[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 15)

Beneath the sky, in this world, someone has given me an angel
If there is a heaven this must be it
Within me, within my arms, you’re bright enough to dazzle my eyes
Listen girl you’re so precious to me again today

Setelah capek bermain, Ji Ryeon dan Jun Sang pulang dari taman hiburan. Mereka jalan-jalan di taman kota terdekat. Ji Ryeon juga kenyang sekali, sejak tadi Jun Sang mentraktirnya banyak makanan, termasuk soft drink yang sedang dipegangnya. Kemudian mereka duduk di bench yang kosong, taman itu agak ramai terutama oleh sepasang muda-mudi yang juga baru saja pulang dari taman hiburan.

“…Ya, kau senang…?” tanya Jun Sang.

Ji Ryeon berhenti menyeruput soft drinknya dan mengangguk. “Sangat senang. Gomawo.”

“…Baguslah…” balas Jun Sang. Ia sendiri tidak bisa menutupi kepuasan dalam hatinya, “Awalnya kau terlihat enggan jalan denganku…”

Aniya!” Ji Ryeon menggeleng, “Bukan itu maksudku! Aku benar-benar suka hari ini!” jawabnya kelimpungan, “Capeknya tidak terasa karena terlalu seru bermain. Kau mengajariku berseluncur, juga mentraktirku macam-macam. Minuman ini juga rasanya enak sekali—!”

Bodohnya Ji Ryeon, padahal itu hanyalah soft drink biasa.

“—Aku benar-benar berterima kasih. Jeongmal gomawo!

Ji Ryeon berhenti bicara begitu melihat raut Jun Sang yang memandangnya diam seperti patung. Ia menunduk lagi.

“…Aku hanya tidak mau kau salah paham lagi padaku,” bisiknya. “…Salah paham itu… sangat menyakitkan…”

Salah paham lagi…?

Apa dirinya pernah salah paham? Salah paham apa? Jun Sang mulai berputar-putar dalam pemikirannya. Benarkah Ji Ryeon mengiranya salah paham? Atau ia yang tidak tahu perbuatannya selama ini karena kesalah pahaman?

“Wah… ada yang jualan balon…” ujar Ji Ryeon.

“Kau mau?” tanya Jun Sang, padahal isi otaknya masih melayang-layang memikirkan perkataan Ji Ryeon yang sebelumnya.

Ji Ryeon menggeleng. “Aku bukan anak kecil.”

Ji Ryeon mengambil ponsel dari dalam tasnya, mencoba menelpon seseorang.

“Masih tidak aktif,” kata Ji Ryeon, “Han Na ke mana sih?”

“Tidak usah dihubungi,” saran Jun Sang, “Cuma buang-buang waktu.”

“Benar juga—” gumam Ji Ryeon.

Tak lama ponsel Ji Ryeon bunyi, bukan dari Han Na tapi dari Nenek.

“Oh… Nenek,” jawab Ji Ryeon, “Ya. Aku segera pulang. Ye…”

Ji Ryeon mengembalikan ponselnya ke dalam tas, “Aku lupa aku harus cepat pulang.” katanya sambil berdiri.

“Kuantar.”

“Tidak usah!” balas Ji Ryeon, “Tidak usah repot-repot. Hari ini kau banyak membantuku, aku jadi tidak enak… oh ya, aku… gomawoyo! Aku hari ini senang sekali. Sampai ketemu lagi!”

Ji Ryeon berjalan ke depan, ke arah halte bus, langkahnya ringan dan sedikit melompat-lompat girang.

“Chae Ji Ryeon!”

Ji Ryeon menoleh, ternyata Jun Sang telah mengejarnya.

“Apa yang pernah aku salah pahami darimu?” tanyanya. “Katakan. Apa aku salah padamu? Apa kau sakit hati gara-gara aku?”

Ji Ryeon terbelalak.

Apa yang harus ia katakan?

Marahkah Jun Sang kalau ia bilang yang sejujurnya? Bagaimana kalau setelah itu mereka kembali saling mendiamkan? Atau ia harus menyimpan hal ini seumur hidup, bukankah masa lalu sebaiknya tidak usah diungkit kembali?

Ji Ryeon tidak mau Jun Sang mengacuhkannya lagi.



“…Oh..” bisiknya, “…Itu…”



“Chae Ji Ryeon…”



Tapi Ji Ryeon tidak menjawabnya. Ia menatap Jun Sang, lalu meninggalkannya dengan senyum. Jun Sang melihat itu sebagai senyum yang pilu, seolah berkata padanya kalau ia memang salah paham.

Ji Ryeon naik ke dalam bus, dan duduk di dekat jendela, lalu membuka kacanya dan berteriak.

“Sampai jumpa!” serunya pada Jun Sang, melambaikan tangannya. Raut wajahnya berubah kembali ceria.

Jun Sang berdiri terdiam di halte. Seiring bus yang ditumpangi Ji Ryeon melaju dan menghilang dalam padatnya lalu lintas, ia masih ada di sana.

Jadi, selama ini ia telah salah paham?


******


Menjelang malam, keluarga Chae pergi ke Hotel Ritz-Carlton, Seoul, tempat acara perilisan kosmetik diselenggarakan. Di halaman hotel tampak puluhan mobil berhenti di depan pintu hotel, mobil diparkirkan petugas, dan tamu masuk ke dalam. Ji Ryeon juga turun dari mobil, tiba-tiba Nam Hee menyenggolnya kuat-kuat sampai Ji Ryeon hampir tersungkur. Mungkin Nam Hee berniat menjatuhkannya di tengah keramaian supaya malu.

“Jangan diam di sini,” ucapnya ketus.

Gaun mereka sama-sama pink, tapi milik Nam Hee shocking pink menyala. Ia tidak mau kalah glamor dari Ji Ryeon, makanya memilih warna itu dan minta desainnya disesuaikan dengan keinginannya.

Tumit sepatu Nam Hee sangat tinggi, dua kali lipat tinggi sepatu Ji Ryeon yang hanya lima sentimeter, tapi dengan begitu Nam Hee bisa menyaingi tinggi badan Ji Ryeon yang kurang lebih 170 senti, selisih 6 senti darinya. Rambut mereka sama-sama disanggul. Kalau Ji Ryeon sanggul sederhana berhiaskan rhinestone di ujung sanggulan, Nam Hee diberi bulu pink tegak ke atas. Mungkin Nam Hee ingin terlihat seperti Marie Antoinette. Banyak kesamaan antara Nam Hee dan si ratu Prancis itu.

Ji Ryeon berjalan saja menuruti Nam Hee dan tidak begitu memikirkan perbuatannya, ia tegurpun toh Nam Hee tak akan bergeming.

Di kanan kiri pintu ballroom yang disewa untuk acara malam ini, ada ada display bunga mawar serta balon warna merah muda dan putih. Wartawan media cetak—khususnya majalah wanita dan televisi juga datang meliput, karena yang datang kebanyakan bekerja di bidang hiburan, fashion dan konglomerat. Ji Ryeon bisa melihat banyak sekali aktris yang muncul di drama-drama.

Ji Ryeon dan Nam Hee datang ke tempat Nenek yang sedang bercakap-cakap dengan tamu di meja mereka. Nenek dan Geum Ga juga tampil mewah. Nenek dengan hanbok sutranya, Geum Ga memakai gaun berlengan panjang. Nenek memperkenalkan kedua cucunya kepada rekan-rekan bisnis sekalian beramah-tamah. Setelah itu, Nenek memberikan sedikit pidato ke podium, bercerita tentang sejarah singkat kosmetika buatannya dan mengenai . Itu pidato pertama Nenek yang didengar Ji Ryeon.

Gaya Nenek tidak berbeda antara kehidupan sehari-harinya dengan saat ini. Ji Ryeon merasakan ada makna dalam tiap kalimatnya. Ibu Ji Ryeon pun begitu. Lembut, tutur katanya enak didengar seperti sedang mendongeng, seperti putri sungguhan yang tidak mengenal dan dilarang menggunakan kata-kata kasar.

Mereka mulai makan malam pada jam setengah delapan. Ji Ryeon, Nam Hee, Nenek, dan Geum Ga satu meja dengan seorang sahabat dekat Nenek dari Busan dan mereka sudah lama tidak bertemu. Usia mereka sama, hampir 70 tahun, tapi Nenek masih kelihatan seperti 50 tahunan.

Ji Ryeon bosan. Sebagian besar orang di sana adalah wanita dewasa. Para undangan mulai bergosip sambil mencicipi makanan penutup. Geum Ga pergi ke tempat kawan-kawannya, Nenek tetap di mejanya namun teman-temannya malah datang ke sana semua, mereka ingin mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Park In Hye, penyanyi spesialis lagu cinta mendayu-dayu tahun 80-an, yang lagunya kurang disukai Ji Ryeon, dan amat tidak disukai Nam Hee. Jadi Ji Ryeon mengalah dan mempersilahkan mereka memakai kursinya, ia sendiri akan duduk di tempat lain.

“Bukankah Park In Hye ini dulunya laki-laki?” ada seorang nenek berkata seperti itu. Ji Ryeon menahan tawa. Nenek-nenek di situ cekikikannya besar sekali, dengan suara cempreng, tapi lucu.

Nam Hee sudah pergi ke restroom, untuk merapikan dandanannya dan bulu di kepalanya yang mulai jatuh lemas. Ji Ryeon juga berencana kabur, di sana tidak ada meja yang kosong, mungkin ia akan duduk di lobi sedangkan di taman masih cukup dingin kalau malam karena musim semi belum tiba.

Untuk menemani kebosanannya, ia mengambil beberapa potong cake berukuran kecil—bahasa kerennya petit fours, sampai piringnya kepenuhan. Rasa coklat, meringue, keju, yang di atasnya ada taburan blueberry… Daripada ia bengong, lebih baik makan saja banyak-banyak, pikirnya, apalagi saat itu juga ada kue strawberry kesukaannya. Ji Ryeon tidak bisa menahan keinginannya mencomot kue itu hanya satu kali. Ia beruntung punya tubuh yang tidak bisa gendut meski makan sebanyak apapun.

Ji Ryeon berbalik, namun tidak sengaja menabrak seseorang sampai kue coklatnya jatuh dan menodai gaun hijau pucat di hadapannya.

Omo!” serunya, takut nyonya pemilik gaun hijau pucat itu naik darah. Ji Ryeon meletakkan piringnya ke meja dan buru-buru mengambil sapu tangan dari clutch bag-nya.

Jeosonghamnida! Jeosonghamnida!” katanya terus menerus seraya membersihkan gaun wanita itu. Dan saat tidak sengaja menyentuh bagian dadanya, Ji Ryeon menunduk malu, “Aigoo… joesonghamnida!”

“Ah.. gwaenchana…” balas wanita itu. “Sama sekali tidak masalah.”

Jeongmal… joesonghamnida…”

Ji Ryeon menoleh perlahan.

Wanita ini cantik, pikirnya. Nyaris setinggi Ji Ryeon dan berkulit bersih. Ji Ryeon akan mengiranya berusia 30-an kalau saja ia tidak tahu siapa wanita itu.

“…Ada yang salah?”

Ji Ryeon tersenyum lebar, dan memberanikan bertanya padanya.

“…Jang Ri Na seonsaengnim…?”

Ye?”

Omo!” Ji Ryeon herus menutup mulutnya supaya tidak berteriak, tapi selanjutnya ia malah sulit bicara, bibirnya gemetar saking senangnya.

“…Waeyo?” tanya Ri Na heran.

Ji Ryeon kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan bersemangat, “…Naneun… fan iyeyo…!

Fan?

Ne!” seru Ji Ryeon seraya mengangguk, “Seonsaengnim betul-betul keren! Suka sekali karya seonsaengnim!

Ri Na tertawa kecil menanggapi tingkah Ji Ryeon.

“Chae Ji Ryeon kan?” katanya.

“…Seonsaengmin mengenalku…?” tanya Ji Ryeon kaget.

“Tentu saja…”

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk jadi akrab.  Terlebih Ri Na sadar tatapan mengharap Ji Ryeon yang ingin ngobrol dengannya.

Keduanya pergi ke lobi menjauhi ballroom. Di sana tidak ada orang kecuali beberapa resepsionis menjaga di belakang meja, lalu sempat lewat sepasang tamu dan bellboy yang mengantar.

Ri Na duduk di sofa krem yang membelakangi jendela hotel, sedangkan Ji Ryeon di seberangnya dengan cake sepiring penuh yang dibawa dari ballroom. Halaman di luar sepi, dengan penerangan lampu hias, tapi jalan cukup ramai.

Seonsaengnim sudah berapa lama berteman dengan ibuku?” tanya Ji Ryeon.

“Berapa lama ya…?” gumam Ri Na, “Kira-kira hampir 30 tahun, mungkin?”

“Lama sekali…”

Ri Na mengangguk. “Keluarga ibumu teman dekat keluarga suamiku. Setelah itu, kami jadi sahabat. Memang tidak begitu sering bertemu, tapi Eun Yeong cukup selalu minta saran dariku. terutama soal anaknya anak tunggalnya.”

Ji Ryeon nyengir malu.

Ri Na mengeluarkan sebatang rokok dari clutch bag Swarovski-nya, kemudian lighter. Bentuknya bahkan sama dengan milik Jun Sang, dengan ukiran keong di tengah. Kebetulan sekali, pikir Ji Ryeon. Orang-orang keren di sekelilingnya suka menghisap rokok…

Ri Na melanjutkan, “Ibumu sangat takut waktu kau kena tifus, dia sampai dan menelponku berkali-kali, padahal saat itu aku sedang tidak di Korea… Lalu waktu kau jatuh dari sepeda sampai berdarah. Dia cerita semua, membuatku ingin punya putri sepertimu.”

“Terima kasih sudah mau membantu Ibu,” Ji Ryeon menunduk, “Jeongmal kamsahamnida! Dan juga… senang sekali akhirnya bisa mengenal seonsaengnim. Seonsaengnim adalah desainer yang paling kusukai! Aku sering mendapat inspirasi dari baju-baju buatan seonsaengnim… bertemu seperti ini, adalah kehormatan bagiku.”

“Kau bisa merancang pakaian?”

Ji Ryeon mengangguk, “Aku juga bisa merancang sepatu, perhiasan, dan tas. Aku ingin sekali punya butik sendiri dan bisa membuat fashion show sendiri.”

“Wah… bahaya sekali… nanti aku punya saingan berat…” kata Ri Na.

“Tidak mungkin!” balas Ji Ryeon malu, “Posisiku sangat jauh di bawah, menyaingi desainer seperti seonsaengnim, harus tunggu seratus tahun bagiku!”

Ji Ryeon berhenti, salah tingkah. Ia mendadak jadi sangat bawel. Untungnya Ri Na tidak bereaksi apa-apa kecuali menunjuk bibir kanan Ji Ryeon yang ada bekas coklat tertinggal.

“Ah… maaf…” kata Ji Ryeon sambil membersihkan bibirnya.

“Sudah punya pacar?”

Ji Ryeon menggeleng.

Wae?” tanya Ri Na, “Kau gadis yang cantik, pasti banyak yang menyukaimu.”

Aniyo… aku tidak populer sama sekali…” ujar Ji Ryeon. “Di sekolah, aku murid yang tidak menarik, hehehe…”

“Kau gadis yang menyenangkan.”

“…Kamsahamnida…” balas Ji Ryeon malu sambil menunduk hormat.

“Apa… tinggal dengan keluarga ibumu menyenangkan?”

Ji Ryeon mengangguk, “Mereka sangat baik.”

“Begitu?” tanya Ri Na, “Sepertinya menyenangkan, ya…”

“Kukira pindah ke Seoul akan berat,” jawab Ji Ryeon, “Sebelumnya… aku cuma tahu Ibu satu-satunya keluargaku, tapi sekarang ada Nenek, Bibi dan Nam Hee—”


“Jangan salahkan ibumu…”


“…Ng…?” Ji Ryeon memandang Ri Na. Ia sama sekali tidak menyalahkan ibunya kok…

“…Nanti… kalau sudah saatnya… jangan menyalahkan dia,” kata Ri Na dengan pandangan yang membuat Ji Ryeon seakan-akan ia sedang dikasihani, “Juga jangan salahkan nenekmu… hidup mereka sudah cukup sulit.”

Ji Ryeon juga tahu kalau Ibunya sudah mengalami kesulitan terutama saat merawatnya sendirian, tapi yang tidak Ji Ryeon mengerti adalah ucapan berikutnya.

Ri Na menatap piring kue Ji Ryeon yang lewat begitu saja di pikirannya tanpa kesan, “Mereka sesungguhnya sangat baik, aku tahu itu. Hanya saja keadaan yang membuat mereka jadi begini. Meski jaman sudah berubah… tapi wanita seperti mereka tak punya pilihan, dear…

Ji Ryeon sudah mulai merasa kalau Ri Na jadi aneh.

Seongsaengnim…” panggil Ji Ryeon. “Baik-baik saja kan?”

“Ya?” tanya Ri Na. “Oh… tentu.”

“Apa maksudnya Ibu dan Nenek tidak punya pilihan? Aku tidak mengerti…”

“…Kau akan tahu… nanti, jika kau sudah lebih dewasa…” jawab Ri Na, “—Bukankah itu bibimu?”

“Ng?” Ji Ryeon menoleh ke belakang, “Oh… benar…”

Geum Ga nampak mencari-cari seseorang, saat sadar yang dicari ada di lobi, ia berjalan ke sana. Langkahnya tetap anggun dan tentunya, angkuh.

“Kenapa ada di sini?” tanya Geum Ga galak, ia melirik Ri Na dengan tidak suka, “Ayo masuk.”

“…Ye…” kata Ji Ryeon.

“Jang Ri Na-ssi, acaranya akan berakhir, alangkah baiknya Anda juga ikut masuk?”

Ri Na pun berdiri, “Kebetulan aku ingin menemui Nyona Chae. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya sudah mengundangku.”

“…Silahkan.”

part 15 sudah keluar dan sekarang waktunya buat bersemedi =..=

Happy reading! Komen ya!

Today’s Songs:
Fly to the Sky – You’re so Precious

Photo credit: sStranger@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 13, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. YupinaCheonsaHaniya

    Hee
    Kirain emak jun sang bakalan galak mji ryeon, tenyata kagak,, heee
    Adudh makin penasaran aje eh ane..
    Ayu zuy jgn lama semedinyaaa…
    Ditungguin deh part 16 nya,, hehee
    Semangaatttt…

  2. kalo baca koment zuyu kayaknya part 16 bakalan lama nie…padahal lagi seru2nya..kalo liat maknya Junsang gini berarti direstui dong hubungan mereka..

  3. wow, akhirnya kelar juga ngebaca ketinggalan selama berhari hari.. azuyuuuuuu, ajarin bikin fanfict dong… hehehe

  4. [Kalau Ji Ryeon sanggul sederhana berhiaskan rhinestone di ujung sanggulan, Nam Hee diberi bulu pink tegak ke atas. Mungkin Nam Hee ingin terlihat seperti Marie Antoinette. Banyak kesamaan antara Nam Hee dan si ratu Prancis itu.]

    -> hehehe, si Marie Antoinette kan matinya dipenggal kepalanya. Apakah Nam Hee akan menyusulnya? *Tidaaak, jangan ada pertumpahan darah di ff* hehehe, lebay😀

    [Jun Sang berdiri terdiam di halte. Seiring bus yang ditumpangi Ji Ryeon melaju dan menghilang dalam padatnya lalu lintas, ia masih ada di sana.

    Jadi, selama ini ia telah salah paham?]

    -> Kali ini si Jun Sang yang bego! Wooooy, sadar woy! Si Ji Ryeon suka sama lo, aduuuh jangan2 gara2 ini dia bakalan nurutin keinginan ortunya buat kuliah di luar negeri ya?? *Omo, jeongmal andwaeyo!*

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: