[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 19)

There were nights when the wind was so cold
That my body froze in bed
If I just listened to it
Right outside the window

There were days when the sun was so cruel
That all the tears turned to dust
And I just knew my eyes were
Drying up forever

Jun Sang menyewa taksi untuk membawa mereka ke makam Eun Yeong, karena jaraknya cukup jauh dari rumah. Taksi itu menunggu di bawah tangga yang mengarah menuju bukit, sementara Jun Sang, Ji Ryeon dan Bibi Ga In berjalan kaki ke atas. Sampai di sana, Jun Sang tercekat memandang makam yang benar-benar ada. Ia tidak bisa tidak kaget meski sudah lama tahu ibu Ji Ryeon sudah lama meninggal.

Mereka membersihkan makam, mencabut tanaman liar dan memotong rumput yang memanjang, lalu meletakkan sajian berupa kue, apel, dan juga sebuket bunga di atas pusara.

Ketiganya berdoa di depan makam. Setelah itu Ga In dan Jun Sang mundur membiarkan Ji Ryeon.

“Ibu… apa kabar…?” katanya, meski si Ibu tak akan pernah bisa menjawab, “Di sini… dingin ya, Ibu? Ibu jangan marah aku baru bisa datang hari ini…”

“Tahun ini aku kuliah di kampus yang sangat bagus. Ibu senang kan…? Nanti kalau aku sudah punya pekerjaan tetap, aku akan mengubah lahan ini supaya jadi lebih indah… Aku akan membuatkan tempat yang bagus dan lebih hangat untukmu saat musim dingin, dan teduh kalau musim panas tiba, aku akan menanam banyak bunga lily kesukaanmu di sini, tapi tidak bisa sekarang. Ibu sabar ya…”

Ji Ryeon nyengir, tapi airmata turun ke pipinya. Bagi Ji Ryeon, ibunya adalah seorang Cinderella.

Bibi Ga In dan Jun Sang hening.

“Oh iya, aku bawa Jun Sang, lho! Kami akrab lagi—“

Jun Sang, yang tak melewatkan tiap kata yang diucapkan Ji Ryeon, tersenyum mendengarnya.

“Dia sudah dewasa, lebih tinggi dariku juga jauh lebih tinggi dari Ibu. Dia juga tampan, aku suka sekali padanya…”

Ji Ryeon melanjutkan kalimatnya dengan sedikit tersendat-sendat. Hidungnya tersumbat sehingga suaranya jadi sengau.

“…D—dia… ke sini untuk menemuimu. Jun Sang sangat baik padaku, dan aku tetaplah anak yang nakal. Ibu sangat menyukai Jun Sang sampai membuatku cemburu dan kesal. Kalau—Ibu sekarang melihat Jun Sang… pasti Ibu akan jatuh cinta dan kita akan bersaing memperebutkannya…”

Ji Ryeon nampaknya sudah tidak sadar lagi kalau ini bukanlah sesi curhat dengan sang ibu.

“Nenek sedang sakit jadi tidak bisa datang, tapi tahun depan beliau akan ke sini. Nenek—minta maaf padamu. Ibu maafkan Nenek ya? Dulu aku memandang sebelah mata, aku nyaris membencinya karena tak peduli pada kita. Tapi ternyata Nenek orang yang baik… setelah dua tahun tinggal dengannya, aku sadar kalau aku salah sangka… anak seperti aku, tahu apa soal masalah orang tua…”

Angin berhembus membekukan tulang. Hanya ada suara daun di hutan yang seperti ombak dipecah karang. Keadaan ini berlangsung lama, tidak ada yang yakin kalau mereka harus pulang saat itu juga.

Bibi Ga In bergerak mundur, berniat menyerahkan Ji Ryeon pada Jun Sung. Namun sebelum bangkit, Ji Ryeon memandangnya dan sudah tidak menangis lagi. Ia hanya tersenyum getir.

Mereka turun tanpa bicara apapun. Sampai di bawah, Bibi sendirian naik taksi ke tempat kerjanya (pabrik tahu) sementara Jun Sang dan Ji Ryeon memilih berjalan kaki pelan-pelan. Cukup lama juga mereka memilih diam, tapi suasana hati Ji Ryeon jauh lebih baik, dan kejadian biasa terulang lagi, saling nyengir tak jelas jika tidak sengaja bertemu pandang.

“Terima kasih.”

“Ng…?”

“Terima kasih,” ulang Ji Ryeon, “Kau mau datang ke sini…”

Jun Sang mengelus-elus kepala Ji Ryeon, “Bodoh. Soal itu tidak usah bilang terima kasih.”

“Hehehe…”

Jun Sang nyengir, menggandeng tangannya di bawah langit biru yang masih hangat.


******


Jun Sang lebih antusias membawa Ji Ryeon pergi jalan-jalan, supaya Ji Ryeon bisa melupakan kesedihannya. Jun Sang sekarang selalu ceria; memboncengi Ji Ryeon keliling kampung dengan skuter sewaan, membeli makanan ringan di pinggir jalan dan main dengan anak-anak SD teman Ji Ryeon di taman. Ia bersyukur mereka tidak mengalami masalah apapun, bertengkar pun sudah tidak pernah lagi.

Usai makan siang di rumah, Jun Sang mengantarnya pergi ke Jinjja Jinju sementara ia sendiri akan mengembalikan skuternya ke tempat penyewaan.

Restoran sedang sepi pelanggan sehingga Ji Ryeon bisa ngobrol bebas dengan Yu Ri sembari membantunya mengupas sayuran untuk persediaan. Mereka punya waktu banyak karena konsumen sudah banyak yang pulang dan ini sudah lewat jam makan siang.

“Kapan kau akan bilang?”

“Apa?”

“Padanya,” balas Yu Ri enteng, “Kau menyukainya kan? Tidak punya niat?”

“Apa harus aku yang bilang?”

“Kalau tidak begitu kau mana bisa maju?” ucap Yu Ri tegas. “Aku saja, aku duluan yang menembak pacarku.”

“Tapi kau mengatai pacarmu banci kan?”

“Cih memang seperti banci begitu.”

“Bagaimana kalau ternyata dia hanya menganggapku temannya? Aku bisa kehilangan muka!”

Ya, simpan saja mukamu dulu supaya tidak hilang. Baru kalau kau ditolak, kau bisa pakai mukamu lagi—bodoh.” kata Yu Ri, “Ngomong-ngomong mana cowokmu?”

“Bukan cowokku!” balas Ji Ryeon, “Kami cuma teman—”

“—Apalah.”

“Dia pergi kembalikan skuter yang kami sewa,” kata Ji Ryeon. “Tapi kok lama sekali…” jam dinding menunjukkan pukul 3.15 sore.

Jun Sang belum mengembalikan skuter itu. Ia kembali singgah ke makam ibu Ji Ryeon. Kini Jun Sang sudah tiba di sana dan memberi penghormatan sekali lagi. Kepada wanita yang dianggapnya seperti ibu sendiri. Bukannya ia menganaktirikan Ri Na yang menyayanginya dengan cara berbeda, namun dalam pandangannya, Eun Yeong adalah ibu sejati, wanita biasa yang memiliki kekuatan menanggung beban, rasa malu dan sakit hati. Tentu, merawat seorang anak tanpa ayah dan menahan gunjingan orang bukanlah hal mudah.

Jun Sang berdiri di depan makam Eun Yeong, salah tingkah, tak tahu harus bersikap bagaimana. Ingin mengucapkan uneg-uneg saja susahnya minta ampun.

“Aku tidak menyangka kau bisa pergi secepat ini…”

“Kau… bahkan tidak mengatakan apapun padaku. Kukira, aku masih bisa menemuimu sebagai laki-laki yang lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab.”

Ia menarik nafas, lalu menghelanya pelan-pelan. Sekali lagi, pelan. Agar ia tidak mengucapkan kata-kata yang keterlaluan pada orang yang sudah tiada.

“Sudahlah…” katanya. “Yang penting kau bisa tenang di sana. Tidak perlu cemas karena aku yang akan menjaga anakmu. Apapun masalah yang dihadapinya, aku yang akan menolongnya… walau kau tidak minta sekalipun…” Jun Sang menambahkan dengan malu, “…Dia… anak yang baik… Chae Ji Ryeon… aku tidak bisa tidak memperhatikan dirinya—aku ini ngomong apa sih, dasar idiot.”

Jun Sang menelan ludah beberapa kali, memegang kepalanya cemas, bersilang tangan, lalu berdiri normal kembali dengan kedua jemari tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Rasanya sangat sulit mengucapkannya, bukan karena tidak yakin bisa menepati janji, hanya saja ia gugup, layaknya apa yang dirasakan seorang lelaki yang melamar anak gadis orang.

“Eun Yeong-ah… beberapa tahun lagi…” gumamnya malu, “Aku… pasti akan memanggilmu jangmonim…”



“Jangmonim…”



“Aku tidak bercanda…” balas Jun Sang, “Kau jangan tertawa mendengarnya. Aku benar-benar ingin bersamanya. Bahkan…”

“—Bahkan jika dia tidak membutuhkan aku lagi… aku ingin terus bisa membuatnya bahagia…” sambungnya.

Jun Sang menunduk pada Eun Yeong, menegakkan wajahnya, memandang makam itu sambil berharap Eun Yeong tidak akan marah dan menyetujui keinginannya. Lalu ia kembali menjemput Ji Ryeon ke Jinjja Jinju, dengan hati lega.

“Kau habis ke mana?” tanya Ji Ryeon. “Kenapa lama sekali?”

Jun Sang tersenyum. “Rahasia.”

“Cih… pakai rahasia-rahasiaan segala.”

“Hahaha.”

Ia tidak akan memberitahu soal yang tadi sampai benar-benar bisa memanggil Eun Yeong dengan sebutan jangmonim.


******


Kembali malam, namun cuaca tidak sedingin malam sebelumnya.

Ji Ryeon yang membuatkan semua hidangan karena Bibi Ga In masih di rumah sakit mengantar teman kerjanya yang jatuh dari tangga.

Jun Sang ikut membantunya masak, membuat Ji Ryeon malu karena sebagian besar tugas Jun Sang yang lakukan. Memotong ikan saja Ji Ryeon grogi sampai darah ikannya muncrat ke baju Jun Sang. Setelah itu mereka cuci piring bareng, nonton TV (drama tentang perselingkuhan) sampai Bibi Ga In pulang. Bibi Ga In langsung tidur, dan tidak lagi memandang Jun Sang seperti melihat hantu.

Pukul sebelas keduanya tidur di kamar masing-masing. Jun Sang bangun empat puluh menit kemudian, tenggorokannya kering. Ia menuju dapur dan mengambil segelas air, namun mendengar ada suara dari depan, dan ada yang baru saja keluar rumah.

Jun Sang mengikutinya, bahkan sampai naik ke tangga yang terhubung ke atap. Di atas sana, Jun Sang melihat Ji Ryeon, yang mulanya duduk termenung dan menyadari kehadirannya.

“Jun Sang—” katanya kaget. “Kenapa ke sini?”

“Kupikir kau pencuri,” balas Jun Sang ikut duduk di sampingnya. “Kau tidak tidur?”

“Tidak bisa tidur,” jawab Ji Ryeon.

“Apa ini kebiasaanmu?”

“Hehehe… aku sudah lama tidak naik ke sini,” jawabnya, “Sebelum meninggal, Ibu suka menatap langit.”

Ji Ryeon menoleh ke atas, langit yang sama yang pernah dipandangi ibunya. Tak ada bintang yang kelihatan di sana, bulan juga tidak ada. Hanya warna biru kelam.

“Sampai sekarang, aku tidak tahu apa maksudnya. Apa Ibu melihat awan? Melihat bintang…? Melihat bulan…?” ucapnya, “…Atau… meratapi nasibnya, karena menyesal telah melahirkanku…?”

Ya! kenapa bicara begitu?” seru Jun Sang marah.

“Habisnya… aku kepikiran…” ujar Ji Ryeon, “Apa Ibu tidak pernah malu punya aku tapi tidak punya suami. Pasti ada kan?”

Jun Sang tak menjawabnya, namun Ji Ryeon juga tak butuh jawaban. Tiap orang punya malu, sekecil apapun.

“Aku pernah bertanya pada Ibu tentang ayahku, tapi tidak pernah mendapat jawaban karena Ibu pasti akan langsung menangis, kutanya kenapa, Ibu hanya menggeleng. Aku tidak lagi mempermasalahkan siapa ayahku. Kalau menurutnya aku akan lebih bahagia seperti ini, aku akan menuruti kemauannya.”

Ji Ryeon melanjutkan kenangannya, “Tadi, aku bermimpi. Ibu datang memelukku… aku tidur di pangkuannya dan Ibu mengelus rambutku… dia hangat sekali…” Ji Ryeon memangku wajahnya ke lutut, dan bicara dengan suara sengau, “Saat bangun, aku menyesal kenapa mimpi itu cepat berakhir. Aku rindu padanya…”

Ji Ryeon menghela nafas, airmatanya turun begitu saja. Banyak yang ingin diceritakannya pada Jun Sang soal hidupnya.

“Di malam kita terakhir kali bertemu, Ibu memutuskan pindah ke sini. Aku sendiri bingung karena kejadiannya begitu cepat.” Ia mengelap kedua pipinya, mencoba terlihat tegar meski gagal total. “Dua minggu Ibu bertahan, setiap malam aku tidur bersamanya. Tapi di pagi terakhir, Ibu sudah meninggal…”

“Kalau saja malam itu aku tidak tidur, kalau malam itu aku tahu Ibu akan meninggalkan aku… ”

Hanya ada suara jangkrik yang terdengar di sana, dan lampu jalan yang sinarnya cukupan saja.

“Aku sendirian… Kau tidak bersamaku, aku sangat takut…” sambung Ji Ryeon, “Kurasa memang sudah saatnya Ibu pergi. Supaya aku jadi anak yang mandiri dan tidak tergantung pada orang lain… Tapi aku pindah bukan karena kemauanku… Jun Sang… aku benar-benar tidak tahu soal ini. Sungguh!”

Jun Sang iba dan mengelap airmata di pipi Ji Ryeon.

“Gwaenchanayo,” sela Ji Ryeon. “Seharusnya aku tidak boleh menangis seperti itu, memalukan sekali…”

“Tidak ada hal yang memalukan dari dirimu,” balas Jun Sang. “Yang namanya orangtua mana pernah merasa direpotkan oleh anaknya sendiri.”

“Jinjja?”

Jun Sang mengangguk. “Kau adalah anak paling baik yang pernah kutemui. Ibumu sangat sayang padamu. Kalian adalah ibu dan anak yang membuat orang iri.”

Jun Sang berhasil membuat Ji Ryeon tersenyum sekali lagi.



“Maaf.”



Ji Ryeon termangu menatapnya.

“Maaf,” kata Jun Sang. “Aku pengecut… aku sudah memperlakukanku dengan buruk sewaktu kau kembali ke Seoul.”

“…Enam tahun lalu… saat pergi ke rumahmu, pagarnya sudah dikunci. Kupanggil tidak ada yang menjawab. Kutelpon juga tidak diangkat… Selama berhari-hari aku terus seperti itu… Aku juga pergi ke rumah sakit, katanya ibumu sudah tidak dirawat di sana lagi,” jelas Jun Sang, “Bahkan aku tidak tahu ke mana kau pindah. Sedikitpun tidak ada kabar. Berbulan-bulan sampai aku masuk SMP, aku tidak tahu apapun…”

Jun Sang tidak memberi peluang bagi Ji Ryeon untuk bicara, ia mau Ji Ryeon mendengar semua yang ingin diucapkannya.

“Aku tidak pernah dan tidak akan pernah membencimu,” katanya, “Sedikitpun tidak ada rasa benci padamu… hanya… aku hanya kesal, kau tidak mengatakan apa-apa padaku.”

“—Aku tidak bermaksud seperti itu—” kata Ji Ryeon.

“Aku tahu,” jawab Jun Sang menenangkannya, “Aku sempat tidak sadar kalau sikapku selama ini ternyata begitu egois… kau.. yang paling tidak ingin kubuat menangis, tapi aku justru malah membuatmu menangis… tiap kali ingin bicara padamu, kalimat yang keluar selalu menyakitimu…”

“Aku tidak mau mengganggap baru berteman denganmu, jadi jangan lupakan masa lalu kita. Maaf kalau kau jadi sedih gara-gara aku…”

Ji Ryeon masih tak menyangka akan ucapan Jun Sang, ia mengucek-ucek matanya supaya bisa melihat Jun Sang lebih jelas. Tapi sosok Jun Sang sudah sangat jelas di sampingnya, sorot matanya yang tajam berubah lebih lembut.

“Ya…” tegur Jun Sang, menanggapi Ji Ryeon yang hanya bisa bengong. “Kau dengar kan?”

“Ng…?”

“Maafkan aku ya?”

Ini bukan halusinasinya.

Ini nyata. Saking nyatanya Ji Ryeon sampai tidak bisa bicara dan hanya mampu menunjukkan ekspresi seperti orang bodoh. Si rakyat jelata yang lamban ini sekarang sedang mendengar permintaan maaf dari rajanya…

Ya, jangan nangis,” ujar Jun Sang, menghapus airmata yang turun lagi dari pelupuknya. “…Sudah… jangan nangis. Aku kan tidak memarahimu…”

Ji Ryeon mengangguk lemah. Dengan begitu saja Jun Sang sudah lega.

“Maaf ya…?” Jun Sang memohon.

Ji Ryeon mengangguk kembali, kali ini lebih kuat dan lebih pasti. Wajahnya ia tegakkan, dengan senyum secerah matahari di musim panas. Jun Sang merangkulnya, menyandarkan Ji Ryeon ke bahunya agar lebih tenang.

Ji Ryeon tidak melupakan masa lalunya. Sedikitpun tidak. Hanya berusaha tidak mengungkit-ungkitnya karena tak mau Jun Sang salah paham. Kini Ji Ryeon tidak perlu cemas lagi. Jun Sang sudah kembali…


******


Nenek gelisah dalam tidurnya. Ia tidak bisa betul-betul terlelap. Cahaya hanya berasal dari lampu taman serta celah di bawah pintu. Tak ada bayangan orang lewat dari koridor namun ia mendengar ada yang memanggilnya. Suara itu awalnya berbisik, suara perempuan yang pelan, namun makin lama makin jelas. Nenek merinding mendengarnya mengucapkan “Ibu” berkali-kali. Mungkinkah itu hantu?

Nenek tak bisa bergerak bangun, malam ini ia terlalu lemah. Mungkin si hantu itu berniat menampakkan diri, menakut-nakutinya dengan rambut terurai panjang dan darah di pakaiannya. Pasrah saja. Toh ia sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk dibandingkan bertemu hantu.



“Ibu…”



Dari dalam kegelapan, sesosok tubuh muncul. Hanya tubuh yang berbalut pakaian putih tanpa darah, tidak seburuk bayangannya. Tetapi makin mendekat, Nenek mampu melihat wajah sosok itu, wajah yang cantik dan tidak pucat, serta rambut panjang yang mirip dengan cucunya, Ji Ryeon. Ia langsung mengenali kalau yang memanggilnya dari tadi ternyata adalah anaknya sendiri.



“Ibu…”




“Ibu…”



“Eun Yeong-ah…”

“Ya… Ibu…”



“Apa kau hantu?” tanya Nenek.

Eun Yeong tidak meresponnya. Bibirnya tersenyum manis, seperti manusia normal.

“Aku akhirnya bisa bertemu lagi denganmu…” kata Nenek, menghela nafas walau yang dilihatnya sekarang harusnya bisa membuat orang lain ketakutan, “Putrimu, baik-baik saja… Dia sudah tumbuh dewasa. Kulihat dia begitu mirip denganmu…”



“Ibu… ikutlah denganku… kita akan bertemu Ayah… dan Shin Yeong oppa… mereka menunggumu… ”



“Benarkah…?” tanya Nenek senang bercampur terharu, “Kau sudah bertemu ayahmu? Kalian sudah baikan kan?”



“Ayo Ibu… Ayah sebentar lagi akan menemuimu… kita akan berkumpul kembali seperti dulu… kita, adalah keluarga bahagia… tidak ada yang akan mengganggu kita…”



“Syukurlah… aku rindu pada kalian…”



“Ibu…”



“Ah… terima kasih sudah mengajakku. Terima kasih…”

Nenek menutup mata, dan tak pernah bangun dari tidurnya lagi…

Akhirnya part 19 bertelor juga =..= maaf ya kalo ada yg nunggu ini ff lama kelarnya hiks… baca terus ya🙂

yang baca tapi ngga komen, ayooo jangan jadi silent reader🙂 gw butuh saran dan masukan juga neh ^^

Today’s Songs:
Celine Dion – It’s All Coming Back to Me Now
Celine Dion – I Drove All Night

Photo credit: Montmarttre@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 23, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. YupinaCheonsaHaniya

    Zuyu,,
    Ne part seddih banged ya…
    TT
    Usaha keraz banged ne mikirnyaa,,heee
    Tp tetep semangad yee…

    O iya,,
    Ad ka pengenalan tentang begimana kakeknya si ji ryeon???heee

  2. di satu sisi gw seneng yg banyak di ceritain Jun Sang sama Ji Ryeong… tapi di sisi lain gw mau kenyataan tentang hubungan keluarga Yoon dan Chae juga cepet terkuak… ayo kasih lebih banyak hint tentang hubungan kedua keluarga ini!!! *pembaca yg kebanyakan maunya* ;P

  3. YupinaCheonsaHaniya

    Dr td kaga mau komeng =_=
    Lgsg aj deh..
    Zuy, wktu jun sang maji ryeon ne pulkam,
    Yg laen pd liburan ke villa kan…
    Diceritain gak tuh??hee
    Kali aj hanna ma dong il ad apanyaa gitu,,heee

  4. iyaaaaaa!!! penasaran tuh ama mereka berdua!
    aduh, part yang ini sedih. kasian banget si ji ryeon, neneknya meninggal, dianya gak ada disebelahnya. ckckckk..
    semangat terus onn! part berikutnya ditunggu banget!

  5. part yg nie udh seneng mrka bisa brduaan~
    tpi ujung.y ji ryeon psti sedih gra2 nenek pulkam kgk blg2……………T_T
    lanjjooooooodddddd~
    jgn lama2 ya neng….. ;D

  6. wah baru sempet baca..part yang menyedihkan ampe berkaca2 gw bacanya..neneknya meninggal ya berarti penderitaan Ji Ryeon kayaknya mau dimulai nie…untung Jun Sang dah baik ama dia so ada yang nglindungi….

  7. @chika n lovemoon
    makasi byk udah meluangkan waktu buat baca (_ _)

  8. anyeong ! ^^
    aku baru baca sampai ending chapter 5 ini, sejak baca awal chapter 3 aku bilang this is good soalnya chapter 2 cukup membosankan menurutku (mian~).

    aku ga tau ini perasaan aku aja apa ngga tapi part2 awal dan makin ke sini kayaknya ceritanya makin pendek ya? apa gara2 aku bosan sama chapter 2 makanya aku bilang part2 awal itu panjang, ya aku ga tau, aku hanya mau share aja.🙂

    dan ada beberapa kata yang salah ketik, tapi ga merusak sih.
    but overall, i enjoy your ff. watching the next one😀

    oiya, kata makam di kalimat pertama part ini ketikannya jadi makan :]

    last, lanjutkan sampai 48! saya akan dengan senang hati membacanya.

    • kritik dan sarannya kutampung. ceritanya pasaran tapi makasih udah tahan baca sampai sini ya ^^

      pada awal bab memang membosankan (aku sendiri menyadarinya) yang harusnya kuhindari karena kesan pertama lebih sering menentukan apakah pembaca mau lanjut atau tidak. dan benar, makin ke belakang emang sedikit, satu babnya dibagi jadi lebih banyak bagian karena aku juga sering kehabisan ide ~_~

      mungkin 2 bab pertama bakal kupangkas kalau ada waktu.

      sekali lagi makasih \(^o^)/

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: