[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 13)

The fragrance that blooms from your wrist
From one to a thousand, I remember every moment
Even if you are merely an existence next to me
The ends of my lips turn up
If I could just lock my heart
You can never leave

Ji Ryeon disambut ramah oleh pelayan, karena mereka sekeluarga sering keluar-masuk butik itu. Ji Ryeon memanjakan dirinya melihat-lihat pakaian yang dipajang selagi pegawai di sana mengambilkan pesanan Nam Hee. Suatu saat ia ingin membuat pakaian yang cantik-cantik, yang lebih bagus dari karyanya sekarang. Ji Ryeon bercita-cita menjadi seorang desainer.

Ada seorang pelayan yang membujuknya membeli satu pakaian musim semi, namun Ji Ryeon menolak dengan halus. Pakaiannya sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu buang-buang uang untuk membeli baju baru. Selain itu, kalau bisa membuat sendiri dengan desain yang menurutnya bisa lebih baik, kenapa harus membeli?

Ia keluar dari butik itu membawa dua buah paper bag besar. Kata Nam Hee minta diambilkan sepatu boot, tetapi belanjaan Nam Hee ternyata adalah tiga setel baju, dua tas, dan boot yang dimaksud.

Di depan rumah, ia memencet bel di tembok di samping pagar, menunggu pelayan membukakan pintu dari dalam. Tak lama pagarnya terbuka otomatis.

Ji Ryeon masuk ke ruang tamu, ada Bibi Geum Ga yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.

“Sudah pulang?” tanya Geum Ga tanpa melihat Ji Ryeon menunduk padanya.

“Ya.”

Geum Ga melirik tangan Ji Ryeon yang penuh, langsung saja ia marah.

“Kau belanja sebanyak ini?!” seru Geum Ga heran seraya menutup majalahnya, “Kenapa boros sekali?!”

“Ini bukan milikku,” kata Ji Ryeon, “Ini semua punya Nam Hee…”

Geum Ga jadi salah tingkah, “Lalu kenapa ada padamu?” suaranya merendah tiba-tiba.

“Dia minta padaku mengambilkan ini untuknya,” balas Ji Ryeon.

“Dasar anak itu…!” kata Geum Ga kesal. “—Kau sudah makan?”

Ye,”jawabnya, “Permisi.”

Ji Ryeon naik ke lantai dua. Diketuknya pintu kamar Nam Hee berkali-kali, tidak ada jawaban. Ia baru sadar, Nam Hee kan belum pulang sekolah. Ji Ryeon terpaksa masuk tanpa izin.

Ia meletakkan dua buah paper bag itu di dekat ranjang pink Nam Hee. Ji Ryeon melihat-lihat isi kamar Nam Hee lebih seksama.

Kamar Nam Hee tidak jauh berbeda dari kamarnya, hanya lebih banyak sentuhan warna pink dan ungu muda, dan meja riasnya juga lebih heboh.

Nam Hee menyukai segala hal yang berhubungan dengan babi. Bonekanya rata-rata babi, tentu dengan warna pink. Ji Ryeon sampai sakit mata melihat ke sekelilingnya, tinggal menunggu kapan Nam Hee mengecat badannya menjadi pink, setelah itu ia bisa menjelma menjadi flamingo.

Hanya jam weker Nam Hee yang berwarna coklat tua, yang terbuat dari kayu dan nampak berat. Logam kuningan membingkai bundaran jamnya. Tapi jam itu tidak bergerak. Di sebelahnya bingkai yang berisi foto Nam Hee digendong ayahnya sewaktu Nam Hee masih kecil, kira-kira berusia 4-5 tahun. Ayah Nam Hee terlihat baik dan akrab dengan Nam Hee. Ji Ryeon lagi-lagi merasa iri.

Nam Hee pulang ke rumah dan naik mencarinya, ia berlarian dari halaman ke dalam rumah tanpa mempedulikan Geum Ga yang mengejarnya. Nam Hee masuk ke kamar Ji Ryeon, tetapi tidak ada Ji Ryeon. Dan kebetulan sekali ketika Ji Ryeon sudah menutup pintu kamar Nam Hee, mereka berpapasan.

“Nam Hee-ya…” sapa Ji Ryeon, “Barang-barangmu sudah kuletakkan di kamar—“

PLAK!

Nam Hee menamparnya tanpa basa basi.

Ji Ryeon terjatuh, dampratan Nam Hee di pipinya begitu keras dan spontan.

“Nam Hee-ya…!” panggil ibunya, sementara Ji Ryeon terpaku di tempat, memegang pipinya yang kesakitan dan memandang Nam Hee tak percaya.

“Nam Hee! Apa yang kau lakukan di sini?!” seru Geum Ga, memelototi anaknya yang berpenampilan seperti cewek nakal, “Kenapa berpakaian seperti ini?! Mana seragammu?! Hah? Jawab Ibu!”

Nam Hee tidak peduli pada ibunya dan malah memaki-maki Ji Ryeon.

“KAU TIDAK BOLEH MENYENTUHNYA SEDIKIT-PUN!” seru Nam Hee membabi buta. Karena terlalu marahnya, ia sampai menghentak-hentakkan kepala seperti seorang rocker yang sedang mengadakan mega konser, “JANGAN MENDEKATINYA! JANGAN MENGGANGGUNYA! JANGAN CARI ALASAN APAPUN UNTUK MENEMUINYA! KAU MENGERTI TIDAK?!”

“Nam Hee kenapa kau memaki Ji Ryeon?! Kau bolos sekolah ya?!”

“…Maksudmu apa…?” tanya Ji Ryeon heran, shocked, antara percaya dan tidak percaya baru saja menerima tamparan keras dari tangan Nam Hee yang sekeras besi.

“Kau, teruslah bersikap tidak tahu apa-apa…!” tambah Nam Hee lagi, kali ini suaranya sedikit mengecil karena kehabisan tenaga.

Ji Ryeon jadi bingung harus bereaksi seperti apa. Ingin tertawa takut dikira gila, padahal matanya sudah berair menahan sakit yang menjalar hingga ke syaraf di gusinya. “…Aku… tidak tahu… sungguh tidak tahu…”

Nam Hee masuk ke kamar dengan bunyi debam kuat, diikuti celotehan Geum Ga yang ingin tahu masalah mereka.

Pelayan yang tadi mengekor Geum Ga dan menyaksikan kejadian ini datang berhamburan mengerubuti Ji Ryeon karena kasihan.

“…Agassi baik-baik saja?!”

Aigoo…!” balas Bibi Yu Jin, “Pipinya jadi merah dan bengkak begini!”

“Nona Ji Ryeon, bisa berdiri kan…?”

 

******

 

“—Eomma ngapain masuk ke sini?!” tanya Nam Hee di saat ia menatap Geum Ga yang berdiri di belakang.

Ya, kau sudah hilang akal?!” teriak Geum Ga, “Apa kau tidak punya otak?!”

Eomma! Aku sedang tidak mau bicara! Keluar dulu!”

“Kau mengusirku?! Hah?!” Geum Ga menarik Nam Hee sampai terduduk di tempat tidur. Ia sendiri berdiri sambil bertolak pinggang, “Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?! Dengan pakaian seperti ini apa kau mau menggoda lelaki?! Ke mana harga dirimu?! Aku menyekolahkanmu untuk belajar—bukan untuk main-main!”

EOMMA MASIH PEDULI SEKOLAHKU?!” ia balas meneriaki Geum Ga.

“—TENTU SAJA AKU PEDULI PENDIDIKANMU!”

“—Sejak kapan?!” tuntut Nam Hee, “Yang ada di matamu cuma harga diri kan?! Cuma martabat dan kedudukan tinggi di antara teman-temanmu! Ibu tidak pernah benar-benar tahu tentang aku!”

“Tidak tahu tentangmu?!” ulang Geum Ga, “Kau pikir siapa yang melahirkanmu?! Siapa yang merawatmu sampai sekarang—?!”

“Ibu tidak mengerti! IBU TIDAK MENGERTI!” jerit Nam Hee, parau, sesenggukan dengan penuh airmata di pipinya. “IBU TIDAK MENGERTI BAGAIMANA RASANYA…!”

“Nam Hee! Kenapa kau berbuat begitu pada Ji Ryeon?!” balas Geum Ga, “Jawab Ibu! Apa yang dia lakukan padamu sehingga kau menamparnya?! Nam Hee—!”

“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!” Nam Hee menjerit-jerit seperti orang tidak waras, ia menutup telinganya karena tidak mau mendengar sang ibu dan berteriak lagi sepuasnya, “AAAAAAAHHHHHHHH—!”

“Nam Hee!” cegah Geum Ga, “Wae? Hah? Kenapa kau bisa begini?! Ceritakan padaku!”

“Aku—tidak—mau!” balas Nam Hee, tersendat-sendat, “TINGGALKAN AKU SENDIRI!”

“Nam Hee—“

“CEPAT!”

Geum Ga capek, nafasnya tidak beraturan. Alih-alih membujuk Nam Hee, ia memarahinya.

“Kau beruntung karena Nenek sedang di kantor!” balas Geum Ga, “Kalau dia melihatmu begini dan tidak di sekolah, kau akan tahu akibatnya!”

Nam Hee membenamkan wajahnya dalam bantal.

“…Kau seperti ayahmu,” sambung Geum Ga, “Gampang sekali marah…!”

“Jangan ungkit-ungkit ayahku!” jerit Nam Hee, mendelik pada Geum Ga.

Geum Ga menarik nafas, menghembuskannya dengan pelan. Ia menahan kekesalannya dan pergi dari kamar Nam Hee.

Dua pelayan sedang mengobati Ji Ryeon di kamarnya. Mereka termasuk orang yang tidak menyukai tingkah Nam Hee, jadi maksud lain mereka adalah bergosip. Ji Ryeon duduk di tepi ranjang, pipinya yang membengkak sedang dikompres.

“Apa pipiku akan lama kempesnya?”

“Kalau sebengkak ini sih, mungkin besok pagi baru akan sembuh,” jawab Bibi Hyo Min yang sangat teliti menekan kompresan ke pipi Ji Ryeon.

“Sudah bengkak merah pula…” ujar Ji Ryeon pasrah, sepertinya gigi gerahamnya yang sebelah kiri ada yang goyang.

“Nona, jangan dipusingkan perbuatan Nona Nam Hee. Kami saja sudah cukup banyak menerima akibatnya. Sebelum Nona datang, Nona Nam Hee pernah merusak kamarnya sendiri. Katanya sih, karena persaingan antar kelompok perempuan dengan sekolah lain.”

“Pertengkaran antar geng?”

“Kira-kira begitu…”

“Benarkah?”

“Benar!” tanya Yu Jin, pelayan juga, tapi masih muda. Ia duduk di bangku belajar, menghadap Ji Ryeon dan Bibi Hyo Min, “Kami curiga dia ada kelainan jiwa. Nyonya Geum Ga selalu menyembunyikan itu dari Nyonya Besar.”

“Aduh—“

“Maaf, Nona!”

Agassi, memang Nona ada masalah apa dengan Nona Nam Hee?” tanya Hyo Min. “Yang dimaksud Nam Hee itu siapa?”

“Aku sendiri juga tidak tahu…” gumam Ji Ryeon, “…Jangan-jangan Seung Wan…?”

“Seung Wan? Siapa dia?”

“Adik kelas,” balas Ji Ryeon, “Dia dekat dengan Nam Hee—aah! Harusnya aku sadar!”

“Tapi Nona kakak kelasnya kan? Apa Nona suka padanya?”

“Tidak,” balas Ji Ryeon, “Dia kan adik kelasku, dan kita sesama teman harus baik kan?”

Mereka mengangguk.

“Juga… apa boleh kita mengacuhkan orang yang ramah pada kita? Semua orang pasti akan jawab tidak boleh kan?”

Keurae!

“Lagipula…” Ji Ryeon memeluk boneka lumba-lumba sambil berkata malu-malu, “Aku… kan hanya jatuh cinta pada satu orang saja…”

“Eeeiiii….!” sorak mereka, “Jangan-jangan Nona suka pada orang lain? Siapa namanya?”

Ji Ryeon terkekeh, “Hehehe… rahasia!”

“Apa dia ganteng? Keren?”

Ji Ryeon mengangguk bersemangat, lupa pada pipinya yang sakit, “Paling ganteng di dunia!”

Mereka bersorak lagi sampai heboh.

“Kalau melihatnya, aku merasa senang sekali!” ujar Ji Ryeon, “Lalu… kalau dia menatapku, hatiku berdebar sangat kencang. Seperti dipukul-pukul begitu! Kalau dia bicara padaku, aku jadi bingung harus menjawab apa sampai-sampai aku gemetaran dan kalimat yang kuucapkan tidak nyambung sama sekali!”

“Seluruh wajah Nona sudah merah nih…!”

Tiba-tiba saja mereka terdiam karena suara ketukan dari luar.

“Ji Ryeon…?”

Ji Ryeon dan pelayan di sana saling pandang sebentar.

“Ya, Bibi… masuk saja.”

Geum Ga membuka pintu dan melangkah masuk ke kamarnya. Ia menghela nafas.

“Bibi tidak mau ikut campur urusan kalian,” katanya, “Tapi tolong kau sedikit mengalah pada Nam Hee. Dia anak yang susah diatur. Kalau tidak dapat apa yang diinginkannya, dia bisa mengamuk seperti tadi.”

Imo, Nam Hee salah paham—“

“Jangan jelaskan padaku,” jawab Geum Ga dingin, “Jelaskan saja padanya. Juga… jangan katakan masalah ini pada Nenek,” kemudian ia melirik para pelayan, “Kalian  juga tutup mulut. Oh ya, Nenek tidak boleh melihat wajahmu dulu, ngerti?”

Ji Ryeon mengangguk patuh. Kemudian Geum Ga keluar dan pelayan kembali berisik.

“Tuh kan… pasti Nyonya Besar tidak boleh tahu. Nona Nam Hee harusnya minta maaf!”

Sejak Nenek pulang ke rumah, Ji Ryeon sengaja berdiam diri di kamar. Ia tidak ikut makan malam di ruang makan dengan alasan sakit perut. Pelayan juga terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau Ji Ryeon sedang istirahat dan tidak ingin diganggu.

Tadi sore Nenek sempat ke sana tapi Ji Ryeon pura-pura tertidur pulas.

Dan sebelum tidur, Nenek mengunjungi Ji Ryeon lagi. Ia duduk di tepi ranjang, dan memegang dahi Ji Ryeon  yang berselimut menutupi sebagian besar badannya.

Tidak panas.

Syukurlah. Ia selalu takut kalau Ji Ryeon sakit sedikit saja.

Halmeoni…”

“Ji Ryeon,” kata Nenek kaget, “Maaf, kau terbangun ya?”

Ji Ryeon menggeleng. Kamar gelap, maka Nenek tidak bisa melihatnya dengan jelas.

“Sudah tidak sakit perut lagi?”

“Ya,” balas Ji Ryeon. Ia bangun dan bersandar pada bahu neneknya, “Nenek, tidak capek bekerja terus?”

“Tidak,” jawab Nenek, “Nanti kan kau bisa kuliah, lalu bekerja di kantor bersamaku dan Geum Ga. Aku ingin menjadikanmu dan Nam Hee pimpinan perusahaan berikutnya. Rencanaku bagus sekali kan? Kau anak yang patuh dan pintar. Aku percaya kau pasti sukses.”

Ji Ryeon mengangguk pelan. “Kalau Nenek yakin aku punya kemampuan, pasti akan kulakukan.”

Nenek tersenyum, “Sudah malam. Nenek mau tidur.”

Ye…” Ji Ryeon melihat Nenek bangun dan berjalan menuju pintu.

“Selamat malam,” kata Nenek.

“Selamat malam.”

 

******

 

Ji Ryeon sedang mengetes gaun yang akan dipakainya untuk acara launching produk kosmetik perusahaan. Dipesan dari desainer kepercayaan Nenek, baru saja sampai pagi tadi. Gaun strapless berbahan chiffon warna pink champagne, sepanjang selutut dengan beberapa layer, dan korsase bunga yang dililit untaian mutiara di bagian dada kiri.

Ia berdiri di depan cermin. Lengkap dengan sepatu dan cluth bag bulu yang akan dipakainya nanti.

“Sempurna,” kata Ji Ryeon, tersenyum memandang pantulannya. Ukuran pipinya sudah kembali normal berkat obat Bibi Hyo Min, walau sakit di syaraf gusi masih terasa.

“Nona sangat cantik!” puji Yu Jin.

Gomawo…” balas Ji Ryeon. “Pestanya pasti meriah ya?”

“Sepertinya begitu. Beberapa tahun lalu juga ramai,” balas Yu Jin yang duduk di sofa, sambil memainkan bros-bros dalam kotak perhiasan Ji Ryeon. “Nanti juga akan dibagi-bagikan produk perdananya kepada semua undangan sebagai promosi. Aku sudah lihat, isi bingkisannya macam-macam! Nanti teman-teman Nyonya Geum Ga akan datang. Kalau berhasil, mereka akan menjadi batu loncatan yang bagus.”

“Oh…” gumam Ji Ryeon, sambil menarik resleting gaunnya, “Aku tidak begitu tahu.”

“Nona kan baru dua tahun di sini. Kawannya Nyonya Geum Ga kan rata-rata pebisnis, kalau tidak, pasti istri pejabat,” balas Yu Jin seraya membantu Ji Ryeon, mereka takut kalau gaunnya rusak sebelum hari H. “Katanya lagi, ada desainer dari Paris asal Korea akan datang. Namanya… siapa ya? Jang…? Jung? Jang Na…”

“Jang Ri Na…?!” tanya Ji Ryeon.

“Ah! Iya! Iya! Itu dia!”

“Masa’ sih?!”

“Apa dia terkenal?”

Keurom!” balas Ji Ryeon riang, “Dia desainer Korea yang paling terkenal! Tunggu sebentar—”

Ji Ryeon lari ke dekat meja belajarnya dan mengambil salah satu eksemplar majalah fesyen luar negeri dari rak, lalu membuka-buka halamannya dan menemukan satu gambar si desainer itu.

“Ini yang namanya Jang Ri Na,” tunjuk Ji Ryeon ke gambar Jang Ri Na, alias ibunya Jun Sang. Isi artikel itu mengenai wawancara Ri Na sebagai perancang asal Korea yang sukses melakukan debut di luar negeri.

“Wah… cantik!”

“Usianya sudah hampir 50 tahun, tapi terlihat awet muda kan?” tambah Ji Ryeon.

Ye…” balas Yu Jin.

“Kalau sudah kerja, aku ingin sukses seperti dia. Bisa buka butik sendiri dan punya fashion show sendiri. Hehehe…”

“Lho… agassi bukannya akan kerja di perusahaan…?”

Ji Ryeon langsung tertegun, menutup majalahnya dengan kecewa.

“…Ah… iya juga ya…” gumam Ji Ryeon. Ia masuk ke lemari pakaian, berganti baju di dalam sana. Air mukanya jadi tidak sesenang tadi. Bekerja di perusahaan keluarga sebenarnya bukan cita-cita Ji Ryeon yang paling utama. Tapi karena Nenek menaruh harapan besar padanya, dan karena Nam Hee kurang bisa diandalkan dalam mengelola keuangan, Nenek tahu diri kalau tanpa Ji Ryeon, masa depan perusahaan bisa kedodoran.

Beberapa menit kemudian Ji Ryeon keluar, dengan pakaian yang berbeda dan sepatu sewarna. Ia duduk di depan meja rias, menutupi bagian depan tubuhnya dengan beberapa helai tisu dan mulai membubuhkan bedak di wajahnya.

Yu Jin memperhatikan Ji Ryeon yang menepuk blush on pelan-pelan ke pipinya, eyeshadow tipis, lalu lipgloss ke bibir, dan memakai bando di kepala.

“Nona mau ke mana? Kenapa rapi sekali?”

“Pesta dengan teman-temanku.”

“Ah… Chukae, agassi!” kata Yu Jin, “Masuk SNU, Nona memang cerdas! Nyonya Besar bangga sekali. Beliau mengabari kami semua dan kami dapat gaji bonus untuk bulan ini. Baik sekali kan?”

Ji Ryeon nyengir lebar. Ia menutup diri dengan coat hijau zamrud dan meraih tas di ranjangnya, “Aku pergi ya!”

part ini Jun Sang nya ngga ada (duh gw merasa daya tarik ff ini ada pada Jun Sang)

ahh lewat ajah! Happy reading!

Today’s Songs:
Fly to the Sky – Song for You
Fly to the Sky – 가버려 너

Photo credit: sStranger@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 10, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. kyaaa..zuyu gw bayangin nie Ji Ryeon kok kaya gw ya..hahaha, habisnya ampe sekarang lom nemu yang cocox..lanjut yee…ditunggu tapi paanjaaangin lagii yee…hehehe

  2. YupinaCheonsaHaniya

    Emmm…
    Si zuy bikin penasaran orang ajjahh, heee…
    Panjangiiinnnn…
    *maunya gue, hee

    Wah kasian t si ji ryeon, mpe benkak, pake tenaga super tu si nam hee…wkwkwkwk

    Iyah…. Jun sang nongol nama doang,,wkwkwkwk

    Part 14 kapan nenk?mwehehehehe

  3. wow, ditampar ampe bengkak? apa rasanyaa? heheh…
    oke, lanjutin ke part selanjutnyaa

  4. Waduh itu si Nam Hee kok emosian banget ya? Serem, jadi ngebayangin secakep apa sih si Seung Wan sampe si Nam Hee segitunya? Tapi entah kenapa yang ada di bayanganku Seung Wan itu si Taeyang huahahahaha :))

  5. shining2min

    Nam hee namparnya pake tenaga kuli kali yak?! serem amat sampe pipi jiryeong bengkak gitu
    itu si namhee kenapa sih? ngamuk-ngamuk gaje, emosi saya sama namhee

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: