[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 18)

Even if I can’t have you even if I can’t reach you
I’ll treasure you in a deep place in my heart
All my memories and the rancor living in my heart
Because you’re mine till the day I die

Jalan di depan rumah Bibi sempit, hanya bisa dilewati satu mobil saja. Rumah-rumah di sana juga berdekatan, tidak ada model minimalis, klasik atau gaya mediteranian—semua adalah rumah tua yang terbuat dari kayu.

“—Omo Ji Ryeon-ah!” seorang wanita tua, menenteng tas plastik, berjalan mendekat.

“Ahjumma!”

“Lama tidak ketemu, kau makin tinggi saja!” kata si wanita. “—Wah… tahun ini kau bawa pacar ya. Senangnya jadi anak muda!”

“Bukan, Bibi!”

“Ahh… maaf, maaf!” gumam si bibi, namun ekspresi wajahnya seperti tidak percaya. “Aku pergi dulu ya! Anakku sedang sakit! Sampai jumpa lagi!”

Beberapa belas meter ke depan, mereka bertemu dua wanita lain. Keduanya sedang bicara dan langsung diam begitu melihat Ji Ryeon dan Jun Sang lewat. Ji Ryeon mengucapkan salam sebentar dan kembali berjalan, dua wanita itu pun beralih topik menggosipkan Ji Ryeon. Di tikungan, sekelompok anak kecil bersepeda meneriaki “Ji Ryeon eonni!” dan “Ji Ryeon nuna!” yang dibalas Ji Ryeon dengan lambaian tangan penuh semangat.

“Di sini aku terkenal lho!” kata Ji Ryeon.

“Oh ya?” tanya Jun Sang.

Ji Ryeon mengangguk, “Dari anak kecil sampai kakek-kakek mengenalku—wah… papannya baru!”

Jun Sang baru sadar kalau mereka berhenti di depan sebuah restoran kecil. Ia menengok ke atas, dan geli membaca nama restorannya.

“Jinjja Jinju?” katanya separo tertawa.

Kacha!”

Ji Ryeon mengajak masuk, menempati meja di tengah restoran dan seorang perempuan menyambut mereka.

“Selamat datang!”

“Yu Ri-ya!

“Ji Ryeon-ah! teriak Yu Ri, memeluk Ji Ryeon dan melompat-lompat, cuek pada pelanggan lain. “Apa kabarmu?! Kau tidak berubah ya! Aku kangen loh!”

Dan seperti yang sudah diduga, Yu Ri juga melirik Jun Sang. Ia agak salah tingkah dan merapikan rambutnya sambil berdeham-deham minta dikenalkan.

“Eh… ini temanku.” kata Ji Ryeon.

Annyeong haseyo! Han Yu Ri imnida!” seru Yu Ri.

Annyeong haseyo, Yoon Jun Sang imnida.”

Yu Ri masih nyengir-nyengir di depan Jun Sang. Ji Ryeon kesal dan mendelik sambil menyenggol-nyenggol kakinya, namun Yu Ri tak peduli.

“—Ahjussi!

“Ji Ryeon-ah!” seru pemilik warung, yang kepalanya nongol dari dalam dapur gara-gara teriakan Yu Ri, memutuskan untuk menghampiri bekas anak buahnya, “Kapan kau pulang?”

“Baru saja.”

Pemilik warung ini juga senyam-senyum pada Jun Sang, tetapi ia bertindak lebih bijak, “Kalian ke sini pasti lapar kan? Akan kubuatkan bibimbap paling enak! Ayo kerja, kerja! Yu Ri-ya, kerja!”

“Dulu aku kerja di sini,” kata Ji Ryeon. “Ahjussi yang punya warung ini, aku dan Yu Ri termasuk pelayannya. Aku juga kerja di butik itu loh—” Ji Ryeon menunjuk butik kecil di seberang, “—dan juga jadi pengantar koran.”

Ya, kenapa banyak sekali pekerjaanmu?”

“Aku kan tidak mungkin sepenuhnya bergantung pada Bibi,” balasnya, “Gaji Bibi tidak seberapa, apalagi banyak kebutuhan yang harus kami penuhi. Kalau dipikir-pikir, Bibi yang paling susah karena harus menjagaku. Aku kasihan padanya…”

Jun Sang masih terpaku, siapa sangka Ji Ryeon yang di matanya adalah cewek lemah yang sering sakit dan sering jatuh sendiri ternyata bisa kuat kerja dari pagi sampai sore.

“Lagipula, kalau aku tidak kerja, nanti aku jadi anak manja yang tidak tahu malu,” sambung Ji Ryeon, “Apa ada orang yang suka anak seperti itu? Hehehe.”

“—Mana?”

“—Katanya dia ada di sini?”

“—Tadi ibuku bilang dia masuk ke sini kok—Ji Ryeon-ah!

Kali ini, bahkan jumlahnya lebih besar—10 orang masuk ke Jinjja Jinju hanya untuk menemui Ji Ryeon.

Omo—Ji Ryeon kau sudah pulang!”

“Chingudeul!” Ji Ryeon berdiri, menyambut kesepuluh temannya dan mereka berpelukan sembarangan sampai menyenggol-nyenggol.

“Astaga kau kok kurusan sih?!”

“—Kami dengar kau bawa pulang suami, ini ya?”

“Mwo?!” seru Ji Ryeon.

“—Kau masih muda tapi hebat juga—“

“—Annyeong haseyo!” mereka memberi salam pada Jun Sang.

Ya, suami apaan?! Dia temanku tahu!”

“Lho, bukannya kalian sudah kawin?”

“—Pacaran saja tidak!” balas Ji Ryeon. Ia tidak menyangka gosipnya akan separah ini.

“Jadi tidak benar dong?”

“Jelas salah!”

Jun Sang menelan ludah, hatinya seperti ditimpa batu.

“Ohhhhh… begitu ya, ahahahahah…”

Semuanya mencari cara duduk dekat Jun Sang, bertanya macam-macam padanya. Jun Sang merasa bagaikan satwa di kebun binatang. Sementara itu Ji Ryeon menganggap Jun Sang sudah bisa ditinggal dengan teman-temannya, ia masuk ke dalam dapur membantu Yu Ri.

“—Ahjussi, punya Jun Sang biar aku yang buat,” katanya, mengambil alih tumisan tahu dan mengiris-iris zucchini dengan semangat.

“Eh, Ji Ryeon,” panggil Yu Ri. “Sebenarnya siapa cowok itu? Pacarmu kan?”

“Temanku,” jawab Ji Ryeon santai.

“Mana mungkin cuma teman kalau kau berani membawanya ke sini.”

“Dia yang ingin ikut,” balas Ji Ryeon, “Kami sudah bersahabat sejak TK. Sudah seperti saudara sendiri.”

“Hah!” seru Yu Ri tak percaya, “Seperti saudara sendiri? Yang benar saja… ya, memangnya aku tidak tahu bagaimana caramu memandangnya?”

“M—mwo…?”

“Kau menatapnya seperti tidak pernah melihat manusia setelah sepuluh tahun terdampar di pulau terpencil dan mulai ngobrol dengan pohon kelapa!”

“Teman ya teman, pacar ya pacar!” balasnya sambil menyusun-nyusun sayur dalam mangkuk.

“Tapi teman bisa jadi kekasih kan?”

“Mana mungkin begitu…”

Ji Ryeon menatap Jun Sang dari dalam, yang sekarang duduk sendirian karena pemilik restoran sudah mengusir teman-temannya.

“—Kalau begitu boleh dong dia kuincar.”

“—Apa?” tanya Ji Ryeon kaget, “Yu Ri, pacarmu kau ke manakan?”

“Cih… banci seperti dia mending ke laut saja…” hina Yu Ri, “Bagaimana? Boleh kan?”

“T—tapi…” ia menggigit-gigit bibirnya dengan cemas.

“—Kau tidak rela?”

“A—apa yang akan kau lakukan?” tanya Ji Ryeon penasaran. “Jun Sang bukan orang yang gampang dirayu tahu!”

“Cih… aku coba ya.”

Ji Ryeon menarik lengan Yu Ri, mencegahnya keluar dapur, “—Yu Ri-ya…! Jangan…!”

“—Apa kubilang!” teriak Yu Ri. “Kau pikir bisa menyembunyikannya dariku?”

Ji Ryeon melepas Yu Ri ragu-ragu.

“Habisnya…”

Yu Ri memandang Ji Ryeon, menunjuk mangkuk bibimbap yang sudah selesai dikerjakan Ji Ryeon, “Ka! Bawa ini ke tempatnya!”

“Hehehe…” Ji Ryeon nyengir lebar, untunglah Yu Ri batal menggoda Jun Sang, “Gomawo!”

Ji Ryeon membawakan nampan itu ke meja mereka, meletakkannya ke depan Jun Sang, ia sendiri duduk di seberang. Jun Sang mengaduknya, lalu memakannya.

“Enak,” kata Jun Sang.

“Jeongmal?”

Jun Sang mengangguk.

“Itu aku yang buat lho!”

“Bukannya kau cuma bisa merusak?”

“Di sini aku belajar banyak!” Ji Ryeon membela diri, “Aku tidak hanya bisa bikin ini, tapi semua makanan Korea, aku jago lho!”

“Benarkah?”

“Betul!” jawabnya pede.

“Kalau begitu, lain kali harus buatkan makan untukku ya,” ujar Jun Sang.

“Ye!” serunya, “Aku akan buatkan naengmyeon paling enak untukmu!”

Jun Sang terdiam lagi. Bahkan anak di depannya ini masih ingat makanan kesukannya.

“…Kau… masih suka naengmyeon kan…?”

“Oh… ya,” katanya, “Suka. Suka sekali…”


******


Jun Sang berbaring di kasur lipat Ji Ryeon, dalam kamar yang ditempati Ji Ryeon selama 4 tahun. Kamar yang kecil dan tidak banyak barang, hanya lemari baju dan meja belajar. Yang berharga bagi Ji Ryeon dibawa ke rumah Chae saat ia pindah.

Ia tidak bisa tidur. Makan malam tadi memang sangat enak dan menyenangkan. Namun Bibi Ga In sepertinya waspada terhadapnya. Meski Jun Sang pura-pura tidak sadar, Bibi Ga In kerap memperhatikannya dengan tatapan serius, seperti sedang menimbang-nimbang apa ia cukup baik untuk Ji Ryeon. Kalau ia melihat, Bibi Ga In akan beralih ke Ji Ryeon yang duduk di sampingnya.

Apa ada sesuatu yang aneh padanya? Atau Bibi Ga In hanya penasaran saja? Atau hanya perasaannya saja?

Namun instingnya cukup tajam. Belum lagi jika Jun Sang bicara pada Ga In, ia seperti orang yang kehilangan ingatan sebentar sebelum akhirnya bisa menjawab pertanyaan Jun Sang dengan cukup baik walau kadang suka terbata-bata. Ga In juga hobi menghindari Jun Sang. Ia jadi merasa tidak enak.

Ah… daripada memikirkan soal itu, Jun Sang memutuskan untuk bangun, dan iseng mencari-cari apapun yang bisa menyembuhkan kebosanannya dalam laci meja belajar Ji Ryeon. Dibukanya sebuah buku tulis bekas (Matematika, kelas 3 SMP) dan memeriksa hasil pekerjaan Ji Ryeon. Jawabannya betul semua dari halaman pertama hingga akhir, dengan tulisan yang kecil-kecil dan rapi. Jun Sang akan memeriksa hasil pr Ji Ryeon sampai merasa ngantuk.

Sekarang sudah pukul 10 malam.

“Ji Ryeon-ah…” panggil Bibi yang berbaring di sampingnya.

“Ng?”

“Anak itu, siapa namanya…?”

“Oh… namanya Yoon Jun Sang, Bibi.”

“Yoo… Jun Sang…?”

“Yoon, Yoon-Jun-Sang,” ulang Ji Ryeon, menekankan tiap katanya.

“Oh… Yoon Jun Sang ya…” balasnya setenang mungkin, “Apa dia dari keluarga Yoon pemilik Daeyoon Group?”

“Kalau tidak salah sih orangtuanya memang punya perusahaan,” balas Ji Ryeon, “Yang aku tahu, ibunya. Nama ibunya Jang Ri Na, dia desainer kesukaanku lho, Bibi!”

Seakan-akan petir mendadak masuk ke telinga Ga In, rasa-rasanya ia akan kena serangan jantung.

“…Kau yakin?”

Ji Ryeon mengangguk, “Kemarin aku sudah pernah bertemu ibunya. Orangnya baik sekali! Hehehe…”

Ia menjelaskan lagi dengan penuh senyum. “Kami sudah bersahabat dari kecil. Rupanya bertemu lagi waktu SMA… kebetulan sekali kan…?”

“Ya…” kata Ga In, “Sangat kebetulan… besok aku harus kerja pagi. Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Happy reading^^ jangan lupa komen ya^^

Today’s Song:
Fly to the Sky – 가질 수 없어도

Photo credit: Montmarttre@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 18, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. YupinaCheonsaHaniya

    Omonaaa….
    Kapan bisa beduaaannnnn..
    Kasiaaannn jun sang ane kaga bisa romantisan ma ane (ji ryeon), hohohoho….

    Ayo zuy,, semangaddd…
    Besok lg yaaa…
    Haaa mau gw,,,kekekekekekekkk

  2. akhirnyaaa part 18!
    lanjuuuuttt…

  3. Gila makin penasaran apa sih hubungan antara ibu JiRyeon-Ibu Jun Sang-and bokap 2 mereka..Zuyu jangan buat makin penasaran dong..

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: