[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 17)

Embrace my heart now, feel how much bigger I’ve grown since before
Look at me and see how I’ve fallen in tears, my gaze recognizes us
Believe that there will be more days of loving, then of days of loved
With the pain of and longing of the past days, just believe

Nam Hee memilin spaghetti di garpunya dengan bahagia. Mereka saat ini makan siang di restoran tempat Seung Wan mengajak Ji Ryeon kemarin. Tempat itu cocok buat orang berkencan, namun Seung Wan tak pernah menganggap jika ia ke sana dengan Nam Hee bisa disebut kencan, tapi kalau ia pergi dengan Ji Ryeon, ia tidak akan keberatan.

Sebetulnya Seung Wan menyukai spaghetti, namun kali ini ia memilih lasagna. Nam Hee yang sengaja memilih spaghetti, tak mau buang-buang kesempatan.

Oppa,” panggilnya, menyodorkan garpu itu ke arah Seung Wan yang enggan memakannya.

Oppa~

Ya, malu dilihat orang.”

“Cih… kau tidak mau citramu rusak duluan ya.”

Keurae,” balas Seung Wan.

Terhadap Seung Wan, Nam Hee bersikap sangat manis, seperti anak gadis normal. Kalau Han Na dan Min Ah melihat tingkahnya di depan Seung Wan, mereka bisa kena serangan jantung. Nam Hee di sekolah adalah Nam Hee yang sok, sinis, dan agak menyebalkan bagi teman-teman seangkatannya. Keluarga Chae adalah produsen kosmetik terbesar di Korea, dan mayoritas anak gadis di Seoul memakai kosmetik buatan keluarganya. Menurut Nam Hee, karena orang lain hanya memakai tapi tidak bisa memproduksi, maka yang tercantik di antara mereka adalah dirinya. Memang, ia cantik, tapi sikapnya tak begitu cantik.

Ya, Nam Hee-ya.”

“Ng?”

“Sudah berapa lama Ji Ryeon nuna tinggal denganmu?”

Lagi-lagi Ji Ryeon…

“Kira-kira sudah dua tahun.” balas Nam Hee jengkel, menusuk-nusuk spaghetti dan membayangkan Ji Ryeon yang ditusuknya.

“Oh…” gumam Seung Wan, “Dia dari mana sih?”

“Jinju.” jawabnya singkat, sambil makan spaghetti banyak-banyak sekali, tetapi Seung Wan tidak perhatian soal itu.

“Jinju bagian mana?”

“Tidak tahu.”

“Kau saudaranya masa tidak tahu?”

“Aku tidak pernah ke kampungnya!” kata Nam Hee, “Dia datang begitu saja. Nenek yang membawanya ke rumah. Aku juga jarang bicara dengannya.”

Seung Wan menelan sodanya, tak mau menanggapi Nam Hee.

Ya.

“Ng?”

“Hee Rahm hyung bilang dia mau liburan ke Pulau Jeju selama beberapa hari. Kau diundang.”

Oppa ikut tidak?”

“Tidak bisa. Aku kan kerja.”

“Kalau kau tidak ikut, aku tidak mau.” balas Nam Hee cuek.

Ya, dia mengundangmu, kenapa harus tergantung padaku?”

“Pokoknya tidak mau…” ucapnya, “Aku juga punya jadwal sendiri dengan teman-temanku.”

“Sampai kapan kau terus tergantung padaku?” balas Seung Wan sengit, “Kau sudah besar, kenapa bersikap seperti anak-anak? Hee Rahm hyung minta kau datang, kau harusnya datang! Ara?!

“Kenapa malah bicara soal dia?!” jawab Nam Hee, “Oppa! Kalau soal Hee Rahm oppa, kau selalu begini padaku!” Nam Hee tidak mau kalah, “Wae? Wae?!

“Sudah, sudah!” balas Seung Wan, “Iya aku ikut!”

Saat itu Nam Hee tersenyum lebar.

“—Tapi kalau aku sudah kembali ke Korea, ya!”

Nam Hee mengangguk.

“Ajak juga Ji Ryeon nuna, aku lupa bilang padanya.”

“Ji Ryeon eonni?” ulang Nam Hee dengan nada benci, “Dia pasti tidak akan datang.”

“Kenapa?” tanya Seung Wan, sangat ingin tahu.

“Biasanya, kalau liburan dia akan pulang kampung.”

“Pulang kampung?”

Nam Hee mengangguk. “Dia mengunjungi makam ibunya di sana. Sejak menumpang di rumahku, dia memang jarang liburan denganku. Orangnya agak aneh. Di sekolah saja dia pendiam begitu, jarang bergaul dan temannya sedikit.”

“Kenapa mengatainya?”

“Itu kenyataan kok,” jawab Nam Hee. Sayangnya, Nam Hee bicara seperti itu hanya untuk menutupi kenyataan kalau Ji Ryeon lebih populer darinya.

“Nam Hee-ya, jangan mengatai orang,” ujar Seung Wan. “Aku tidak suka mendengarnya.”

“Aku ngerti!” seru Nam Hee, membuang rasa malunya.

“Oh… kalau aku memang ikut, sampai di Jeju, jangan dekat-dekat denganku,” kata Seung Wan.

Wae?” Nam Hee menuntut keadilan.

“Kubilang jangan, ya jangan,” balas Seung Wan, “Kau main saja dengan Hee Rahm hyung, nanti dia juga ajak adiknya, perempuan seumuranmu, kalian pasti bisa akrab.”

“Kenapa? Apa kalian menyewa gadis-gadis?” tanya Nam Hee.

“Sepertinya begitu.”

Shiro!” balas Nam Hee marah, “Kalian tidak boleh menyewa cewek! Kalau kalian melakukannya, aku akan rusak acara kalian!”

Ya, kau tidak malu?!”

“Demi oppa, aku tidak akan malu,” kata Nam Hee sangat yakin, “Kalau aku harus memanjat gedung itu—“ ia menunjuk ke sebuah perusahaan asuransi berjumlah 50 lantai, “—aku akan memanjatnya walau aku takut ketinggian. Kalau aku harus telanjang di tengah jalan, aku akan telanjang—”

Ya!” seru Seung Wan, “Dasar otak porno!”

“Aku serius,” jawab Nam Hee, “Oppa, kau bisa mengujiku sekarang juga.”

“Tidak perlu, aku percaya.”

Nam Hee nyengir, “Jadi aku boleh kan dekat-dekat denganmu?”

Seung Wan mendongak heran. Anak ini dari tadi permintaannya terus berdekatan dengannya…

“Jangan di depan Hee Rahm hyung, boleh,” jawab Seung Wan setelah piker-pikir panjang.

“Hore!!!” teriaknya bersemangat.

Ya, kau bikin orang marah. Diam.”

Nam Hee cepat-cepat menutup mulutnya, tapi tak bisa menutupi kegembiraan yang sangat jelas dari wajahnya. Nam Hee memang sok, sinis, dan agak menyebalkan. Namun ia tetaplah seorang gadis biasa.


******


Ji Ryeon keluar dari fitting room, memakai pakaian yang berbeda: dress broken white yang cantik sekali, dengan pita di pinggang dan di siku dan kancing di bagian depannya. Ri Na bilang itu hadiah untuknya dan tidak dipasarkan di manapun.

Ji Ryeon malu-malu saat memperlihatkan dirinya, terutama di depan Jun Sang yang yang menurutnya nampak seperti melihat alien turun dari piring terbang.

“Kau cantik sekali,” puji Ri Na.

Kamsahamnida.”

“Ya kan, Jun Sang?” Ri Na melirik anaknya.

“—Eh…? Ng…” gumam Jun Sang grogi, “Y—yah… setidaknya…” Jun Sang terbatuk-batuk aneh, “…tidak memalukan…”

Ji Ryeon mendengus sebal.

“Tapi kelihatannya ada yang kurang,” kata Ri Na, “…Oh… tentu saja ada yang kurang! Tunggu ya, aku akan kembali sebentar lagi—”

Sekarang tinggal mereka berdua sementara Ri Na keluar. Dua-duanya berdiri mematung, tidak berani bicara karena memang begitu kebiasaan mereka, apalagi Ji Ryeon yang suka gugup sendiri.

“… Kau… cantik kok…”

Ji Ryeon menatap Jun Sang, tak percaya, matanya berbinar senang penuh harapan, “Jinjja…?

“Ya,” balas Jun Sang, ia sudah malu sekali, “…Sangat cantik.”

Gomawoyo!” Ji Ryeon melonjak kegirangan dan tanpa sadar melompat-lompat seperti anak TK. Ia baru saja tahu kalau Ri Na adalah ibunya Jun Sang, dan ternyata Ri Na menyukainya, kali ini Jun Sang memujinya cantik!

“Aku suka rambutmu…” tambah Jun Sang, pipinya memerah. “…Panjang…”

“Kau pernah bilang, rambutku sangat bagus!” kata Ji Ryeon penuh semangat, “Makanya aku tidak pernah memotong pendek rambutku! Hehehe!”

“…Kapan aku bilang begitu?” tanya Jun Sang bingung.

“Dulu sekali!” seru Ji Ryeon, “Walau rambutku suka ditempeli permen karet sama anak-anak nakal, kau bilang jangan dipotong pendek. Karena kau yang larang, aku jadi suka sekali rambut panjang!”

Jun Sang, sekali lagi, tertegun mendengarnya. “O… oh… begitu…?”

Ji Ryeon mengangguk. Jun Sang tidak tahu dulu yang dimaksud Ji Ryeon itu kapan. Namun yang jelas, ia tahu kalau apa yang pernah dikatakannya ternyata masih diingat oleh Ji Ryeon.

Baru saja Jun Sang ingin bicara lagi, tiba-tiba Ri Na sudah datang dan memegang sesuatu. Yang dibawanya adalah bando besi yang dihias pita dan batu kristal, cocok dengan pakaian Ji Ryeon.

“Aku tidak punya anak perempuan,” kata Ri Na seraya memakaikannya di kepala Ji Ryeon. “Aku punya banyak baju yang lucu-lucu, tapi anakku tidak mau pakai baju wanita—”

Memangnya aku banci…” sambar Jun Sang.

“Sudah,” kata Ri Na, membalikkan badan Ji Ryeon menghadap cermin, “Bagus kan?”

“Bagus sekali…”

“Sebenarnya aku tidak akan lama di Seoul, tapi nampaknya aku berubah pikiran. Mungkin beberapa bulan ke depan aku akan menetap di sini, sampai musim panas,” jelas Ri Na, “Kau sering-sering ke sini ya?”

Ji Ryeon mengangguk kembali. Saat itu, ia merasa Ri Na seperti ibunya, yang biasa memakaikan bando untuknya sebelum pergi sekolah…

Ri Na mengajaknya masuk workshop aksesoris, di sana banyak mahasiswi magang membuat perhiasan, diajarkan oleh beberapa pegawai senior. Yang lainnya menempelkan manik-manik ke rangka bros, mencocokkan warna dan gradient, memilih model rhinestone. Ji Ryeon juga ikut membuat sebuah gelang.

Jam 4 sore, Jun Sang mengantar Ji Ryeon. Setelah cengengesan tak jelas jika saling pandang, Ji Ryeon bicara.

“Kau… betul akan kuliah ke luar…?”

“Kan sudah kubilang tidak,” katanya, “Artinya ya tidak pergi.”

“Oh… jinjjayo?” tanya Ji Ryeon, “Syukurlah hehehe…”

Wae?”

“—Aniya!” jawab Ji Ryeon. “Gwaenchanayo!”

“Tidak mau aku pergi?”

Ji Ryeon diam saja tak mau jawab. Jun Sang nyengir melihat Ji Ryeon malu.

“Kapan kau akan ke Jinju?” tanya Jun Sang.

“Besok,” kata Ji Ryeon.

“Besok?!” serunya sampai Ji Ryeon kaget, “D—dengan keluargamu?”

“Tahun ini aku sendirian,” balas Ji Ryeon, “Nenek tidak ikut karena dia tidak boleh pergi jauh.”

“—Aku ikut.”

“Mwo?”

“Aku ikut,” ulang Jun Sang. “Besok aku akan berangkat denganmu. Kau naik apa—?”

“Ke—kereta sih…—”

“Besok kutunggu di stasiun.”

Ji Ryeon gelagapan, “Tapi… di sana tidak ada apa-apa lho! Kau pasti akan bosan! Sejauh mata memandang, cuma ada sawah dan orang tua! Sungguh!”

Ya, aku ke sana bukan untuk jalan-jalan,” balas Ju Sang, “Aku ingin mengunjungi ibumu.”

Ji Ryeon termangu.

“Aku tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Walau memang tidak menemuinya langsung, setidaknya aku bisa memberi penghormatan. Kupikir, kalau tidak nanti dia malah menganggapku kurang ajar,” kata Jun Sang. “Makanya besok aku pergi denganmu, ngerti?!”

“I—iya…”

Tapi tidak masalah. Ji Ryeon memang menunggu-nunggu kapan Jun Sang akan mengunjungi ibunya. Malam ini, Ji Ryeon akan sibuk memilih baju, ia merasa ini bagaikan kencan…


******


Jun Sang mengantar hanya sampai depan pagar. Sebelum berpisah, tadi mereka juga sempat bertukar nomor ponsel (Ji Ryeon bertanya-tanya dalam hati apa nanti malam Jun Sang akan menghubunginya).

Kemudian Ji Ryeon masuk ke rumah, Bibi Hyo Min yang membukakan pintu.

“Nenek mana?” tanya Ji Ryeon.

“Di halaman belakang, sedang memberi makan ikan.”

Ji Ryeon separo berlarian ke halaman belakang. Begitu sampai di sana, dilihatnya Nenek sedang berdiri di depan kolam penuh ikan koi, sambil melempar butir-butir makanan ikan.

“—Halmeoni!”

Nenek menoleh, tersenyum memandangnya.

“Ji Ryeon-ah…”

Ia mendekati Nenek, mengeluarkan gelang dari dalam tas, dipakaikannya ke pergelangan tangan neneknya.

“Cantik sekali,” puji Nenek, “Kau beli di mana?”

Ji Ryeon menggeleng, “Ini kubuat sendiri lho.”

Jeongmal?”

“Aku pergi ke tempatnya Jang Ri Na seonsaengnim.”

“O—oh… begitukah…?”

“Dia yang mengajariku,” balas Ji Ryeon.

“Kau akrab dengannya ya?” tanya Nenek penasaran.

“Orang yang baik. Nenek juga kenal kan? Seonsaengnim bilang, sudah lama kenal dengan Ibu—”

Nenek memotong ucapannya, “Kau sudah persiapkan keperluanmu untuk besok?”

“Belum beres-beres baju sih…”

“Maaf ya, besok Nenek tidak bisa pergi denganmu.”

“Gwaenchanayo!” seru Ji Ryeon, “Kalau Nenek sudah sehat, kita bisa pergi bersama.”

“Andai kalau aku bisa…”

“Ng?”

“Ji Ryeon-ah… nanti, katakan pada ibumu, maafkan aku.”

“Halmeoni…”

“Maaf ya…” tambah Nenek, seraya membelai rambut Ji Ryeon, “Aku sudah menyusahkan kalian…”

“Nenek bicara apa?” jawab Ji Ryeon, “Nenek tidak menyusahkan kok!”

Tetapi Nenek hanya membalas dengan senyuman getirnya.

Naik ke kamarnya, Ji Ryeon membereskan baju-baju yang akan dipakai di Jinju ke dalam satu tas gandeng besar. Lalu ia turun untuk makan malam, setelah itu mandi dan berguling-guling di atas tempat tidur, memegang ponsel sambil berharap Jun Sang akan segera menelponnya, atau paling tidak mengirimkan sms padanya. Ji Ryeon terus menunggu hingga pukul 11 malam, tetapi ponselnya tetap diam di tempat. Baru pada pukul setengah 12, pesan masuk dan untunglah itu dari Jun Sang!

Jun Sang, kau sukses membuat Ji Ryeon penasaran.

Besok kutunggu, Mantan Wakil Ketua Kelas.

Belum sempat Ji Ryeon bersungut-sungut lebih lama, satu pesan lagi masuk.

Chae Ji Ryeon.

Nama itu terdengar indah kalau Jun Sang menyebutnya.


******


Sampai di stasiun, Ji Ryeon bertemu dengan Jun Sang yang lebih dulu tiba. Jun Sang bahkan membawakan tas ranselnya. Ji Ryeon berharap tasnya tidak terlalu berat bagi Jun Sang. Kemudian mereka naik kereta tujuan Jinju selama beberapa jam. Ji Ryeon suka naik kereta karena selama perjalanan ia bisa melihat sawah, dan kebetulan ia tidak terbiasa naik pesawat. Namun pemandangan serba hijau kali ini tidak ada artinya kalau di sampingnya ada Jun Sang. Meski mereka jarang sekali bicara, dan jika Jun Sang bertanya, “Kenapa?” “Ada apa?” “Kau baik-baik saja?”—Jun Sang mengira ia mabuk darat, Ji Ryeon langsung menggeleng dan berpaling melihat ke luar (ia duduk di samping jendela).

Untung keadaan ini tidak berlangsung lama karena Jun Sang akhirnya mengajak bicara—terutama sekali mengejeknya—sehingga Ji Ryeon bisa lebih santai. Saat lapar mereka akan makan kacang goreng dan telur rebus, tanpa disadari mereka sudah tiba di stasiun Jinju.

Beberapa belas menit naik taksi, sampailah ke rumah Bibi Ga In, rumah sederhana bertingkat satu, khas rumah-rumah desa di Korea, dengan meja besar (untuk duduk) di depannya dan gantungan jemuran, pagarnya juga tak begitu tinggi.

Ji Ryeon mengetuk pintu rumah itu, “Bibi…? Bibi?!”

Pintu terbuka, Ga In muncul dari dalam.“Ji Ryeon-ah!

“—Bibi… aku rindu…!” Ji Ryeon langsung memeluknya.

“Iya, iya… aku juga rindu padamu.” balasnya tenang.

“Bibi, kau sehat kan?! Aku bawa oleh-oleh dari Seoul lho!”

Tetapi Bibi malah terpaku menatap Jun Sang.

Annyeong haseyo,” sapa Jun Sang buru-buru, agak grogi seolah-olah Ga In adalah calon mertuanya.

“Ah—annyeong haseyo…”

Ji Ryeon memang sudah bilang akan membawa seorang teman, namun tak menyangka kalau ia merasa pernah melihat Jun Sang. Bukan dalam waktu dekat, namun sudah sangat lama…

“Oh… ini teman baikku dari kecil,” ujar Ji Ryeon.

“Yoon Jun Sang imnida,” kata Jun Sang.

“Yoon… Jun Sang…?” tanya Ga In, untuk memastikan apa ia salah dengar atau tidak, “Yoon…?”

Ye, Yoon Jun Sang,” ulang Jun Sang.

“Ahjumma…?” panggil Ji Ryeon, menggoyangkan bahu Bibi Ga In yang masih terdiam melihat Jun Sang. “Waeyo…?”

“—Ah… mari masuk!” ujar Ga In, “Tidak baik membiarkan tamu lama-lama di luar. Ayo masuk!”

Mereka duduk di ruang tamu sementara Ga In membuatkan teh. Ji Ryeon juga disuruh Ga In menemani Jun Sang. Tak banyak benda berharga di ruang tamunya. Hanya ada sofa yang tidak empuk lagi, meja, lemari yang isinya barang pecah belah, televisi kecil, kipas angin, kalender dan jam di dinding. Semuanya punya nilai historis yang tinggi namun tak cukup mahal jika dilelang.

Bagi sebagian besar orang yang biasa hidup senang, harus tinggal di tempat yang kondisinya jauh berbeda, barangkali adalah hal yang sulit. Tetapi menurut Jun Sang, Ji Ryeon cukup tahan melewati masalah seperti ini karena ia tahu kalau Ji Ryeon sama sepertinya, bukan tipe yang akan gila jika tak punya barang mewah.

“—Oh iya!” seru Ji Ryeon, “Jun Sang, kau nanti tidur di kamarku ya!”

Jun Sang nyaris saja bangun, meninju ke udara, dan berteriak “Yesss!!!!” tapi ia menahannya.

“—Aku akan tidur dengan Bibi.”

Untung ia tidak jadi berteriak…

Mendadak dari luar ada suara ribut-ribut yang mengarah ke tempat mereka, dan ada yang berteriak, serak dan melengking seperti penyanyi seriosa sedang sakit tenggorokan.

Uri Ji Ryeon sudah datang…?”

Tiga orang nenek gemuk masuk ke dalam ruang tamu, semuanya memakai celemek lusuh dan baju motif bunga warna-warni, dengan rambut putih semua dan disanggul. Bagi Jun Sang, Bibi Ga In terlihat lebih muda dan lebih rapi.

“Halmeoni!” seru Ji Ryeon.

“Ji Ryeon-ah!” seru mereka, “Aigoo… kau sudah pulang! Bawa oleh-oleh tidak?”

Hehehehe! Keurom!” kata Ji Ryeon, ia membuka tasnya, mengeluarkan tiga bungkusan plastik dan diserahkannya pada mereka. Jun Sang mengira isinya makanan atau obat, tapi setelah dibuka, ternyata adalah paket produk kecantikan milik perusahaan keluarga Chae, Chérir! Itu karena nenek-nenek di sana senang sekali dengan iklan compact powder Chérir yang dibintangi pemeran drama saeguk.

“—Aigoo… aigoo… siapa anak muda ini…?” tiba-tiba nenek yang memakai baju merah mendatangi Jun Sang amat penasaran.

Jun Sang berdiri, lalu menunduk padanya. Nenek itu nyengir centil, dua nenek lain pun ikut-ikutan melihat Jun Sang.

Aigoo…! Anak ini ganteng sekali…!” kata si nenek sambil menghentakkan kakinya.

“Halmeoni!”

“Nak, kau dari Seoul kan?” tanya mereka, “Orang kota ganteng-ganteng ya!”

Jun Sang cuma bisa nyengir saja. Baru kali ini ia menghadapi nenek yang tingkahnya seperti anak muda, beda dengan almarhumah neneknya yang tidak banyak bicara.

“Ji Ryeon-ah, dia pacarmu ya?” bisik nenek baju hijau.

“—Bukan!” balas Ji Ryeon malu, sehingga Jun Sang yang mendengarnya pun malu. “Cuma teman!”

“Ahhh… sudah pasti ‘ini’-mu kan?” nenek berbaju kelabu menekuk semua jari, kecuali jempolnya.

“Bukan kok!”

“Ji Ryeon-ah, nanti pijat punggungku ya?” pintanya.

“—Ahjumma!” teriak Bibi Ga In yang muncul dari dapur, membawa nampan berisi teko teh, cangkir, sepiring kue buatan sendiri, lalu meletakkannya ke meja, “Ji Ryeon kan baru sampai masa kau minta dia memijatmu?!”

“Kau ini cerewet sekali!” seru si nenek, “Ayo, ayo! Kita kembali saja!—Ji Ryeon-ah, terima kasih hadiahnya ya!”

Dalam sekejab saja trio nenek centil itu kembali ke rumah mereka.

“Nanti sore saja perginya, kalian istirahat saja dulu,” kata Ga In, “Maaf ya, di sini tidak ada apa-apa. Tapi di kota biasanya ada tempat hiburan, kalian bisa pergi ke sana.”

“Gwaenchanayo,” balas Jun Sang.

“—Ini sudah jam berapa? Oh, aku harus pergi.”

“Bibi mau kerja ya?” tanya Ji Ryeon ketika Bibi Ga In memakai jaket tebal, “Aku ikut ya?!”

Ya! Jangan meninggalkan tamu!” teriak Ga In, lalu pergi dari sana.

Ji Ryeon duduk patuh di samping Jun Sang, yang terdengar hanya bunyi tik-tok jam tua.

“—Jun Sang, kau capek?” tanya Ji Ryeon.

“Tidak.”

“Mau jalan-jalan?”

“Boleh.”

“—Ayo!”

syalalalalala~~~ part 17 akhirnya selesai~~~

sebetulnya ga pengen gw potong di sini, cuma berhubung baru selese sampe situ doang😄

Today’s Song:
Fly to the Sky ft. GUMMY – Let’s Love

Photo credit: Montmarttre@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 16, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. YupinaCheonsaHaniya

    Wah si zuyu pada nyanyi, seneng y??heee
    Adudh akhrny mereka beduaan euy,, pzt part 18 romantiizzzz…heee maunyaa…
    Ayo lanjudkannn…
    Ane penasaraannn…
    Heee
    Jun sang pengennya kaw idup beneraannn… ^^

  2. setuju sama yupina!! kalo jun sang idup beneran, kayak apa yaaaa???
    aduh, azuyu, kapan ni ff dibikin sinetronnya?? hehe

  3. Zuyu gw penasaran nie o kok tau istilah2 dalam dunia fashion sih..jangan2 lo perancang juga ya…hhehe

    kalo gw yang berduaan ama Jun Sang gw rela gak tidur semalaman..ngobrol terus ama dia..hehehe

  4. shining2min

    “… Kau… cantik kok…”

    Ji Ryeon menatap Jun Sang, tak percaya, matanya berbinar senang penuh harapan, “Jinjja…?”

    “Ya,” balas Jun Sang, ia sudah malu sekali, “…Sangat cantik.”

    “Gomawoyo!” Ji Ryeon melonjak kegirangan dan tanpa sadar melompat-lompat seperti anak TK. Ia baru saja tahu kalau Ri Na adalah ibunya Jun Sang, dan ternyata Ri Na menyukainya, kali ini Jun Sang memujinya cantik!

    “Aku suka rambutmu…” tambah Jun Sang, pipinya memerah. “…Panjang…”

    Love this part
    kayanya di part ini jun sang keliatan manis banget
    uh.. makin gemes sama jun sang

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: