[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 10)

The heart that froze and split
The days when it wilted day by day
That one shabby day that i met the mottled you

Now finding my own light
The pains of loneliness that i feared and hated grow into a new life
At times, like a girl, spending the young days
Your cute mistakes keep making me smile

Ji Ryeon giliran menjaga Nenek sebelum Geum Ga kembali dari rumah. Ia duduk di sofa sambil menjahit manik-manik di sebuah blouse, dan tanpa terasa sudah jam 10 lewat. Ia pikir Geum Ga dan Nam Hee sudah tiba karena ada derit halus pintu didorong dari luar. Namun yang datang bukan bibinya atau sepupunya, atau pelayan di rumahnya, melainkan orang lain.

Ji Ryeon mendongak, “Seung Wan-ah.”

“Selamat malam,” katanya, “Aku ingin menjenguk nenekmu.”

Seung Wan menyerahkan buket bunga herbal pada Ji Ryeon. “Kata penjaga tokonya, bunga ini bisa meningkatkan kesehatan.”

Gomawo…” kata Ji Ryeon, “Duduklah.”

Buket bunga pemberian Seung Wan diletakkannya di meja di samping tempat tidur Nenek yang belum terbangun  hingga sekarang. Ji Ryeon memandang Nenek dan memegang tangannya sebentar, masih lemas tanpa reaksi apapun.

“Tapi, nampaknya aku sangat terlambat ya?” kata Seung Wan saat dilihatnya ada beberapa karangan bunga lain di sana, “Beliau pasti orang penting.”

“Itu dari pegawai-pegawai dan kolega Nenek di pabrik kosmetiknya,” balas Ji Ryeon setengah tertawa.

“Wah… kalian keluarga yang keren…” puji Seung Wan, “Nenekmu belum sadar juga?”

Ji Ryeon menggeleng, “Tapi kata Bibi, Nenek sudah mengalami kemajuan. Jantungnya sudah normal dan kemungkinan sembuh cukup besar.”

“Aku turut gembira.”

“Terima kasih,” ujar Ji Ryeon, ia menuju sofa dan duduk di seberang Seung Wan, “Chogi, Nam Hee sedang di jalan. Sebentar lagi dia ke sini.”

“Tak masalah.”

“Aku agak kaget soal kemarin. Aku baru tahu kalau kalian sudah lama kenal.”

“Kami dulu satu SMP,” jawab Seung Wan. “Aku juga kaget kau ternyata bersaudara dengannya.”

Kemudian mata Seung Wan tertuju pada pekerjaan Ji Ryeon yang tergeletak di atas meja. “Ini buatanmu? Bagus sekali.”

Ye,” jawab Ji Ryeon, “Sebenarnya itu untuk temanku. Karena waktu belajar sudah berkurang, jadi aku menerima pesanan.”

Nuna suka mengerjakan ini?”

Ji Ryeon mengangguk antusias, “Aku ingin jadi desainer. Harus memulai dari sekarang, supaya terbiasa dan nanti bisa langsung buka butik sendiri.”

“Kakak tinggal dengan Nam Hee, apa orangtuamu tidak berada di Korea?” tanya Seung Wan, “Aku hanya melihat ibu Nam Hee di sini.”

“…Orangtuaku memang tidak tinggal di sini,” jawab Ji Ryeon, “Mereka sudah meninggal.”

…Mianhae—“

Aniyo,” sela Ji Ryeon tersenyum, namun hatinya miris, “Jeongmal gwaenchana.”

Seung Wan tidak enak padanya, Ji Ryeon sendiri juga ikut-ikutan diam, yang terdengar hanya suara mesin dari alat deteksi detak jantung Nenek.

“…Aku keluar sebentar ya,” ujar Seung Wan.

Ji Ryeon mengangguk setuju.

Seung Wan pergi membeli kopi di vending machine terdekat dan sengaja mengulur waktu walaupun kedua paper cup di tangannya sudah terisi penuh. Ia sengaja membiarkan Ji Ryeon sendirian, selain karena takut memberi kesan jelek di mata Ji Ryeon, Seung Wan merasa pertanyaannya tidak tepat ditanyakan pada saat nenek Ji Ryeon sedang sakit.

Perhatiannya sedikit-sedikit beralih pada Ji Ryeon. Sejak pertemuan pertama dan bertemu lagi di perpustakaan, ia hanya menganggapnya sebagai teman baru yang hanya akan bertemu sekali-sekali, tapi sekarang ia malah ingin menemui Ji Ryeon lebih sering lagi…

Apa karena merasa mereka memiliki kesamaan nasib? Atau mungkin Tuhan kali ini memberikan pasangan baginya?

Seung Wan tersenyum. Untuk alasan yang kedua, menurutnya tidak mungkin…

Di saat bersamaan Jun Sang sedang berupaya untuk tidur tetapi otaknya tidak bisa dikosongkan dari pikiran-pikiran yang selama ini menyangkut di sana.

Ia uring-uringan di ranjang, menatap lurus bintang-bintang di langit yang tembus ke dalam kamar lewat atap kaca tembus pandang di kamarnya.

Hanya beberapa hari setelah mereka lulus SD, tiba-tiba Ji Ryeon menghilang tanpa kabar. Tidak ada yang menyahut atau membukakan pintu waktu Jun Sang menyambangi rumahnya selama berhari-hari. Saat ia menelpon ke rumah Ji Ryeon, sambungannya sengaja diputus. Hingga suatu hari seorang tetangga lewat dan mengatakan kalau rumah Ji Ryeon sudah dikosongkan. Keluarga Chae pindah ke daerah lain, keberangkatan mereka begitu cepat sampai orang-orang di lingkungan tempat tinggal Ji Ryeon tidak tahu ke mana dan sebab mereka pindah.

Jun Sang tidak mau percaya.

Kegelisahannya menjadi-jadi saat masuk SMP. Di saat murid lain belum datang, Jun Sang sudah menunggunya di depan pagar sampai dentang bel masuk bergema di seluruh sekolah dan pagar sudah ditutup. Ia tidak peduli guru menyuruh masuk dan anak-anak yang lain menertawakannya, bahkan mengatainya satpam.

Tetapi tidak ada murid bernama Chae Ji Ryeon. Tidak ada yang mengenal namanya. Tidak ada sosok anak berwajah manis yang disukainya itu.

Sepulang sekolah, dengan sabar ia terus menunggu. Jika Ji Ryeon akhirnya muncul, Jun Sang berniat mengajaknya pergi ke taman hiburan, berdua saja. Mereka akan naik jet coaster, bianglala, apapun yang diinginkan Ji Ryeon. Lalu makan pizza atau es krim sambil jalan-jalan dan membelikannya teddy bear paling besar yang bisa dipeluk sewaktu tidur.

Jun Sang sangat kecewa. Airmata yang tidak pernah diteteskannya meskipun ia terjatuh sampai berdarah-darah, tiba-tiba mengalir.

Ji Ryeon tidak pernah datang dan tidak pernah menemuinya lagi.

Ia tidak mempermasalahkan jika orangtuanya tidak ingat hari ulang tahunnya, ataupun jika tidak ingat kalau mereka punya anak bernama Jun Sang, tetapi kalau Ji Ryeon yang lupa, ia akan sangat sedih. Ji Ryeon seperti keluarganya sendiri, yang tahu betul makanan yang disukai dan yang tidak disukainya, yang selalu hadir tiap kali ia mengikuti kompetisi taekwondo, dan yang selalu ingat hari ulang tahunnya. Jun Sang pun seperti itu, ia tahu persis bagaimana sifat Ji Ryeon, betapa imut-imutnya anak itu saat memakai tutu, beserta sepatu pink, rambut disanggul, lalu menari dengan kaki diinjit, membuat Ji Ryeon terlihat seperti anak bebek.

Selama empat tahun ia berusaha melupakan Ji Ryeon. Berpikir bahwa gadis itu sudah mengkhianatinya, sudah meremehkan kesepakatan mereka tanpa tahu satu pihak telah disakiti. Akibatnya, ia jadi dingin pada semua perempuan yang mendekatinya.

Tiba-tiba saja Ji Ryeon masuk ke kelasnya sebagai murid baru, menyapanya tanpa rasa bersalah. Kemarahan dan kerinduan memuncak, berkecamuk di dadanya saling menghabisi satu sama lain. Yang menang adalah rasa marah, walaupun ia selalu bersalah tiap kali menyakiti Ji Ryeon dengan kata-kata dan perbuatannya.

Ia tidak bisa membenci gadis itu, tetapi setan di otaknya memaksanya untuk mengingat masa lalu.


Haish!


Butuh waktu lebih lama lagi bagi Jun Sang untuk menghilangkan keegoisan yang masih menguasainya lebih dari apapun.


******


Seung Wan kembali dengan membawa dua paper cup kopi hangat ke kamar rawat. Di sana sudah bertambah dua orang lagi, Nam Hee dan ibunya, sementara Ji Ryeon sudah mengemasi barang-barangnya ke dalam tas dan bersiap pulang.

Oppa…” panggil Nam Hee senang begitu ada Seung Wan.

Annyeong haseyo,” sapa Seung Wan.

Annyeong haseyo,” balas Geum Ga.

“Pulang sekolah besok aku akan ke sini lagi,” kata Ji Ryeon.

“Tidak ada yang ketinggalan kan?” tanya Geum Ga.

Ani.”

“Di luar sudah ada supir yang menunggu,” tambah Geum Ga.

“Baik.”

“Sudah mau pulang?” tanya Seung Wan.

Ye,” kata Ji Ryeon, “Besok kan harus sekolah. Sampai jumpa.”

Oh… keurae,” jawabnya sedikit kecewa.

Ji Ryeon lewat begitu saja dan Nam Hee menghampiri Seung Wan.

Oppa, Kak Ji Ryeon bilang kau mencariku? Sudah lama?”

Ani,” balasnya sambil menaruh kopi di kabinet. “Baru berapa menit lalu.”

“Kita cari makan saja,” ujar Nam Hee, “Eomma, kami keluar ya?”

Terdengar Geum Ga menjawab dan Nam Hee segera menarik Seung Wan pergi. Di dalam rumah sakit, ada satu cafe dan mereka memesan makanan ringan serta cappucino. Seung Wan tidak mau mengajaknya makan di kaki lima yang ada araknya karena Nam Hee pasti akan mabuk.

Seung Wan melirik arlojinya dan sekarang sudah pukul sebelas.

“Aku harus segera pulang.”

“Eh?” Nam Hee berpaling dari cappucinonya, “Tapi kita baru saja duduk di sini.”

“Kalau begitu selesaikan makanmu dulu,” jawab Seung Wan.

Nam Hee tidak nyaman. Kata Ji Ryeon, Seung Wan ingin menemuinya, tetapi begitu bertemu malah mau cepat pulang.

“Kenapa terburu-buru?” tanya Nam Hee, “Kita kan jarang bertemu. Temani aku di sini.”

“Hari ini kita sudah bertemu dua kali,” jawab Seung Wan.

Oppa, tidak masalah kalau aku menyukai Kak Jun Sang?”

Mwo?

“Kau tidak keberatan aku menembaknya? Benar tidak masalah?”

“Kenapa harus keberatan?” balasnya.

“Tidak.”

Wae? Kau mengira aku akan cemburu?” tambah Seung Wan, “Aku bukan gay, anak kecil. Kaja.”

Nam Hee tidak mau bangun walaupun Seung Wan sudah berdiri lebih dulu.

“Ayo,” ajak Seung Wan, “Kuantar sampai depan.”

Nam Hee tidak mampu bicara lagi dan hanya menuruti Seung Wan untuk kembali. Mereka tiba di depan pintu rumah sakit. Sebelum Nam Hee masuk, Seung Wan mengajaknya bicara sebentar saja.

“Kau menginap di sini?”

“Tidak. Nanti aku juga akan pulang,” jawab Nam Hee, “Oppa pulang naik apa?”

“Aku pinjam mobil Ayah,” balasnya. “Sampaikan salam buat ibumu.”

“Ya,” balas Nam Hee.

Ia tidak rela Seung Wan begitu cepat pergi. Bukan karena malam ini ia ingin ditemani, tetapi firasatnya mengatakan kalau Seung Wan nanti pasti makin lama makin jauh darinya. Kalau tidak dikatakan sekarang, kesempatannya akan hilang.


Oppa!


Seung Wan berbalik menoleh pada Nam Hee.


“Ng?”



JJoahaeyo.”



Nam Hee gugup setelah mengatakannya, hatinya terasa dipukul-pukul palu. Ia melihat Seung Wan tidak bereaksi dan menyimpulkan kalau seniornya itu mungkin akan menolak. Seung Wan memang tidak pernah menunjukkan perasaan lebih dari sekedar pertemanan biasa, dan itu adalah hal yang membuat Nam Hee gelisah selama ini. Walaupun ia sudah berusaha memberikan petunjuk berkali-kali, tetapi yang diketahui Seung Wan hanya masalah sewot Nam Hee terhadap Jun Sang yang pernah ditaksirnya waktu SMP.

Nam Hee menyesal karena terlalu gegabah. Ia ingin menarik lagi ucapannya tetapi terlambat, Seung Wan sudah mendengar dan tersenyum padanya.

Gomawo…

Harapan Nam Hee runtuh seketika. Seung Wan tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali berjalan menuju tempat parkiran mobil, sementara tubuh Nam Hee lemas seperti tidak makan sebulan.

Terima kasih bukan kalimat yang berharga untuk Nam Hee. Bukan itu yang diinginkannya. Ia ingin lebih, ingin Seung Wan mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya menari-nari gembira jika berjalan di koridor rumah sakit. Ia ingin perasaan lega dan senang masih terasa sampai besok supaya teman-temannya bingung dan bisa membanggakan ceritanya di depan mereka, bahkan ia berniat pamer kepada Ji Ryeon.

Nam Hee ingin berteriak sekuat-kuatnya agar Seung Wan sadar kalau suka yang dimaksud Nam Hee bukan suka karena Seung Wan bersikap baik padanya, namun mulutnya tidak bisa terbuka.


******


“Datang ke sekolah hanya formalitas saja. Aku ingin pulang…”

Han Na terus mengoceh di tengah-tengah koridor  tentang betapa bosannya ia berkeliaran di sekolah. Min Ah mengekor di belakang, memegang cermin—memuji kecantikannya sendiri dalam hati, sedangkan Ji Ryeon sedang tidak bersama mereka melainkan di perpustakaan dengan junior yang ingin belajar dengannya.

Haish! Aku bosan di sini!” tambahnya setengah berteriak, “Ya, Ji Ryeon masih di perpustakaan?”

Min Ah mengangguk, namun matanya masih tertuju pada cermin untuk merapikan rambutnya.

“Kenapa dia betah sekali di sana…”

“Eh, coba kau lihat,” Min Ah menunjuk ke depan, “Sung Dong Il.”

Terlihat oleh Han Na dari ujung koridor, Dong Il sedang tertawa-tawa dengan anak perempuan di kelas 1. Han Na agak panas walaupun ia tidak suka Dong Il dekat-dekat dengannya.

“Cih… sekarang malah sibuk dengan adik kelas…” sambung Min Ah. “Jadi yang ini bagaimana?”

Han Na mendelik sehingga Min Ah mencari-cari alasan untuk kabur dengan menyapa teman lelakinya, “—Oh, In Sung, annyeong!

Min Ah pun lari terbirit-birit. Dong Il masih tertawa dengan si adik kelas. Raut si adik kelas yang mendadak berubah membuat Dong Il menoleh dan menemukan wajah sangar Han Na mendadak berada di dekatnya.

“Kang Han Na…”

“Akrab sekali ya…? kata Han Na tersenyum sinis.

“Di—dia bukan siapa-siapa,” jawab Dong Il secepatnya.

“Ada apa-apanya juga tidak masalah,” kata Han Na.

Siswi kelas 1-3 itu menunduk takut saat Han Na melirik padanya, lalu ia masuk ke dalam kelas dan duduk diam di bangku.

“Aku ingin bicara,” tambah Han Na mendadak tegas. “Ke atap sekolah, sekarang!”

Dong Il mengejarnya dari belakang dan berkata, “Eh… Han Na…”

“Apa?!” balas Han Na.

“Kita pergi berdua saja—“

MWO?!” teriak Han Na. “Enak saja pergi berdua—aku bisa pergi sendiri!”

“Han Na… tunggu…”

“Kau berisik!”

“Kita kan searah—“

“Aku lewat sini saja—kau lewat jalan lain!”

Han Na memilih jalan yang lebih cepat sampai sementara Dong Il disuruhnya lewat jalan yang paling jauh.

Dong Il bingung dan garuk-garuk kepala ketika ia sampai di atap sekolah, sedangkan Han Na berdiri di dekat tembok pembatas, memandang ke depan sambil menyilangkan tangan seperti sedang menyongsong hari esok yang masih beberapa belas jam lagi.

Dugu?” tanya Han Na waktu Dong Il berdiri di sebelahnya.

“Mmm?”

“Anak perempuan itu, siapa?!”

“Oh…” gumam Dong Il, garuk-garuk kepala lagi, tentunya bukan karena ketombean. “Dia hanya junior yang kenal denganku.”

“Sung Dong Il!” sela Han Na, “Seminggu lalu dengan anak kelas 2, lalu kali ini dengan anak yang lain lagi. Kau memang berbahaya. Huh—?”

Wae?!” balasnya jengkel, “Aku kan jomblo, apa salah kalau ada yang mendekatiku?!”

Han Na berpikir ulang. Dong Il memang tidak salah kalau punya gandengan, toh ia selalu menghindar kalau didekati Dong Il.

Ke, keurae!” serunya, “Dekati saja. Tidak apa. Tapi jangan dekat-dekat denganku, ngerti?!”

Han Na mendorong tubuh Dong Il dengan ujung-ujung jarinya. “Kalau bukan karena kalian yang ganggu, acara kencan kami pasti akan berhasil! Aku tidak akan memaafkanmu!”

“Hah…!” gumam Dong Il, “Ya, kenapa menyalahkan aku melulu?! Kalau Jun Sang tidak menguping kalian, aku tidak akan pergi…!”

Kedua mata Han Na menyipit tajam mendengar ucapan Dong Il, “Mworago…?”

Dong Il buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, tetapi Ha Na sudah keburu curiga.

Ani, ani, ani!”

“Bodoh, aku sudah dengar yang sebelumnya!” Han Na mencekik kerah kemeja Dong Il, “—Cepat jawab yang jujur! Kau… bilang… apa…?”

Dong Il tidak tahan lagi selama ini terus main rahasia-rahasiaan, “Jun Sang yang ingin pergi! Gara-gara Ji Ryeon, dia memaksa pergi!”

“Kenapa harus menyalahkan temanku segala?!”

“Memang itu kenyataan!”

“…Yoon Jun Sang… sebenci itu padanya?”

Dong Il mengurut-urut lehernya yang baru saja dilepas Han Na, “Benci? Kau hanya tahu soal benci.”

Han Na tidak mengerti maksud Dong Il. Memang yang dilihatnya selama ini adalah aroma perselisihan tiada akhir, terutama yang berasal dari Jun Sang, sangat pekat dan berbahaya.


******


“Jun Sang, Ji Ryeon, dan aku sudah berteman sejak masih TK,” Dong Il memulai cerita, mereka duduk bersama di bench yang tersedia karena capek berdiri terus. “Ji Ryeon paling dekat dengan Jun Sang. Mereka seperti kakak beradik—Jun Sang juga dekat dengan ibu Ji Ryeon…”

“Sampai SD kami masih berteman,” sambungnya, “Tapi setelah kelulusan, Ji Ryeon dan ibunya menghilang, tidak bilang apapun pada kami…”

Han Na tidak menyangka ada rahasia semacam ini. Di depan orang Ji Ryeon berlagak seperti baru kenal dengan Jun Sang dan Dong Il, “Jadi, rupanya kalian sudah lama kenal?”

Dong Il mengangguk. “Waktu Ji Ryeon kembali, sifat Jun Sang berubah drastis. Kau lihat sendiri bagaimana kelakuannya semenjak ada Ji Ryeon di kelas kita.”

“…Dia menyalahkan Ji Ryeon?”

“Ji Ryeon yang membuatnya jadi seperti sekarang—“

“Tetap saja Jun Sang salah—”

“Kau terlalu membela Ji Ryeon—“

“Kau sendiri juga membela Jun Sang!“

Dong Il menyerah kalau adu mulut dengan Han Na dan hanya mampu menghela nafas capek. Entah kenapa Han Na seperti kurang respek padanya.

“Yang kemarin malam itu, bukan kebetulan…” lanjut Dong Il, “Begitu mendengar ceritamu di kelas, Jun Sang curiga kalau kalian akan kopi darat dengan teman kami. Ternyata dugaannya benar.“

“…Yoon Jun Sang tidak tenang kalau tidak mengganggu Ji Ryeon di luar…?”

Dong Il menatap Han Na, kasihan padanya karena sudah dua tahun mengenal Ji Ryeon tapi tidak mengetahui inti masalah yang sebenarnya tidak rumit malah jadi sulit.

“Kau perempuan tapi tidak tahu.”

Wae?”

“Coba pikir ulang, apa yang dilakukan Jun Sang padanya, bukan yang seperti orang kira, tapi sebaliknya.”

Han Na tertegun agak lama. Lalu di otaknya seperti ada lampu yang mendadak hidup membangunkan syaraf-syarafnya. “Bukan yang seperti orang kira, tapi sebaliknya”. Jadi maksud Dong Il kebalikan dari sikap Jun Sang selama ini? Tapi masa sih Jun Sang sebenarnya tidak benci pada Ji Ryeon…

“…Maksudmu… itu…?”

Untuk menambah kesan misterius, Dong Il sengaja tidak mengangguk ataupun menatap Han Na.

“Penipu!” tukas Han Na. “Jangan bicara omong kosong lagi padaku! Aku tidak percaya!”

“Aku jujur!” balas Dong Il, “Kalau aku terbukti bohong, kau boleh memotong lidahku. Kalau aku yang benar, kau—”

“E… e… Haish…!” Han Na menggetok kepala Dong Il dengan kepalan tangannya, ia takut Dong Il mengajukan syarat-syarat aneh.

Dong Il mengusap-usap kepalanya yang serasa bolong akibat hantaman Han Na.

“Kuberitahu ya… nilai-nilai pelajaran Jun Sang turun agar Ji Ryeon dapat peringkat satu. Razia waktu itu bohong dan preman yang mengangggu kalian, mereka adalah kenalannya, supaya kalian jera—tapi polisi itu asli lho! Aku saja kaget!”

Dong Il buru-buru menambahkan kalimat yang terakhir supaya Han Na tidak jadi marah. Setelah emosi Han Na mereda, Dong Il bercerita lagi.

“Dulu dia selalu baik pada Ji Ryeon, ke mana-mana pasti bersama, Ji Ryeon yang selalu diutamakannya daripada anak-anak lain, kami saja sampai kesal dan menganggap Jun Sang pilih kasih. Jun Sang seperti bodyguardnya, kalau Ji Ryeon diganggu murid lain, bahkan oleh kakak kelas sekalipun, dia tidak ragu-ragu melawan walaupun berakhir babak belur. Juga, Jun Sang akan melabrak anak laki-laki manapun yang mendekati Ji Ryeon… Kalau kau melihat betapa baiknya Jun Sang kepada Ji Ryeon, kau akan berpikir dua kali untuk menyebutnya berandalan. Huh… hanya karena satu wanita bisa berbuat sebodoh itu…”

“Cih… lalu siapa yang karena wanita mau merendahkan harga dirinya?”

Ya,” tegur Dong Il, “Jangan samakan dia denganku. Dan satu lagi, jangan pernah ungkit-ungkit soal ini di depannya, kalau dia tahu aku sudah cerita padamu, dia akan menyiksa kita dengan cara yang tidak sanggup kau bayangkan. Mungkin aku masih ada toleransi, tapi kalau kau, aku tidak jamin…”

Okeuraeyo…?” sahut Han Na bego. Kalau dilihat catatan kelam Jun Sang di black list Iblis Kim, tidak tertutup kemungkinan ucapan Dong Il ada benarnya, dan Jun Sang berasal dari keluarga konglomerat yang tentunya mudah menghilangkan siapa saja dari muka bumi.

Keurom!” balas Dong Il, “Ini adalah aib terbesarnya hingga tidak mau diingatnya lagi. Makanya jangan kau bocorkan pada siapa-siapa, termasuk Ji Ryeon sendiri, ara?”

Wae…? Kalau kutanya kan tidak masalah.”

“Sebaiknya jangan,” balas Dong Il, “Sebenarnya, aku tidak keberatan kalau kau tanya pada Ji Ryeon. Tapi kau tidak mau menambah masalah kan?”

Han Na menggeleng pelan, entah kenapa kali ini ia percaya Dong Il. “Tapi kalau begitu terus, aku merasa tidak sreg. Gimana ya… rasanya ingin ikut campur. Apa sebaiknya kita kerjai saja mereka?”

Ya, kau mau dibunuh Jun Sang?” balas Dong Il.

“Cih… aku mana bisa diam saja…” ujar Han Na.

“Biarkan mereka begitu, kita tidak usah ikut campur. Nanti kalau sudah waktunya, mereka akan sadar sendiri.”

Ya, Sung Dong Il…”

“Ng?”

“Kenapa… kau bisa bicara sebijak itu?”

“Ha?”

Han Na jadi bingung mau bilang apa, “Ani… biasanya kau selalu bicara omong kosong.”

Dong Il tersenyum, ditambah lagi terpaan sinar matahari yang pas mengenai wajahnya jadi membuat dirinya terlihat bersinar di mata Han Na. Lagipula sejak kapan ada burung merpati berterbangan dari belakang badan Dong Il…

“…Kau kenapa…?” tanya Dong Il karena melihat Han Na yang menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Bukan urusanmu!”

“Han Na…” panggil Dong Il, bergerak mendekatinya.

Han Na tentu heran dan langsung jijik saat Dong Il memonyongkan bibirnya ke arah Han Na.

“Mau apa kau?!” jeritnya dan menendang perut Dong Il dengan kakinya sampai Dong Il terjungkang jatuh dari kursi. Han Na pergi dan menutup pintu dengan keras.

bab 10!!! sebentar lagi bab 3 selesai dan masuk bab 4! mati gw, bab 5 blom seleseeeeee….

silahkan part 10 dibaca ya ^^

Today’s Song:
Fly to the Sky – Good Girl

Photo credit: kerrikuklinski@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 7, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 16 Comments.

  1. Semangat menulisnya kembali azuyu!!

  2. Yupina oh ha ni

    Wehehe..
    Akhirnyaaaa….
    Ne momen2 rada masi sedih ya,, heee

    Besok sabtu say??wkwkwkwkwk

    Bab 5 , nnti ane aj yg jd pemeran utama klo ga ad ide, whehehehe… Just kidding🙂

  3. WAAAWW!!!
    ihihi, jun sang nya ternyata perhatian BANGET!! ngiriiii jadinya.. ahahahah
    itu si Han Na klo jadian ama Dong Il lucu kali ya?
    author, ayo cepet keluarkan episode selanjutnyaaaa…

  4. wah dah mulai kebongkar tu persaan Jun Sang..hehehe, kapan nie adegan request gw hohohoo…ditunggu cerita selanjutnya…gomawo dah buat cerita yang bagus

  5. shining2min

    halo, saya reader baru disini *kagak ada yg nanya*
    udah baca ff ini dari part 1 tapi baru sempet comment di part ini #duaagh jongmal mianhae *bow*
    karen eonn ff-nya, cocok dijadiin novel atau drama korea
    makin penasaran sama junsang

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: