[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 22)

When I see your face
There’s not a thing that I would change
‘Cause you’re amazing just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for awhile
‘Cause girl, you’re amazing just the way you are

Jun Sang turun dari mobil, membawa payung dan bergegas mencari gadis itu di taman. Ia sengaja cabut dari pekerjaannya, langsung pulang ke rumah mengambil mobil karena tak ada satu taksi pun yang lewat. Kalau tidak hujan taksi malah sering berkeliaran.

Jun Sang berhasil menemukannya… sesosok perempuan yang berdiri di tengah hujan, menunduk lemah mencipratkan genangan air di kakinya. Dulu juga ada seorang anak yang memiliki sosok seperti itu, tak punya teman, pendiam dan cepat merengek jika diomeli olehnya… Ji Ryeon masih tetap sama dalam pandangannya, tak peduli kalau sekarang ia sudah dewasa.

“…Jun Sang…” kata Ji Ryeon saat tahu ada yang memayunginya dari belakang. Wajahnya yang murung seketika berubah ceria.

“…Lama menunggu?”

Ji Ryeon menggeleng kuat. “Baru saja.”

“Kau basah kuyup begini…”

“Hehehe… Terlalu banyak main sampai tidak sadar sudah basah sebadan.”

“…Ayo…”

Jun Sang menggandengnya dan membawanya masuk ke mobil. Selama di perjalanan mereka tak banyak bicara, Ji Ryeon sibuk menyisiri rambut supaya bisa menutupi bekas perkelahiannya dengan Nam Hee.

Mereka sampai di depan sebuah rumah bertingkat dua. Mobil diparkir di depan pagar dan mereka masuk ke dalam. Lantai satu rumah itu hanya ada garasi merangkap gudang dan area kecil yang di salah satu temboknya terpasang keranjang bola basket. Ji Ryeon mengikuti Jun Sang menaiki tangga di samping gudang. Mereka masuk ke dalam ruangan yang memanjang ke belakang, terlihat besar, karena nyaris tanpa sekat dan berwarna abu-abu. Di bagian paling depan ada dapur dengan meja makan mungil dan sebuah pintu menuju kamar mandi, di tengah-tengah ada sofa dan TV, meja belajar, rak buku, rak CD serta beberapa barang elektronik lain, barulah di paling ujungnya ruang tidur dengan pembatas tembok setinggi satu meter yang di atasnya diberi tirai vertical blind, di depan kamar tidur ada tangga lagi menuju atap.

Rumah yang bagus untuk seorang laki-laki yang tinggal sendiri, tetapi agak berantakan.

“Kau tidak tinggal dengan orangtuamu lagi?”

“Sejak SMA aku tinggal sendirian,” sahut Jun Sang, sibuk menyembunyikan pakaian bekasnya yang berserakan.

“Kenapa?”

“Tinggal di sini atau di sana juga sama saja. Mereka tidak pernah berada di rumah dalam waktu lama…” jawabnya, “Lebih nyaman tinggal di sini. Duduklah.”

Sesaat kemudian Jun Sang membawakan handuk bersih, baju dan celana panjang. Ji Ryeon berganti di kamar mandi, karena kamar tidur Jun Sang tak punya pintu. Ia sedang menonton TV ketika Jun Sang membawakan segelas coklat hangat, dan mengambil alih handuk yang terkulai di atas kepalanya.

“Mengeringkan rambut saja kau lamban,” kata Jun Sang, menggosokkan handuk itu ke rambut Ji Ryeon. “—Kenapa hidungmu…?” Jun Sang memandang ke atas bibir Ji Ryeon. “Ya, kau mimisan!”

Mwo?” Ji Ryeon mengelap hidungnya dan kini ada gumpalan darah tercetak di tangannya. “—Aaahh… maaf!”

“Sini—”

Gwaenchanayo…” cegahnya, “Biar aku saja…”

Jun Sang bersikeras membersihkannya. Tetapi Ji Ryeon reflek menjerit waktu Jun Sang tak sengaja menyentuh pipinya.

“Kau… kenapa…?”

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa wajahmu?” mata Jun Sang menyipit, “Biar kulihat.”

“—Jangan!”

Bekas cakaran dan tamparan merah di kedua pipi Ji Ryeon membuat darahnya naik ke kepala. Panas karena menahan marah dan ingin mengumpat saat ini juga.

Ji Ryeon meringis lagi ketika Jun Sang sengaja menyentuh bagian yang tercakar.

“Sakit kan?” tuntut Jun Sang. Ji Ryeon tidak berani menjawab. Jun Sang mengambil salep dalam kabinet dan mengolesinya ke wajah Ji Ryeon. “Siapa yang melakukan ini padamu?”

“…Aku… terpeleset waktu jalan-jalan tadi…” balasnya takut.

“Mana mungkin terpeleset tapi pipimu bengkak-bengkak begini?!” seru Jun Sang. “Cepat jawab.”

“Sudahlah…” ia mengelak, “Ini bukan masalah penting.”

“Keluargamu? Nam Hee yang melakukannya? Ya, kenapa tidak mau cerita—?!”

“Itu bukan urusanmu.”

“Cih… sudah diperlakukan begitu masih bilang bukan urusanku? Bagaimana perasaan ibumu? Kau pikir dia akan senang?”

“—Aku menampar Nam Hee…!”

Jun Sang melotot kaget mendegarnya. Walaupun Nam Hee seringkali keterlaluan, kali ini nampaknya Nam Hee sudah melewati batas.

“Dia menyebutku perempuan jalang…” jelas Ji Ryeon, “…Tapi bukan karena itu. Aku tidak begitu peduli dia mengataiku apapun, terserah padanya. Hanya saja aku marah karena Ibu disebut jalang olehnya…”

“…Pe… perempuan jalang…?”

Ji Ryeon mengangguk. “Tidak ada yang boleh menghina ibuku. Jadi aku menamparnya karena berkata kurang ajar. Lalu dia membalasku lagi.”

“Jadi kalian… bertengkar?”

“Ya.” jawab Ji Ryeon, kalau ingat itu ia ingin marah sekaligus ingin menangis, “Apa karena aku tidak punya asal-usul yang jelas makanya dia bisa seenaknya berkata begitu…? Ibuku sangat baik, bukan wanita sembarangan. Nam Hee tidak pernah bertemu dengannya… Aku memang tidak mengenal ayahku, tapi bukan berarti ibuku wanita nakal kan? Wajar kan aku marah…?”

“Ya.”

“Setidaknya aku harus bertahan sampai lulus kuliah,” jawab Ji Ryeon, kali ini raut wajahnya lebih ringan. “Kalau sudah kerja, aku akan cari rumah sendiri.”

Jun Sang mengangguk singkat dan menarik Ji Ryeon ke dalam pelukannya.

Ji Ryeon menolaknya, Gwaenchana!”

Jun Sang masih tak percaya dan menariknya lagi, berkali-kali, hingga Ji Ryeon benar-benar tidak memberontak dan bersandar tenang di tubuhnya.

“Tak apa-apa kalau kau bertengkar dengannya…” bisiknya, “Tapi lain kali kau harus melihat apakah Nam Hee sudah memotong kukunya sebelum kalian bertengkar…”

Ji Ryeon tertawa kecil. Jun Sang membuatnya hanyut dan merasa ngantuk. Ia bisa merasakan kontur badannya, dadanya yang keras serta detak jantungnya… dan juga… aroma tubuhnya…

“Badanmu kurus sekali… Ji Ryeon-ah… kau harus jaga kesehatanmu, ara…?

Suara Jun Sang terdengar makin samar, kalah oleh suara hujan di luar. Tapi yang dinikmati Ji Ryeon adalah tidur dalam pelukan Jun Sang.

Jun Sang mencium keningnya, dan menyadari ada satu lagi yang tak beres, “Ya, kau panas sekali!”

“…Aku ingin pulang…”

“Kau istirahat saja, ya?”

“Aku ingin pulang…” Ji Ryeon bersikeras bangun.

“Jangan! Kau sedang sakit!”

“Aku tidak sakit kok—!” tapi ia terjatuh lemas di depan pintu.

Jun Sang menggendongnya ke tempat tidur, secepatnya menyiapkan kompres dan memasang penghangat yang didapatnya di garasi. Ia mencari-cari obat demam tapi tidak ketemu (padahal memang tidak punya obat demam) sampai harus pergi mencari ke apotik terdekat. Saat kembali, Ji Ryeon sudah nyaris tertidur.

“Ji Ryeon-ah… minum obat dulu,” bujuknya.

Ji Ryeon menurut, beberapa menit setelahnya ia ketiduran sambil memegang erat tangan Jun Sang. Tiap dua jam sekali Jun Sang bangun dan mengganti kompres, memeriksa suhu badannya dan seringkali mendengar Ji Ryeon mengigau, memanggil-manggil ibunya…

“Ada apa?” Jun Sang mengangkat telpon dari Han Na pada pukul 12 malam.

“Ya, Yoon Jun Sang, kau tahu Ji Ryeon ada di mana? Dia kabur dari rumah, pelayannya menelpon kami tapi dia tidak ke rumahku tuh, kerumah Min Ah juga tidak—”

“Aku tidak tahu.”


******


Sampai besok pagi, Ji Ryeon masih tidur sewaktu Jun Sang sudah bangun. Demamnya belum turun sehingga Jun Sang harus membawanya ke dokter. Ji Ryeon bahkan jadi senewen, marah-marah tak jelas dan meronta-ronta saat digendong. Monster lucu yang sedang sakit demam dalam pandangan Jun Sang.

“Aku mau pulang ke rumah saja…” kata Ji Ryeon sepulang berobat.

“Kau yakin? Sebaiknya bersamaku dulu.”

“Aku mau pulang!” teriak Ji Ryeon, sakitnya seperti anak usia 5 tahun yang rewel.

“Baiklah…”

Jun Sang memutar arah menuju kediaman keluarga Chae. Sampai di sana, di depan teras rumah beberapa orang sudah menunggu Ji Ryeon yang menghilang semalaman tak ada kabar.

Omo…! Agassi!” seru Bibi Hyo Min, “Nona kenapa?!”

“Dia sakit,” jawab Jun Sang, “Mana kamar tidurnya—?”

“Ke—ke sini!”

Selama Ji Ryeon dibopong Jun Sang, Bibi Hyo Min terus-terusan mengucapkan “Aigoo… aigoo!” dan “Kenapa bisa sakit?!” dan “Aku cemas sekali!” dan pelayan yang kebetulan berpapasan dengan mereka berteriak “Omo!”

Jun Sang merebahkannya ke tempat tidur, Bibi Hyo Min menyiapkan kompres dan mengusir pelayan lain yang mengerubungi Ji Ryeon dengan macam-macam pertanyaan.

“Nona Nam Hee sangat kasar.” katanya, memberi obat ke kening Ji Ryeon yang memar, “Meski Nona juga melawannya, dia kelihatan baik-baik saja! Nona tidak serius menghajarnya? Kalau aku jadi ibunya, dia akan habis di tanganku!”

“Ahjumma!” tegur Ji Ryeon agar Jun Sang tak mendengar.

“Biarkan saja!” balas Bibi Hyo Min. “Apa dia menganggapmu kakak kalau bersikap seperti itu?! Nyonya Geum Ga juga tidak peduli Nona tidak pulang, setelah Nyonya Besar meninggal mereka jadi begini padamu…”

“Nam Hee mana?” tanya Jun Sang.

“—Jun Sang kau mau apa?”

“Aku mau menemuinya.”

“Jangan  Jun Sang!” Ji Ryeon menarik ujung kaos Jun Sang.

“Anu… Nona Nam Hee sudah ke sekolah,” jelas Bibi Hyo Min bingung. “Eh… ng… Nona lapar kan? Saya siapkan bubur dulu ya…!” ia pun lari keluar.

Jun Sang melihat-lihat isi kamar Ji Ryeon yang bernuansa pastel lembut dan bergumam, “Kau benar-benar seorang putri…”

“Barang-barang di sini bukan milikku…”

Matanya melihat foto mereka waktu kecil dan medali hadiahnya dipajang di meja belajar, “Ini masih kau simpan?”

Ji Ryeon mengangguk malu sekaligus bangga. Jun Sang duduk di tepi ranjang dan membelai rambut Ji Ryeon. Ia memberi kecupan sayang di keningnya, dan hendak mencium bibirnya, tapi Ji Ryeon menutup mulutnya dengan tangan.

Wae?

“Nanti menular.”

Jun Sang tertawa. “Ayolah…” rayunya seraya menarik tangannya.

Ji Ryeon terus menggeleng namun Jun Sang tidak mau mengalah, sampai ia menang dan berhasil mendaratkan satu ciuman.

Gadis itu tersenyum sangat lebar. Jun Sang memberikan bonus lagi untuknya. Lama sekali… lembut dan lebih bergairah dibanding sebelumnya… Sayangnya di saat sedang seperti itu, pintu kamar Ji Ryeon diketuk dari luar. Mereka melepas diri dan saling menjauh.

“Nona ini buburnya,” Bibi Yu Jin meletakkan senampan makanan ke meja belajar, “Jangan lupa makan ya, Nona!”

“Gomawo.” jawab Ji Ryeon, jantungnya berdegup kencang, nyaris saja Bibi Yu Jin akan tahu apa yang dilakukannya dengan Jun Sang tadi.

“Sebaiknya, Nona disuap saja…” tambah Bibi Yu Jin sembari melirik Jun Sang senang dengan niatan untuk bergosip di dapur nanti, “Tapi saya sedang tidak bisa lho!” katanya buru-buru, “Bagaimana kalau Tuan Muda ini saja…?”

“Ahjumma!”

“—Saya kembali ke dapur ya, Nona makan yang banyak!”

Jun Sang berharap mereka benar-benar akan ditinggal berdua dan tidak ada yang mau masuk ke dalam. Ia melihat raut wajah Ji Ryeon yang memerah, dan tatapan matanya yang malu-malu, tapi tangannya kembali menggenggam ujung kaos Jun Sang.

“…Kau mau kusuapi…?”

Ji Ryeon mengangguk lemah. Kalau begini, pasti sakitnya akan segera sembuh.

Part 22… fiuhhh… gw berhasil menyelesaikannya hari ini hiks.. ntahlah… mungkin gw ga ada bakat nulis hwwweeeeee… T_T kok gw merasa ff ini alurnya lambat tapi kalo dicepetin malah nanti hilang detilnya T_T

komen ya🙂

Today’s Songs:

Bruno Mars – Just the Way You are

Faith Hill – There You’ll Be

Photo credit: h23b@deviantart

FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Baca juga:

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Posted on February 15, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 13 Comments.

  1. yeeeeyyeyeyeyyy!!! keluar juga deh…
    ahahahahaha…
    potong kuku! aduh, ngelawak aja si mas junsang. huohohooho
    mau dong disuapin ama junsang.. hehehehe
    onn, junsangnya kapan keluar dari kamar jiryeon? kan semalem udah aku suruh pindah ke kamar sebelah. hehehee…

  2. mhehehehe… Ji Ryeon malu2 tapi mau deh ah… nolak2 tapi doyan! hihihihi…:mrgreen:

    enggak ah… enggak terlalu lambat kok… enak juga baca yg detil begini… jadi bener2 kebayang scene-nya kayak apa… mhehehehe…

  3. Huhhh…
    Zuyu jeleeggg,,cuman parpel yg dibocorin,
    Tuh kan aq jd sakit, jun sang repot jdx, tanggung jwb looo???hehe

    Biar aj lmbt zuy, yg pntg wokeh, ditungguin koq🙂

  4. @missjutek hihi makasi udh mau baca onn ^^

    @yupi lha kan udah bocor tuh kukasi tau ceritanya😉

  5. akhirnya gw sempat juga baca..wuih adegannya sedikit…h.o.t hahaha, bayangin yg gak2 nie gara2 zuyu..hehehe tp mantabs..gomawo ya ayo terusin lagi..

  6. Gw suka ff na …
    penasaran sama apa yg bakal terjadi di rumah jun sang wkwk

  7. aarrhhh…….

    lagiii.. lagiii…lagi….

    lanjutin eonn…

    *we want more.. we want more.. :p

  8. shining2min

    ji ryeong di kissu lagi!
    ih.. bikin envy -,-
    mau dong di kisu sama jun sang *monyongin bibir*

    mwo? gak berbakat apanya
    ini udah bagus banget lho eonn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: