[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 12)

I believe in you…
I will send all my feelings for you through the the way I look at you
Do you know how my heart feels, how I want to keep the feelings I have for you hidden?
Even the fearful feelings for when you might leave me one day.
You…

Halmeoni!”

Nam Hee dan Ji Ryeon berhamburan ke tempat tidur Nenek. Nenek sudah siuman sewaktu keduanya sedang jalan menuju rumah sakit, bahkan sekarang sudah bisa duduk walaupun tetap di tempat tidur. Di kamar itu sedang ramai, tidak hanya ada Geum Ga, tetapi juga ada beberapa pelayan rumah mereka yang menjenguk sambil membawa makanan dan baju.

“Syukurlah Nenek sudah siuman!” seru Nam Hee, “Kami cemas sekali!”

Ia langsung memeluk Nenek dengan akrab.

“Kau tidak usah cemas,” kata Nenek sambil tertawa senang, “Sekarang kau lihat aku sehat sekali kan?”

Geum Ga mengejek dengan mengeluarkan suara aneh besar-besar.

“Sehat apanya? Lima menit lalu masih tidak bisa bangun.”

“Sekarang sudah bisa!” jawab Nenek keras kepala, “Karena dua cucuku yang manis sudah datang…”

“Nenek, kenapa bisa masuk rumah sakit?!” tanya Nam Hee dengan gaya manja. “Jantungku hampir copot mendengarnya!”

Gwaenchana, gwaenchana!

Nenek bergantian memeluk Ji Ryeon.

Halmeoni…”

“Nyonya dari tadi menunggu Nona Ji Ryeon dan Nona Nam Hee datang ke sini,” ujar Bibi Hyo Min.

Keduanya dipeluk Nenek. Ji Ryeon tersenyum pada Nam Hee di sebelahnya, tetapi Nam Hee membalasnya sinis. Ia tidak tahu kenapa Nam Hee bisa seperti itu.

“Ibu sebaiknya jangan banyak gerak, nanti bisa capek lagi,” kata Geum Ga. “Ingat kata dokter? Untung kami cepat menemukanmu.”

“Nenek apa yang sakit?” tanya Ji Ryeon. “Nenek pegal? Aku pijat ya?”

“Nenek sangat sehat!” seru Nenek yang mencoba terlihat segar bugar, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bibimu saja yang melebih-lebihkan keadaan.”

“Melebih-lebihkan apanya?” kata Geum Ga sebal, “Ibu pingsan begitu, siapa yang tidak ketakutan?!”

“Kau saja yang penakut, seperti aku akan mati saja,” elak Nenek. “Melihatmu menjerit begitu justru lebih menakutkan. Jangan ribut lagi. Dokter kan sudah setuju dan bilang malam ini aku boleh pulang, berarti sakitku tidak parah!”

“Benar sudah bisa pulang?” tanya Nam Hee.

Keurae,” balas Nenek.

“Ya…” jawab Geum Ga, “Ibu sudah untung bisa pulang malam ini, padahal dokter tidak mengizinkannya…”

“Dokter tidak beri izin?” tanya Ji Ryeon.

“Nenek memaksa dokter,” tambah Geum Ga.

“Nenek, kalau tidak oleh pulang dulu, kenapa harus buru-buru pulang?” sela Nam Hee.

“Apanya yang buru-buru pulang!” kata Nenek, “Memang sudah waktunya Nenek pulang! Tidak ada alasan untuk tinggal di sini lebih lama lagi.” ia berseru seperti sedang tidak sakit, “Dan kau, apa-apaan itu?” ia melirik pakaiannya yang dikeluarkan oleh Bibi Hyo Min dari koper, “Bawa pulang lagi!”

Geum Ga salah tingkah menanggapi Nenek, “Ibu! Jangan marah-marah! Ingat jantung!”

“Nenek, mau makan apel?” bujuk Nam Hee.

Nenek mengangguk, lalu Nam Hee mengambil pisau dan apel, dan mengupasnya di samping Nenek. Ji Ryeon duduk di sofa, memperhatikan Nenek dan Nam Hee yang akrab sekali. Meski Nenek sering memarahi Nam Hee karena tingkahnya yang manja dan merepotkan, Nenek sangat sayang pada Nam Hee. Ji Ryeon tahu betul ia tidak ada apa-apanya ketimbang Nam Hee yang sejak lahir sudah hidup bersama Nenek.

Saat baru bisa bicara di usia satu tahun, kata pertama yang keluar dari mulut Ji Ryeon adalah ‘ibu’, kata kedua juga ‘ibu’, sampai ia bisa mengucapkan kalimat yang lumayan panjang dengan terjemahan yang tidak jelas, ia tetap hanya tahu satu panggilan, ‘ibu’. Baru setelah itu ia bisa mengucapkan ‘bibi’ kepada Bibi Ga In.

Ji Ryeon tidak pernah digendong Nenek sewaktu kecil, juga tidak pernah disuapi makan oleh neneknya. Semua boneka dan barang-barang yang dimiliki adalah hasil kerja keras Eun Yeong, karena ia hanya mengenal satu orang wanita yang dikiranya langsung turun dari langit tanpa ada wanita lain yang melahirkan Eun Yeong.

“—Ji Ryeon, sudah beli bibit bunganya?” tanya Nenek tiba-tiba.

“Oh…” Ji Ryeon mengangguk.

“Kalau sudah pulang ke rumah, jangan lupa nanti kita tanam bersama, ya?”

Ye, halmeoni.”

Setidaknya, Nenek tidak melupakan Ji Ryeon.

 

******

 

Sampai di rumah, Nenek langsung istirahat di kamar. Geum Ga ikut ke sana untuk membereskan pakaian Nenek yang tidak jadi digunakan di rumah sakit. Selama Geum Ga beres-beres di lemari pakaian, Nenek duduk di sofa. Ia memandang kosong ke lantai, nafasnya menghelas seakan telah menghadapi suatu kejadian yang membuatnya kehilangan semangat hidup.

“Geum Ga… bagaimana kalau usiaku tinggal beberapa hari lagi?” tanya Nenek.

Geum Ga yang sedang memasukkan beberapa sweater Nenek, menoleh padanya, “Ibu, kenapa bisa bicara aneh? Ibu tidak boleh mengucapkan hal-hal seperti itu. Tidak ada yang bisa menentukan usia kita. Ibu memang sudah tua, tapi belum tentu usiamu pendek.”

“…Tidak tahu…” jawab Nenek, “Hanya perasaanku saja, tapi mungkin saja kan…”

“Ibu masih kuat untuk melihat anaknya Ji Ryeon. Ah, tidak,” ujar Geum Ga, “Ibu masih kuat bahkan untuk melihat anak bungsu Nam Hee lahir.”

“Kau bilang begitu, rasanya usiaku makin pendek saja…”

Eomeonim…”

“Sewaktu sakit…” sela Nenek, “Aku bermimpi melihat Eun Yeong… dia terlihat begitu cantik, wajahnya bersinar, dia memakai baju yang bagus sekali. Di sekelilingnya penuh bunga harum… Sedangkan di tempatku, hanya ada duri dan rumput mati… tanahnya retak dan langit mendung sangat gelap…”

Geum Ga meremas-remas baju katun milik Nenek yang belum disimpannya, mulai menaruh kegelisahan terhadap cerita Nenek yang nampak serius.

“Aku mengejarnya, tetapi dia melarikan diri,” lanjut Nenek, “Kupanggil namanya berkali-kali, dia tidak peduli dan lari makin jauh sampai tidak bisa kulihat lagi. Aku masuk ke wilayahnya, semua bunga mati, awan hitam makin besar dan muncul petir…”

Nenek menghela nafas kembali, ia tertegun lama. Ingatan tentang mimpinya terasa sangat menakutkan, terus menghuni kepalanya dan tidak mau keluar.

“Apa… aku sehina itu? Apa aku begitu dibenci olehnya…?”

Ia mulai tenggelam ke dalam kenangan buruknya. Hubungan dengan Eun Yeong yang awalnya harmonis—ibu dan anak yang akur dan terkenal seantero Seoul, biasa bersama-sama menghadiri pesta-pesta dan bergaul dengan kalangan socialite, berubah menjadi perseteruan dingin, tanpa ada perdamaian.

 

******

 

Efek dari kebahagiaan kemarin masih terasa sampai di sekolah. Han Na dan Min Ah sampai heran melihat Ji Ryeon yang jadi lebih sering tertawa dari biasanya. Dan lebih heran lagi waktu Ji Ryeon, dengan senyum terbaiknya, yang tidak pernah ditunjukkan kepada siswa Han Jeong (dan siswa dari sekolah manapun) selama ini, malah diperlihatkan di depan Jun Sang.

Saat mereka tanya, Ji Ryeon menjawab kalau mereka saja yang tidak pernah melihatnya begini, lalu ia pergi ke luar tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Ji Ryeon berjalan ringan (bahkan serasa menari ballet saat membuang kotak susu stroberinya yang sudah kosong ke tong sampah) di sepanjang koridor yang agak sepi karena sudah jam masuk, tetapi kelas 3 sudah dibebaskan dari jadwal pelajaran setelah suneung, maka mereka bebas berkeliaran di sekolah asal tidak bikin masalah.

“Ji Ryeon sunbae!”

Ji Ryeon batal menginjakkan kakinya ke tangga yang menuju atap sekolah dan menoleh ke belakang. Ternyata ada anak perempuan kelas satu berkacamata memanggilnya. Anak itu pernah ikut belajar bersama dengannya di perpustakaan.

“Oh… Tae Hee-ya…”

“Kakak, sebaiknya jangan ke atas…” katanya.

“Ng?”

“Anu… soalnya Jun Sang sunbae baru saja naik ke sana…”

Ji Ryeon nyengir. Tae Hee tidak tahu sih kalau mereka sudah baikan…

“Tidak apa-apa,” balas Ji Ryeon riang. “Sudah jam masuk kan? Masuklah… ayo masuk saja, Kakak sama sekali tidak apa-apa kok!”

“Oh… aku permisi,” jawab Tae Hee cemas. Ia membetulkan posisi kacamatanya dan kemudian berjalan sendirian ke kelas 1-3.

“Belajar yang baik ya!” seru Ji Ryeon seraya melambaikan tangan kepada anak kelas satu itu.

Ji Ryeon naik, mencari Jun Sang. Didapatinya Jun Sang berdiri di dekat tembok pembatas, melihat ke arah pepohonan tak berdaun di halaman sekolah, dengan asap rokok terus mengepul dari mulutnya.

“Jun Sang…”

Jun Sang berbalik, puntung rokok terapit di antara jari telunjuk dan jadi manisnya, “Kenapa senyam-senyum?”

“Hehehe…”

Ji Ryeon mendekatinya, dan berdiri di sebelah sambil menikmati pemandangan yang tidak bisa dideskripsikannya karena dalam otaknya hanya ada satu objek sangat indah, Yoon Jun Sang.

“Nenekku sudah sembuh,” ucapnya.

“Pantas saja kau sangat senang,” jawab Jun Sang, nyengir, “Baguslah… kapan siuman?”

“Kemarin sore. Waktu aku dan Nam Hee sedang di jalan menuju rumah sakit. Tadi malam sudah boleh pulang ke rumah. Ah… aku juga benar-benar berterima kasih.”

“Soal apa?”

“Kau sudah mengobati luka di tangan dan di lututku,” tambahnya, “Jeongmal gomawo!”

Jun Sang mengelus-elus kepala Ji Ryeon yang lantas saja kesenangan.

Ji Ryeon memperhatikan Jun Sang sedang merokok dan lagi-lagi ia terpesona. Saking kagumnya ia tidak sadar sudah menatap kosong kepada Jun Sang.

“Mau?” Jun Sang menawarkan rokok padanya.

Ji Ryeon menggeleng. “…Kenapa merokok terus?”

“Tidak ketahuan guru ya tidak masalah.”

“Apa itu enak?” balas Ji Ryeon, “Rasanya kan pahit? Kalau dikonsumsi terus efeknya tidak baik untuk paru-paru, nanti bisa rusak dan mengganggu pernafasan.”

“Gimana ya…” gumam Jun Sang, “Sudah terbiasa. Aku coba menguranginya, tapi tidak berhasil…”

Puntung pertama sudah habis. Jun Sang mematikannya dengan menekan ujung puntung ke tembok dan membuangnya ke lantai. Lalu ia mengambil satu batang seraya merogoh lighter peraknya dari kantong celana.

Sementara Jun Sang kembali merokok, Ji Ryeon memainkan lighter berukiran keong yang diletakkan Jun Sang di atas pagar tembok. Lighter sekeren itu baru pertama kali dilihatnya langsung, Ji Ryeon paling-paling cuma punya macis murah yang dipakai kalau mau menghidupkan lilin.

Jun Sang menghembuskan kepulan asap putih berbentuk lingkaran. Asap tersebut kemudian hilang di udara, tetapi bau rokok masih tertinggal di sekitar mereka.

“Kalau begitu, aku ingin coba,” kata Ji Ryeon, sambil ancang-ancang menyalakan api.

“Tidak boleh.”

Wae?”

“Kau tidak boleh merokok,” jawab Jun Sang, “Wakil Ketua Kelas kalau ketahuan bergaul dengan berandal nanti bisa merusak reputasi.”

Ji Ryeon sebal. Ia menunduk dan berbisik kecil, “Ck… Wakil Ketua Kelas lagi…”

“Kau kan memang Wakil Ketua Kelas, Wakil Ketua Kelas,” bantah Jun Sang.

“Tapi kemarin kau sudah setuju akan panggil namaku kan?” balasnya. “Kau lupa ya? Waktu kita di UKS, kau sendiri bilang begitu.”

“Kau pasti bermimpi.”

Perut Ji Ryeon seakan ditonjok Nam Hee dalam pertandingan gulat. Baru kemarin terjadi, sekarang Jun Sang malah mengatainya bermimpi, “…Jun Sang… aku tidak mimpi kok. Maksudku, meski aku merasa kau mengobatiku lembut sekali seperti dibelai-belai, tapi lukanya terasa sakit. Pasti bukan mimpi—”

Ji Ryeon mulai berpikir keras, apa ia memang mimpi? Tetapi semalam Ji Ryeon bermimpi keliling dunia naik karpet terbang bersama Jun Sang, dan melambaikan tangan pada orang-orang di bumi yang takjub pada karpet terbang miliknya.

“—Atau mungkin kau berkhayal?” sela Jun Sang, “Coba kau periksakan diri ke dokter. Mungkin sakitmu sudah parah, kalau dibiarkan bisa bahaya—”

“Yoon Jun Sang!” seru Ji Ryeon. Lalu ia menunduk, sepanjang hidup belum pernah ia sebenci ini pada julukannya, “…Kalau kau tidak mau mengakui… tidak apa-apa… tapi, aku masih waras. Mungkin yang perlu memeriksakan diri ke dokter itu kau,” tambahnya sangat pasrah, “Percuma saja bicara denganmu… permisi…”

Ji Ryeon berjalan menuju pintu gedung tanpa melihat Jun Sang. Ia merasa bodoh sudah mempercayai pembicaraan mereka kemarin. Tetapi sebelum masuk, Jun Sang memanggilnya.

“Wakil Ketua Kelas!”

Ji Ryeon tetap cuek.

Ya, Wakil Ketua Kelas!”

“…Apa…?!” tanyanya dengan tatapan marah.

“Berikan…”

Mwo?!”

“Berikan,” sambung Jun Sang, menunjuk suatu benda di tangan Ji Ryeon.

“Oh…” gumam Ji Ryeon, malu.

Ia kembali seraya merapikan poninya, takut kalau wajah merahnya kelihatan. Dengan langkah grogi, Ji Ryeon mendekati Jun Sang dan mengembalikan lighter ukiran keong itu. Jun Sang memasukkannya ke dalam saku celana, sambil tertawa meledek Ji Ryeon.

Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Ji Ryeon. Ji Ryeon mundur, tapi rupanya Jun Sang ingin membisikkan sesuatu kepada Ji Ryeon.

Gomawo, Chae Ji Ryeon…”

Radar super Ji Ryeon berdiri kencang sewaktu namanya benar-benar diucapkan. Tubuhnya kaku gara-gara efek kesetrum. Ini nyata. Jun Sang tadi membohonginya.

Mengetahui reaksi Ji Ryeon nampaknya dahsyat sekali sampai tidak bisa bergerak, Jun Sang mendahuluinya masuk ke dalam gedung. Jun Sang baru saja memanggilnya dengan suara yang sangat menggoda.

 

******

 

Ji Ryeon dan Han Na menemani Min Ah pergi ke sebuah agensi terkenal. Beberapa hari lalu, Min Ah memang sibuk sekali bercerita kalau ia de-degan menunggu hari audisi pemilihan pemeran wanita baru dalam sebuah drama tv.

Dengan bermodal tampang yang cukupan dan tekad kuat, Min Ah telah mempersiapkan mental kalau-kalau sepulang dari kantor agensi itu ia ditolak.

Setelah dua jam lebih mengikuti audisi tertutup, para peserta yang mayoritas gadis seumuran Ji Ryeon keluar dari ruangan audisi. Semuanya bermuram durja, tidak terkecuali Min Ah. Ji Ryeon sudah menduga persiapan mental Min Ah tidak sia-sia.

“Han Na…! Ji Ryeon…!”

Min Ah menghampiri Ji Ryeon dan Han Na dengan wajah nelangsa. Ia memeluk Ji Ryeon seraya merengek-rengek manja.

“Mereka tidak puas pada kami…” ucap Min Ah, “Tidak ada satupun yang terpilih… huhuhu…”

“Sudah… sudah…” kata Han Na, “Kau memang sedang sial.”

“Kan masih banyak kesempatan lain…” kata Ji Ryeon.

“Tapi aku sudah sebelas kali audisi tidak ada satupun yang berhasil,” jelasnya, “Kenapa nasibku sial begini. Memangnya apa sih kekuranganku? Aku kurang cantik? Kurang seksi?”

“Nah, kau sendiri sudah tahu kekuranganmu…”

“Mungkin… nasibmu bukan di bidang hiburan,” tambah Ji Ryeon.

“Tidak mungkin!” seru Min Ah membela diri, “Sejak kecil, aku suka berakting di depan cermin. Aku yakin itu bukan hobi semata…”

Ji Ryeon dan Han Na geli sekali mendengar cerita Min Ah mengenai masa depannya hanya karena suka berakting di depan cermin. Min Ah yang tahu Han Na mendengus, mendelikkan mata padanya. Han Na diam, merasa tak enak pada Min Ah yang berduka.

“Ji Ryeon-ahmianhae…”

“Ng?”

“Padahal kau susah payah membuatnya. Kupikir aku pasti beruntung,” Min Ah memegang baju yang dipakainya. Blouse berpayet yang dibuat Ji Ryeon selama berhari-hari dan pernah dipuji Seung Wan karena desain yang menarik. Ia menatap Ji Ryeon pilu, “Mianhae… kau pasti sangat lama menyelesaikannya.”

“Jangan dipikirkan. Itu kuselesaikan hanya dalam sehari” balas Ji Ryeon bohong, “Dan kau tahu, baju tidak membuatmu jadi beruntung.”

“Sampai kapan kalian akan di sini?” sela Han Na, “Ayo kita cari makan.”

Mereka bertiga turun ke lantai satu dari lantai tiga. Waktu hampir sampai di lobi, Min Ah bereaksi seperti melihat orang penting.

“—Ah, itu produsernya… dia sudah membuat banyak artis jadi terkenal.”

Min Ah menunjuk seorang lelaki paruh baya berpakaian biasa-biasa saja. Paman itu, kalau Min Ah tidak memberitahu Ji Ryeon ia adalah seorang produser, pasti sudah disangka pegawai di sana.

“Laki-laki itu adalah incaran semua anak perempuan di sini. Kalau berhasil menarik perhatiannya, kau akan diorbitkan, dan pasti akan terkenal!”

Si produser itu sedang bicara dengan laki-laki di sampingnya, nampaknya masalah pekerjaan. Ji Ryeon merasa familiar sekali dengan wajahnya.

Ya… bukankah itu Yang Seung Wan?” kata Han Na.

“Masa’ sih?” balas Min Ah, “Oh, kau benar!”

Seung Wan tidak sengaja memandang tiga orang anak perempuan yang terlihat cupu ini. Ia menyunggingkan senyum simpul dari jarak yang cukup jauh, dibalas heboh oleh Min Ah.

“Apa dia juga ikut audisi?” tanya Min Ah.

“Ayo, dia sedang sibuk,” balas Han Na, “Aku lapar sekali, di dekat sini ada restoran yang enak. Aku mau makan spaghetti, ayo jalan!”

Di saat sedang berjalan, ponsel Ji Ryeon berbunyi. Ia kelabakan mencari ponselnya yang terselip di dalam tas sampai-sampai tidak sadar Han Na dan Min Ah sudah cukup jauh darinya.

“Ji Ryeon!” panggil Min Ah.

“Oh…” balasnya singkat, masih menarik-narik cleaner ponselnya yang tersangkut di kain bagian dalam.

Ji Ryeon mendapatkan ponselnya. Pesan masuk dari Nam Hee :

Kakak, kalau belum pulang ambilkan boot pesananku di butik yang biasa.

Ji Ryeon menghela nafas. Hidupnya seperti asisten di bawah perintah Nam Hee.

“—Annyeong haseyo.”

Ji Ryeon menengadah. Seung Wan menyapanya.

“Oh… annyeong haseyo.”

“Kakak sedang apa?” tanya Seung Wan, “Melamar kerja di sini?”

Aniyo… Min Ah yang ingin ikut audisi pemeran wanita di drama mendatang, bukan aku.” jawabnya.

“Oh… Pak Produser memang sedang mencari aktris baru,” ujar Seung Wan, “Katanya, audisi kali ini gagal total.”

“Sesulit itu cari pemeran wanita?”

Seung Wan mengangguk. “Kabarnya, sudah dari setengah tahun lalu, tapi semua yang mendaftar sama sekali tidak berbakat—Maaf, bukan maksudku menjelek-jelekkan temanmu.”

“Tak apa.”

“Kau mau ke mana?”

“Teman-temanku menunggu,” balas Ji Ryeon, “Kami akan makan siang. Kau mau ikut?”

“Tentu…” jawab Seung Wan, dan mereka melanjutkan jalan ke depan.

“Kau sendiri, apa ikut audisi juga?” tanya Ji Ryeon.

“Aku?” ulang Seung Wan, “Aku rookie di sini. Calon aktor.”

Jinjja?” Ji Ryeon kagum, “Wah… aku harus cepat-cepat minta tanda tanganmu sebelum kau terkenal.”

“Hahaha…” tawa Seung Wan, “Sebenarnya aku masuk ke sini karena ditolong.”

Kedua alis Ji Ryeon naik sedikit.

“Kantor ini milik keluarga Jun Sang hyung,” jawab Seung Wan.

“Benarkah?”

“Ya,” jawab Seung Wan, “Keluarganya punya banyak bisnis besar. Agensi ini adalah salah satunya, dulu dipegang oleh pamannya Jun Sang hyung, tapi sekarang sudah dipimpin oleh direktur yang baru.”

Nah, Ji Ryeon saja baru tahu Jun Sang punya paman.

“Jadi, dengan koneksinya, aku bisa gampang masuk,” sambung Seung Wan.

“Kurasa bukan karena kau ditolong, tapi karena kau pasti memang punya bakat.”

“Terima kasih, nuna baik sekali,” kata Seung Wan tulus, “Hyung juga baik padaku. Kalian berdua orang baik.”

“Oh… ye…” gumam Ji Ryeon, malu-malu.

Bicara dengan Seung Wan ternyata semenarik ini. Bahasanya lembut dan sopan. Seung Wan memang tidak setampan Jun Sang, tapi wajahnya manis. Imut-imut untuk ukuran pria. Rasanya Ji Ryeon pernah melihatnya di suatu tempat, tapi lupa di mana. Bahkan ia merasa dekat sekali dengan Seung Wan, walau tidak ada degup jantung yang membuatnya lemas seperti saat ia bersama Jun Sang.

Karena keasyikan bercerita, mereka tidak sadar rupanya sudah berada di luar. Han Na dan Min Ah menghampiri. Han Na diam saja, sedangkan Min Ah sangat senang.

Annyeong haseyo!” sapa Min Ah, ia berlagak seperti kakak ipar mentang-mentang sedang menjalin hubungan dengan Hae Im.

Annyeong haseyo,” balas Seung Wan.

Han Na hanya melempar senyum hambar sambil bersilang tangan, begitu pula saat sampai di sebuah restoran Italia. Dengan sigapnya ia mencegah Ji Ryeon dan Seung Wan duduk berdekatan. Tetapi sayang, Min Ah malah memaksanya menyingkir dari sana, meninggalkan Ji Ryeon dan Seung Wan berduaan.

“Mereka sedang apa?” tanya Han Na.

“Makan,” jawab Min Ah.

“Apa yang mereka bicarakan?”

Min Ah mengangkat bahu.

Waeyo?” tanyanya, bingung terhadap gerak-gerik Han Na. “Harusnya kau senang Ji Ryeon ada yang suka.”

“Seung Wan suka Ji Ryeon?” tanya Han Na, “Benar suka padanya?”

Min Ah mengangguk, “Hae Im yang cerita. Kalau sudah begini, biarkan saja.”

“Kau tidak tahu sih, Ji Ryeon itu bodoh. Dia mau saja didekati Seung Wan tanpa tahu maksudnya.”

“Tapi Seung Wan kan tidak jahat,” jawab Min Ah, “Dia sangat ramah—dan juga calon aktor kan?! Kalau dia sukses, Ji Ryeon juga yang untung. Lagipula, Ji Ryeon sama sekali tidak keberatan tuh.”

“Cih…” ejek Han Na, “Memangnya Ji Ryeon itu kau.”

Han Na gelisah, apalagi dilihatnya Ji Ryeon dan Seung Wan menyantap spaghetti dengan gembira, seolah-olah mereka tidak keberatan Han Na dan Min Ah tidak ada di sana.

“Kurasa… Ji Ryeon lebih cocok dengan Jun Sang…”

Min Ah tersedak. Ia menepuk-nepuk dadanya sambil minum air.

Mwo?! Kau sudah gila?!” seru Min Ah, “Cocok dari mana?! Kau mau menjerumuskannya dalam bahaya?! Kang Han Na, kau cemburu pada Ji Ryeon? Kau tidak puas hanya punya Sung Dong Il—?!”

“Tidak usah bawa-bawa Sung Dong Il deh!” bela Han Na, “Aku, memangnya salah kalau kubilang dia lebih cocok dengan Jun Sang?! Bagaimana kalau seandainya Jun Sang itu naksir sama Ji Ryeon? Lebih baik dengan Jun Sang kan?”

“Tidak mungkin!” jawab Min Ah, “Kalau itu terjadi, aku yakin akan tumbuh lumut di kepala penjaga sekolah kita.”

Penjaga sekolah mereka kebetulan kepalanya botak plontos.

“…Bukannya cewek baik-baik dan cowok jahat kalau disatukan terdengar manis sekali?” tambah Han Na, “Seperti dua kutub magnet, berlawanan, tapi saling menarik satu sama lain—“

“Imajinasimu jangan dibawa ke kenyataan,” kata Min Ah. “Sudahlah. Biarkan saja Ji Ryeon dengan Seung Wan. Kau seperti ayah yang takut anaknya berkencan dengan laki-laki—“

“Dan kau ibu yang tidak bertanggung jawab!” kata Han Na.

Selesai makan siang bersama, Min Ah melanjutkan rencana ‘adik ipar’nya lagi. Ia membiarkan Ji Ryeon pulang bersama Seung Wan, sementara Han Na harus diseret pulang dengannya.

“Sampai di sini saja,” kata Ji Ryeon ketika mereka tiba halte.

“Kau tidak langsung pulang?”

“Aku ada urusan,” jawab Ji Ryeon.

“Kutemani saja?”

“Tidak usah,” cegahnya, ”Hanya mengambil sepatu pesanan Nam Hee, tidak lama kok.”

“Nam Hee?”

Ji Ryeon mengangguk.

“Apa dia selalu menyuruhmu?” tanya Seung Wan.

“Oh… sudah terbiasa sih. Jadi tidak masalah.”

“Baiklah,” ujar Seung Wan, “Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”

“Ya… sampai jumpa!” Ji Ryeon melambaikan tangannya.

Ketika bus yang dinaiki Seung Wan melaju di jalan raya, Ji Ryeon berjalan kaki ke butik langganan Nam Hee.

Nam Hee memperhatikan mereka di dalam mobil biru tua milik temannya, memendam kemarahan.

 

Halo halo…!!! bagian ini mungkin agak sedikit bego, yahh… sudahlah…

Bait di atas adalah penggalan lagunya TVXQ (lagu mereka yang paling gw suka) gara2 kasus mereka, mendadak gw pengen nostalgia, dan dari dulu menurut gw lagunya cocok kalo dijadiin ost ff ini (caelahhh Zuyy… lo ngayal ga mikir2)

Enjoy this post yaaa^^ jangan lupa kasi saran dan komen😀

Today’s Song:
TVXQ – 믿어요

Photo credit: sStranger@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 9, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. yupinacheonsahaniya

    wehehehehe..
    apanya yg begoo..????
    muji yah, ff ne ok banget, suka ma alurnya, abez ituu, ga bikin yang baca bosen ntuk ngulang2 dari part awal,…
    heee…..

    keep writin yawhh🙂
    lanjudkan !!!wkwkwkwkwk

    kapan say part 13???hhwehehehehe….

  2. bego apanya zuyu..gak kok ceritanya masih tetep menarik…cuma kangen ama junsang yang galak..hihihihi…

    • 😄
      soalnya aku merasa ini kayak selingan (ga ada bagian jr-js yg mnurut ane tuh seru2) tapi kalo selingan ini ga ada, ntar ceritanya malah bikin bingung😄

      yah… junsang ga bakal galak2 amat kok ntarnya😄

  3. [“Imajinasimu jangan dibawa ke kenyataan,” kata Min Ah. “Sudahlah. Biarkan saja Ji Ryeon dengan Seung Wan. Kau seperti ayah yang takut anaknya berkencan dengan laki-laki—“

    “Dan kau ibu yang tidak bertanggung jawab!” kata Han Na.]

    -> Love this part, paradoxically funny! Hehehe, emang dua2nya kayak ortu yang sibuk mikirin jodoh yang terbaik buat anak cewek semata wayangnya ya hehehe ^^

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: