[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 9)

Just the way you are
Without changing who you are from now
Stand in the same place
I’ll protect you with my heart so you shine more than jewels
Until the day I close my eyes, I’ll breathe with you

Ji Ryeon dan Nam Hee turun dari mobil. Kunci mobil kembali diserahkan kepada Nam Hee. Ji Ryeon melihat Jun Sang yang sudah dari tadi sampai di parkiran lapangan sedang bersender di depan pintu mobil dengan tangan bersilang.

Kesal, Ji Ryeon pura-pura terlihat tenang.

“Ji Ryeon-ah!”

Han Na dan Min Ah berjalan cepat menuju Ji Ryeon. Waktu melihat mereka berempat datang bersama, keduanya heran. Tetapi lebih heran lagi melihat ada Nam Hee di dekat Ji Ryeon.

Nam Hee pura-pura tidak tahu kalau Han Na sedang mendelikkan mata sebesar mungkin padanya. Ia malah pergi sendirian ke tribun seperti diajak orang lain. Bahkan acuh pada Jun Sang dan Seung Wan.

Jun Sang juga pergi menyusul Seung Wan ke tribun karena ia tidak melihat prospek bagus Ji Ryeon akan sendirian kalau ada Han Na dan Min Ah bersamanya. Baru setelahnya, Ji Ryeon berjalan mengikuti Jun Sang agak jauh dari belakang.

“Kenapa bisa bareng mereka?”

“Tidak sengaja ketemu…” balas Ji Ryeon.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Han Na memutar-mutar badan dan meneliti wajah Ji Ryeon.

“Ng…?”

“Waktu itu kau dengan Jun Sang, ya kan? Apa kau terluka? Coba kulihat, ada yang cacat—?”

Mwoya…?! Memangnya aku diapakan sampai bisa cacat…” balas Ji Ryeon menghentikan ulah Han Na, “Aku hanya sembunyi, dan langsung pulang…“

“Kau pasti berpikir yang aneh-aneh…” sambung Min Ah.

“Dia yang menolongku, kalau tidak ada dia, aku pasti tidak di sini…”

“Biasanya melihatmu saja seperti melihat musuh…”

“Sudah… sudah…” sela Ji Ryeon, “Oh ya… siapa yang akan bertanding?”

“Dong Il dan Hee Rahm satu tim melawan Hae Im…” kata Han Na, “Juga ada banyak anak sekolah lain, katanya masih teman-teman mereka…”

“Aih… aku tidak sabar ingin melihatnya bertanding…” gumam Min Ah seperti gayanya yang biasa.

“Cih…” Han Na mendengus, “Kalian berdua membuatku ingin muntah…”

“Muntah saja kalau begitu…”

“Muntah di bajumu.”

“—Sudah jangan bertengkar,” lerai Ji Ryeon.

Ji Ryeon mencari tempat kosong di tribun yang cukup ramai dan mendapatkan kursi di samping Jun Sang. Ia melihat Nam Hee dan Seung Wan ada di deretan seberang tribun. Wajah Nam Hee agak kusut dan Seung Wan mengajaknya bicara.

Dua tim masuk ke lapangan. Karena cuaca dingin, semuanya memakai jaket yang menutupi seluruh badan. Semua penonton mulai bertepuk tangan termasuk Min Ah yang paling bersemangat di antara mereka. Masing-masing tim berkumpul membentuk lingkaran dan mendiskusikan sesuatu, lalu entah melakukan apa Ji Ryeon tidak begitu jelas melihatnya. Ketika keduanya siap, bola mulai diperebutkan. Hee Rahm berkelit dari salah satu pemain, lalu mengoper bola ke Dong Il yang dengan tangkas masuk ke dalam keranjang. Sorakan penonton bergemuruh. Namun Min Ah kecewa.

“Cih… dia hebat juga…” gumam Han Na untuk Dong Il. Semua orang yang tahu kalau Dong Il suka padanya yakin, Dong Il pasti akan melayang mendengar Han Na memuji dirinya.

Tim Dong Il dan Hee Rahm memasukkan beberapa bola, dibalas tim Hae Im yang tidak mau kalah sampai selisih mereka hanya beberapa puluh poin. Tetapi Ji Ryeon tidak begitu suka permainan melempar, menendang, memasukkan, menangkis bola atau apapun yang berhubungan dengan olahraga. Ia lebih suka baca buku, menonton dan jalan-jalan.

Akhirnya saat yang dinantikan Ji Ryeon datang. Pertandingan usai dan mereka semua berkumpul di salah satu gerai fastfood terkemuka di dekat lapangan yang bisa ditempuh dengan jalan kaki beberapa puluh meter saja. Dong Il dan Hee Rahm kalah sehingga harus mentraktir mereka. Dan di sepanjang jalan, mereka terus membicarakan soal pertandingan tadi. Han Na yang bermulut tajam siap menusuk hati Dong Il dengan sindiran-sindirannya.

Semuanya naik ke lantai dua gerai makan agar bisa ribut tanpa harus mengganggu tamu lain. Nam Hee pergi ke toilet di tengah-tengah acara. Selang beberapa menit kemudian Seung Wan juga undur diri, katanya ada keperluan lain. Nam Hee lama sekali keluar dari toilet. Setelah ditunggu hingga seluruh bilik kosong, Nam Hee ternyata tidak lagi di sana. Ji Ryeon kembali dengan wajah cemas, teman-temannya sudah pulang duluan dan hanya tinggal Jun Sang di sana.

“Mana adikmu?” tanyanya.

“Tidak ada,” jawab Ji Ryeon sambil mencari nomor ponsel Nam Hee di buku telponnya. Nam Hee tidak mengangkat panggilan Ji Ryeon sekalipun.

“Tunggu di parkiran saja,” ajak Jun Sang.

Ji Ryeon menuruti Jun Sang pergi ke tempat parkiran di dekat tribun, namun ia tidak melihat mobilnya lagi di sana.

“Mobil…” kata Ji Ryeon terkejut, “Mobilnya ke mana?!”

Ji Ryeon kalang kabut mencari mobilnya di sekitar sana. Tetapi tidak ada mobil dengan tipe sama di situ. Parkirannya nyaris kosong, hanya diisi oleh mobil milik Jun Sang dan tiga mobil lain yang berada agak jauh dari tempat mereka.

“Omo… mobilnya hilang…! Mobilnya pergi ke mana?! Eottoke?!”

“Apa tidak lapor polisi saja?” saran Jun Sang sambil mengikuti Ji Ryeon yang berlari ke sana ke mari.

Ji Ryeon terdiam murung. Kalau lapor polisi dan keluarganya tahu ia menghilangkan mobil, pasti Bibi Geum Ga dan Nam Hee segera menjadikannya sasaran empuk untuk jadi bulan-bulanan.

“Mungkin mobilnya didorong oleh beberapa orang, sepertinya sudah cukup lama tidak ada di sini lagi. Kau pegang kuncinya kan?”

“Kunci?” ulang Ji Ryeon. Sayangnya, kunci mobil tidak ada padanya…

Ji Ryeon mencoba menelpon Nam Hee lagi, nomornya sibuk. Setelah Ji Ryeon memutuskan panggilannya, tiba-tiba nomor Nam Hee memanggilnya balik.

“Nam Hee-ya!” seru Ji Ryeon, “Kau yang bawa mobilnya?”

“Sehari saja,” jawab Nam Hee. “Kakak pulang sendiri ya.”

“Tapi kau belum mahir!” tambahnya, “Nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana?! Ibumu bisa marah padaku!”

“Nanti biar kubilang pada Ibu.”

“Kau ada di mana? Berhenti dulu aku akan ke sana—”

“Aku tidak sendirian!” jawabnya ketus.

“Kau pergi dengan siapa?”

“Bukan urusanmu. Kau tenang saja! Sudah ya, aku tutup.”

“Nam Hee—“

Sambungan sudah diputus dan Ji Ryeon menutup ponselnya dengan gusar.

“Adikmu itu idiot?” tanya Jun Sang seenaknya.

“Agak,” jawab Ji Ryeon seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Aku ada perlu,” tambahnya sambil menunduk. “Permisi.”

“Mau ke mana?”

“Aku harus ke pasar,” jawab Ji Ryeon. “Sampai jumpa.”

Jun Sang tiba-tiba menarik Ji Ryeon ke mobilnya, namun karena heran Ji Ryeon menarik lengannya kembali.

“—Kuantar,” jelas Jun Sang.

“Tidak usah,” cegah Ji Ryeon, “Di dekat sini sepertinya ada halte.”

“Kau sendirian kan?” ujar Jun Sang, “Pergi denganku saja biar lekas sampai.”

Jun Sang membuka pintu penumpang, menyuruhnya masuk, lalu ditutupnya lagi. Selang hanya beberapa detik Jun Sang sudah menyalakan mesin dan mereka pergi dari tempat itu.


******


“Sudah tiga minggu kau mengacuhkan aku, sekarang mengajak keluar apa tidak salah?” tanya Nam  Hee.

“Bukannya kau senang?”

Haish!” Nam Hee mengumpat, “Kau keterlaluan tahu! Dasar, kau membuatku kesal! Aku kesal!”

Ya… Chae Nam Hee… ya…!” tegur Seung Wan, yang berusaha menghindari pukulan tas Nam Hee. Mobil jadi berjalan tidak teratur karena Seung Wan tidak konsentrasi membawanya. “Sudah… sudah! Kita sedang di jalan, kau lebih suka tertabrak?!”

Nam Hee berhenti mengacau. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membetulkan penampilannya lagi. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan bersalah sudah meninggalkan Ji Ryeon sendirian dan merampok mobil untuk digunakannya secara pribadi.

“Kita tukar tempat,” sambung Seung Wan, menghentikan mobil, lalu melepas seat belt dan pindah ke bangku penumpang depan sementara Nam Hee juga menggeser posisinya ke kemudi.

Nam Hee menghidupkan mesin mobil dan menggasnya pelan-pelan, tetapi ia grogi karena sudah lama tidak menyetir sehingga bukan berjalan mulus, jalannya malah patah-patah.

“Jangan rem tiba-tiba kalau di depanmu tidak ada kendaraan lain,” saran Seung Wan, “Pelan-pelan saja.”

Nam Hee mulai mengikuti petunjuk Seung Wan dan mobil melaju lumayan halus.

“Jangan gugup seperti itu. Setirnya jangan kau putar terlalu banyak, nanti kita bisa keluar jalur…”

Oppa gampang saja bilang begitu,” jawabnya ketus.

“Nah, itu kau sudah bisa,” kata Seung Wan, “Hanya saja kau kurang cepat…”

Nam Hee sengaja menaikkan kecepatan sehingga mereka melaju sangat kencang, tetapi Seung Wan ngeri melihat caranya.

Ya, Nam Hee, pelankan! Kau mau membunuhku?!”

Nam Hee menuruti katanya lagi. Ia sendiri juga ketakutan.

“Ya sudah, pelan-pelan saja… tidak apa-apa…” balas Seung Wan pasrah. Di jalan besar itu, hanya mobil mereka yang berjalan seperti kura-kura. “Ya… kau mengubah seluruh mobil ini? Warna cat, plat, sampai interiornya kau ganti juga…“

“Bukan milikku,” tukas Nam Hee, “Ini punya Kak Ji Ryeon.”

“Ke mana punyamu?”

“Disita Nenek.”

Seung Wan tertawa geli, “Aigoo… pasti gara-gara ulahmu yang sembarangan ya…?”

“Jangan tertawa!”

Seung Wan menambahkan, “Tapi tidak apa-apa kalau kakakmu kau tinggal?”

“Dia tidak berani padaku.”

“Oh ya?” jawab Seung Wan.

Oppa,” tegur Nam Hee keras, “Sudah lama kenal dengan Kak Ji Ryeon? Jawab yang jujur. Kenal dengannya di mana?”

“Di toko buku,” kata Seung Wan. Kalau ia benar-benar jujur, Nam Hee bisa marah.

“Kapan?”

“Semalam.”

“Kenapa kuajak pergi tidak mau malah pergi ke tempat lain?!” Nam Hee kumat lagi.

“Perhatikan ke depan!” seru Seung Wan melihat jalan, “Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan barusan? Aku bilang aku mengenalnya di toko buku, aku juga perlu belajar. Kau cemburu?”

“Cih…” dengus Nam Hee.

Ia hanya bisa diam untuk beberapa saat saja, kemudian mulai memborbardir Seung Wan dengan pertanyaan aneh. “Oppa, apa kau gay?”

Seung Wan tertawa terbahak-bahak, “Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Kau menyukai Kak Jun Sang?”

Seung Wan tertawa lagi, “Leluconmu lucu sekali. Kenapa kalau aku memang menyukainya?”

“Tidak,” jawab Nam Hee. Ia berpikir lebih baik Seung Wan menyukai Jun Sang daripada menyukai Ji Ryeon.

“Bukannya kau suka pada Jun Sang hyung?” balas Seung Wan, “Sejak kau masih kelas 1 SMP, sudah kuberi kesempatan dekat dengannya tapi tidak ada kemajuan. Kau adik paling payah sedunia…”

“Aku tidak menganggapmu kakak.”

“Lalu kenapa masih memanggilku oppa?”

“Yang Seung Wan!” tantang Nam Hee, “Aku bisa memanggilmu tanpa perlu menyebut oppa kan?!”

“Iya, iya…” Seung Wan menghela nafas, “Kau nona besar yang bisa melakukan apa saja…”

“…Kenapa kau mau membantuku?” tanya Nam Hee malu-malu, “Kenapa tidak cari pacar untuk diri sendiri?”

“Makanya, carikan untuk aku.”

Nam Hee jadi kesal Seung Wan memintanya hal yang paling dibencinya, “Cari saja sendiri!”

“Kau sombong sekali… temanmu kan banyak,” goda Seung Wan. “Atur satu kencan saja untukku. Lalu kau bisa mendekati Kak Jun Sang sekali lagi.”

Mendekati Jun Sang sebenarnya sama saja dengan mencoba menjelaskan cara kerja traktor pada tupai. Sia-sia dan melelahkan. Jun Sang tidak pernah mengizinkan dirinya untuk didekati perempuan manapun, termasuk Nam Hee. Satu-satunya teman wanita yang pernah akrab dengannya adalah Chae Ji Ryeon. Tetapi Nam Hee tidak tahu soal ini.

Ya, Nam Hee… kau setuju tidak?”

Nam Hee diam, tanpa sadar ia sudah hampir membuat mobil di belakang menabrak mobil Ji Ryeon.

“…Aku sudah capek menghadapinya,” jawab Nam Hee seraya menyetir kembali. “Dia tidak pernah peduli padaku… kalau aku bicara, dia selalu mengerjakan hal lain. Aku tidak suka…”

Seung Wan tidak begitu heran mendengar pengakuannya. Ia tahu kalau siasatnya mungkin akan sangat kecil berhasil jika berhadapan dengan kekerasan hati Jun Sang, tetapi ia hanya ingin membantu Nam Hee.

“Lama-lama begini terus membuatku marah dan kecewa,” tambah Nam Hee, “Aku ingin seseorang yang memperhatikanku, yang mau mendengarkanku… dan tidak memperlakukanku seperti patung.”

Jeongmal?” Seung Wan menanggapinya, “Aku kan mau mendengarkanmu. Dari SMP aku terus membantumu. Berarti aku bisa jadi pacarmu?”

Nam Hee terbelalak dan mendadak mengerem sampai tubuh mereka tersentak ke depan. “—Eh…?”

“­—Bohong kok!” sambungnya kaget, “Mana mungkin kita pacaran. Hehehe…! Ayo, cepat jalan lagi!”

Jengkel, Nam Hee memukul pundaknya, “Oppa, dasar pabo…!”


******


Maksud Ji Ryeon, mengantarnya ke pasar bukan termasuk juga mengantarnya sampai ke toko kan…?

Kenapa sekarang Jun Sang malah mengikutinya di belakang dan berjalan ke manapun ia berjalan…?

Bukannya tidak senang kalau Jun Sang jadi mirip bodyguardnya. Hanya saja ia agak kesal melihat ibu–ibu yang ada di sana melirik Jun Sang seperti lupa diri sudah punya anak.

Ji Ryeon berkata ragu-ragu, “…Anu… kenapa mengikutiku…?”

“Aku bosan,” balas Jun Sang. Ia baru pertama kali pergi ke pasar itu. Tempatnya memang bukan untuk anak remaja seperti mereka karena terletak di pasar tradisional yang khusus untuk bertani dan menjual kebutuhan pokok, “Mungkin Wakil Ketua Kelas banyak pengalaman ke tempat seperti ini. Aku ikut saja.”

Lagi-lagi Jun Sang memanggilnya seperti itu…

“Kita mau ke mana?” tanya Jun Sang, “Kenapa dari tadi tidak sampai-sampai?”

“Sebentar lagi sampai,” jawabnya, “—ah! Harabeoji!

Ji Ryeon berlari kecil menghampiri sebuah toko hortikultura. Di depan toko itu ada seorang lelaki tua yang baru saja melayani pelanggannya.

“Ji Ryeon-ah,” sapa kakek di sana, dengan suaranya yang sudah serak dan punggungnya bungkuk, “Sudah lama kau tidak ke sini. Mau beli bibit lagi?”

Ji Ryeon mengangguk, “Apa ada bibit bunga matahari?”

“Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu.”

Selama Kakek memeriksa stoknya, Ji Ryeon dan Jun Sang melihat-lihat bagian dalam toko itu. Hanya beberapa menit kemudian si kakek sudah keluar dan membawa sekantong kecil bibit bunga matahari.

“Ini dia,” kata Kakek.

Ji Ryeon menyerahkan uang pas padanya. “Kamsahamnida!”

Keduanya kembali berjalan di seputaran pasar setelah keluar dari toko tersebut. Ji Ryeon ingin menguji Jun Sang apa ia tahan diajak berkeliling terus. Tapi Jun Sang dari tadi tidak mengeluhkan apapun.

“Itu untuk apa?” tanya Jun Sang.

“Ini?” Ji Ryeon menunjukkan kantong plastik berisi bibit tadi, “Untuk ditanam.”

“Kukira untuk kau makan…”gumam Jun Sang, “Ya, kau tidak capek?”

“Kau capek ya?” balas Ji Ryeon.

“Jawab pertanyaanku dulu.”

“…A… ani…”

Ji Ryeon tidak akan merasa capek kalau di sampingnya ada Jun Sang. Tapi nampaknya Jun Sang bertanya seperti itu agar ia berhenti jalan-jalan.

“Kau?”

“Sangat capek.”

“Kau laki-laki kenapa bisa begitu lemah?” tanya Ji Ryeon.

Ya, kau pikir sudah berapa lama kita berjalan?” balas Jun Sang, “Dari tadi kuperhatikan kau tidak mengubah jalur. Kau lihat warung itu?”

Jun Sang menunjuk sebuah pojangmacha (warung kaki lima) di seberang jalan.

“—Kita sudah melewatinya tadi.”

“O… oh…” balas Ji Ryeon malu.

“Jadi sekarang mau ke mana?”

“Ke mana?” ulang Ji Ryeon. “Aku… tidak tahu. Kalau kau mau pulang duluan juga tidak apa-apa.”

“Lihat warung itu aku jadi lapar…” balas Jun Sang. “Kita ke sana.”

Ji Ryeon hanya tertawa kecil, “Tadi bukannya sudah makan…”

Kacha!”

Jun Sang duluan menyeberang dan sudah mengantri di depan warung kaki lima itu. Ji Ryeon jadi tergoda waktu menghirup aroma makanan ringan yang dijual, walaupun ia sudah merasa agak kenyang. Jun Sang memilih odeng, sedangkan Ji Ryeon tertarik pada tornado potato rasa barbeque.

Mereka tidak pernah makan berdua sebelumnya. Jangankan makan, bicara saja sangat jarang. Mungkin di sekolah atau lain hari ia tidak bisa seperti ini dengan Jun Sang.

Jika sudah lulus nanti, mereka akan berpisah. Baru sekarang, saat Ji Ryeon lupa pada perselisihan mereka ia merasakan kembali betapa berharganya seorang Jun Sang.

Ia ingin tahu Jun Sang akan masuk ke universitas mana, apa Jun Sang memilih jurusan dan waktu kuliah yang sama dengannya. Lalu kalau mereka berpisah pun, apa masih bisa bertemu lagi.

Atau kalau akan sering bertemu, apa nanti Jun Sang bisa lebih lunak terhadapnya…

Jun Sang menghalangi Ji Ryeon untuk mengeluarkan uang dari dompet dan membayar yang sudah mereka makan dengan uangnya. Ia gengsi kalau harus membiarkan perempuan membayar saat makan bersama.

“Kenapa?” tanya Jun Sang waktu dilihatnya nyengir-nyengir malu.

“Tidak ada…”

Ji Ryeon senang bukan main kalau Jun Sang masih memberi sedikit perhatian. Hari ini, sikap Jun Sang berbeda dari biasanya. Jun Sang yang beginilah yang disukainya, seperti yang dikenalnya bertahun-tahun lalu.


******


Geum Ga baru pulang ke rumah. Acara melelahkan itu berakhir setelah makan siang selesai, Geum Ga diajak pergi ke salon tetapi ia menolak dengan alasan akan pergi bersama putrinya.

“Di mana anak-anak?” tanya Geum Ga pada seorang pelayan muda.

“Mereka berdua pergi bersama,” jawab si pelayan.

“Ibu sudah makan siang?”

Si pelayan menggeleng, “Nyonya sedang tidur dan tidak mau diganggu. Tapi saya sudah meletakkan makan di kamar beliau.”

“Ya sudah, kembali bekerja.”

Si pelayan berjalan melewati Geum Ga ke belakang rumah, ke tempat kamar-kamar pelayan.

Geum Ga pergi memeriksa Nenek, ia khawatir kalau mertuanya itu belum makan.

Eomeonim?” ketuknya, tapi tidak ada tanggapan, “Eomeonim? Aku masuk ya?”

Geum Ga membuka pintu, ternyata Nenek memang tertidur pulas. Ia membangunkan Nenek supaya makan siang.

Eomeonim… kau belum makan siang. Cuaca dingin begini, nanti bisa sakit,” panggil Geum Ga, “Eomeonim?”

Geum Ga mengguncang-nguncang tubuh Nenek dan tetap tidak ada reaksi.

Eomeonim?” panggilnya lagi, dan menurutnya ini tidak beres. “Eomeonim?! —Yu Jin-ah! Seo In–ah! Cepat ke sini! Eomeonim?!


******


Jun Sang mengikuti Ji Ryeon berlarian mencari kamar rawat Nenek di koridor rumah sakit. Di jalan tadi Ji Ryeon mendapat telepon dari salah satu pelayan yang mengatakan kalau neneknya tidak sadarkan diri tetapi mereka belum tahu apa penyebabnya. Ji Ryeon sangat cemas, neneknya sudah cukup tua dan rentan terkena sakit. Apalagi Nenek sering berpergian dan masih sering berkunjung ke pabrik yang berisik.

Ji Ryeon berbelok ke sebuah koridor dan di depannya ada Geum Ga yang membawa tas besar berisi pakaian Nenek, berarti kamar Nenek ada di sekitar situ.

Imo!”

“Ji Ryeon…” balas Geum Ga. “Kenapa lama sekali?”

“Maaf…” jawabnya pasrah, “Nenek, bagaimana?”

“Belum siuman,” kata Geum Ga. “Masuklah.”

Ji Ryeon melirik kepada Jun Sang yang langsung mengangguk, lalu mengekor Geum Ga ke kamar rawat.

Di dalam kamar juga sudah ada Nam Hee dan Seung Wan.

Eonni ke mana saja?!” seru Nam Hee kesal dengan mata merah.

Tetapi Ji Ryeon hanya peduli pada pasien yang ada di atas ranjang. Nenek tidur dengan infus tertancap di nadinya, bahkan sampai diberi tabung pernafasan dan detektor detak jantung segala…

Memangnya sakit Nenek separah apa…

Halmeoni…” panggil Ji Ryeon, “Bibi, Nenek kenapa bisa begini?”

“Dokter bilang karena usianya sudah tua. Jantungnya melemah dan sudah tidak bekerja sebaik dulu lagi…” ujar Geum Ga, “Ditambah kesibukannya akhir-akhir ini. Nenek sudah tidak sadarkan diri waktu kutemukan.”

“Tapi, Nenek nanti akan bangun kan?” tanya Ji Ryeon.

“Dokter bilang setelah lewat masa kritis, baru akan sadar…” jawab Geum Ga.

Ji Ryeon kembali menatap Nenek. Walaupun tua, Nenek selalu kuat mengangkat benda berat dan tidak jarang berolahraga dengan mendaki perbukitan. Nenek juga yang lebih banyak menanam bunga, membersihkan tamannya sendiri dan memanen sayur di kebun. Namun begitu Ji Ryeon menggenggam tangan keriput itu, airmatanya tumpah karena ia tidak merasakan ada tenaga sedikitpun, ringkih dan jatuh lemas.


“…Halmeoni…”


******


Lama di sana tanpa ada perkembangan apapun, Ji Ryeon baru teringat tadi meninggalkan Jun Sang sendirian di luar. Ia hanya ingin tahu apa Jun Sang masih ada atau sudah pulang.

Jun Sang duduk di kursi pengunjung. Begitu Ji Ryeon muncul ia langsung bertanya, “Parah?”

Ji Ryeon tidak bisa menjawab karena masih lemas. Suasana di dalam terasa berat hingga membuat bibirnya seperti ditempel plaster dan hanya bisa ikut duduk di sebelah Jun Sang. Mau tak mau ia kembali menghirup aroma rumah sakit. Temperatur AC yang rendah semakin menambah tajamnya bau obat-obatan. Sepi, karena tidak ada satupun orang yang lewat di sana.

Jun Sang memandang kasihan pada Ji Ryeon. Ia ingin menghiburnya, seperti ketika Ji Ryeon dijahili anak-anak di sekolah, dan Jun Sang yang akan mendiamkannya sampai berhenti menangis.

“Nenekmu pasti akan sembuh,” ujarnya, “Kau jangan sedih.”

“…Katanya, jantung Nenek sudah lemah…” jawab Ji Ryeon, “Bibi bilang, dia tidak tahu kapan Nenek akan siuman.”

Senyumnya pahit. Wajahnya tertunduk memandang lantai. Apa yang dilihat Ji Ryeon sekarang adalah dirinya beberapa tahun silam saat rutin mengunjungi ibunya di rumah sakit. Sepulang sekolah, tanpa mengganti pakaian dan terkadang bersama Jun Sang pergi menemui Eun Yeong yang tergeletak lemah di atas tempat tidur, pucat, dan berbicara dengan suara yang nyaris tidak kedengaran. Terus begitu selama berminggu-minggu, nyaris sebulan lebih sampai Ji Ryeon hafal bau kimia menyengat di sana, sampai ia mengenal banyak dokter, perawat, dan pasien yang bernasib sama seperti ibunya, bahkan sampai ia menganggap rumah sakit adalah rumah keduanya.


“Aku teringat pada Ibu…”


Ini yang pertama kalinya Ji Ryeon bicara tentang Eun Yeong padanya setelah bertahun-tahun. Kabar terakhir yang diketahui Jun Sang hanyalah ibu Ji Ryeon sudah meninggal, saat mereka duduk di kelas 2. Jun Sang mengenal Eun Yeong hampir seperti ia mengenal Ji Ryeon, dan menganggap wanita seperti Eun Yeong adalah ibu sejati, yang tidak mementingkan kepentingan pribadi dan jauh lebih baik daripada ibunya sendiri.

Jun Sang tidak habis pikir jika ia melihat Ji Ryeon dan Eun Yeong, ia merasa cemburu. Cemburu karena hidupnya tidak seperti mereka. Iri pada Ji Ryeon yang selalu bertemu ibunya jika pulang ke rumah, berbeda dengannya yang pulang selalu disambut pelayan dan makan sendirian di ruang makan, sementara kedua orangtuanya terlalu sibuk menjenguknya dan lebih suka bertemu rekan kerja mereka. Dan jika ada acara yang membutuhkan kehadiran wali murid, pastilah manajer ayahnya atau kepala pelayan di rumah Jun Sang yang berkunjung. Walaupun kesal, saat ia bersama Eun Yeong yang dianggap seperti ibu sendiri, ia bisa melupakan kemarahannya pada orangtua kandungnya.

Pintu kamar terbuka sehingga Jun Sang refleks menarik kembali tangannya yang nyaris menyentuh pundak Ji Ryeon. Ia mengumpat kecil. Kalau saja tidak ada gangguan dari Nam Hee dan Seung Wan…

“Aku mengantar Nam Hee,” kata Seung Wan nyengir-nyengir waktu Ji Ryeon bengong melihatnya.

“O… oh…” gumam Ji Ryeon, melupakan lamunannya untuk sejenak.

Oppa…” panggil Nam Hee, “Gomawo…”

“Tidak masalah,” jawab Seung Wan, “Aku pulang dulu. Jun Sang, ayo.”

“Ya,” jawab Jun Sang, bangun dari kursi dan bergegas pergi, “Permisi.”

“Terima kasih tumpangannya,” kata Ji Ryeon.

“Ya. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa…”

Tak lama Geum Ga juga muncul dari dalam kamar.

“Kalian pulanglah,” kata Geum Ga, “Aku yang akan merawat Nenek.”

Nam Hee mengangguk.

“Ji Ryeon-ah,” panggil Geum Ga, “Kau juga pulang.”

“Tapi—“

“Hari sudah sore. Biar aku yang urus,” kata Geum Ga, “Kalau Nenek sudah siuman akan kuhubungi. Jangan lupa, sampai di rumah, suruh Yu Jin ke sini. Kalian kembali malam saja.”

“Baiklah,” jawab Ji Ryeon, “Kami pulang.”

“Ya,” jawab Geum Ga.


******


Usai mengantar Seung Wan pulang, Jun Sang juga pulang. Ia memarkirkan mobil di basement, sementara untuk masuk ke rumah harus menaiki tangga batu dari luar.

Di depan pintu ada sepasang sepatu warna merah dengan sol tebal yang bisa membuat kepala geger otak jika digunakan untuk memukul. Jun Sang menghela nafas. Padahal rumahnya sudah diberikan pengaman berupa kunci elektronik beserta password super rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Wanita pemilik sepatu sol tebal yang berada di dalam rumah Jun Sang sedang memperhatikan sebuah foto keluarga dalam pigura di atas bufet—ayah dan ibu menemani anak laki-laki mereka memancing di sebuah danau. Ia tersenyum, setidaknya anak tunggalnya masih bisa mengingat wajah kedua orangtuanya.

Honey…”

Ri Na berjalan melewati tumpukan sampah dan pakaian kotor untuk memeluk Jun Sang yang sedang melepas sepatu di depan pintu.

“Cih…” kata Jun Sang. “Minggir…”

Jun Sang cuek melewati Ri Na dan menuju lemari es untuk mengambil persediaan bir.

Wae?” tanya Ri Na, “Kau tidak rindu padaku?”

Jun Sang lagi-lagi cuek pada sang ibu. Namun birnya tidak tersisa satupun. Sebelum ia pergi, masih utuh 6 kaleng.

“Ibu habiskan semuanya?!” teriak Jun Sang antara takjub dan jengkel.

“Oh… aku haus,” jawab si ibu seenaknya. “Di sini juga tidak ada makanan. Jadi kuhabiskan saja semuanya. Oh ya, lain kali, jangan makan makanan instan, tidak baik untuk lambungmu.”

“Kenapa Ibu bisa ada di sini?!”

“Bukannya aku selalu begini?” balas Ri Na.

“Sudah kubilang jangan sembarangan masuk!”

Ri Na memukul kepala Jun Sang, “Kau pada ibu sendiri bisa kurang ajar.”

“Ibu pada anak sendiri bisa bersikap kasar…” sindir Jun Sang.

“Ini gudang sampah?” tanya Ri Na, menyingkirkan barang-barang yang berhamburan di sofa supaya ada tempat untuk duduk. “Jorok sekali. Ya, kalau begini terus kembali saja ke rumah. Dasar anak kecil.”

“Tiba-tiba ke sini, ada apa?” tanya Jun Sang sambil membuka tutup botol jus jeruk.

“Tidak boleh kalau seorang ibu ingin bertemu anak sendiri?”

Jun Sang merengut. Ia senang, tapi lebih banyak kesalnya. Ri Na tidak pernah rutin mengunjunginya dan selalu datang dengan penuh kejutan yang biasanya tidak disukai Jun Sang.

“Ayahmu bilang, siap-siap ke sana,” sambung Ri Na, “Setelah lulus SMA kau akan kuliah di Amerika.”

Mworago?” tanya Jun Sang, duduk di sebelah Ri Na.

“Berapa nilai TOEFLmu?”

Shiro!” seru Jun Sang, “Bilang pada Ayah aku tidak mau. Aku mau hidup sendiri dan aku tidak perlu bantuan kalian.”

Ri Na tidak menggubrisnya, malah mengambil sepuntung rokok dari tas.

Eomeoni!”

Jun Sang tidak suka melihat ibunya merokok, padahal kebiasaan buruk dirinya didapat dari Ri Na. Ia juga risih mendengar Ri Na menyebutnya honey dan memeluk-meluk seperti tadi.

Ri Na mendelik bergantian pada puntung rokok yang terselip di bibirnya dan pada Jun Sang, menuntut agar Jun Sang segera menyalakan lighter.

“Nanti kartu kreditmu diaktifkan lagi, bagaimana?” sogok Ri Na.

Jun Sang menegak jusnya, lalu berujar sok, “Tanpa kartu kredit aku masih bisa hidup.”

“Kalau begitu, aku belikan mobil baru, ya?” tambah Ri Na setelah menghembuskan asap pertama, “Punyamu sudah tidak ngetren lagi. Nanti kami belikan yang lebih bagus dan lebih mahal, kau mau kan?”

Ini dia yang tidak bisa ditolak Jun Sang dengan mudah. Kalau sudah diiming-imingi barang kesukaannya, keyakinan yang susah payah dibangunnya bisa patah dalam sekejap.

“…Tidak perlu!” balas Jun Sang setelah benar-benar yakin tidak bisa disuap semudah itu.

Haish… kalau mau bilang saja,” kata Ri Na, “Kau tinggal menuruti kami. Semua akan kembali seperti semula, dear…”

Eo-meo-ni, a-ku ti-dak ma-u.” Jun Sang mengucapkan kalimat tersebut patah-patah dengan alis mata naik.

“…Oh…” jawab Ri Na kecewa tapi tetap bersikap tenang, “Baiklah, kalau tidak mau biar untukku saja…”

Ya—kenapa tidak diskusikan padaku?!” tuntut Jun Sang, “Setidaknya tanya padaku, apa aku ingin kuliah di sini atau ikut kalian! Eomeoni, aku punya pilihan sendiri. Kita punya jalan yang berbeda, jangan dicampur aduk!”

“…Kau tahu sendiri kan ayahmu seperti apa…” sanggah Ri Na. “Turuti saja apa katanya. Dia juga melakukan itu untuk kepentinganmu nanti. Kalau kau tidak berpendidikan tinggi, bagaimana bisa mengurus bisnisnya nanti? Kalau kau punya kuasa, semuanya bisa mudah dimiliki, perempuan juga akan datang seperti semut mengerubuti gula. Apa kau mau melihat kursi milik ayahmu nanti diduduki orang lain, lalu kau akan meratapi nasibmu sebagai orang miskin, tidak ada yang mau denganmu, jadi bujangan seumur hidup karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada? Rugi, anak bodoh.”

“…Apa Ibu menikahi Ayah memang karena harta…?”

Keurae,” jawab Ri Na tegas.

Walau tahu ibunya pasti bercanda, wajahnya jadi cemberut. Ri Na gemas dan mencubit pipi Jun Sang, tindakan yang tidak cocok lagi dilakukan seorang ibu pada anak laki-lakinya yang sudah dewasa.

“Tapi aku cinta padamu kok, honeyyyyy…”

“Yang penting bisa hidup normal juga sudah cukup,” tambah Jun Sang, mengelak dari cubitan ibunya, “Aku mau kerja sendiri, cari pasangan sendiri, tidak perlu kalian bantu.”

“…Ahhh…” gumam Ri Na, seolah mendapat ide baru, “Apa karena anak perempuan Chae itu?”

Dahi Jun Sang berkerut.

“Pak Gong Hyun bilang kau tidak mau bicara berminggu-minggu setelah dia pergi,” goda Ri Na, Lalu datang ke rumahnya setiap hari memanggil anak itu walaupun tidak ada yang menjawab, dan menunggunya di depan pagar sekolah padahal dia tidak sekolah di situ. Anak yang manja dan bandel ini, bisa berbuat sampai sejauh itu. Honey ternyata sudah besar yaaaa…!”

Mwoya?!” teriak Jun Sang. “Ibu sudah tidak ada perlu kan? Pulang saja. Jangan ke sini lagi tanpa izinku. Bilang pada Ayah jangan mencampuri urusanku. Urus saja karyawan-karyawannya di kantor.”

“Cih…!” balas Ri Na, “Tapi, kalau dia sampai murka padamu, aku tidak mau tanggung jawab. Kau hadapi sendiri dan aku tidak akan membelamu. Ara?!

Jun Sang agak ngeri kalau ayahnya mengomelinya, “Eomeoni!” panggilnya. Ri Na mengacuhkannya dan terus menuruni tangga. “Eomeoni!”

“Siap-siap saja kalau kau dimarahinya, honey!” Ri Na melambaikan tangan dari bawah, dan masuk ke dalam mobil yang disetir oleh supir Ri Na. “Sampai jumpa! Jaga diri baik-baik!”

Ibu kalau bicara pada Ayah sekalian bujuk dia! Eomeoni! Ya…! Jang Ri Na! Ya!” teriak Jun Sang, Ri Na lagi-lagi tidak mau peduli, “Haish!”

Jun Sang melempar sandal yang dikenakannya, tapi karena jarak yang terlalu dekat, jari-jari kakinya malah menendang tembok pagar pembatas di teras. Merasa ngilu, ia menginjit kaki sambil masuk rumah.

part 9!!!!!!!!!! yes!! maaf kalo terbitnya kecepetan, abis berita kemarin ternyata banyak juga O.o

sebentar lagi bakal nyampe part 10 iyeyyyyy gw tidak sabar melanjutkan ff ini. Abis gw sendiri suka bgt sih😄

Today’s Songs:
Regina Spektor – The Call
The Cranberries – Linger
Dreams Come True – Eternity

Photo credit: casheefoo@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 6, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Yupina oh ha ni

    Aisshhh
    Mkin pnasaran ajja..
    Klo jun sang jadian ma ji ryeon, di tentank kluarga ga yaaa??hee ngeyel ndiriii…

    Part 10 besok y???heee
    Piiiissszzzz….

  2. haish..jun sang makin macho aja..” dalam bayangan gw..” hahaha,
    part 10 ditunggu…hohoho…

  3. aaaaaaaaa.. part 9 kereeeenn!!!!
    jun sang nya baru keliatan keren banget disini. huaaaaa. pengen punya cowo kaya jun sang *lho?

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: