[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 16)

My heart won’t listen to me
It follows you and goes towards you
It beats so happily that it sinks as if it might stop
suddenly because of the expression that you look at me with

Sebenarnya Ji Ryeon merasakan sesuatu yang ganjil. Ketika mereka bertiga; ia, Geum Ga, dan Ri Na berjalan menuju ballroom, rasanya suasana dingin sekali. Bukan karena pendingin ruangan, tapi atmosfir antara Geum Ga dan Ri Na terasa tak begitu bagus. Geum Ga, tersenyum begitu sinis pada Ri Na, dan Ri Na seperti menyindir, seperti di drama-drama yang pernah ditontonnya kalau dua wanita berselisih maka, kalau tidak saling maki, ya saling mencoba bersikap cool.

Ini adalah hal yang aneh, karena Ri Na adalah wanita sangat kaya, dan Geum Ga biasanya akan mendekati orang seperti itu demi membangun relasi.

Nenek menyuruh Ji Ryeon masuk karena tamu-tamunya akan pulang. Setelah rekan-rekan Nenek dan Geum Ga pulang (bingkisan dari perusahaan dikirim langsung ke rumah para tamu), Ri Na-lah tamu yang paling terakhir menemui Nenek. Dan suasana tak nyaman, lagi-lagi muncul.

“Terima kasih telah mengundang saya,” kata Ri Na, sopan sekali.

“Jang Ri Na-ssi, terima kasih telah datang ke acara ini,” kata Nenek. “Saya pikir Anda tidak akan hadir. Kita sudah cukup lama tidak bertemu.”

“—Jang Ri Na-ssi juga sudah mengenal Ji Ryeon,” balas Geum Ga, melirik Nenek dengan cemas.

Nenek, walaupun di wajahnya ada raut khawatir, tapi berusaha menyembunyikannya.

“Oh… begitukah?” tanya Nenek tenang.

Ji Ryeon nyengir malu.

“Jangan khawatir, saya hanya bicara tentang profesi saya padanya, ternyata dia suka pada saya,” balas Ri Na, “Saya undur diri dulu. Selamat malam.”

“Selamat malam,” jawab Nenek.

Seonsangnim, biar kuantar ke depan ya…”

“Terima kasih,” kata Ri Na.

“Geum Ga, temani mereka,” ujar Nenek.

“Ya, Ibu…”

Di halaman depan sudah menunggu Ferrari merah milik Ri Na.

“Ji Ryeon, kalau ada waktu, kau bisa datang ke butikku. Kau boleh datang kapan saja.”

Jinjja?

Ri Na mengangguk, Geum Ga berdeham.

“Kalau mau, besok juga kau bisa datang,” tambah Ri Na, “Aku ada di butikku di Gangnam. Jangan lupa ya.”

Ri Na dengan centil berkedip pada Ji Ryeon.

“Aku pulang dulu,” kata Ri Na tanpa memedulikan Geum Ga, lalu masuk ke dalam mobilnya.

Kamsahamnida!” seru Ji Ryeon.

Sampai Ri Na sudah pergi pun Ji Ryeon tetap melambaikan tangan bersemangat.

“—Sejak kapan kau mengenalnya?” tanya Geum Ga tiba-tiba.

“Oh… tadi baru saja, dia teman Ibu.”

“Dia cerita apa saja?”

“Tentang pekerjaannya.”

“Yang lain?” Geum Ga mengorek-ngorek informasi lagi.

“Ng… cerita tentang pertemanannya dengan Ibu, itu saja.”

“Begitu?”

Ji Ryeon mengangguk agak bingung. Geum Ga memandangnya tajam, Ji Ryeon jadi takut sehingga ia berusaha menghindari bertatapan dengannya. Tetapi, daripada memberi kuliah panjang pada Ji Ryeon, Geum Ga berjalan kembali menuju ballroom. Suara sepatunya berkelotak keras.


******


Tempat yang didatangi Ji Ryeon pagi ini adalah kantor agensi yang sama dengan yang kemarin. Sebetulnya Ji Ryeon berharap tidak akan ke sana untuk yang kedua kalinya, tetapi karena Min Ah meminta dukungan secara langsung dan mereka sedang liburan, jadi tak ada alasan baginya untuk menolak. Ia hanya tidak mau nanti mendadak ada Nam Hee yang bertanya sengit kenapa ia bisa ada di sana.

Audisinya diadakan di lantai dua, Ji Ryeon dan Han Na menunggu di luar ruang audisi, duduk di bangku yang ada di dekat tangga selama hampir 30 menit. Dari awal mereka di sana, Han Na selalu bolak-balik beli minum dan makanan, ia tak berhenti mengunyah dan menelan sambil nonton televisi.

Setelah lewat 45 menit, Nam Hee keluar menghampiri mereka, wajahnya kusut. Mereka langsung tahu kalau Min Ah nyaris mendekati gagal.

“Bagaimana?” tanya Han Na sekedar basa-basi.

Min Ah mendadak mewek. Ji Ryeon dan Han Na saling pandang.

“Gagal total deh!” seru Min Ah seraya memegang kepalanya yang seperti mau pecah, “Aku tahu aku tidak bagus! Harusnya aku berakting tapi tidak sengaja buang angin! Gimana nih?! Gara-gara Siluman Ular juga, sih!”

“Anak idiot itu juga di sini?!”

“Dia membuatku grogi!” balas Min Ah, “Kau tahu dia bilang apa? Dia bilang hari ini wajahku aneh! Bajuku juga tidak cocok!”

Mwo?! Dia bilang begitu? Kenapa dia tahu wajahmu memang aneh?!”

Min Ah ingin membalas namun disela Nam Hee.

Eonni…!” panggil Nam Hee, berjalan mendekati mereka bersama beberapa temannya.

Nam Hee padahal belum jadi artis, tapi penampilannya sangat glamor. Dia memakai jaket bulu tebal dan boot panjang. Pakaian yang dipakainya adalah pesanan yang pernah diambil Ji Ryeon kemarin. Ia pasti baru keluar dari salon, rambutnya jadi lebih lurus dan mengkilap dari biasanya. Keempat temannya juga tak kalah heboh, bling-bling dan bersepatu boot, seperti girlband baru turun panggung. Namun siapapun akan mengira kalau Nam Hee cs lebih tua daripada Ji Ryeon cs. Penampilan memang menipu.

“Nam Hee-ya…” sapa Ji Ryeon.

“Kau sedang apa di sini?” tanya Nam Hee, Pastinya bukan ikut-ikutan casting kan?”

Aniya, temanku yang ikut casting—”

Nam Hee dan Min Ah saling lirik.

Eonni,” kata Nam Hee, “Kita… bersaing dengan sehat ya?”

Keurae!” sahut Min Ah, ia bicara namun mulutnya tertutup, “Kita juga harus saling mendukung!”

“Ya,” kata Nam Hee, “Tapi sepertinya posisimu tidak begitu bagus ya. Pak produser tentu akan memilih yang terbaik kan…?”

Han Na mendengus keras.

Ya, ya, Nam Hee… itu Pak Produser,” bisik teman Nam Hee.

Nam Hee menoleh dan buru-buru memasang mimik wajah ceria di hadapan seorang paman dengan anak buahnya yang akan berjalan melewati mereka. Paman itu pernah dilihat Ji Ryeon bicara dengan Seung Wan.

Annyeong haseyo!” Nam Hee bicara dengan nada yang ceria dan melengking, agak mengherankan bagi Min Ah dan Han Na kalau ia bisa begitu berubah.

Produser itu berhenti, “Ah… kau peserta yang tadi kan?”

Ye!” jawab Nam Hee bersemangat, “Saya sangat menunggu-nunggu audisi selanjutnya,” ia juga menambahkan dengan berani, “Saya ingin saya yang lulus audisinya.”

Ye, ye,” kata si produser sambil tertawa. “Kau punya bakat yang cukup bagus dibandingkan peserta lain—“

Produser itu tak memperhatikan kehadiran Min Ah yang tersinggung pada ucapannya. Kemudian ia melihat Ji Ryeon dan bertanya, “Agassi… apa tadi kau ikut audisi juga?”

“Eh…?” Ji Ryeon termangu, lalu membalas, “Aniya.”

Si produser itu masih penasaran, “Kau ini cocok jadi pemeran utama drama baru kami! Kenapa tidak coba ikut audisi saja? Aku juga bisa mengorbitkanmu dengan mudah!”

Nam Hee tidak senang, urat di dahinya berkedut kuat.

“Oh…” Ji Ryeon bergumam, melirik Nam Hee dan Min Ah yang mendelik marah padanya, “Eh… saya tidak tertarik jadi artis…”

“Sayang sekali, Agassi!” seru si produser sambil geleng-geleng kepala, “Kulihat sekilas saja, kau punya banyak bakat!”

“—Seonsaengnim,  kita ada rapat,” bisik anak buahnya.

“Oh! Ya, ya! Sebentar,” balas si produser. Ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan memberikannya pada Ji Ryeon, “Ini kartu namaku. Kalau kau berubah pikiran, kau bisa hubungi aku! Tapi kalau kau menyetujui ajakanku, sekarang juga kau bisa tanda tangan kontrak!”

Cuping hidung Min Ah dan Nam Hee mengembang. Rasa-rasanya mereka bakal berubah jadi naga, siap menyembur Ji Ryeon dengan nafas api dari lubang hidung mereka.

“Kau boleh sering-sering ke sini, nanti pasti akan menerima tawaranku—iya, aku ngerti!” ia menyela asistennya, “—Aku pergi dulu ya!”

Ye. Kamsahamnida!” kata Ji Ryeon.

“—Eonni…!” Nam Hee beralih pada Ji Ryeon setelah si produser pergi menuruni tangga.

“Ng…?”

Nam Hee mendelik, menantang. Ji Ryeon juga tidak mau kalah, ia balas memandang Nam Hee.

Waeyo?” tanyanya.

Tahu Ji Ryeon kali ini tidak bisa digertak, Nam Hee mengalah.

“Ayo kita pergi,” Nam Hee mengajak teman-temannya, yang tentu menuruti kemauannya.

Ji Ryeon ingin tahu apa mereka berteman dengan Nam Hee berlandaskan ketulusan atau hanya materi belaka. Karena, seperti yang diduganya, Nam Hee berseru pada mereka kalau ia akan mentraktir teman-temannya ke sebuah resto mahal di Gangnam setelah menemaninya belanja. Sebetulnya Ji Ryeon sering mentraktir kedua sahabatnya makan, tetapi ia akan pikir-pikir dulu untuk membawa mereka ke tempat mewah karena uang jajan yang didapatnya berasal dari neneknya, dan walau jumlahnya cukup besar, ia punya kebutuhan lain dan sisanya untuk ditabung. Ia malu harus minta uang pada keluarganya, selain itu, ia merasa usianya belum pantas menikmati suasana untuk kalangan pekerja kantoran.

“Cih… baru saja ikut casting sudah berlagak artis…” Han Na geleng-geleng kepala, “Ji Ryeon, bukan bermaksud menghina keluargamu…”

Araseo…”

“Ji Ryeon-ah! Kau tidak berencana menghancurkan karirku kan?” tuntut Min Ah.

“Tidak mungkin aku mau jadi artis!” balas Ji Ryeon heran. “Nih, kalau kau mau, ambil saja. Aku tidak butuh.”

Ji Ryeon menyodorkan kartu nama di tangannya kepada Min Ah.

“Tidak mau!”

“Ya sudah, kalau tidak mau biar kusimpan saja,” kata Ji Ryeon sambil memasukkan kartu nama itu ke saku, “Siapa tahu aku berubah pikiran… mungkin satu peran kecil boleh juga…”

Min Ah menjitak kepalanya.

Ya!” seru Ji Ryeon.

“Sini!” Min Ah mengambilnya dari Ji Ryeon.

“Hah… dasar…!” seru Ji Ryeon.

“—Nuna!

Ji Ryeon sudah mulai terbiasa dengan intonasi Seung Wan memanggil “nuna”.

Omo! Seung Wan-ah!” panggil Min Ah.

Seung Wan berlari kecil mendekat, “Kalian ke sini lagi?”

“Annyeong haseyo.”

“Annyeong haseyo.”

“Ji Ryeon nuna, kita ketemu lagi.”

“Ya,” balas Ji Ryeon.

Aigoo… kalian ternyata sudah akrab ya…?” rayu Min Ah.

“Tidak begitu akrab kok,” sela Ji Ryeon.

Ya, apa kau tiap hari selalu di sini?” tanya Han Na agak sewot, Min Ah menyenggol kakinya supaya diam.

“Mau bagaimana lagi, ini tempatku latihan sih,” balas Seung Wan.

Han Na menarik Ji Ryeon agak menjauh, tetapi Min Ah mendadak menepuk jidat dan berteriak.

Aigoo!” serunya, “Aku lupa harus menemui. Eottoke?! Ah! Jinjja!” kentara sekali Min Ah kelihatan bohongnya, “Han Na, kau temani aku ya!”

Mwo—?!

“—Kacha!

“—Ya!” teriak Ji Ryeon. Ia ingin mengejar mereka tapi tak enak kalau langsung meninggalkan Seung Wan. “Anu—aku pergi dulu ya—”

“Tidak usah,” cegah Seung Wan, “Mereka sengaja.”

Momen paling aneh bagi Ji Ryeon dan Seung Wan.

“Eh…” gumam Ji Ryeon, “Begitu ya…? Hehehe…”

Nuna… tidak sedang sibuk kan?”

Ji Ryeon bingung, “Eh… yah… ng…”

“Kita makan siang?” kata Seung Wan, “Ada tempat yang ingin kukunjungi. Kali ini kutraktir saja.”

“O…” kata Ji Ryeon, “Ohhhh… aku… ng… aku…”

Rasanya Ji Ryeon ingin menyerah. Ia tidak bisa menemukan alasan yang baik untuk menghindar.

“—Oppa!

Nam Hee berteriak dari halaman. Ia sendirian. Ji Ryeon tahu kalau Seung Wan menghela nafas.

Nam Hee berlari ke arahnya, dan tiba dengan wajah riang, lalu menggandeng tangan Seung Wan dengan mesra seakan-akan Ji Ryeon hanyalah sebongkah patung.

Oppa! Kita makan siang yuk?”

“Tak bisa. Aku sedang sibuk,” balas Seung Wan. Ji Ryeon menertawakan kebohongannya dalam hati.

“Bohong,” balas Nam Hee, “Kau setelah ini kosong. Aku sudah tahu.”

Nam Hee diam-diam melirik Ji Ryeon, menyuruhnya menjauh. Ji Ryeon dengan senang hati mundur perlahan dari mereka tetapi Seung Wan memanggilnya lagi.

Nuna mau ke mana?” tanyanya, melepas gandengan Nam Hee.

“Aku harus pulang dulu,” balas Ji Ryeon, “Emm… baik-baik ya! Sampai jumpa!”

Nuna—!

Ji Ryeon kabur secepat kilat. Nam Hee senang sekali tidak bisa melihat Ji Ryeon dari jarak pandangnya, yang berarti juga tidak bisa dilihat Seung Wan.

Oppa, ayo!” Nam Hee kembali menggandeng Seung Wan, mengajaknya jalan. “Oppa, kita jalan-jalan ya?”

Seung Wan tidak menanggapinya.

Oppaaa~…” bujuknya manja.

“Nam Hee-ya!

Nam Hee diam, memandang Seung Wan dengan wajah cemberut, “…Kau marah…?”

“Ngapain kau ke sini?” tanya Seung Wan.

“Aku kan ikut audisi,” balasnya, “Kalau aku diterima, aku akan jadi trainee di sini. Hehehe…”

“Oh ya?”

Nam Hee mengangguk, lalu menarik-narik Seung Wan.

Oppa! Ayo ikut aku!” katanya, “Aku lapar, ayo!”


******


“Selamat datang!”

Ji Ryeon baru masuk ke dalam butiknya Ri Na, Freyja—dewi dari mitologi Norse yang arti namanya sendiri adalah lady. Ia pernah beberapa kali melewati Freyja, yang dari luar tampak seperti rumah mewah bertingkat dua di antara pertokoan. Hanya lewat saja, karena kalau tidak pergi bersama Geum Ga dan Nenek, atau jika tidak disuruh mengambil pesanan Nam Hee, ia tidak berani memasuki toko mahal. Sayangnya selama ini Geum Ga atau Nenek tak pernah mengajaknya ke butik Ri Na meski Freyja adalah tempat terbaik bagi orang berlebihan uang. Barangkali karena Geum Ga tidak menyukai Ri Na.

Tak beda jauh dengan butik lain, hanya saja lebih besar karena total luasnya sama dengan empat buah toko, membabat nyaris sepertiga deretan pertokoan di jalan itu.

Ji Ryeon mendekati si pelayan yang tadi menyambutnya, “Chogi… aku ingin bertemu dengan Jang Ri Na seonsaengnim.”

“Chae Ji Ryeon-ssi?

Ye.” cukup mengejutkan Ji Ryeon kalau pelayan itu sudah mengenalnya, barangkali Ri Na sudah mewanti-wanti pelayan itu, pikirnya.

“Silahkan ke lantai atas,” balas si pelayan, “Seonsaengnim ada di ruang kerjanya.”

“Oh… kamsahamnida!

Baru saja Ji Ryeon akan naik, pintu masuk berbunyi lagi, dan muncul laki-laki yang paling disukainya sedunia.

Si pelayan menyambut tamu seperti biasa, “Annyeong haseyo.”

“Lho? Jun Sang-ah!” seru Ji Ryeon.

Jun Sang kaget, “…Kau… sedang apa ke sini? Mau beli baju ya?” tanyanya.

Aniya,” balas Ji Ryeon ceria, “Aku ingin ketemu dengan kenalanku.”

“Kenalanmu?”

Ji Ryeon mengangguk. “Kau sedang apa?”

Jun Sang bingung mau jawab apa, “…Ng… aku—“

“—Ji Ryeon-ah?” Ri Na menyahut dari anak tangga paling atas, dengan terusan hitam dan rambut diikat simple, ia masih tetap terlihat keren.

Seonsaengnim! Annyeong haseyo!

“Kau datang juga. Ayo naik,” jawab Ri Na.

“—Jun Sang, aku naik ya!” balas Ji Ryeon. “Sampai jumpa lagi!”

Ri Na menoleh ke belakang, “Kau juga datang?”

Jun Sang diam sambil memegang tengkuk dan mengalihkan wajah.

Ya, ngapain di situ?” panggil Ri Na pada Jun Sang. “Cepat naik.”

Ji Ryeon jadi bertanya-tanya. Mungkinkah Jun Sang juga kenal dengan Ri Na… kalau dilihat dari cara memanggil Ri Na, barangkali Ri Na itu bosnya. Tapi masa Jun Sang kerja di butik? Setahu Ji Ryeon, Jun Sang paling suka dengan otomotif dan komputer. Lagipula bekerja di butik tidak cocok untuk Jun Sang. Atau mungkin Ri Na itu bibinya Jun Sang, pikir Ji Ryeon. Bodohnya ia tidak berpikir kalau Ri Na adalah ibunya Jun Sang.

Ini pertama kalinya Ji Ryeon bisa melihat langsung suasana kerja seorang desainer. Meja besar yang di atasnya ada pola untuk pakaian—mungkin dalam tahap pengerjaan, banyak benang dan pita warna-warni, manekin-manekin setengah telanjang, bertabung-tabung kristal Swarovski, kain aneka motif, kancing, korsase, manik-manik, dan renda! Semua seakan tumpah ruah. Ji Ryeon seperti anak kecil yang tenggelam dalam toko permen. Karyawan di sana sibuk dengan aktivitas masing-masing, ada yang memasang resleting di punggung gaun, ada kakak berkacamata dengan tali meteran melilit lehernya sambil membereskan mutiara yang tumpah ke lantai, ada yang sibuk memasang rhinestone ke kerah baju… Tapi Ri Na paling santai sendiri.

“Kami sedang menyiapkan fashion show untuk musim semi,” kata Ri Na. “Jadi lantai dua selalu berantakan begini.”

Nanti, Ji Ryeon ingin pekerjaan seperti ini.

“Kita ngobrol di kantorku saja ya.”

Ji Ryeon mengangguk, dan turut masuk ke dalam kantor Ri Na, wangi potpourri lembut langsung tercium. Ji Ryeon dan Jun Sang dipersilahkan duduk di sofa putih bermotif bunga-bunga kecil, ini berarti Jun Sang tidak bekerja di sana, karena ia bergabung bersama mereka.

“Jun Sang, kau juga kenal seonsaengnim ya?” bisik Ji Ryeon.

“Eh… ng…”

“—Maaf ya, Ji Ryeon, kalau anakku mengganggu,” kata Ri Na seraya mencari-cari sesuatu dari rak bukunya.

Ji Ryeon terpaku sejenak, mencerna ucapan Ri Na dengan baik-baik dan selanjutnya berseru senang.

“—Aniya!” jawabnya buru-buru, “Jinjja… jinjja gwaenchana! Hehehe.”

Ri Na tersenyum, Ji Ryeon pun makin nyengir. Ini namanya bonus dobel. Dunia ternyata sesempit ini, dan ia baru sadar kalau lighter Jun Sang dan Ri Na mirip karena mereka ibu dan anak!

“Itu buklet waktu aku baru mulai debut,” Ri Na duduk di samping Ji Ryeon dan menyerahkan buku tebal itu pada Ji Ryeon.

Buklet itu cukup tebal dan agak kusam karena sudah lama sekali. Isinya adalah foto-foto berikut keterangan fashion show milik Ri Na dan foto-foto di balik layar. Resolusi gambarnya pun tak sebagus yang sekarang.

Ri Na menunjuk ke fotonya yang masih muda, waktu di foto di atas catwalk dan memegang setumpuk bunga usai model-modelnya memamerkan pakaian buatannya, “Ini waktu aku masih 25 tahun, Jun Sang sih belum lahir. Wajahku juga belum berkeriput, tapi dandanannya aneh ya.”

Ji Ryeon tertawa. Kemudian matanya tertuju pada seorang wanita di belakang Ri Na, yang menjadi salah satu model dan sedang bertepuk tangan, “Omo! Ini Ibu kan?”

“Iya. Dia sukarela jadi bahan percobaan ide-ideku, usianya masih 18 tahun.”

“Ternyata dandanan Ibu juga aneh kok, hehehe…”

Pintu diketuk seseorang, Ri Na menyuruhnya masuk. Pegawai Ri Na, kakak berkacamata yang tadi menumpahkan mutiara—datang membawakan teko, tiga cangkir teh dan biskuit dalam nampan. Ri Na mengajak Ji Ryeon lagi untuk melihat-lihat bukletnya.

Jun Sang berdeham. Kesal sekaligus cemburu karena Ri Na menguasai Ji Ryeon sendirian.

“Ibu, aku mau bicara.”

“—Nanti saja, kami sedang seru nih,” kata Ri Na cuek.

“Ibu, aku pulang ya.” gertak Jun Sang.

Ancamannya tak berhasil, kedua wanita itu tak sadar dan terus bicara mengenai fashion (yang tidak bisa diikuti Jun Sang), kadang terkikik menertawakan penampilan jaman dulu. Ri Na ternyata pintar melawak.

Usai membahas halaman terakhir dan bukletnya ditutup, Ri Na berkata, “Itu untukmu.”

“J—jinjja?” Ji Ryeon nyaris gemetar saat mendengarnya, “Tapi… ini kan sangat langka. Aku saja, sangat susah mendapatkannya…”

“Tak apa. Aku ingin kau menyimpannya.”

Ji Ryeon menyodorkan buklet itu pada Ri Na.

“Kenapa?” tanya Ri Na, “Kau tidak suka?”

“T—tanda tangan,” balas Ji Ryeon malu-malu.

Ri Na tertawa lepas melihat tingkah Ji Ryeon, “Kukira kau tidak mau.”

Ji Ryeon menyerahkan penanya—yang diambilnya dari dalam tasnya dengan tergesa-gesa. Ri Na membubuhkan tanda tangan ke sampul buku itu, dan menulis:

untuk Chae Ji Ryeon, semangat ya, dan terus dukung aku ^^

Ji Ryeon menerimanya kembali, “Kamsahamnida!

“Jun Sang… nanti dia akan kuliah ke Amerika,” kata Ri Na tiba-tiba.

Jun Sang yang baru saja menegak teh, tersedak mendengar perkataan ibunya.

Eomeoni!

“—Eh… kuliah ke  luar negeri?” tanya Ji Ryeon gelagapan.

Ri Na mengangguk.

“Tapi… sekolah di sini juga bagus kok,” bela Ji Ryeon. “Jun Sang kan sudah lulus. Kalau dia pindah ke luar, apa tidak sia-sia? Dia lulus di universitas paling bagus di Seoul lho!”

Alis mata Ri Na naik mendengar kalimat Ji Ryeon, sehingga ia buru-buru memperbaiki ucapannya, “O—oh… yah… sekolah di luar juga bagus sekali…”

“—Jangan percaya pada ibuku,” sela Jun Sang, melirik Ji Ryeon yang muram, “Dia selalu bicara sesukanya.”

Ji Ryeon kembali menegakkan wajahnya. “Kau tidak akan pindah kan?”

“Tidak. Tidak akan.”

Ia merona. “Hehehe… syukurlah. Bagus sekali!”

Ri Na, yang memperhatikan raut wajah Ji Ryeon, jadi senyum-senyum sendiri.

“—Aku sudah menemui Ayah.”

“—Dia bilang apa?” tanya Ri Na ingin tahu.

Jun Sang menatap Ri Na, kemudian bersandar dan menghela nafas. Lelah.

“Pasti bukan hal yang baik kan?” kata Ri Na yakin, mengambil lighter, sebatang rokok dan mulai menghisapnya.

“Entahlah. Apa dia tidak bisa santai?” tanya Jun Sang, “Kulihat wajahnya bertekuk terus. Aku saja capek melihatnya, apalagi karyawannya…”

“Kadang-kadang aku berpikir ingin cerai,” kata Ri Na. “Dia juga tak peduli aku main dengan teman-temanku. Kakekmu bilang, kalau aku ingin berpisah dengannya, dia akan mendukungku. Orangtua yang aneh…”

Menurut pandangan Ji Ryeon, alangkah anehnya mereka berdua, membicarakan perceraian begitu gampangnya. Keduanya seperti teman sekelas yang membicarakan guru killer.

“—Suamiku sebetulnya tidak seperti yang kau bayangkan,” ujar Ri Na pada Ji Ryeon. “Oh ya, kau sudah bertemu Kakek? Dia tanya padaku kenapa kau tidak pernah menjumpainya lagi.”

“Aku tidak sempat.”

“Kasihan kakekmu, dia tinggal sendirian di bukit itu,” tambah Ri Na, “Kau cucu satu-satunya, tapi sikapmu kurang ajar.”

Kemarin, Seung Wan mengatakan kalau Jun Sang punya paman. Dan hari ini, Ji Ryeon mendapatkan informasi mengenai ayah Jun Sang, kakeknya, dan ibunya. Dulu, Ji Ryeon sama sekali tidak mengenal keluarga Jun Sang, karena Ji Ryeon selalu berfokus pada diri sendiri dan sangat banyak hal yang mereka bicarakan selain soal keluarga.

Namun Jun Sang diam saja menanggapi omongan Ri Na.

Ri Na menghela nafas, “Tidak mau kembali ke rumah, tidak mau kuliah, tidak mau menjenguk Kakek. Kau ini…”

“—Aku mau kuliah,” sela Jun Sang, “Tapi tidak ada paksaan dari kalian. Aku sadar, kalian bergantung padaku, tapi aku mau berhasil dengan caraku sendiri. Apa Ayah ingin aku seperti dirinya? Tidak akan.”

Suasana hening kembali. Ji Ryeon tidak mungkin memotong pembicaraan mereka.

“—Ah…” gumam Ri Na, malu pada Ji Ryeon, “Sudahlah! Hal itu tidak usah dibicarakan lagi. Nanti akan kubujuk dia untuk mengerti.”

“Serius?”

“Akan kukatakan soal ini pada kakekmu. Kalau berhasil, kau harus berterima kasih padanya, ngerti?!”

“Ya, ya, ya…”

“—Ji Ryeon-ah, ayo ikut aku.” raut Ri Na kembali melembut jika ia bicara dengan Ji Ryeon. Ia bangkit dari sofa dan mengulurkan tangannya.

Ye?

“Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu.”

mendadak gw punya tenaga kuda. semoga besok2 gw punya tenaga gajah >.<

Sampe skarang gw blum ngasi nama perusahaan Chae, perusahaan Yoon, kantor agensinya Seung Wan… nama butik ibunya Jun Sang aja baru gw dapet hari ini =..=

Enjoy this part^^

Today’s Songs:
Fly to the Sky – 가버려 너
Fly to the Sky – Last Love
Fly to the Sky – Favorite

Photo credit: Montmarttre@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 14, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. YupinaCheonsaHaniya

    Adudh penasaran neh..
    Nnti ji ryeon ngikutin jejak emakny ga’?
    Trus jun sang tetep d seoul kan?
    Nnti gimana awal mereka kul??
    Trus kapan sesi mereka bedua ajja??
    Hee miaann..
    *bawel

  2. YupinaCheonsaHaniya

    O iya..
    Kuda, gajah..
    Kuda cepet gajah lmbt, hee
    Disaranin pake tenaga cheetah aj deh,,heee

    Semangaatt ^^
    Neh didorong age pake mobil merk tank deh,,dijamin smangat,kekekekkk
    Ditungguin y part selanjudny..heee

  3. uwaaaaa…!!! aduh aduh saya udah berhari hari nggak mampir kesini eh udah part 16 ajaaa…
    semangat terus azuyuu…!! part selanjutnya ditunggu.. sekarang baca part 14-15 dulu ah, ngejar ketinggalan. hehehe

  4. Mobilnya Ri Na Ferrari merah?? hmm… agak aneh… wanita seperti Ri Na rasanya hampir nggak mungkin pake Ferrari Merah… dia lebih cocok pake mercy atau jaguar… soalnya menurut gw, wanita seperti Ri Na pasti kemana2 ditemenin sopir kan?? rasanya nggak mungkin deh dia nyetir mobil sendiri… sedangkan mobil ferrari itu kan jenis mobil sedan yg cuman muat 2 orang bukan??
    hihihihi… maaf ya kalo komen gw terlalu detil…🙂

    • iya onn mobil sport. cuma aku bikin dia perempuan yg slengean dikit. soalnya udah sering tokoh ibu2 pake mercy plus supir. karena udah ada tokoh geum ga yang begitu, jadi ibunya junsang ane bikin lain aja😄 biar ada variasi gitu😄

      • ooohh… gitu… hmm… kalo gitu mestinya lebih diliatin sisi slengeannya Ri Na… minimal sikap mandiri dan ga butuh orang lain-nya lah… biar keliatan kalo dia ini beda dgn ibu2 sosialita biasanya… hihihihi… saran aja kok… diikutin boleh, enggak pun gpp…😀
        it just my thought…🙂

      • ane tetep makasi sama sarannya onn (_ _) makasi juga udah ngasi tau detil2nya MySpace

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: