[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 20)

It can’t be if it’s not you
I can’t be without you
It’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
It’s fine even if my heart’s hurts
Yes because i’m just in love with you

Hanya dua tahun Ji Ryeon tinggal bersama neneknya. Hanya sesingkat itu.

Pagi tadi Ji Ryeon mendapat telpon dari Geum Ga, maka cepat-cepat mereka memesan tiket pesawat untuk pulang ke Seoul bersama Bibi Ga In. Nam Hee juga begitu, ia baru saja sehari ada di Jeju dan balik lagi karena berita ini. Di rumah, pelayan terlihat sibuk mempersiapkan upacara pemakaman. Geum Ga menyuruh Ji Ryeon menenangkan Nam Hee yang tidak berhenti menangis, tetapi Nam Hee mengusirnya.

“Urus saja urusanmu sendiri!” teriaknya sengau dari dalam kamar.

Nenek dimakamkan di hari ketiga, di kompleks pemakaman keluarga Chae yang pernah mereka datangi dulu. Sebuah liang kubur digali di samping makam Kakek. Prosesi ini diiringi isak tangis Nam Hee yang tak berhenti ketika menabur bunga ke atas gundukan tanah yang masih baru itu. Matanya membengkak sebesar bola tenis.

Di antara pelayat, Ji Ryeon mampu mengenali tamu-tamu yang pernah datang ke acara peluncuran produk baru Cherir, rekan kerja Nenek, kepala sekolah Han Jeong beserta para guru, teman-temannya, Seung Wan, Jun Sang dan ibunya…

Menurut pandangan para pelayat, Ji Ryeon lah yang paling tabah. Namun banyak yang mengira ia tak begitu mempedulikan kematian neneknya.

“Dia kan belum lama tinggal di sini. Wajar dia tidak sedih.”

“Mungkin juga senang karena sudah bebas.”

Ji Ryeon dapat mendengarnya, meskipun jaraknya tidak dekat, nampaknya beberapa pelayat tak mau susah-susah mengecilkan suara.

Mereka salah. Rasa sayangnya pada Nenek barangkali tidak sebesar Nam Hee. Jika dibandingkan, ia tentu bukan siapa-siapa, dan walau pernah mendapat penolakan sebelum ibunya meninggal—ia sangat yakin dulu tak ada anggota keluarga Chae yang mau mengasuhnya—tetapi Ji Ryeon tulus. Ia berupaya berbesar hati menerima kemungkinan yang pernah dikatakan Yu Ri, kalau neneknya barangkali baru mendapat informasi soal keberadaan dirinya.

Ji Ryeon belum begitu mengenal Nenek lebih dalam. Ia tidak tahu bagaimana Nenek waktu masih muda, siapa leluhurnya, pengalaman terbaik dan terburuknya, seperti apa Kakek, ayah Nam Hee, dan Bibi Ae Ri. Dan mereka tak sempat menanam bunga bersama…

Melihat jenazah itu dikuburkan, Ji Ryeon hanya mampu berdiri diam (Geum Ga sibuk menenangkan Nam Hee yang sesenggukan memanggil Nenek). Yang terlintas di pikirannya adalah, Nenek dan Ibu sama-sama meninggal di tempat tidur… mungkin itu cara mati yang paling baik.

Terima kasih. Karena Nenek, ia bisa mengenal wanita yang melahirkannya. Terima kasih, karena ketidakpedulian keluarga Chae, ia bisa mengerti kalau hidup itu harus disyukuri. Terima kasih Nenek, atas kesempatan untuk lebih mensyukuri hidup yang diberikannya pada Ji Ryeon.



Selamat tinggal.


******


Sudah seminggu lebih sejak Nenek meninggal. Suasana rumah kembali seperti biasa, meskipun tetap saja aneh. Meja makan hanya diisi tiga orang, kursi paling depan kosong. Geum Ga pun pergi ke kantor sendirian. Sejak Nenek tiada, Geum Ga menjabat sebagai CEO Cherir.

Ji Ryeon jadi sangat terasing. Pada saat masuk kuliah untuk pertama kalinya—ke universitas paling bergengsi se-Korea Selatan yang harusnya membanggakan keluarga Chae—ia pergi sendirian. Mana mungkin bisa mengharapkan perhatian Geum Ga kalau Nam Hee saja tidak diurus dengan baik. Untung ia bertemu Ri Na di kampus yang mengantar anaknya (Jun Sang terlihat tak suka diantar ibunya). Mereka bertiga juga sempat berfoto di depan gedung.

Mendekati jam makan siang, kuliah perdana mereka selesai. Teman dekat Ji Ryeon berkumpul seperti biasa. Semua jadi mahasiswa di universitas yang sama namun jurusannya berbeda, Ji Ryeon dan Jun Sang di jurusan Bisnis Administrasi, Han Na di Humanitas, dan Dong Il di jurusan Ilmu Sosial. Tapi Min Ah tidak di SNU, melainkan Ewha Womans University jurusan Seni.

Han Na masih meributkan kenapa ia harus duduk bersebelahan dengan Dong Il, bahkan waktu mereka di kantin.

“Bisa tidak sih kau minggir sedikit?!”

“Ini sudah jauh!” Dong Il menggeser kursinya sampai menghalangi jalan orang.

“Kalian suka sekali bertengkar ya?” tanya Jun Sang setengah mengejek.

“—Memangnya siapa yang mau begitu?!” seru Han Na ketus.

“Han Na-ya…” tegur Ji Ryeon tak enak.

“Heah!” Han Na mendengus mengeluarkan suara yang mirip kuda, berpangku tangan dan memalingkan wajahnya, “Sudah mulai deh dibela-belain… Habis pergi berduaan sih…”

Ya, apa salahnya aku pergi dengan Ji Ryeon?”

“Bahkan kau sudah tidak memanggilnya ‘Wakil Ketua Kelas’…” balas Han Na, “Laki-laki memang gampang berubah kalau soal perempuan…”

“Han Na… kalau kau mau, kita juga bisa pergi berduaan.”

Han Na memandangnya, lama. Mereka berpikir Han Na sedang menimbang-nimbang untuk menerima Dong Il.

“—Tidak butuh!”

Mereka kemudian berkeliling melihat-lihat gedung fakultas dan mengurus ini itu soal keanggotaan mahasiswa. Baru sorenya pulang dan sudah hampir malam ketika Ji Ryeon tiba di depan rumah.

“Gomawoyo…” ucap Ji Ryeon yang sudah diantar Jun Sang. Hari ini Jun Sang tak bawa mobil.

“Masuklah.”

Ji Ryeon membunyikan bel, lalu pintu pagar terbuka otomatis. Ia masuk ke dalam halaman, namun masih bergelantungan di pagar sambil cengengesan.

“Masuk sana!” ujar Jun Sang geli.

Ji Ryeon mengangguk, sudah sampai di depan teras pun Jun Sang masih terlihat di jalan, sedang memperhatikannya. Ia melambaikan tangannya kencang-kencang dan berteriak “Annyeong higaseyo! Annyeong higaseyo Jun Sang!” dan masuk ke dalam rumah.

Geum Ga ada di ruang keluarga sedang nonton TV. Ji Ryeon menunduk padanya, namun Geum Ga tak memberi respon apapun. Langsung saja ia berjalan menuju lantai dua, ke kamarnya yang nyaman hingga dipanggil untuk makan malam yang tak ada bedanya dengan makan di tanah pekuburan. Harus diakui kalau tidak ada Nenek mereka bersikap seperti patung.

“Ibu, besok aku pergi dengan temanku. Aku butuh uang.”

“Nanti kuberikan.”

Tak ada Nenek, tak ada yang mau bicara lebih dari dua kalimat.


******


Ji Ryeon dipanggil Nam Hee yang minta diajarkan Fisika olehnya. Selama nyaris satu jam Nam Hee akhirnya bisa mengerti isi pelajaran dan mulai mengerjakan tugas sedangkan Ji Ryeon  membuat desain baru lagi yang akan jadi salah satu pakaiannya musim semi nanti.

“—Eonni, menurutmu Seung Wan oppa itu bagaimana?”

Ji Ryeon kaget mendengar pertanyaan itu, “Nam Hee-ya, kami tidak punya hubungan apapun—”

“Aku tidak tanya hubungan kalian.”

“O—oh…” gumam Ji Ryeon, “Ng… dia anak baik sih… juga anak yang manis. Aku tidak bermaksud merebutnya darimu kok!”

Nam Hee berhenti menulis dan memandang Ji Ryeon dengan menyipitkan matanya, “Ya, aku kan tidak menuduhmu. Jangan geer.”

Kalau tidak menuduh, kenapa dia menamparku?!

“Nam Hee-ya, kau suka sama Seung Wan kan? Kau tenang saja, aku hanya menganggapnya adik kok!” ujar Ji Ryeon.

“Jeongmal?” Nam Hee mengejek.

Namun Nam Hee tak sempat melanjutkan ucapannya karena ponsel Ji Ryeon mendadak bunyi, panggilan dari Jun Sang!

Ji Ryeon mengangkatnya dengan sangat senang.

“Ju—Jun Sang…?”

Nam Hee kesal Ji Ryeon tidak mempedulikannya, namun sedikit lega ternyata bukan Seung Wan yang menelpon.

“Kau sudah tidur?”

“Belum sih…” jawab Ji Ryeon

“Aku ada di depan rumahmu.”

“Kau di sana?!” Ji Ryeon kelabakan, “Tunggu ya! Aku akan turun. Tunggu lho! Jangan ke mana-mana!—Nam Hee, kau belajar sendiri dulu ya—”

Ji Ryeon membereskan kertas-kertasnya, kembali ke kamarnya dan mengambil jaket sembarangan, lalu turun buru-buru dan berlari ke depan. Untung juga karena ia bisa melarikan diri dari Nam Hee. Mobil Jun Sang terparkir di pinggir jalan, dan si pemilik mobil duduk diam di dalamnya. Jun Sang membukakan pintu mobilnya untuk Ji Ryeon.


******


“Lihat! Bagus sekali ya!” seru Ji Ryeon, menunjuk air mancur pelangi yang keluar dari sisi kanan kiri Banpo Bridge, salah satu jembatan di Sungai Han. “Baru kali ini lho aku melihatnya!”

Jun Sang tertawa, asap rokok keluar dari mulutnya.

“Apa aku kampungan?”

“Tidak.”

Ji Ryeon menyeruput latte Starbucks sambil menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung di kap Lamborghini Jun Sang, kemudian menusuk satu potong goguma, mandu dan memakannya sekaligus, belum habis makanan dikunyah, Ji Ryeon mengambil lagi setusuk tteokbokki.

Ya, hati-hati nanti tersedak.”

“Inhi ehagh hegali!” Ji Ryeon berusaha menelan makanannya.

“Makan saja sekalian sama bungkusannya, nih!”

Sebal, Ji Ryeon mengambilnya dari Jun Sang, melahap sendirian saja dalam beberapa menit, dan membuang bungkusan plastiknya ke tong sampah. Berhasil memasukkan sampahnya dari jarak jauh, Ji Ryeon bersorak gembira.

“Aku jadi ingin ke SMA…” ujarnya, “Tteokbokki yang dijual ahjumma juga enak!”

Ji Ryeon menoleh pada Jun Sang. Jun Sang menatapnya tanpa bicara. Ji Ryeon jadi grogi…

“…Kenapa melihatku terus…?” tanyanya, dan muncul keinginan untuk menggodanya, sedikit saja dan hanya main-main, “Apa aku begitu menarik…?”

Jun Sang tetap tak bergeming, ia malah merapikan rambut Ji Ryeon yang jatuh berantakan dengan jemarinya. Ji Ryeon merinding, wajahnya panas seperti terbakar dan nyalinya ciut lagi. Malu! Ia ingin kabur dari sana dan sembunyi. Ke mana saja asal tidak ketemu Jun Sang dalam waktu 24 jam. Tetapi yang bisa dilakukannya hanyalah memalingkan wajah dan menggigit-gigit tepian gelas Starbucks-nya.

“Kau menarik seperti kelinci di kandang TK…” jawab Jun Sang, “Di kelas kita tidak ada yang cengeng sepertimu… kau sering memanggilku sambil merengek, ‘Jun Sang… Jun Sang…’

“Bohong.”

“Pabo.”

Jun Sang tertawa lagi melihat Ji Ryeon yang cemberut.

“Dari kecil kuperhatikan kalau kau sangat manis,” tambahnya jujur, “Kalau menangis kau juga manis… tapi aku lebih suka melihat senyummu… Kalau kau memanggilku… rasanya aku benar-benar dihargai. Aku merasa kalau kehadiranku sangat berguna.”

“Kau masih ingat waktu aku menciummu pertama kali?” tanya Jun Sang.

Ha? Ciuman waktu kelas 6 SD dulu? Tentu saja Ji Ryeon ingat! Sampai tidak bisa tidur semalaman dan hampir kena demam. Dasar Jun Sang bodoh, kenapa tanya-tanya soal itu padanya?!

“Ke—keurae!” sahut Ji Ryeon gugup dan cemas. “Mendadak berbuat seperti itu aku sangat kaget, tapi kau malah langsung pulang! Harusnya saat itu aku yang lari duluan! Dasar pengecut…”

“Pengecut apanya?” kata Jun Sang, menyenggol Ji Ryeon. “Itu tindakan paling berani seumur hidupku.”

Keduanya tertawa kembali, terdiam beberapa saat sampai Jun Sang berkata.



“Aku suka padamu.”



Jantung Ji Ryeon seakan mau meledak mendengarnya. Jun Sang suka padanya? Oh Tuhan! Cukup tidak membencinya saja, ia bahagia bukan main. Tahukah Jun Sang kalau Ji Ryeon juga sangat sangat sangat sangat suka padanya…?

“Kau adalah temanku yang paling lucu. Aku juga menyayangimu seperti saudara sendiri. Tapi… kurasa suka dan sayang saja tidak cukup. Bukan itu maksudku sekarang… eh… bagaimana bilangnya ya…”

Jun Sang salah tingkah, sedangkan Ji Ryeon tak mampu bicara karena terlalu kaget. Pulang dari jalan-jalan ini (atau malah bisa disebut kencan?), Ji Ryeon bakal merendam mukanya ke air dingin.

“Kau tahu maksudku kan…?”

Jun Sang… katakan, Jun Sang… Ji Ryeon ingin mendengar langsung dari orangnya tanpa harus menebak-nebak…



“Saranghae…”



Andai Ji Ryeon mampu menampar-nampar wajahnya jika tidak cemas Jun Sang mengiranya mengidap masochist, ia akan lakukan sekarang juga untuk menyadarkan dirinya dari mimpi indah ini…

Ji Ryeon diam-diam mencubit punggung tangannya. Sakit! Ini bukan mimpi dan ia tidak tertidur di ranjangnya! Jun Sang tidak asal bicara kan? Ia serius? Atau hanya mengujinya saja? Tampang Ji Ryeon sekarang pastilah mirip orang idiot yang sedang bengong dan terlihat lebih tolol lagi saat ia tahu wajah Jun Sang yang serius makin dekat dengannya.

Jadi… ini maksud Jun Sang mengajaknya keluar dan memarkir mobil di tempat sepi? Ini maksudnya mengungkit ciuman kilat mereka dulu? Untuk menyatakan cintanya?

Ji Ryeon tidak mungkin tertawa atau menolaknya atau menjauh karena ia sendiri sudah terhipnotis mata Jun Sang yang menatap tajam. Isi perutnya serasa jumpalitan tidak karuan dan ada sensasi aneh, seperti digelitik dari dalam. Goguma, tteokbokki, mandu dan latte yang tadi dilahapnya membabi buta sekarang entah bagaimana… Ji Ryeon tahu apa maksud Jun Sang. Tetapi jantungnya seperti mau copot, bunyi detaknya yang seperti suara pacuan kuda bisa terdengar jelas di telinganya. Kalau kondisinya tidak seperti ini, Jun Sang pasti menertawakannya.



Dan…



Apa Ji Ryeon tidak lagi menginjak bumi karena terlalu bahagia? Apa ia sekarang duduk di atas awan? Kenapa mendadak kap mobil ini jadi empuk? Bahkan angin yang meniup helai-helai rambutnya menjadi angin hangat musim semi.

Bibir Jun Sang masih menyentuh bibirnya, melumat dengan lembut sekali. Seperti rokok… ciuman itu terasa pahit seperti rokok. Jun Sang kan habis merokok… tapi sensasinya manis seperti gula…

Biarkan ia menikmati rokok itu… rasa pahit yang tidak disukainya… tidak masalah… selama berasal dari Jun Sang apapun akan diterimanya…

Tapi kenapa cepat sekali selesai…?

Jun Sang menghentikan ciuman mereka. Rasanya baru beberapa detik meski harusnya sudah nyaris satu menit. Perlahan, Ji Ryeon membuka mata. Wajah Jun Sang masih berada tepat di depan wajahnya. Gugup, Ji Ryeon menjauh dan berpaling ke samping. Jun Sang mengambil tindakan yang tepat dengan meremas lembut tangannya, dan merangkulnya.

“Aku tidak akan lari lagi…” bisik Jun Sang.

Sejak saat ini… hubungan di antara keduanya bukan sekedar teman dekat. Sejak saat ini pula, Ji Ryeon tak perlu lagi memendam cintanya pada Jun Sang. Ia adalah perempuan paling bahagia di dunia…

Maap part yg ini kurang seru >.< malu banget nulisnya!!!!!!!!!!!!! Happy reading ya (_ _)

Today’s Songs:

Yesung – It has to be You

Utada Hikaru – First Love

Photo credit: h23b@deviantart

FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on January 28, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. Pas banget!!! waktu adegan terakhir itu, yg ada di kepala gw memang lagunya Yesung yg It has to be you!!!
    gw yg baca juga girang sendiri ini… senyum2 sendiri kek orang gila… ampe sekarang pun senyuman gw belum berenti… hihiy!!

  2. like this …

    adegan yang paling ditunggu2

  3. Waahhh…
    Akhirnya ane jadian juga dg jun sang,,kekekeeekkk…
    Dan adegan paling ditunggguuuuuuu tenyata di part iniii….
    Godain zuyu aahhhh….
    Koq bisa sih pahit besensasi maniiiiisss,,, ciyeeeeee….
    Part lanjutannyam banyk gak kiissnyaaaa???haaaaaaaa……
    Kapan lanjutannya zuyy,,,.
    Ne zuyu aq kasi kiss juga biar semangatt,,hwehheeeeee

  4. HUAAAAAAAAA!!!!
    akhirnyaaaaaaaaaaaaa…
    likelikelikelikelikeeee~!!
    adegan yang dinanti oleh semua reader muncul juga disini..
    teruskan onn!!!!
    ayooo part 21 nya jangan lama lamaaaaaaaaa…

  5. akhirnyaaaaaa~
    kerennn kerennn
    deg degan baca.y -___-”😄

    lanjutkannnnnnnnnnnnnnnn~ jgn lma2 yaaaa

  6. sukaa…
    dari tadi pagi baca ff ini dr episod 1 sampe 20

  7. kyaaa…gw deg2an ndiri baca ini..hahaha serasa gw yang ditembak jun sang..ampe gemeteran jie..#alay-nya kumat..kissu..kissu…kisuu..lagi..lagii..banyakin kissunya..ama request gw..wkkkk..4 thumbs buat Zuyu sensasi ciumannya nyampe ke gw..pahit serasa manis..aduh bahasanya..hahahha

  8. @chika dan nudni
    makasi ya🙂

  9. shining2min

    UUUUUWWWWWWAAAAAAA……….
    aku teriak-teriak gaje gara-gara baca part ini
    ji ryeong yang dicium, tapi kenapa aku yg ngerasa terbang *aneh* berasa jadi ji ryeong
    paling suka part ini,
    jun sang-nya romantis
    omo.. saya jatuh cinta sama jun sang *klepek.. klepek..* O.o

  10. bnyak bgt part yg gag bisa dbuka😦
    padahl crta na bgs ,
    huaaaa;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: