[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 14)


In a world where I can’t breathe, you’re like oxygen
In my dark heart, you’re like sweet oxygen
Like a habit, I think about you
In my liquor glass, my worries erase thanks to you
My love towards you grows deeper
You, who were a friend, are growing into my love

Ji Ryeon datang ke sebuah restoran bulgogi, duduk berseberangan dengan Jun Sang di meja paling sudut, di sisi restoran yang juga paling sudut. Di samping mereka ada Han Na, Dong Il, dan Min Ah. Seperti yang telah disepakati anak kelas 3 setelah berdiskusi, mereka menyewa seluruh restoran itu. Meja-meja panjang di restoran itu penuh dengan daging, selada, kimchi dan gelas-gelas bir. Piring-piring terisi daging panggang dan tidak ada kursi yang kosong. Semuanya mengobrol, bercerita rencana masa depan masing-masing. Han Na bicara dengan Dong Il sementara Ji Ryeon mendengarkan, dan Jun Sang dari tadi sibuk membalik daging panggangannya.

Min Ah dengan gelas bir di tangan, tiba-tiba saja berdiri di atas bangku. Kemudian ia menyerukan kelulusan mereka kepada teman-teman.

Chukae! Kita sudah jadi mahasiswa!”

“YEEEEE!” balas seluruh restoran.

Min Ah cengengesan, dan teriak lagi, “Kita tidak perlu pakai seragam lagi!”

“YEEEEE!”

“Kita bisa berdandan sepuasnya!”

“YEEEEE!”

Han Na menyuruh Min Ah turun karena ia sudah nampak mabuk. Min Ah turun sempoyongan, hampir jatuh ke atas kepala teman di sebelahnya.

“Tidak apa-apa!” serunya saat Han Na menyuruhnya duduk diam. Beberapa detik kemudian Min Ah sudah ngobrol dengan anak lain.

Jinjja… itu anak bikin repot saja…”

Tanpa begitu peduli pada keadaan Min Ah yang sudah ada pawangnya (Han Na), Ji Ryeon memasukkan daging panggang ke dalam selada, saat itu pula Jun Sang mengambil satu helai daging lagi untuk diberikan kepada Ji Ryeon.

“Makan yang banyak,” ujarnya.

Ji Ryeon mengangguk. Ia jadi tidak tega memakan daging panggangan Jun Sang, ingin disimpannya baik-baik sebagai kenang-kenangan.

Han Na dan Dong Il yang berada paling dekat dengan mereka bengong melihat sikap Jun Sang yang ajaib sekali jadi sangat baik pada Ji Ryeon. Bahkan Jun Sang tersenyum dengan amat manis. Jarang-jarang ia bisa seperti itu pada anak perempuan.

Wae?” tanya Jun Sang galak.

Mereka memalingkan wajah, seolah memberi isyarat dengan maksud berkata kalau dulu Jun Sang sangat menyeramkan, sekarang bisa seperti malaikat…

Ya… tidak perlu melihatku begitu…” katanya marah.

“Cih… “

“Apa?”

“Tidak,” balas Han Na, yang kemudian saling tatap dengan Dong Il. Dahi keduanya berkerut, sementara itu Min Ah yang teler sibuk berkeliaran ke meja lain dan tidak menyadari situasi di antara Ji Ryeon dan Jun Sang.

“Oei! Chingudeul!” teriak Min Ah separo sadar, di tengah-tengah restoran supaya semuanya bisa dengar, “Kita semua… hik! Diundang ke villanya Han Jun Ki untuk main ski—!“ sambungnya sambil menunjuk anak laki-laki teman sekelas mereka, berkacamata, berambut seperti helm dan berpenampilan agak culun dan ramah. Sontak terdengar sorakan girang dari mereka sambil tepuk tangan, “Jadi…! Jangan lupa… minggu depan kumpul di—“

Min Ah hampir terpeleset kalau saja tidak ada teman-teman yang menyangganya dari belakang.

“Hehehe… mianmian…” sambung Min Ah dengan wajahnya yang merah muda dan mata yang hampir tertutup, “Maksudnya kita kumpul di stasiun! Jangan lupa ya! Minggu depan lhooo!”

Ceramah singkat Min Ah lagi-lagi diakhiri dengan tepuk tangan. Min Ah lalu kembali ke tempatnya semula, yaitu di samping Han Na.

“Cih… si bodoh ini… cuma minum dua gelas saja jadi begitu…”

“Mmm?” tanya Min Ah bego.

“Heh… wajahmu jelek sekali, tahu,” ejek Han Na, mumpung Min Ah sedang mabuk. Tak lama, ia bergumam sendirian sambil bertopang dagu, memandang dari kejauhan dengan tatapan berharap, “Han Jun Ki… orang kaya memang beda…”

Dong Il meliriknya, “Han Na, kau mengincarnya ya?”

“Kurasa begitu…” balasnya cuek, tatapannya makin berharap. Maksudnya berharap kalau suatu saat ia akan menikahi pria banyak uang, “Cinta memang indah…”

“Itu bukan cinta tapi nafsu pada harta.”

“Kenapa kalau aku nafsu pada hartanya?”

“Kau kawin saja dengan kakek kaya,” balas Dong Il, “Nanti kau bunuh supaya hartanya bisa jadi milikmu.”

“Sung Dong Il kau banyak omong,” balas Han Na, “Ji Ryeon, besok ikut denganku, kita pergi beli baju untuk minggu depan.”

Ji Ryeon menoleh pada Han Na, dari daging panggangnya yang akan matang, “Aaigoo…” ucapnya, “Kurasa, aku tidak akan pergi…”

Jun Sang langsung pasang kuping.

Mwo? Kau akan liburan dengan keluargamu?” tanya Dong Il.

“Aku ingin pulang kampung, sekalian membersihkan makam ibuku.”

“Oh… sayang sekali…”

Mianhae…”

“—Kalau begitu berkurang satu orang lagi.”

Ji Ryeon, Dong Il, dan Han Na menoleh pada Jun Sang.

“Aku juga tidak bisa pergi.”

“Eh? Kau tidak ikut?” Dong Il mendelik, “Ya, Jun Sang, aku sudah pasang taruhan dengan mereka. Aigoo! Bagaimana ini?! Bagaimana kalau kita kalah?! Eottoke?!

“Tidak tahu…” jawab Jun Sang, sambil nyengir pada Ji Ryeon. “Kau pikir saja sendiri.”

“Hehehe… rasain deh,” sela Han Na tertawa.

Usai makan-makan, bermain dan menari sambil mempermalukan diri, mereka pulang. Kebanyakan di antara mereka berpasang-pasangan. Ji Ryeon juga pulang bersama Jun Sang, setelah lagi-lagi Han Na dan Dong Il menyindir mereka dengan wajah jengah.

Jun Sang mengajak Ji Ryeon duduk di bangku taman kota. Mereka bercakap-cakap setelah di restoran tidak mendapat waktu yang pas akibat kejahilan Dong Il yang mengganggu terus.

“Anu… di kampus nanti, kita akan satu jurusan,” kata Ji Ryeon, menunduk hormat. “Mohon kerja samanya.”

“Kau masuk jurusan bisnis?”

“Ya,” balas Ji Ryeon.

“Aku tidak tahu kau punya bakat bisnis atau ingin mengejarku?”

“Jelek-jelek begini, aku dulu pernah kerja sambilan,” Ji Ryeon membela diri, “Itu kan bisnis juga, walau aku bukan pemilik.”

“Kerja sambilan? Kau tidak merusak apapun kan?” ejeknya.

Jinjja!” seru Ji Ryeon, “Pokoknya, nanti aku pasti akan merepotkanmu lagi. Sekali lagi, aku mohon kerja samanya.”

“Ya,” balas Jun Sang, “Aku akan sangat maklum soal itu, Mantan Wakil Ketua Kelas.”

“Chae Ji Ryeon!” Ji Ryeon mengoreksi.

“Iyaaa… Chae Ji Ryeon,” kata Jun Sang.

Mereka tertawa sebentar. Setelah tawa mereda, keduanya tidak lagi bicara. Ketika saling tatap, mereka bingung harus berkata apa dan malah cengengesan tidak jelas. Ajaib memang, beberapa hari lalu mereka tidak pernah sedekat ini. Detak jantung Ji Ryeon juga tidak jelas telah berapa kali mencoba keluar dari dadanya.

“…Cuacanya dingin sekali…” gumam Jun Sang.

“Heeh…”

Jun Sang membelikan kopi panas untuk menghangatkan badan. Kemudian mereka berkeliling kota, berjalan di trotoar sambil melihat-lihat barang yang dipajang di pertokoan. Hanya itu saja sudah membuat Ji Ryeon senang. Ia bisa merasakan pandangan iri gadis-gadis lain yang tertuju padanya, dan menatap Jun Sang penuh kekaguman.

Gadis-gadis itu menganggap Ji Ryeon beruntung. Mungkin juga mereka mengira Ji Ryeon adalah pacarnya Jun Sang. Lagipula siapa yang akan menyangkal hal tersebut?

“Hari ini, terima kasih.”

Ji Ryeon diantar pulang setelah dua jam lebih mereka menghabiskan waktu bersama, dan sekarang ia berada di depan pagar rumahnya.

Ye,” jawab Jun Sang, dari dalam Lamborghini-nya, “Sampai jumpa lagi.”

“—Jun Sang!”

“Ng?”

Ji Ryeon berkata ragu-ragu sambil malu-malu, “Aku… siapa…?”

“Mantan Wakil Ketua Kelas kan?” balas Jun Sang, “Siapa lagi?”

“Yoon Jun Sang jawab yang serius,” katanya sebal.

Jun Sang cengengesan, “Kau adalah Chae Ji Ryeon.” Kemudian Jun Sang melanjutkan, dengan suara lantang ia berteriak keras-keras, “CHAE JI RYEON ADALAH WAKIL KETUA KELAS 3-1 YANG SEKARANG SUDAH JADI MANTAN WAKIL KETUA KELAS 3-1—!”

“Eh, sudah cukup!”

Jun Sang berkata, “Aku tidak akan lupa namamu, pabo…”

“Hanya ngetes saja kok…”

“Aku pulang, Chae Ji Ryeon,” tambah Jun Sang, bersiap-siap menginjak gas mobilnya, “Sampai jumpa, Chae Ji Ryeon.”

Ji Ryeon cemberut lagi, tetapi lantaran senang. Ia menunggu Jun Sang menghilang di ujung jalan, setelah itu baru memencet bel. Dalam beberapa detik pintu pagar terbuka.

Ji Ryeon masuk melewati ruang tamu sambil nyengir sendiri. Dilihatnya Nam Hee lewat, dari arah dapur. Nam Hee langsung memandang Ji Ryeon dengan bengis dari ujung matanya.

“Nam Hee-ya…!”

Nam Hee tidak mempedulikannya dan bergegas naik ke lantai dua.

“Nam Hee-ya… kau salah sangka…!” Ji Ryeon mengejarnya, “Kalau yang kau maksud itu Seung Wan, kau sudah salah sangka. Aku sama sekali tidak menyukainya. Dia juga tidak ada maksud apa-apa denganku—”

“Itu yang kau pikirkan,” balas Nam Hee, mempercepat langkahnya walaupun ia ingin berhenti dan memaki Ji Ryeon sekali lagi.

“…Maksudmu…?” tanya Ji Ryeon, “Nam Hee-ya…! Dengarkan… kita tidak boleh bertengkar… kalau Nenek tahu, dia bisa marah pada kita—”

Nam Hee betul-betul berhenti. Ia berbalik, dan meneriaki Ji Ryeon, “Eonni mau mengadu?! Silahkan saja!”

“Aku tidak bermaksud begitu…”

Ji Ryeon mengejarnya lagi hingga ke koridor lantai atas dan menuju kamar Nam Hee.

Ya… aku memang berteman dengannya tetapi tidak ada maksud lain kok. Nam Hee—!“

Nam Hee menutup daun pintu keras-keras di depan muka Ji Ryeon.

Ji Ryeon menghela nafas. Sampai kapan Nam Hee akan begini terus? Mengira kalau ia telah menggoda Seung Wan dan menamparnya tanpa bukti yang jelas.

Kalau Nam Hee berkata baik-baik pada Ji Ryeon untuk menyingkir dari Seung Wan, Ji Ryeon akan menyingkir tanpa disuruh. Di samping itu, buat apa merebut Seung Wan kalau ia sudah punya laki-laki lain untuk disukai. Ji Ryeon tidak memeluk Seung Wan, bergandengan tangan saja tidak, dan tidak akan pernah mengharapkan itu terjadi.

Geum Ga juga seolah-olah menyalahkannya. Walau tidak diungkapkan secara gamblang, Ji Ryeon yakin Geum Ga sudah mengambil kesimpulan yang nyaris sama dengan Nam Hee.

 

“Bibi tidak mau ikut campur urusan kalian. Tapi tolong kau sedikit mengalah pada Nam Hee. Dia anak yang susah diatur. Kalau tidak dapat apa yang diinginkannya, dia bisa mengamuk seperti tadi.”


Ucapan Geum Ga yang subjektif, belum lagi perintahnya untuk tidak menampakkan wajahnya yang habis didamprat Nam Hee pada Nenek, jelas Geum Ga tidak mau kalau Nam Hee dimarahi.

Meski Nenek sangat baik pada Ji Ryeon, perasaannya tidak pernah begitu nyaman akibat sikap Nam Hee.

 

******

 

Jun Sang mengendarai mobil di tengah kota, berniat pulang ke rumahnya. Jalanan di Seoul tumben tidak begitu ramai.

Beberapa menit lalu, tepatnya sejak Jun Sang melewati sebuah pom bensin, ia sadar sudah diuntit. Dua mobil sedan mewah mengikutinya dari belakang.

Jun Sang mempercepat laju mobilnya, hingga pengejar tidak kelihatan di kaca spion, tetapi si pengejar mampu bersaing dengannya, dan ia dikepung dari dua sisi. Yang paling dicemaskan Jun Sang adalah kalau mobilnya sampai tergores gara-gara serempetan kedua mobil sedan suruhan tersebut. Selebihnya, tidak ada. Kecuali satu hal yang dicurigainya menjadi kenyataan…

Beberapa kali ia kabur dari mereka, namun Jun Sang akhirnya gagal berkelit. Salah satu dari mobil itu mencegatnya dari depan, menyuruhnya menepi. Kemudian seorang laki-laki berpakaian hitam keluar, muncul lagi satu orang, dan keempat-empatnya malah keluar dari dua sedan hitam tersebut.

Jun Sang menurunkan kaca mobilnya setelah salah seorang dari para lelaki suit hitam mengetuk dengan sopan. Jun Sang memandang mereka semua yang menunduk padanya, mendengus sambil tertawa.

Kalau Jun Sang tidak menuruti mereka, sekarang ia pasti sudah diseret untuk menemui ayahnya. Bahkan Jun Sang dikawal ke sebuah gedung kantor besar di pusat Seoul, padahal tidak diawasipun Jun Sang tetap akan pergi dengan mereka. Sampai sekarang, ketika sudah memasuki gedung, menaiki lift (yang sengaja dikosongkan), dan berjalan di koridor di lantai 12, mereka tetap berada di sekeliling Jun Sang.

Dalam gedung itu, Jun Sang termasuk orang penting. Bukan karena pangkatnya setara manajer, tapi lantaran hubungan darah dengan si pemilik perusahaan. Pegawai-pegawai lama yang mengenalnya akan menunduk jika berpapasan, dan pegawai baru akan sadar diri melihat lelaki yang masih muda—agak mustahil kerja di kantor itu, dengan empat orang asisten pimpinan mereka mengelilinginya—tidak mungkin hanya seorang anak laki-laki biasa. Mereka tahu, presiden direktur memiliki seorang anak lelaki. Hanya satu orang.

Jun Sang melewati meja sekretaris, si sekretaris itu belum pernah dilihatnya. Pasti yang lama sudah diganti. Jun Sang berdiri di depan pintu besar, membiarkan asisten ayahnya mengetuk daun pintu itu, lalu membukanya untuk Jun Sang.

Ayah Jun Sang duduk di kursi kepemimpinannya, pada plakat namanya tertulis: Yoon Ji Seok. Ia adalah pria paruh baya paling kaya di Seoul, memegang sebagian besar aset keluarga Yoon dan punya peran besar dalam perekonomian Korea. Rival bisnisnya banyak, tetapi orang pintar sepertinya mampu membuat musuh jadi bawahan.

Sebenarnya keluarga Yoon memiliki banyak anggota, tetapi kuasa terbesar ada pada Ji Seok, karena kakek Jun Sang merupakan anak sulung buyutnya Jun Sang, dan Ji Seok juga adalah anak yang tertua. Famili jauh Jun Sang berpencar ke seluruh Korea, namun mereka lebih banyak tinggal di luar negeri dan mereka tidak berbeda dari Jun Sang, sangat kaya.

Yoon Ji Seok yang tadi sedang membaca laporan bawahannya, kini memandang Jun Sang yang masih berdiri  dari balik kacamatanya.

“Duduk.”

Jun Sang sengaja duduk dengan gaya santai di sofa kulit hitam di depan meja ayahnya.

Seorang karyawan masuk dan memberikan sebuah map pada Ji Seok, lalu undur diri setelah Ji Seok menyuruhnya keluar. Karyawan itu sempat melihat Jun Sang, dan buru-buru menunduk padanya waktu Jun Sang meliriknya dengan mata tajam, lalu si karyawan pergi dari sana.

Chukae,” kata ayahnya sambil membaca isi map itu, “Kau lulus.”

“Oh…” gumam Jun Sang. Ia tidak pernah berharap kata selamat dari ayahnya, yang tidak pernah muncul saat upacara kelulusannya sejak ia TK. Jun Sang berpikir kalau jangan-jangan ibunya serius. “Abeoji… kapan sampai ke sini?” tanya Jun Sang basa-basi.

“Seminggu yang lalu.”

“Seminggu yang lalu?” Jun Sang kaget juga. Ibunya baru sampai beberapa hari yang lalu, tapi ayahnya sudah ada di Seoul selama seminggu, dan ia tidak tahu hal tersebut.

“Nilaimu sempurna lagi?“ tanya Ji Seok, yang sampai sekarang tidak memandang Jun Sang, tetapi memperhatikan tulisan-tulisan di kertas di atas mejanya.

Ne…” balas Jun Sang.

“Itu mempermudah—“

“—Abeoji… kalau Ayah memanggil karena masalah kuliahku, aku tidak bisa mengikuti apa yang kalian inginkan,” sela Jun Sang kalap, “Aku akan kuliah di sini. Aku sudah lulus tes dan tidak mau membatalkannya!”

Ji Seok menghela nafas, meletakkan pulpennya, kemudian melipat kedua tangannya ke atas meja, dan kali ini, lebih serius, melihat anaknya dengan menyipitkan mata.

“Begitu?” tanyanya.

Keurae!

Ji Seok mulai mengacuhkannya lagi. Nampaknya ia menganggap Jun Sang tidak bisa mandiri walau sudah tiga tahun tidak tinggal di kediaman yang sebenarnya. Lagipula walau tinggal sendiri, Jun Sang masih memerlukan bantuan orang rumah untuk membereskan masalahnya di sekolah, dan juga di luar sekolah saat terlibat perkelahian antar geng.

“Apartemen untukmu sudah disiapkan.” kata Ji Seok, “Kami sudah cari yang paling dekat dengan kampusmu dan siap kau tempati.”

Abeoji!” seru Jun Sang, berdiri refleks. “Aku tidak pernah bilang mau!”

“Kalau kau tidak mengenal dunia luar, kau akan jalan di tempat,” tambah Ji Seok, “Kau hanya perlu mengisi formulir pendaftaran di sana dan semuanya selesai—”

“—Ayah saja yang kuliah.”

Jun Sang pergi, dengan tangan mengepal. Ia berjalan seperti berlari, tidak peduli pada pengawal di luar yang memberinya hormat. Persetan dengan hormat.

Ayahnya selalu begitu. Seenaknya. Tidak pernah mau repot-repot mengenali anaknya lebih dalam, dan tidak pernah ada saat ia butuh sosok seorang ayah.

“Di mana orangtuamu?”

Pertanyaan pertama yang ditanyakan wali kelasnya ketika sekolah membutuhkan kehadiran orangtua murid, tetapi yang datang adalah kepala pelayan. Padahal Jun Sang bukan yatim piatu, ia anak pasangan suami-istri chaebol yang sehat walafiat. Karena terlalu sehatnya, mereka jadi gemar berpergian sampai lupa mengurus anak sendiri.

Jika para guru mendengar penjelasan tentang keberadaan orangtuanya, mereka langsung berujar maklum. “Ayah ibumu pasti sibuk sekali.” Itu yang biasa Jun Sang dengar.

Andaikan orangtuanya ada di Korea pun, Jun Sang belum tentu bisa bertemu mereka walau masih satu rumah. Sebelum Jun Sang bangun, mereka sudah lebih dulu berangkat kerja, dan seringkali pulang ketika Jun Sang sudah tidur. Kediaman Yoon terlalu dingin untuknya.

 

******

 

Ji Ryeon sarapan seperti biasa dengan keluarganya. Nam Hee terus bersikap sinis dan tidak mau duduk dekat-dekat Ji Ryeon, seakan-akan Ji Ryeon baru berguling-guling di lumpur.

Waktu Nenek bicara, ia juga diam dan hanya menjawab sepatah dua patah kata saja. Ji Ryeon jadi tidak enak, bisa-bisa nanti Geum Ga mengira ia menganggap masalah dengan Nam Hee bukan sesuatu yang harus diusut tuntas.

Nenek antusias membahas tentang keluaran barunya, dan katanya hari ini akan datang wartawan sebuah majalah wanita yang meliput. Bukan di rumah, tetapi di kebun pabrik yang digunakan sebagai bahan-bahan kosmetik. Malamnya disusul pesta perilisan produk.

“Bukan hal yang berat,” jawab Nenek jika mereka menyarankan ia tidak usah wawancara.

Menjelang siang ini, Nenek pergi bersama Geum Ga ke pabrik. Ji Ryeon tidak ikut karena sudah lebih dulu diajak Han Na keluar. Sementara itu, Nam Hee tinggal di rumah.

“Nam Hee-ya…?” panggil Ji Ryeon dari luar kamar Nam Hee sambil mengetuk pintu. “Kau ada di dalam kan? Aku ingin bicara.”

Nam Hee memang ada, sedang tergeletak di tempat tidur sambil mengetik pesan di ponselnya.

“Nam Hee-ya?” panggil Ji Ryeon, tetapi Nam Hee tidak menggubris dan sibuk sendiri.

“Nam Hee-ya?”

Nam Hee tidak juga menjawab sehingga Ji Ryeon menyerah untuk hari ini dan kebetulan Han Na menelpon menyuruhnya pergi sekarang.

Oppa, hari ini ada waktu?

Nam Hee mengirim pesannya.

Tak lama pesan balasan masuk. Nam Hee membukanya dengan buru-buru.

 

Hari ini jadwalku penuh.

 

Nam Hee menghela, jawaban Seung Wan tidak seperti yang diinginkannya. Ia membalas :

 

Liburan nanti tidak ke mana-mana kan?

 

Satu lagi pesan balasan dari Seung Wan :

 

Aku sudah ada jadwal akan pergi ke Bali untuk pemotretan.

 

Nam Hee melempar ponselnya ke kasur, dan membuang boneka-bonekanya hingga terpental ke lantai. Sebelum Seung Wan mengikuti audisi dan lulus masuk ke agensinya beberapa bulan lalu, Nam Hee sudah merasakan kejanggalan pada Seung Wan yang sulit sekali ditemui tapi sering ditemukan di tempat yang tidak diduganya. Tidak lama lagi Seung Wan mungkin saja tidak membalas pesannya, atau tidak lagi mengangkat telponnya.

 

******

 

“Sebentar lagi dia akan datang,” kata Han Na.

“Jun Sang, kau bisa sabar kan?” tambah Dong Il.

Yoon Jun Sang yang duduk di depan mereka, marah karena tujuan utamanya sebetulnya gara-gara diajak Dong Il ke cafe untuk membicarakan sesuatu, tetapi Han Na juga ada di sana dan sampai sekarang Dong Il belum bicara maksud pembicaraan mereka. Terlebih lagi mereka bilang mengajak Ji Ryeon dan bicaranya setelah Ji Ryeon tiba. Han Na juga sejak tadi senyum-senyum sendiri, menatap Jun Sang dengan wajah tidak menduga seperti tante tukang gosip.

“Tolong deh, jangan iseng ikut campur masalah orang…” balas Jun Sang.

Jun Sang bukannya tidak senang, namun ia tidak mau orang lain bisa tahu dan curiga dengan perilakunya yang akhir-akhir ini seperti malaikat terhadap Ji Ryeon, dan Han Na saat ini adalah orang paling peka soal masalah mereka (setelah Dong Il membocorkan kenangan pahit Jun Sang dan daging di restoran bulgogi kemarin).

“Kami hanya membuka jalan untuk kalian,” jawab Han Na enteng, “Ji Ryeon itu, anak yang baik. Jangan menjahatinya atau dia akan kabur!”

Kalian pikir dia anak kecil…”

Ya, Jun Sang,” sahut Dong Il, “Kalau kau bisa baik padanya, kau bisa berbuat apa saja padanya. Kau bisa memeluknya, lalu tak lama kau juga bisa menciumnya!”

Keurae!” seru Han Na, “Nanti kau pasti akan berterima kasih pada kami!”

Jun Sang mendengus, menyipitkan mata pada Han Na, “Yang benar saja….”

“Kau tidak percaya?” tanya Han Na, “Taruhan nanti kau pasti tidak akan pulang kalau Ji Ryeon datang.”

Jun Sang mendelik ke arah Dong Il, “Ini pasti kerjaanmu! Aku buang-buang waktu saja ke sini…”

“—Ji Ryeon-ah…!” mereka melambaikan tangan kepada Ji Ryeon yang sedang berjalan di belakang punggung Jun Sang ke tempat mereka.

Jun Sang meledek mereka, “Tidak usah menipu. Aku pulang.”

Ia berdiri, berbalik ingin pergi, tapi ternyata mereka tidak membohonginya. Jun Sang bahkan hampir saja bertubrukan dengan Ji Ryeon.

Annyeong haseyo,” kata Ji Ryeon kaget.

“Ji Ryeon-ah, ayo duduk!” ajak Dong Il.

Ye.” balasnya seraya duduk di sebelah bangku Jun Sang.

Sementara itu Jun Sang masih berdiri, memegang punggung kursi besinya dengan erat, menyesali kenapa ia tidak menunda beberapa detik saja sebelum angkat kaki dari sana.

“Aku lama?” tanya Ji Ryeon.

“Kami juga baru sampai,” balas Han Na.

“Min Ah belum datang juga?” sambung Ji Ryeon. “Apa kita gabung dengan mereka?”

Aigoo! Min Ah tidak jadi datang!” balas Han Na, “Dia bilang mau ikut audisi lagi. Jadi, aku tidak jadi mengajaknya. Sebagai gantinya, aku ajak mereka saja.”

“O… oh…” gumam Ji Ryeon, “Ye…”

“Jun Sang, kenapa belum pulang?” sela Dong Il iseng.

Jun Sang masih memegang punggung kursi, menahan malu dan gengsi, tetapi kembali duduk.

“Apa kubilang?” tantang Han Na, Jun Sang mengangkat alis.

“Ng?” tanya Ji Ryeon.

Aniya…” sanggah Han Na. “Jadi kita akan ke mana?”

“Kita main seharian!” seru Dong Il.

Keputusan Dong Il yang tiba-tiba membawa mereka pergi berjalan kaki menuju halte. Selama di trotoar, Han Na berkali-kali mendorong Ji Ryeon untuk berjalan di sebelah Jun Sang, walau Ji Ryeon mundur ke tempat semula bersama Han Na dan Dong Il sambil menunduk (Han Na sendiri menyuruh Dong Il berjalan jauh-jauh darinya). Jun Sang senang-senang saja, bahkan bersikap santai ketika Ji Ryeon tidak sengaja menabrak punggungnya. Mungkin Jun Sang memang harus berterima kasih pada teman-temannya yang bodoh itu.

Tidak hanya sampai di situ, dalam bus pun mereka rebutan tempat duduk. Ji Ryeon bersikeras duduk dengan Han Na, tapi Dong Il memaksanya duduk dengan Jun Sang. Ji Ryeon yakin mereka merencanakan sesuatu sampai berbuat sejauh ini, padahal biasanya Han Na kesal sekali kalau Jun Sang dekat-dekat dirinya. Saking malunya, Ji Ryeon tidak berani menegakkan wajah.

Mereka turun di depan Lotte World, taman hiburan terbesar di Seoul. Ketika sampai di dalam gedungnya, Jun Sang dan Ji Ryeon terpisah dari Dong Il dan Han Na. Mereka celingukan mencari teman masing-masing dan menelpon mereka.

“Tidak aktif,” kata Jun Sang setelah berkali-kali menghubungi Dong Il.

“Han Na juga tidak diangkat,” jawab Ji Ryeon. “…Apa mereka sengaja…?”

“M—maksudnya?” tanya Jun Sang, semangat mendadak berkobar, raut wajahnya agak salah tingkah.

Aigoo—bukan maksudku seperti yang kau pikirkan!” seru Ji Ryeon, tambah malu karena takut Jun Sang mengiranya mencari kesempatan di saat seperti ini, “Kukira… Han Na mulai menerima Dong Il. Mungkin mereka sengaja memisahkan diri karena ingin berduaan. Sepertinya bagus juga kalau mereka berhenti bertengkar… mereka kan tiap hari adu mulut terus, kalau kita biarkan… barangkali saja…” Ji Ryeon menatap Jun Sang, lalu menunduk lagi karena takut, “Y—yah… maksudku itu sih…” tambahnya bingung. “Ka—kalau begitu… kita tunggu saja mereka…”

Karena sudah digoda Han Na yang kentara sekali menunjukkan kalau mereka harus bersama, Ji Ryeon tidak bisa lagi bersikap biasa-biasa saja. Ia akhirnya duduk lemas di bench yang ada di dekat gelanggang ice skating.

“Kau jangan ke mana-mana,” kata Jun Sang, “Tunggu di sini. Jangan sampai kau membuat malu karena nyasar.”

Ji Ryeon cemberut mendegar kalimat terakhir, “Ye!

Jun Sang tidak mengatakan pergi ke mana, ia berjalan dan masuk ke dalam kerumunan orang yang berlawanan arah dengannya, dan menghilang dalam sekejap mata. Ji Ryeon kembali melihat ke ice rink itu.

Banyak bocah SD bermain di sana, para remaja, dan orangtua yang mengajari anak-anak mereka. Ji Ryeon juga sering pergi ke tempat ini kalau libur, kadang dengan ibunya, tapi lebih sering bersama Jun Sang. Jun Sang mengejeknya bodoh karena jatuh terus sewaktu berdiri menggunakan skating shoes. Kalau bermain kejar-kejaran, Jun Sang selalu berhasil menangkapnya dan Ji Ryeon tidak pernah bisa mengejarnya. Ji Ryeon akan tergelincir, tetapi Jun Sang menolongnya dan melatihnya sampai Ji Ryeon benar-benar bisa.

Matanya memperhatikan sepasang anak kecil, seorang anak perempuan yang sedang diawasi oleh teman laki-lakinya—mungkin saja kakak laki-lakinya. Saat si anak perempuan itu hilang keseimbangan, si anak lelaki langsung menjulurkan kedua tangan untuk menahan agar yang perempuan tidak terjatuh. Di sisi lain arena, para remaja seusia Ji Ryeon yang fasih berselancar bermain bersama. Mereka tertawa, berkeliling sambil membicarakan sesuatu, dan tersenyum penuh makna saat melewati sekumpulan remaja lelaki tampan. Dan ada seorang ayah yang membantu anaknya berdiri di atas es meski si anak tidak mau melepaskan pegangannya dari pagar gelanggang.

Ji Ryeon menghela nafas. Melihat orang-orang yang ada di sana, rasanya ikut senang.

Tiba-tiba ada tangan yang menjulurkan es krim stroberi ke hadapannya. Ternyata Jun Sang.

Gomawo…” ucap Ji Ryeon. Stroberi adalah rasa kesukaannya.

Dua-duanya duduk berdampingan. Jun Sang dengan gayanya yang santai, bersandar ke punggung bench, salah satu kakinya ditopang ke kaki yang satunya, dan merebahkan salah satu tangan ke belakang Ji Ryeon sambil menikmati es krim coklat miliknya. Di antara mereka, hanya Ji Ryeon yang tahu kalau Jun Sang berhasil secara tidak sengaja membuat takjum anak-anak gadis yang lewat. Mereka jalan pelan-pelan sekali di depan Jun Sang, meski ada pasangan yang mendampingi. Anak-anak kecil pun tak luput dari pesonanya. Ji Ryeon memperhatikan anak-anak gadis yang lewat itu. Di otaknya muncul pertanyaan, apa Jun Sang tidak tahu ia sedang dilirik atau ia memang cuek?

Sebelum beranjak remaja, ia tidak peduli sudut pandang orang lain. Yang ia tahu, dan yang tertanam dalam pikirannya dari dulu hanyalah pandangan pribadi mengenai Jun Sang. Di matanya cuma Jun Sang, Jun Sang, dan Jun Sang. Jun Sang yang baik hati, si populer, si jenius, yang sempat membuat Ji Ryeon diintimidasi oleh sekelompok anak perempuan gara-gara mereka cemburu padanya.

Ya, es krimmu mencair,” tegur Jun Sang.

“Oh…” seru Ji Ryeon.

Usai membersihkan jemarinya dari lelehan es krim, Ji Ryeon melihat sudah ada seorang anak lagi yang masuk ke arena. Sosoknya menonjol di antara orang lain karena ia dengan lincahnya menari serta melompat di atas es, sampai-sampai yang ada di sana berhenti dan malah menyaksikannya beraksi. Mungkin anak itu atlit amatir figure skating.

“Wah… keren sekali…”

“Itu?” tanya Jun Sang, mengarah ke orang yang sama.

“Oh…” Ji Ryeon mengangguk, “…Dia sangat pintar… pasti latihannya sangat capek ya…”

Ji Ryeon sekali iseng mencoba gerakan yang bernama axel jump—gerakan berputar di udara, tapi gagal total. Kakinya terkilir dan tidak bisa sekolah hampir seminggu. Jun Sang tertawa setengah mati sampai keluar airmata kalau mengingatnya.

“…Sudah lama sekali tidak main itu…” kata Ji Ryeon cengengesan, “Dulu, kau yang mengajariku. Hehehe…”

Jun Sang tidak membalasnya.

“Joesonghamnida...“ Ji Ryeon langsung menunduk. Ia berpikir pasti Jun Sang benci kenangan mereka.

Jangan ungkit masa lalu. Kata batinnya. Jangan ungkit masa lalu.

Kacha.”

“…Ha?” Ji Ryeon menoleh.

“Ayo main,” jawab Jun Sang, ia cepat sekali menghabiskan es krimnya. “Sudah ke sini jangan hanya duduk.”

“Tapi bagaimana dengan Dong Il dan Han Na—“

“Sampai kita pulang mereka tidak akan bisa ditemukan,” balas Jun Sang. “Kita main itu.”

Ji Ryeon “Eh… tapi…” gumamnya, “Aku tidak pintar. Aku… sudah lama tidak main—”

“Aku yang akan mengajarimu,” tambah Jun Sang, “Habiskan es krimmu.”

“O… oh…” balas Ji Ryeon. Maka ia cepat-cepat menghabiskan es krimnya, dan mengikuti Jun Sang.

Setelah memakai skating shoes, Jun Sang meluncur ke arena, sementara Ji Ryeon masih tertatih-tatih seperti bayi yang baru bisa jalan. Ia tidak ingat lagi bagaimana harus berjalan dengan memakai sepatu yang ujungnya tipis dan terbuat dari baja tersebut

Berkali-kali ia nyaris jatuh kalau saja Jun Sang tidak menolongnya. Memalukan. Setidaknya di sana tidak ada seusianya yang masih dibantu berjalan. Bahkan ada anak kecil yang sengaja lewat dan cengengesan melihatnya kepayahan. Menurut Ji Ryeon, ballet masih jauh lebih mudah.

“Susah sekali…” ujar Ji Ryeon yang mencengkeram lengan Jun Sang kuat-kuat.

“Jangan grogi,” balas Jun Sang. Ia benar-benar seperti sedang melatih bayi.

Gampang saja Jun Sang bilang begitu, padahal ia tidak tahu yang membuat Ji Ryeon grogi dua kali lipat adalah karena Jun Sang sendiri.

“Miringkan kaki kananmu, dorong ke belakang.” tambahnya.

“Oh…” ujar Ji Ryeon. Ia berusaha mandiri dengan tidak bergantung pada Jun Sang, “Begini?”

“Coba dorong ke belakang.”

Ji Ryeon menuruti perintah Jun Sang. Sedikit-sedikit, yang penting tidak jatuh.

“Bisa!” seru Ji Ryeon.

“Jalan lebih jauh lagi.”

Ji Ryeon mengangguk.

“—Omo…!

Salah satu kakinya tergelincir, untung Jun Sang menopang tubuhnya agar tidak jatuh.

“Jangan lupa fokus pada kakimu,” saran Jun Sang. “Ya, begitu. Kau sudah lumayan bisa.”

Beberapa menit kemudian, Ji Ryeon akhirnya mampu mengimbangi Jun Sang mengelilingi arena, walau tetap saja kalau mereka balapan, ia akan kalah. Mereka bermain begitu senangnya sampai lupa soal Dong Il dan Han Na yang ternyata ada di lantai dua, mengawasi mereka.

“Kita ini teman yang perhatian ya…” kata Han Na lega, “Ah… aku senang sudah bisa membantu…”

“Han Na, mumpung kita di sini dan misi sudah selesai…” kata Dong Il di sampingnya, “Bagaimana kalau kita juga kencan…?”

“Mmm… boleh juga,” jawab Han Na senang, “Tapi kau yang traktir semua ya!”

part 14! akhirnya… bakal tamat riwayat gw hiks…

ayooo yang baca ff ini, komen ya, jangan jadi silent reader aja duung… *kaburrrrrrrrr*

Today’s Songs:
Fly to the Sky – My Angel
Fly to the Sky – 가버려 너

Photo credit: sStranger@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 11, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. YupinaCheonsaHaniya

    Omonaaaa…
    Keyeennnyaaaa jun saaangggg…
    Nanti pngen punya pacar kaya dia ahhhh,,,weheheheheheheee
    Tp dkiiitt neee….
    Pnasaraaannnn tauuu….
    Ummm part 15 kpn y???hweee

    Apanya yg kabur nenkkkk…
    Klo kabur ga ad part 15 dun, hee
    Trus magsudnya tamat, apaan y?ga ehem ne,,mian hee

  2. wow..pingin banget gejek si Nam Hee..songong banget sih..arghhh…
    senang ya bisa kencan sambil main ice skating jadi ingat TOH..ampe dinyanyiin ama Lee Waan..Jun Sang so sweet..mau dong diajarin dia pasti gw bakall sengaja jatuh biar dipegang terus..hehehe
    Zuyu jangan patah semangat..fighting..

  3. whooooowww!!!!
    mauuu diajarin ama jun sang!!!!! hehehe *ngiri mode:on*
    aduh aduh, disini full jun sang! hohoooo..
    azuyuuu, aku nungguin cerita dong il sama han na juga nih, kapan mereka jadian?? hehehehe

  4. baru sampe sini bacanya… part2 selanjutnya gw baca lagi ntar malem…
    dipart2 awal ceritanya banyak maju-mundur dan seperti kepingan2 puzzle yg nunggu di susun… tapi makin kesini, makin jelas arah dan tujuan mau dibawa kemana ceritanya… ^^
    itu Ji Ryeong-nya hadeeeehhh… esmosi gw liat dia terlalu baik gitu… ayo buat dia sedikit jahat, biar manusiawi! mhehehehe…
    aaahhh… aku harus berangkat kalo tidak, ketinggalan kereta…

  5. [Oppa, hari ini ada waktu?

    Nam Hee mengirim pesannya.

    Tak lama pesan balasan masuk. Nam Hee membukanya dengan buru-buru.

    Hari ini jadwalku penuh.

    Nam Hee menghela, jawaban Seung Wan tidak seperti yang diinginkannya. Ia membalas :

    Liburan nanti tidak ke mana-mana kan?

    Satu lagi pesan balasan dari Seung Wan :

    Aku sudah ada jadwal akan pergi ke Bali untuk pemotretan.]

    *note: Walaupun aku nggak suka dengan karakter Nam Hee, tapi lewat dialog sms dia sama Seung Wan ini aku agak simpati sama dia. Emang sedih sih rasanya kalo dikalahin sama saudara sendiri, apalagi kalo cowok yang ditaksir malah naksir sama saudara kita itu, huaaaaaaaaaaaa T_T

    Selebihnya adegan Jun Sang-Ji Ryeon menyenangkan untuk dibaca hehehe. Tapi gimana nanti kelanjutannya? Apa Jun Sang bakalan ikut kata ortunya buat kuliah di luar negeri??? *mendadak bad feeling*

  6. huaaaa…. kereeeeeennn….

    aku bayangin jun sang seperti lee mon ryong
    cakep tapi tengil2 gmn gtu..

    trus ji ryeon seperti pemeran cewek di stairway to heaven *lupa namanya
    hahaaa..

    *abaikan

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: