[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 11)

Thank you, the sound of your laugh
Thank you, the sound of your singing
Thank you, for making me laugh
Thank you, for protecting me
I feel as though whatever words i have are insufficient
You’re my love love love love love

Hari ini Ji Ryeon piket. Han Na dan Min Ah kebetulan punya jadwal yang berbeda, jadi mereka pulang lebih dulu. Sehabis membersihkan jendela, ia mengembalikan ember ke gudang sekalian membuang air kotornya.

Setelah semua beres, Ji Ryeon ingin tahu apakah Jun Sang ada di belakang gudang, tempatnya biasa nongkrong dengan siswa lain, juga tempat di mana Jun Sang pernah mengatakan kepada Dong Il kalau ia tidak mau melihat wajah Ji Ryeon lagi.

Memang benar, ia melihat Jun Sang sedang duduk merokok…

Ji Ryeon langsung menyembunyikan diri saat Jun Sang menoleh padanya.

“Kebiasaanmu buruk sekali, Wakil Ketua Kelas.”

Ji Ryeon malu karena Jun Sang tahu kalau barusan ia mengintip, dan Jun Sang juga pasti tahu Ji Ryeon mengintipnya sudah cukup lama.

“…K—kenapa malah santai?” tanya Ji Ryeon, “Hari ini kau juga tugas piket, harusnya kau membantu teman-teman yang lain. Kalau kau begini terus, nanti kau tidak bisa membersihkan rumah dengan baik—”

“Tidak ada waktu,” jawab Jun Sang singkat.

“Hanya malas-malasan kau bilang tidak ada waktu…?”

Jun Sang mengacuhkannya dan terus merokok. Ji Ryeon menghela nafas. Setidaknya ia punya alibi kalau dirinya datang bukan untuk mengintip tetapi untuk menegur Jun Sang, meskipun memang tadinya hanya berniat mengintip.

Kemudian Ji Ryeon mencuci tangan di wastafel dan mengelapnya dengan tisu. Baru berjalan beberapa langkah kembali ke gedung sekolah, samar-samar ia mendengar ada suara kucing mengeong terus, dan terdengar memelas. Ji Ryeon mencari-cari sumber suara, tetapi tidak ada satupun hewan di sekitarnya.

Ji Ryeon melongok ke atas pohon yang jaraknya beberapa meter di sebelah kanan dari tempatnya berpijak. Anak kucing berbulu belang putih-oranye meringkuk gemetaran di salah satu cabang pohon itu. Si anak kucing tersebut mencoba turun tetapi tidak menemukan titik yang tepat untuk meloncat.

“Kau di situ rupanya…” katanya nyengir.

Ji Ryeon ingin menolong si anak kucing. Ia pergi ke pohon itu dan memanjat sebisanya, untunglah batangnya berbonggol-bonggol sehingga lebih mudah dinaiki. Ji Ryeon selalu tak tahan melihat binatang yang imut-imut.

Jun Sang lewat di saat Ji Ryeon mengambil ancang-ancang. Melihat kejadian ini, ia sangat penasaran dan mendekati Ji Ryeon.

Ya, kau ngapain?”

Ji Ryeon menoleh sebentar hanya untuk melihat siapa yang bicara, “Memanjat.”

“Anak perempuan naik pohon bahaya, ya, kau bisa jatuh!” seru Jun Sang.

“Aku…—bisa kok!”

Jun Sang menghela nafas, menyerah pada niat Ji Ryeon yang akhirnya sampai juga di cabang tempat si anak kucing bertengger. Punggung tangan Ji Ryeon kena cakaran yang cukup panjang, tapi ia menahan sakit dan tetap mengambil anak kucing itu dalam pelukannya.

“Kenapa bisa ada di sini?” tanya Ji Ryeon, seperti bertanya pada anak sendiri, “Mana orangtuamu…?”

“Sudah selesai?” tanya Jun Sang, “Cepat turun. Jangan ngobrol dengan kucingnya. Dia tidak mengerti bahasa manusia.”

Dasar Jun Sang. Tanpa diberitahu Ji Ryeon sudah tahu kalau kucing tidak mengerti bahasa manusia. Ji Ryeon kan hanya ingin tanya-tanya saja sebagai bentuk simpati.

Ye…”

Ji Ryeon malah tidak bisa turun karena sebelah tangannya memegang si kucing yang ketakutan dan tidak mau lepas darinya, kucing itu juga menancapkan kukunya pada blazer Ji Ryeon. Ia tidak bisa turun hanya dengan keseimbangan satu tangan.

“Tunggu apa lagi?”

Ji Ryeon sedang kritis begini Jun Sang masih saja galak. Tetapi Ji Ryeon mencari akal supaya Jun Sang tidak usah mempedulikannya. Kalau Jun Sang tahu, ia akan jadi bahan ledekan lagi.

“Ng… aku istirahat di sini dulu,” jawab Ji Ryeon, alasan yang aneh, “Memanjat pohon ternyata capek juga ya, hehehe… Kau pulang saja duluan…”

“Kau tidak bisa turun kan?” tuntut Jun Sang kejam, matanya menyipit sinis, “Takut? Sudah kubilang tidak usah naik! Lempar saja dia ke bawah!”

“…Kau tidak punya hati…?” bela Ji Ryeon, “Kau pulang saja. Bisa kuatasi sendiri. Kalau dia sudah tenang, nanti aku akan turun…”

Ya… mau tunggu dia tenang sampai tengah malam?” balas Jun Sang, “…Berikan dia padaku. Biar aku yang tangkap…”

“…Tapi… tidak bisa lepas…”

“Cih… kubilang juga apa…”

Seketika itu Jun Sang memalingkan wajahnya yang pelan-pelan memerah. Ji Ryeon jadi tahu penyebabnya saat Jun Sang berkata, “Celana dalammu kelihatan—“

Ji Ryeon langsung merapatkan kakinya, tetapi ia tergelincir, si anak kucing dengan tenaga yang entah datang dari mana, malah melompat dari tangan Ji Ryeon.

Ji Ryeon jatuh telungkup, tubuhnya menimpa sesuatu.

“Wah, empuk agak keras…” katanya dalam hati. “Apaan ya?”

Ji Ryeon melihat di bawahnya ada badan seseorang dengan seragam sekolah, ternyata Jun Sang sudah menjadi matras gratis untuknya! Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter—rambut Ji Ryeon berjatuhan di wajah Jun Sang, tubuh mereka berdempetan seperti dua lapis roti burger (hanya saja di antara mereka tidak ada daging ham, tomat, atau mayones) dan nafas mereka, saling beradu pelan namun berat.

Ji Ryeon buru-buru bangun setelah begitu terpesonanya pada ketampanan Jun Sang dari jarak paling dekat selama 6 tahun terakhir ini. Salah satu sepatunya lepas dan ia hanya memasukkan kakinya serampangan saja.

“Ma—maaf! Sakit ya?” tanya Ji Ryeon, namun Jun Sang masih meringis sambil memandangnya kesal, “…Aku… berat ya…?”

“Masuk!” cerca Jun Sang.

Mian…”

Jun Sang melihat cakaran kucing di punggung tangan Ji Ryeon, sekarang membentuk goresan darah panjang.

“Kau ceroboh sekali!” seru Jun Sang memegang tangan Ji Ryeon.

“Dicakar sedikit saja…” balas Ji Ryeon.

“Kau bilang ini sedikit?” tanya Jun Sang menyipitkan mata, “Kalau harus dijahit seperti Frankeinstein, itu baru banyak? Hah?!”

“Ku—kucingnya ketakutan—”

“Ke UKS!” perintah Jun Sang tiada ampun.

Jun Sang berjalan mendahuluinya. Ji Ryeon yang kesal, berniat hanya pura-pura menendang Jun Sang dari kejauhan, tetapi sepatunya yang sempat lepas tadi terlempar jauh sehingga mengenai punggung Jun Sang.

Ji Ryeon tidak menyangka akan membuat Jun Sang mengamuk lagi, ia menutup mulutnya dengan tangan di saat Jun Sang mengambil sepatu miliknya, lalu datang menghampirinya. Ji Ryeon pikir ia akan dimaki-maki atau lebih parahnya dilempar balik, tetapi tidak. Jun Sang membungkuk dan memakaikan sepatu itu ke kaki Ji Ryeon, walaupun masih dengan ekspresi dingin. Tidak hanya itu, Jun Sang pun melihat lutut kanan Ji Ryeon sedikit lecet.

Di UKS, Jun Sang mengobati lukanya sementara Ji Ryeon duduk di atas dipan.

“Goresannya panjang begini,” kata Jun Sang, “Dijahit saja dengan benang baju apa tidak bisa?”

“Ka—kau… yang benar saja mau dijahit…”

Jun Sang tidak lagi mengomel. Sekarang ia membersihkan luka di lutut Ji Ryeon dengan alkohol, mengolesinya dengan obat merah, lalu menempelkan perban. Yang dirasakan Ji Ryeon dari tadi bukannya kesakitan tetapi seperti dielus-elus.

“Lain kali kau begini, aku tidak akan menolongmu,” tambah Jun Sang setelah beres mengobatinya, “Ngerti?!”

Ji Ryeon sedih dan agak cemberut, tentunya ia tidak suka Jun Sang selalu membentaknya. Padahal tadi ia tidak minta ditolong, tetapi Jun Sang menyuruhnya turun seperti memberi titah pada seorang pelayan.


“Maaf—”


…Lalu, mimpikah Ji Ryeon…?


Apa karena efek dielus tadi masih ada?


Pasti mimpi! Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa berada dalam pelukan Jun Sang, dalam satu detik setelah ia bilang maaf, dalam satu gerakan Jun Sang, secepat petir yang menyambar pohon kelapa, secepat singa menerkam rusa di rimba Afrika…

“Yoon… Jun Sang…” Ji Ryeon memanggilnya, tetapi yang disebut seperti tidak dengar.

Jun Sang memang sering bertindak di luar dugaan. Tapi kali ini, Jun Sang membuat Ji Ryeon hampir mati lemas!

Ji Ryeon tidak tahu-menahu bagaimana dan apa yang menyebabkan Jun Sang memeluknya. Apa otak Jun Sang sedang mengalami revolusi atau ada bakteri yang nyangkut di hatinya, entahlah… tetapi saat ini Ji Ryeon diliputi kebahagiaan yang membuatnya melayang di langit. Ia merasa seperti cupid kecil bersayap si pembawa busur asmara. Atau lebih tepatnya, ia korban si cupid, yang tidak hanya satu kali membidikkan panahnya pada Ji Ryeon, tetapi berkali-kali, lebih dalam dari sebelumnya. Ini sangat menyenangkan daripada elusan di lututnya…

“…Jun Sang…” panggil Ji Ryeon yang kedua kalinya, ia agak kepayahan karena wajah dan badannya terhimpit ke badan Jun Sang.


“Jun Sang…?”


Lengan Jun Sang merenggang, melepas Ji Ryeon dengan kaku, tahu apa yang telah diperbuatnya pasti membuat Ji Ryeon heran bukan main. Jun Sang kelimpungan, ia mengumpat kecil karena tidak bisa mengendalikan diri. Keduanya tidak bicara, Ji Ryeon hanya menggoyang-goyang kaki dan Jun Sang duduk di sebelah, juga sambil mengangkat satu kakinya ke dipan.

Ji Ryeon ingin bercermin, ia penasaran apakah wajahnya saat ini merekah ataukah dari kedua telinganya keluar uap. Ji Ryeon jadi malu dan gugup…

“Hari ini… “ kata Ji Ryeon. Bodoh. Padahal ia ingin tanya tidak sadarkah Jun Sang pada tindakannya tadi. “Hari ini, cuacanya cerah ya… hahaha…”

Jun Sang cuek. Entah karena memang kebiasaannya kalau Ji Ryeon bicara ia selalu diam atau entah karena ia juga malu…

Jun Sang mengerutkan dahi waktu ia melihat Ji Ryeon menatap sesuatu di bawah wajahnya.

Mwo?”

“Itu…” tunjuk Ji Ryeon, “Tidak sakit?”

Yang dimaksud Ji Ryeon adalah jakunnya. Ji Ryeon penasaran pada jakun laki-laki yang besar dan nampak nyangkut di tenggorokan. Teman cowoknya tidak begitu banyak, makanya ia belum pernah bertanya apapun tentang laki-laki.

Jun Sang jadi terheran-heran pada pertanyaan Ji Ryeon, “Tentu saja tidak.”

“O… ohh…” gumam Ji Ryeon, sambil memegang lehernya sendiri yang tidak ada jakunnya. “Chogi, boleh tidak? Sebentaaarr saja…?”

Jun Sang pasrah kalau Ji Ryeon segitu ingin tahunya. Ji Ryeon memberanikan diri perlahan-lahan menyentuh jakun Jun Sang. Saat Jun Sang menggerakkan jakunnya, Ji Ryeon kaget, tetapi kemudian tertawa. Ia persis anak kecil yang menemukan mainan baru.

Jun Sang lalu menyingkirkan jemari Ji Ryeon dari lehernya. Ia takut terpancing dan ujung-ujungnya melakukan hal aneh seperti pelukan tadi, sementara Ji Ryeon berpikir Jun Sang pasti tidak suka pada tindakannya.

“Kenapa prestasimu terus menurun?” tanya Ji Ryeon, “Kalau bisa bersaing secara sehat, bukannya lebih baik?”

Jun Sang diam. Ji Ryeon belum patah arang.

“Mmm… Yoon Jun Sang, kenapa kau tidak mau memanggil namaku…?” tanya Ji Ryeon, “Naneun… Chae Ji Ryeon. Chae, Ji, Ryeon. Kau tidak bisa ingat?”

Lagi-lagi Ji Ryeon dicuekin…

“…Kalau sudah lulus… apa kau masih memanggilku Wakil Ketua Kelas?”

Jun Sang menjawab, “Ya…”

Ji Ryeon menghela nafas, “Bukankah lebih menyenangkan memanggil orang dengan nama aslinya? Seperti aku memanggil Han Na, aku juga memanggilmu dengan nama. Aku tahu kau benci padaku—”

“Jangan sok tahu.”

“Aku hanya bicara fakta…!”

Jun Sang memandang Ji Ryeon, tetapi saat Ji Ryeon menoleh padanya, Jun Sang berpaling secepat mungkin.

“Coba panggil aku, Chae Ji Ryeon…” kata Ji Ryeon lagi.

“Kenapa harus memanggilmu?!”

“Tentu saja kalau kau memerlukanku, kau pasti akan memanggilku kan?”

Jun Sang tidak mau buka mulut. Bukan karena enggan memanggilnya, tetapi ia sudah keburu malu karena sejak bertemu lagi, ia tidak pernah memanggil namanya.

Ya…” panggil Ji Ryeon sambil memegang ujung siku seragam Jun Sang. Dengan suara manja, dulu cara ini selalu sukses meluluhkan hati Jun Sang yang sedang merajuk, “Jun Sang, coba panggil namaku.”

“Wakil Ketua Kelas.”

“Bukan Wakil Ketua Kelas!” balas Ji Ryeon, “Coba menyebutku dengan nama yang tercantum di buku absen.”

“Suruh saja Iblis Kim.”

“Ck… kau susah dibujuk…” Ji Ryeon menunduk, lesu tanpa semangat.



“…Chae Ji Ryeon…”



Ji Ryeon langsung menoleh.

“Kau… bilang apa?”

Jun Sang membisu sambil garuk-garuk kepala.

“Kau… panggil aku kan? Tadi aku dengar, kau bilang Chae Ji Ryeon!” seru Ji Ryeon. “Jun Sang… coba sekali lagi!”

“Chae…” kata Jun Sang grogi, ia melihat wajah Ji Ryeon yang berharap-harap seperti seorang ibu yang senang anaknya bisa bicara di usia satu tahun, “…Ji Ryeon…”

Ada burung-burung merpati dan malaikat terbang menaburkan konfeti berbentuk hati merah di atas kepalanya. Setelah bertahun-tahun Jun Sang menyebutkan dengan panggilan menyebalkan itu… akhirnya Jun Sang bisa mengucapkan namanya! Ji Ryeon nyengir lebar, kini ia tidak perlu mendengar Jun Sang mengucapkan ‘Wakil Ketua Kelas’ lagi.

“Lihat, kau bisa!” kata Ji Ryeon gembira. “Jun Sang, kau bisa!”

“Sudah puas kan?” tanya Jun Sang, “—Ya, kenapa malah menangis?!”

Ji Ryeon menggeleng lemah, tiba-tiba saja airmatanya keluar sendiri. Tidak tahu kenapa, padahal ia sedang tidak bersedih. Ji Ryeon bicara lamban-lamban sekali karena tangisannya yang pecah.

“Habisnya… semenjak aku kembali ke sini, kau… terus menjauh,” katanya sengau, “Aku sedih sekali…! Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapimu…!”

Ji Ryeon mulai sesenggukan, “Aku takut setiap kali kau memarahiku, aku tidak akan bisa mendekatimu. Aku ingin—berteman denganmu—tapi kau tidak memberi peluang. Aku mencoba bicara padamu, kau mengacuhkan aku. Aku tersenyum padamu, kau memelototiku… Baru sekarang kau memanggilku ‘Chae Ji Ryeon’…”

Ji Ryeon menangis lagi sambil mengucek-ngucek matanya, “Aku merasa sangat berharga… rasanya, aku benar-benar hidup… jinjja… gippeoyo…!”

Jun Sang sampai melongo begitu tahu rupanya Ji Ryeon luar biasa terluka saat ia mengacuhkannya.

“Ja—jangan nangis lagi,” balas Jun Sang, iba, “Kalau senang, harusnya tersenyum…”

Ji Ryeon ingin senyum, tetapi wajahnya sulit menampakkan ekspresi gembira. Ia masih mengeluarkan suara cegukan yang besar dan membuat badannya berguncang-guncang.

Tidak sabar mendengar tangisan gadis itu, Jun Sang menyenderkan Ji Ryeon ke bahunya.

“Kau… lebih cantik kalau tersenyum…”

Jun Sang benar-benar Jun Sang yang pernah bersamanya bertahun-tahun lalu, yang pasti memeluknya jika ia menangis. Ji Ryeon berpikir Jun Sang pasti sudah lupa karena mereka sudah dewasa, ternyata kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang.

“Lain kali, kau harus memanggilku dengan namaku,” ujar Ji Ryeon, “Panggil ‘Chae Ji Ryeon’, aku pasti akan menjawab!”

“Ya…”

“Lalu, lupakan apa yang pernah terjadi… Anggap saja kita baru berteman, anggap saja waktu kita saling bermusuhan itu tidak ada… ya?”

“Ya…”

“Aku boleh kan menyapamu…? Aku boleh bicara padamu? Apa nanti kau akan menjawab…? Kau tidak akan marah kan?”

“Kau rewel sekali…” kata Jun Sang sambil mengelus-elus kepalanya. “Kau boleh lakukan apapun yang kau suka.”

Ji Ryeon ingin menikmati belaian Jun Sang, rengkuhan Jun Sang yang menghangatkan tubuhnya… pelan-pelan, pandangannya mengabur. Ji Ryeon merasa akan tidur sangat pulas.

Jangankan pelukan, Ji Ryeon bahkan tidak pernah lagi menaruh harapan Jun Sang akan memujinya.

Namun kebahagiaan ini tidak berlangsung lama ketika ponsel Ji Ryeon berbunyi dari dalam saku.

“Oh, Seung Wan-ah…” kata Ji Ryeon pada si penelepon.

Jun Sang yang mendengar nama Seung Wan langsung memasang kuping. Jengkel berat karena ternyata mereka sudah bertukar nomor ponsel.

“Aku masih di sekolah…” setelah Ji Ryeon mendengar Seung Wan bicara, ia membalasnya lagi, “Di depan gerbang? Oh, ya. Aku akan ke sana.”

“Kau mau ke mana?” tanya Jun Sang, dilihatnya Ji Ryeon bangun dan keluar ruang UKS, ia mengikutinya.

“Seung Wan di depan sekolah kita,” balas Ji Ryeon.

“Apa urusannya denganmu?”

“Kurasa dia mencari Nam Hee,” balas Ji Ryeon bego.

Jun Sang mencibir. Mana mungkin Seung Wan mencari Nam Hee tapi yang ditelpon Ji Ryeon, kecuali kalau Nam Hee melarikan diri setelah mencuri banyak uang darinya.

“Kau sudah kuingatkan tapi masih saja keras kepala!”

“Wwae?” tanya Ji Ryeon.

“Dia playboy kelas kakap!” seru Jun Sang, “Jangan sering-sering berhubungan dengannya, huh? Kalau mau aman, jaga dirimu jauh-jauh darinya!”

“Kurasa dia tidak seperti yang kau pikirkan…” belanya. “Dia orangnya baik dan ramah kok.”

“Kau bodoh? Mana ada playboy yang kasar di depan perempuan!” kata Jun Sang.

Ji Ryeon nyengir, “Ara…”

Seung Wan menunggu Ji Ryeon di luar pagar SMA Han Jeong yang menjulang tinggi, ia duduk di sepeda motornya sambil melambaikan tangannya pada Ji Ryeon yang berjalan mendekat. Jun Sang mengawasi dari kejauhan sambil mendelik kejam. Baru kali ini ia berharap Nam Hee ada di sana supaya Seung Wan kabur begitu melihatnya.

Keduanya saling melempar senyum, Seung Wan malu-malu.

Chogi… Nam Hee sudah pulang dari tadi,” kata Ji Ryeon, masih saja polos, “Kalau mau bertemu dengannya, ke rumah atau ke rumah sakit saja.”

Ani,” balas Seung Wan, “Aku ke sini bukan untuk ketemu Nam Hee. Kakak kenapa belum pulang?”

“Aku… harus membersihkan kelas,” jawab Ji Ryeon.

“Pulang sendirian?” tanya Seung Wan.

“Aku biasa naik bus—”

“Kalau begitu pulang denganku saja—“

“Ah… tapi,” kata Ji Ryeon, “Hari ini aku dijemput supir…”

“Wakil Ketua Kelas!” teriak Jun Sang, seakan-akan Ji Ryeon berada di atas gunung sedangkan ia ada di kaki gunung, “Kembali kau!”

Mendengar suara Jun Sang sebesar itu membuat Ji Ryeon malu, ditambah lagi Jun Sang kembali ke kebiasaan lamanya, memanggil Ji Ryeon ‘Wakil Ketua Kelas’.

“Wakil Ketua Kelas!” ulang Jun Sang, ia berjalan dengan langkah super cepat mendekati mereka, “Kau belum selesai piket! Cepat bersihkan!”

“Apa?” tanya Ji Ryeon, “Semua sudah beres!”

“Mana yang kau bereskan?!” elak Jun Sang, “Masih kotor begitu. Cepat kembali! Kalau tidak kau akan kuadukan pada Iblis Kim!”

“Oh… hyung…” sapa Seung Wan, “Kau juga belum pulang? Piket juga ya?”

“Ada apa ke sini?” tanya Jun Sang galak.

“Aku hanya ingin ketemu Kak Ji Ryeon saja kok—“

“Sudah ketemu kan?” tantangnya, “Wakil Ketua Kelas, cepat kembali!”

“Tu—tunggu dulu…” kata Ji Ryeon, “Jun Sang, sabar…”

Kacha!”

Sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Ji Ryeon kenal mobil itu, dan dari dalam keluar Nam Hee yang masih memakai seragam sekolahnya.

Nam Hee melihat Ji Ryeon, lalu Jun Sang. Kemudian matanya tertuju pada Seung Wan.

Lalu, alasan kali ini ingin bertemu Jun Sang atau tidak sengaja lewat Han Jeong?

“Nam Hee-ya…!” kata Ji Ryeon, “Kau belum ke rumah sakit?”

“Ada yang ketinggalan,” balas Nam Hee, ia masih tidak melepaskan tatapannya pada Seung Wan, padahal yang bersangkutan malah biasa-biasa saja, “Eonni, ambilkan buku di laci mejaku.” perintahnya.

“Oh… tunggu sebentar ya, kebetulan aku mau ambil tas—“

Ji Ryeon masuk ke gedung sekolah bersamaan dengan Jun Sang yang juga tidak membawa tasnya.

Jun Sang kali ini menganggap Nam Hee sebagai pahlawan yang menyelamatkan posisinya dari Seung Wan.

“Ngapain ke sini?”

Ya… kenapa cemberut begitu? Ha? Kalau cemberut wajahmu kelihatan jelek, nanti timbul keriput di bagian ini—” Seung Wan menunjukkan dahinya sendiri, “…juga ini…” tambahnya menunjuk kelopak mata bawah.

“Masih peduli aku keriputan…”

Ji Ryeon yang tidak tahu apa-apa sedang pergi ke kelas Nam Hee dan merogoh-rogoh laci mejanya. Ketemu. Buku tulis pelajaran bahasa Jepang milik Nam Hee.

Oppa… apa kau masih ingat yang kukatakan tadi malam?”

“Soal apa ya…?”

“Kau tidak ingat?” tanya Nam Hee lesu.

“Mmm…? Oh ya, tadi aku melihat ada restoran yang baru dibuka di sekitar sekolahku,” Seung Wan, mengalihkan pembicaraan, “Kalau ada waktu, aku akan mengajakmu ke sana.”

Onje?”

“Kapan saja kau mau.”

“Kalau sekarang?”

“Mana bisa kita pergi sekarang.”

“Katanya bisa kapan saja…”

“Hari ini pengecualian,” kata Seung Wan. “Besok saja ya? Aku akan bawa Jun Sang hyung, kau bawa kakakmu.”

“…Kakak?” tanya Nam Hee.

“Yang sedang mengambilkan buku milikmu, kakakmu kan?” jawab Seung Wan. “Kalau bertiga, aku tidak punya pasangan. Kau ajak Kak Ji Ryeon.”

“—Kakak saja yang ajak dia,” balas Nam Hee enggan.

“Kalau aku yang tanya, rasanya terdengar aneh dan dia bisa menolak.”

“Kalau begitu, aku tidak jadi pergi.”

“Ng…” Seung Wan berpikir, “Baiklah—“

Oppa—!”

Nam Hee berteriak kesal, nafasnya naik turun saking emosinya. Keduanya berhenti bicara ketika sudah kedengaran suara langkah Ji Ryeon. Di belakangnya, Jun Sang mengendarai sepeda motor yang baru diambilnya dari parkiran, ia berhenti di samping Seung Wan.

Ji Ryeon menyerahkan buku tulis yang dipegangnya pada si pemilik.

“Nam Hee-ya, ini punyamu.”

Nam Hee mangambil bukunya dengan kasar dari Ji Ryeon. “Gomapta. Eonni, naik!”

“Aku pulang dulu ya!” ujarnya sambil melambaikan tangan pada Seung Wan, “Sampai jumpa!”

Lalu Ji Ryeon pun lenyap ke dalam mobil, seperti hilang ditelan nenek sihir Nam Hee.

Kini hanya tinggal Jun Sang dan Seung Wan. Jun Sang malas memandangnya karena merasa sehabatnya itu adalah ancaman berikutnya. Apa ia harus mendeklarasikan kalau Ji Ryeon adalah daerah jajahannya…?

Hyung…”

“Apa?”

“Ji Ryeon nuna… dia punya pacar tidak?”

“Ha?!” Jun Sang mendelik, naik darah tapi ditahannya. “Memang kenapa?”

“Punya tidak?”

“Aku tidak tahu,” kata Jun Sang bohong, “Sepertinya sudah punya. Kau mau mendekatinya?”

Seung Wan nyengir, “Tidak ada salahnya mencoba kan…”

“Kalau tidak salah dia sudah punya pacar,” jawab Jun Sang, “Orangnya ganteng, keren dan sangat cemburuan. Sekali saja mendekatinya, kau akan babak belur.”

“Pacarnya preman?”

“Mana kutahu!” jawab Jun Sang penuh amarah.

“Tapi kenapa kau tahu sampai sedetil itu?” balas Seung Wan, “Tadi kau bilang tidak tahu…”

“—Eh…”

“Jangan-jangan kau sudah pernah kena hajar pacarnya Kak Ji Ryeon?”

“Heh, memangnya tidak ada perempuan lain?” tanya Jun Sang, “Matamu sudah buta?”

“Mmmm… mungkin saja…” jawab Seung Wan tersenyum. Lalu ia memakai helmnya lagi, “Buta…” tambahnya, “Tidak apa kalau aku buta… aku pulang ya.”

Hati Jun Sang melengos, serasa dijadikan punchbag yang isinya tumpah ke tanah setelah dihantam satu tinju dari Seung Wan dan ia langsung terkapar. Bahaya. Pikiran singkat Jun Sang memerintahkannya untuk segera cari cara agar Ji Ryeon tidak dihinggapi serangga selain dirinya.

maaf ya ane terbitin part 11 lebih cepet. Ane fokus dulu ke bab 5 nih. terkejar ga yah >.<

Happy reading all!^^

Today’s Song:
Fly to the Sky – Good Girl

Photo credit: kerrikuklinski@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 8, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. Yupina oh ha ni

    Tes

  2. Yupina oh ha ni

    Omonaaaa…
    Keyen banget si jun sang cembokuuurrrr…
    Part ne so sweeetttt…

    Azuyu, klo ga ad ide, saiya aj yg jd pemeran utama, djamin kaga bakalan puyenk, wehehehehehehe

  3. wuaaaa.. part yang ini lebih seru! hehe. soalnya banyak jun sang – ji ryeonnya..
    aduh si ji ryeon, dia polos banget.. hahahahah..
    ayoo part 12 kapan keluarnya nih?

  4. seeruuu..jun sang cemburu..mau banget dicemburuin cow..junsang oh junsang..mana ada sih cew sepolos j ryeon masa junsang cemburu dia gak ngeh..dasar PABO..hahahaha

  5. Huahahahaha, love this part -> [“Kalau tidak salah dia sudah punya pacar,” jawab Jun Sang, “Orangnya ganteng, keren dan sangat cemburuan. Sekali saja mendekatinya, kau akan babak belur.”]

    [Kini hanya tinggal Jun Sang dan Seung Wan. Jun Sang malas memandangnya karena merasa sehabatnya itu adalah ancaman berikutnya. Apa ia harus mendeklarasikan kalau Ji Ryeon adalah daerah jajahannya…?] -> Hahahahaha, pake acara bilang Jiryeon daerah jajahan segala. Si Junsang nih orang Belanda apa orang Korea ya? Kekekeke ^^

  6. shining2min

    Uwaaaaaaaa *teriak-teriak gaje gara2 baca ini*
    hiyah.. ternyata junsang cemburu
    junsang kembali menjadi yang dulu
    eonni ff-nya daebak
    mau baca kelanjutannya *kabur ke-part 12*

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: