuat ribut.

Waktu Ji Ryeon ingin meraih buku di rak deretan atas di bagian ensiklopedia, tiba-tiba sudah ada orang lain yang menyambar buku yang diinginkannya. Mendadak Ji Ryeon ingin masuk ke dalam rak menjadi buku berjamur paling tua dan paling tidak dicari.

Jun Sang membuka-buka lembaran buku itu, seperti sedang mempermainkannya sehingga Ji Ryeon langsung mundur teratur. Kemudian Jun Sang menatapnya dengan alis sebelah naik. Lalu agak mengejutkan, ia malah menjulurkan buku itu pada Ji Ryeon yang ragu-ragu menerimanya, walau akhirnya diambil juga dan segera menunduk pada Jun Sang.

Hari ini Ji Ryeon merelakan diri jadi kuda sirkus…

Keduanya terdiam kaku. Ji Ryeon malah makin terlihat seperti kutu buku. Jun Sang ingin bicara, tetapi ia bingung mencari topik yang sesuai dan memulainya dengan batuk-batuk tak jelas.

“…Semalam… kau kenapa…?” tanyanya sambil sok keren melihat-lihat judul buku di rak, “Nangis…?”

Ji Ryeon memutar otak mencari alasan yang agak logis, “Mataku kelilipan debu…”

Jun Sang sebenarnya sudah tahu kalau Ji Ryeon memang menangis, “Oh…”

“Pe… permisi…”

Ji Ryeon langsung kabur secepatnya. Ia ingin sekali memukul-mukul jantungnya yang berdegup sangat kencang. Kalau berduaan dan suasana sedang sepi begini tanpa konflik, ia selalu merasa gelisah dan keringat dingin akan mengucur deras dari pori-pori kulitnya.

Jun Sang masih ada di tempat semula saat ia sudah berada di rak seberang. Lewat celah-celah yang kosong, ia masih bisa memandang Jun Sang. Ke mana Ji Ryeon bergerak, ke situ pula Jun Sang bergeser. Ini sih seperti adegan di film Romeo & Juliet, ketika Romeo memperhatikan Juliet dari seberang akuarium (bleh), hanya saja settingnya diganti. Dan dari tadi, mata mereka terus berpapasan…

“—Ji Ryeon nuna…?”

Suara seorang lelaki membuyarkan lamunan indah Ji Ryeon dan Jun Sang.

“Ng?”

Ji Ryeon merasa pernah melihat laki-laki ini di suatu tempat, tapi ia lupa.

“Ternyata memang Kakak. Kebetulan bisa bertemu di sini.”

Lelaki itu tersenyum ramah di depannya, sepertinya tahu kalau Ji Ryeon tidak mengenalnya lagi.

“Aku Yang Seung Wan,” balas Seung Wan, “Sudah lupa ya?”

Jun Sang sebal. Seung Wan mengganggu acaranya dengan Ji Ryeon. Ia mendecakkan lidahnya kuat-kuat tapi sengaja tidak menoleh pada mereka.

“Ah… hahaha…” balas Ji Ryeon bodoh setelah melihat Jun Sang yang sekarang menoleh ke tempat lain dengan wajah masam, “Yang Seung Wan… aku ingat…”

“Kemarin kita tidak sempat ngobrol banyak,” kata Seung Wan.

“Iya…” balas Ji Ryeon, “Maaf, kemarin merepotkanmu.”

“Sama sekali tidak. Hari Minggu kau datang untuk belajar…?” tanya Seung Wan yang memperhatikan tangan Ji Ryeon memegang buku ilmiah, “Nuna rajin sekali…”

Aniyo…” jawab Ji Ryeon malu. “Aku bosan. Sekalian cari bacaan yang bagus… kau sendiri datang ke sini untuk belajar?”

“Sebenarnya aku hanya memaksa ikut dengan Kak Jun Sang,” jawab Seung Wan malu, “Jadi kusuruh dia menjemputku, tahu-tahunya pergi ke sini. Padahal kami ingin pergi nonton pertandingan basket. Oh, nuna melihatnya?”

Ji Ryeon tahu Jun Sang ada di balik tempat mereka, tetapi merasa tidak enak memberitahu Seung Wan.

“Tiba-tiba saja dia menghilang, ke mana dia…” kata Seung Wan sambil memantau ke sana ke mari. Lalu ia mendapati Jun Sang sedang garuk-garuk kepala lewat celah-celah rak di depan Ji Ryeon, “—Ah, hyung! Ngapain kau di sana?”

Jun Sang keluar dari persembunyian dan mendekati mereka.

“…Cuma lihat-lihat…” jawabnya jengah.

“Jadi tidak?” balas Seung Wan sambil melihat waktu di arlojinya, sudah hampir pukul 11. “Sebentar lagi mulai nih—Ji Ryeon nuna, kau datang sendirian?”

“Kebetulan aku datang dengan sepupuku…”

“Jun Sang oppa!”

Baru saja dibicarakan Nam Hee sudah menghampiri Jun Sang dengan wajah gembira. Detik berikutnya Nam Hee tidak bereaksi apa-apa waktu tahu ada Seung Wan di sana.

“Nam Hee…” panggil Ji Ryeon.

“—Eonni sedang apa?” tambah Nam Hee, memandang bergantian Ji Ryeon dan Seung Wan.

“Kalian bersaudara?” tanya Seung Wan.

“…Ini sepupuku…” kata Ji Ryeon. “…Namanya Chae Nam Hee…”

Nam Hee bertanya dengan penuh ingin tahu, “Kalian sedang apa?”

“Tidak sengaja bertemu kenalanku—”

Nam Hee memotong perkataan Ji Ryeon dan tidak berkata apa-apa kepada Seung Wan yang sudah memperkirakan sikapnya akan begitu.

Nam Hee beralih pada Jun Sang, “—Kak Jun Sang, kebetulan sekali ada di sini. Kakak juga suka ke sini ya?“

“Oh…” gumam Jun Sang singkat. Ia hanya tidak menyangka Nam Hee akan mengajaknya bicara. Padahal di sekolah mereka jarang sekali ngobrol. “Ya…”

Seung Wan tertawa seperti mengejek. Nam Hee meliriknya dari ujung mata, kemudian bicara lagi pada Jun Sang.

“Kakak cari buku apa—? Aku bantu cari ya? Yang ini sepertinya menarik… bagaimana kalau ini?”

Jun Sang sama sekali tidak memperhatikan Nam Hee yang sibuk memilihkan bacaan untuknya.

Nuna, kita ke tempat lain saja. Tidak baik menganggu mereka.”

Jun Sang menutup bukunya keras-keras sampai mereka kaget, sementara Nam Hee juga sudah berhenti mengoceh karena diacuhkan Seung Wan.

“Kita pergi.”

“Ke mana?” tanya Seung Wan.

“Kau bilang ingin lihat pertandingan,” balas Jun Sang.

“Oh… benar. Kita pergi saja…” kata Seung Wan. “Kalian mau lihat kan?”

“Maaf aku tidak bisa­—“

“Kenapa tidak sekalian saja?” tanya Seung Wan, “Ikut saja dengan kami. Ya kan, Chae Nam Hee?”

Nam Hee lagi-lagi bersikap judes pada Seung Wan. Ia berjalan cuek melewatinya dan memerintahkan pada Ji Ryeon untuk mengikuti ke mana mereka pergi.

Eonni, kita ikut saja…”

“Ayo…” ajak Seung Wan, “Kita pergi ke sana…”

Ini artinya kan Ji Ryeon juga yang repot. Bukan katenangan yang didapat, Ji Ryeon malah harus menanggung beban sebagai supir Nam Hee yang cerewetnya minta ampun.

Jun Sang bawa mobil sendiri bersama Seung Wan, memandu mereka dari depan. Sementara Ji Ryeon menyetir lagi untuk Nam Hee dalam laju normal, tetapi Nam Hee selalu saja menuntutnya segala macam hal.

“Kakak tidak bisa lebih cepat lagi?” tanya Nam Hee memperhatikan mobil Jun Sang yang terus berada di depan mereka, semakin lama semakin jauh.

“Tapi sedang ada banyak mobil,” jelas Ji Ryeon, “Bahaya…”

“Kau lamban sekali…” protes Nam Hee, wajahnya cemberut kesal seperti buah kesemek kering. “Aku bisa lebih baik lagi…”

Ji Ryeon nyaris tertawa mendengarnya. Kalau lebih baik, nenek tidak akan melarangnya membawa mobil. Padahal Nam Hee pernah menabrak pagar rumah 4 bulan lalu, waktu ia akan mengeluarkan mobil dari garasi. Nam Hee tidak kenapa-kenapa meski sempat menjalani therapy shock. Terapi itu sebenarnya tidak perlu karena yang lecet toh mobil dan pagarnya sedangkan Nam Hee baik-baik saja.

“Biar aku saja yang bawa,” kata Nam Hee.

“Jangan,” cegah Ji Ryeon, “Kalau kau yang bawa, baru 10 meter jalan kita bisa masuk rumah sakit…”

Nam Hee jengkel sekali mendengar Ji Ryeon berkata begitu jujur.

“Kakak, kau tidak bisa menyalip-nyalip seperti Kak Jun Sang?” tanya Nam Hee maju tak gentar. Saking tak sabarannya, ia terus gelisah seperti kebelet ingin ke toilet.

“Sedang banyak mobil,” ulang Ji Ryeon masih konsentrasi pada lalu lintas, “Bahaya kalau menyalip-nyalip… nanti bisa tertabrak… apa semalam kau nonton berita? Ada kecelakaan lalu lintas gara-gara pengendaranya tidak hati-hati. Kalau sampai seperti itu, masuk tv karena tertabrak, aku yakin kau akan malu…”

“Iya… iya… iya…!” seru Nam Hee. “Kak Jun Sang saja bisa… kau payah sekali!”

Yang benar saja, Ji Ryeon jadi ingin menabrakkan mobil mereka ke pembatas jalan supaya Nam Hee kembali harus menjalani therapy shock.

Nam Hee melihat dasbor di depan Ji Ryeon, lalu melotot dan kembali mengejek.

“Lima puluh lima kilometer per jam?!” tanyanya kesal, “Ya… kau ini kura-kura atau siput?”

Rasanya sangat tidak pantas bagi seseorang yang juga pernah menabrak trotoar dengan kecepatan 16 kilometer per jam untuk menghina performa Ji Ryeon.

“Tapi ini kecepatan yang sama waktu kita pergi tadi,” Ji Ryeon membela diri.

Nam Hee lantas menghidupkan lagi tape sambil menggerakkan jarinya di atas dengkul. Maksudnya, kecepatan mobil mereka sama sekali tidak seimbang dengan irama lagunya.

Ya, nanti kita ketinggalan!”

“Kalau ada polisi kan bahaya—”

“Kakak… sudah agak sepi, injak gasnya kuat-kuat!” desak Nam Hee.

Dari tadi Nam Hee menyuruh-nyuruhnya terus. Coba kalau Nam Hee yang menyetir, mungkin jiwa mereka sekarang sudah terpisah dari tubuh sehingga esoknya mereka berdua jadi tokoh utama dalam prosesi pemakaman dan ibu Nam Hee akan meratapi nasib putri tunggalnya yang mati muda.

Ji Ryeon menginjak gas dengan kencang, seperti yang diinginkan Nam Hee yang langsung senang tidak karuan.

Ketika Ji Ryeon berhasil menyamakan posisi, mobil Jun Sang malah menyalip lagi dan bergerak makin cepat.

Hyung, jangan ngebut,” kata Seung Wan di mobil mereka.

“Kau tenang saja…” jawab Jun Sang sambil terus menjaga jarak dengan mereka lewat kaca spion, ia nyengir jahil memperhatikan Ji Ryeon ketinggalan lagi.

“Nanti mereka terpisah dari kita,” tambah Seung Wan sambil melihat ke belakang, mobil Ji Ryeon ada beberapa puluh meter di belakang.

“Biar mereka kejar…”

Kalau Seung Wan sebagai penumpang yang khawatir, Nam Hee yang sama-sama penumpang malah terlalu agresif mengejar mereka.

“Mereka sudah jauh lagi tuh!”

“Iya…”

“Kakak jangan diam saja!”

“Aku tahu…”

Lelah diperingatkan seperti supir taksi yang lelet, Ji Ryeon mempercepat kecepatan mobil dan mengejar mereka lagi. Adrenalin memang meningkat, berbanding lurus dengan persentase kehilangan nyawa…

Lagi-lagi sedan sport Lamborghini warna putih yang hanya muat untuk dua orang itu terus meninggalkan mereka. Jun Sang sukses memancing perseteruan tidak hanya di sekolah. Dalam beberapa detik saja, terjadilah balap-balapan di antara mereka. Kalau soal olahraga Ji Ryeon boleh-boleh saja dikatakan bodoh. Tapi soal mengendarai mobil, ia termasuk profesional seperti supir betulan.

Today’s Song:
Fly to the Sky – Good Girl

Photo credit: casheefoo@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 5, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. Yupina oh ha ni

    Kapan part 9 nya yaaa????
    Haha saiya makin penasaraaannnn…
    Luph u junsaanggg,,hehhhehehe

  2. Kyaaaa…kuraaanggggg….banayakin dong Zuyu..gak terasa nie habis bacanya saking serunya..hahaha

  3. Yupina oh ha ni

    Haaa
    Pusink juga seeehhh….

    Ok ane bc dlu yg part 9 ye, heee

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

%d bloggers like this: