[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 21)

Wherever you are hiding, I can find you
If there were no you then my heart would stop
Even if you don’t say “Love”
I can feel with my heart
If you are here
I don’t need anything

Kikuk! Begitulah rasanya bertemu Jun Sang di kampus. Mereka berpapasan di depan pintu kelas, Ji Ryeon menunduk dan Jun Sang menggandengnya masuk. Apa yang terjadi di tepi Sungai Han sungguh di luar dugaan.

Semalam Ji Ryeon tidur sambil cengengesan seperti orang gila, memegang-megang bibirnya yang habis disentuh bibir Jun Sang. Pahitnya rokok bahkan masih terasa di mulut hingga esok pagi.

Gara-gara kejadian itu, sekarang jangankan memandang pacarnya (ia bahagia bukan main menyebut Jun Sang sebagai ‘pacar’), melirik saja malu…

Dari tadi Jun Sang tidak melepas genggaman tangan mereka yang tersembunyi di bawah meja sampai Ji Ryeon tak mampu mencatat satu kalimatpun di buku catatan. Jika mencoba lepas, genggaman Jun Sang akan makin erat. Ini membuat Ji Ryeon berkeringat dingin.

Jun Sang mendadak menarik tangannya dan Ji Ryeon menoleh karena terkejut. Tahu apa yang kemudian diperbuat Jun Sang? Ia mencium Ji Ryeon! Syukurlah tak ada yang tahu karena mereka duduk di deretan bangku paling belakang—tak ada orang lain di kiri kanan dan saat itu dosen sedang menghadap ke papan tulis.

Jun Sang nampak senang memamerkan pada seluruh kampus kalau Ji Ryeon adalah miliknya, dengan tatapan ke seluruh pria yang mengisyaratkan ‘berani mendekatinya, habislah kalian’ tak peduli statusnya sebagai anak baru, karena Ji Ryeon tergolong mahasiswi yang mencolok, membuat mata senior mendelik penasaran.

Sementara Jun Sang memperlakukan Ji Ryeon bak seorang putri, Nam Hee lain lagi. Seakan-akan ia menganggap Ji Ryeon adalah pelayan pribadinya.

Eonni, kerjakan pr sekolahku.” atau “Eonni, belikan pembalutku di mini market.” dan “Antarkan aku ke mall.” untuk apa ada empat orang pelayan dan dua supir di rumah kalau Ji Ryeon terus yang disuruh-suruh? Jika menolak, Nam Hee akan membentak dan membuatnya terlihat buruk di rumah itu. Namun nasibnya tak seburuk Cinderella karena Ji Ryeon tak pernah diusili dan disiksa, paling-paling hanya disindir dan diberi tatapan jengkel. Ia harus bertahan, ini bukan waktu yang tepat untuk menentang Nam Hee.

Masalah yang paling sulit dihindari adalah Seung Wan yang makin suka menghubungi Ji Ryeon. Ji Ryeon sendiri bukan melarangnya datang, tapi malah mengalah… ia tidak tega melihat wajah polos Seung Wan yang ceria meski Nam Hee sudah mengatakan supaya tidak menemuinya lagi, sampai-sampai mereka terpaksa bertemu di taman untuk menghindari Nam Hee yang bisa saja menguntitnya. Dan harus diakui, Ji Ryeon suka dipanggil ‘nuna’ olehnya karena baru kali ini ia merasa seperti kakak untuk seorang adik laki-laki.

“Kau tidak sekolah? Bukannya ada kelas malam?”

“Aku bolos.”

“Bolos?!” seru Ji Ryeon, “Ya, kau sudah kelas 3 lho!”

“Aku ingin menemui nuna…

Hatinya hangat melihat Seung Wan nyengir padanya. Omelan-omelan dan kalimat halus yang berniat dikeluarkannya untuk melarang Seung Wan datang tertelan lagi begitu saja. Padahal ia sudah punya pacar (sekali lagi, Ji Ryeon bahagia setengah mati), tapi bukan berarti ia mengkhianati Jun Sang.

Asap putih keluar dari mulut Seung Wan karena menghirup udara sedingin ini, meski Korea sekarang sudah memasuki musim semi. Ji Ryeon juga baru memperhatikan kalau Seung Wan punya lesung pipi.

“Maaf nuna, malam-malam begini aku mengunjungimu.”

Gwaenchanayo!” balas Ji Ryeon.

“…Apa Nam Hee bilang sesuatu tentangku padamu…?”

Ji Ryeon menggeleng, tetapi Seung Wan meliriknya tak percaya.

“…Aku tidak menyukainya…” ujarnya, “Nuna jangan mengira aku suka padanya.”

“Kurasa… kau yang salah paham,” kata Ji Ryeon tak enak, “Dia anak yang baik kok!”

“­—Aku hanya menganggapnya teman biasa. Cuma itu saja, nuna.

Ji Ryeon tak tahu harus bersikap bagaimana. “Ng…. jinjjayo? Hahaha… teman biasa juga tak masalah. Hahaha…”

 

 

“…Nuna…”

 

 

“Ng…?” gumam Ji Ryeon.

Seung Wan menunduk menatap ke bawah. Ia tersenyum, namun tidak melanjutkan ucapannya.

“Wae?” tanya Ji Ryeon, “Seung Wan-ahya…”

“Tidak jadi.”

“Cih… kenapa tidak jadi?”

“Nanti akan kukatakan kalau aku sudah lebih siap…” jawabnya, “Ini sudah larut malam. Nuna kuantar.”

“Tidak usah!” cegah Ji Ryeon, “Aku bisa pulang sendiri kok! Kita berpisah di sini saja.”

“Aku… pulang ya.”

Ji Ryeon mengangguk, “Annyeong higaseyo.” Ia pun berbalik memunggungi Seung Wan yang berlawanan arah dengannya.

 

 

“Nuna!” panggil Seung Wan tiba-tiba.

 

 

“Ye…—”

Ji Ryeon berbalik, berhasil menangkap sesuatu yang dilempar oleh Seung Wan. Itu bukan hadiah pertama yang didapatkannya dari seorang cowok. Jun Sang sudah lebih dulu memberinya macam-macam sebelum puluhan lelaki lain berusaha membuatnya terkesan. Tapi sebungkus coklat ini adalah hadiah pertama yang diterimanya dari seorang adik laki-laki.

 

******

 

Nam Hee tidak tahu kalau Ji Ryeon menemui Seung Wan. Pelayan bilang Nam Hee melakukan aktivitas malam kesukaannya: clubbing, sesaat setelah Ji Ryeon ke taman kompleks. Tapi yang namanya Nam Hee tak pernah tak merepotkan orang. Pukul 2 subuh ia mengetuk pintu kamar Ji Ryeon yang sedang tidur nyenyak setelah ditelpon Jun Sang.

Eonni! Tolong aku!” ia memohon di depan kamar Ji Ryeon. “Kerjakan tugasku!”

“Kenapa kau tidak bisa kerjakan tugasmu sendiri?!” Ji Ryeon yang belum bisa membuka mata lebar-lebar sudah keburu dibikin kesal dengan permintaannya.

Nam Hee mendengus, “Sudahlah! Cepat bantu aku!”

Ji Ryeon terpaksa membuatkan tugas Nam Hee sedangkan yang punya tugas malah ketiduran di sebelahnya. Besoknya ia tidak bisa konsentrasi di kelas dan hanya bisa bersandar ngantuk di pundak Jun Sang.

Kejadian yang lebih mengerikan datang seminggu kemudian, setelah Ji Ryeon pulang kuliah. Geum Ga berteriak-teriak dari ruang keluarga memarahi Nam Hee. Yang bisa didengar Ji Ryeon dari ruang tamu adalah “Kau batalkan kontrak ini, ara?!” tanpa ada sanggahan dari Nam Hee.

Ji Ryeon baru saja tiba di ruang keluarga, menyaksikan Nam Hee terduduk di sofa dengan mata merah dan Geum Ga berdiri di depannya, bertolak pinggang dan memegang sesuatu yang rupanya adalah surat pemberitahuan dari agensi Seung Wan.

Geum Ga menatap Ji Ryeon bagai buaya mengincar rusa, namun ia kembali memarahi anaknya. “Lihat Ji Ryeon! Kenapa kau tidak bisa mencontohnya sedikitpun?! Kau hanya bisa main dan menyusahkan saja! Tidak heran Nenek suka memarahimu!”

Ji Ryeon yang ditatap Nam Hee dengan mata iblisnya langsung ngacir menaiki tangga.

“Nam Hee-ya, kau dengar Ibu?!” tambah Geum Ga, “Semua yang kau butuhkan dengan mudah kau dapat, tidak perlu cari pekerjaan dengan jadi artis! Kau pikir kau bisa selamat dari dunia hiburan?! Itu tempat yang tidak pantas untuk keluarga kita! Aku tidak mau ada Eun Yeong kedua di rumah ini! Aku tidak mau kau seperti dia! Batalkan kontrak ini!”

Ji Ryeon sakit hati mendengar Geum Ga menyebut ibunya dengan cara seperti itu. Apa salahnya jadi seorang aktris?

Lagi-lagi yang bisa dilakukannya hanya berbesar hati, meski hatinya sudah membengkak dan meradang tiap kali keluarga Chae mengeluarkan atmosfer tak ramah padanya.

Pintu kamar menjeblak terbuka beberapa belas menit setelah Nam Hee tak lagi menangis. Saat itu Ji Ryeon sedang mengerjakan tugas kampusnya.

“Kau senang kan?” tuntut Nam Hee, “Kau senang aku dimarahi ibuku kan?”

“Apa maksudmu?”

Nam Hee menghela nafas, mengejek Ji Ryeon dengan tatapan merendahkan. “Anak yang cuma numpang tinggal di sini dapat lebih banyak perhatian… kau senang kan?! Kau merasa lebih hebat dariku kan?!”

Tahan Ji Ryeon, tahan…

“Aku sedang sibuk. Kembali ke kamarmu—”

Nam Hee bersikeras tinggal di kamar Ji Ryeon. Ia menutup pintunya, mendekati Ji Ryeon seperti gerakan psikopat ingin menikam korban dari belakang.

“Kau pasti berpikir kau yang paling hebat di rumah ini. Kau bangga kan jadi anak seorang aktris terkenal…?” katanya sayup-sayup sambil berdiri di belakang Ji Ryeon, “Sama seperti ibumu. Kau sama seperti wanita penggoda laki-laki itu.”

Ji Ryeon menggebrak meja dengan kedua tangannya, “Jaga mulutmu Chae Nam Hee!”

“Kalian adalah perempuan tidak tahu malu. Kalian aib keluarga Chae. Wanita jalang—!”

Ji Ryeon sukses menampar Nam Hee di pipi kirinya. Ia terlalu emosi mendengar ejekan Nam Hee.

“JANGAN SEBUT IBUKU WANITA JALANG!”

Nam Hee membalas Ji Ryeon, menjambak rambutnya dengan keras, “Chae Ji Ryeon! Aku sangat membencimu!”

“—Nam Hee lepaskan!”

Tetapi Nam Hee tak mau dengar dan terus menarik rambut Ji Ryeon sampai tersungkur ke lantai.

“KAU DIPERHATIKAN NENEK DAN IBU! AKU BENCI PADAMU CHAE JI RYEON! PERGI DARI RUMAH INI!”

Nam Hee naik ke atas tubuhnya, mencakarnya, menampar, menjambak dan memukul. Ji Ryeon tak mau kalah dan berbuat hal yang sama. Saat itu beberapa pelayan datang dan menonton takjub. Mereka terus-terusan mencoba melerai tapi gagal terus, di antaranya ada yang hanya bisa bengong sambil berseru “Hati-hati, Nona Ji Ryeon!” seperti nonton acara gulat.

Geum Ga datang ke sana setelah diberitahu salah satu pelayan, namun posisi Ji Ryeon tak baik karena kali ini dia yang menguasai Nam Hee, sehingga alih-alih Nam Hee, Ji Ryeon-lah yang kena tamparan dan kembali disalahkan.

“ANAK KURANG AJAR! AKU SUSAH-SUSAH MEMBESARKAN NAM HEE KAU MALAH BERBUAT JAHAT PADANYA?!”

“—IBUKU JUGA JUGA SUSAH PAYAH MEMBESARKAN AKU TAPI ANAK KESAYANGANMU INI MENGHINA IBUKU!” teriak Ji Ryeon kuat-kuat, dengan rambut awut-awutan, wajah dan mata merah, “BAGAIMANA PERASAANMU KALAU AKU MENGHINA IBUMU?! APA KAU AKAN DIAM SAJA? APA KALIAN AKAN DIAM SAJA MENDENGAR AKU MENYEBUT KALIAN JALANG?! KALIAN YANG KETERLALUAN!”

Ji Ryeon keluar dengan langkah besar-besar. Beberapa pelayan mengikutinya tetapi Ji Ryeon sudah keburu lari keluar rumah. Ia lari sampai ke jalan, entah sudah beberapa menit terus berlari dan tiba di daerah perumahan lain. Bahkan Ji Ryeon baru sadar badannya basah karena hujan.

Ia duduk di bangku taman terdekat. Dari tadi terus teringat kalimat Nam Hee yang mengatai ibunya perempuan jalang. Kalau kejadian tadi bisa diulang, Ji Ryeon ingin menjawab hinaan Nam Hee dengan jawaban diplomatis, atau malah menenggelamkannya ke dalam bak mandi. Ia ingin melakukan hal-hal sadis…

Sudah dua jam lebih, entah sampai kapan ia bisa tahan di situ…

Hujan juga belum berhenti dan hampir malam. Seluruh tubuhnya sakit. Tidak tahu harus ke mana. Ia tak mau kembali ke rumah. Di sebelahnya ada telpon umum tua, tapi ia tidak bawa apapun. Setelah susah payah mencari, Ji Ryeon berhasil menemukan satu koin uang di sekitar taman. Orang yang ingin dihubunginya pertama kali adalah Jun Sang.

Yeoboseyo?”

Hati panasnya mendadak dialiri air dingin. Begitu sejuk sampai ia menangis mendengar suara Jun Sang. Sakit di kaki, pipi, kepala dan tubuhnya hilang seketika.

“Jun Sang-ah…

“Ji Ryeon-ah? Kenapa bukan nomor ponselmu?”

“…Oh… aku sedang jalan-jalan… lupa bawa ponsel…” jawabnya menahan tangis, “Lalu teringat padamu… Kau sedang apa…?”

“Aku sedang kerja sambilan,” balas Jun Sang, Ada apa?”

“Ah, tidak ada…” kata Ji Ryeon, mengurungkan niatnya untuk merepotkan Jun Sang, “Kau lanjutkan saja kerjanya ya.”

“Anak aneh. Mana ada orang sedang jalan-jalan mendadak telpon? Memangnya ada apa? Oh ya, apa di tempatmu tidak hujan? Di sini hujan deras lho…”

Tidak usah bilang, tidak usah bilang pada Jun Sang. Kau hanya bikin susah. Dia sedang kerja, bodoh.

Aniya. Besok kita bertemu di kampus.”

Kau telpon cuma ingin bicara ini saja? Baiklah! balas Jun Sang, “Aku tutup telponnya ya?”

“Ye…”

Ayo bilang Ji Ryeon… bilang padanya… koin ini tidak akan bertahan lama… waktunya akan segera habis…

“—Jun Sang…!”

Gw merasa Nam Hee bakal dibenci sama pembaca… harap maklum dia ababil (_ _)

Maaf. Part 21 aku potong sampe segitu dulu (_ _) lagi cari ide nih…

Today’s Songs:
The One ft. Taeyeon – Like a Star
Celine Dion – I Drove All Night
Mariah Carey – Never Too Far

Photo credit: h23b@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on February 4, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 18 Comments.

  1. Omonaaaa….
    Akhirnya adda juga tokoh antagonis,,
    Kekekkekkk

  2. Adudh zuuyyy…
    Romantis amiittt…
    Tambahin dunkkkk part lanjutannyaaaa……
    Jun sang pacar anee,,, luph yu tuuuuuu ^^

  3. Adudh zuuuyyyy….
    Tenyata inni toh bocorannnyaaa…
    Kasi lg dung…
    Heheheee…
    Ting ting ting -_<

  4. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!
    nyebelin, dipotong pas lagi seru! huuuh..
    tapi akhirnya keluar juga ni ff..

    okeee,review *sok”an*
    paragraf awal” bikin cengar-cengir, mupeng. pengen jadi jiryeon. ahahahahaah
    paragraf tengah” bikin pengen punya adek kayak seungwan. ahahaha
    paragraf terakhir” bikin kesel ama namhee.. ya ampun, itu gulat heboh banget kayaknya.. hahahah..

    okeee onn, part 22 nya gak boleh lama lama yaaa🙂

  5. gemes deh liat Ji Ryeon ini… apa2 maunya diselesaikan sendiri aja… helow!! manusia itu mahluk sosial… *hahahaha… esmosi sendiri* ;D

    ah, zuyu… kali ini pun pilihan lagu kita sama… hahahaha… yg ada di otak gw pas baca FF ini juga lagunya The One feat. Taeyeon yang “Like a Star” ^^

  6. akhirnya muncul juga…..huhuhu u.u
    wah,,wah.. ternyata ji ryeon bisa brantem juga ~
    yg pnting lwan.y nam hee~ kkk
    jujur,, ane rda suka ma karakter nam hee😄
    tpi plg suka ma junsang dong ~
    ditunggu lanjutannya……. ^.^

  7. hiks.. ga ada yg suka ama jiryeon ya T_T

  8. kyaa..dikit amat sih Zuyu..lagi seru2 juga..ihhh gemes dah ama nam Hee kalo gw jd Ji Ryeon dah bonyok tu anak..hahaha..maklum temprament tinggi..panjangin lagi dong adegan romantisnya..biar gw ngiler..hahaha

  9. untung udah ada lanjutannya. kalo belom aku pengen maki2 zuyu distop sampe disini!

  1. Pingback: [Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22) « Hallyu Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: