[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 23)

You know I feel for you you feel for me
We feel the same cause we were meant to be
There’s nothing you could do to make me walk away
Cause see girl I’m always here to stay

Meski Han Na dan Min Ah datang dengan alasan menjenguk, sebetulnya mereka lebih penasaran lagi dengan apa yang terjadi pada Ji Ryeon sampai-sampai tidak pulang semalaman, dan mengumpat begitu mendengar cerita Ji Ryeon, yang disederhanakannya menjadi “soal sepele yang kubesar-besarkan.”

Michin…” gumam Han Na, “Apa anak itu yang melahirkanmu! Ibumu saja tidak pernah menghajarmu, ya kan?! Keluarga macam apa sih dia! Wah, jinjja!

“Tapi yang penting uri Ji Ryeon sekarang sudah besar!” kata Min Ah, “Sudah punya pacar dan tidur sama—!”

“Aku cuma numpang, numpang!” kata Ji Ryeon. “Kalian kalau datang cuma ingin nanya soal itu, pulang saja sana. Aku mau tidur.”

Ya! Kami menyempatkan diri datang kau jangan tidur dong!” Min Ah melompat ke ranjang dan menarik selimutnya, “Ji Ryeon-ah! Ceritakan lebih banyak!”

“Ah, sirheo!

Geum Ga sendiri sudah pulang dari kantor dan ada di lantai satu. Ia membuka sepatu di depan pintu, blazernya, dan mengurut dahi karena kelelahan. Hari ini ada masalah di kantor yang membuat mukanya cemberut sehingga Yu Jin tidak berani menatapnya.

“Nona Ji Ryeon sudah kembali ke rumah, Nyonya,” kata Yu Jin.

“Di a sudah kembali?”

Ye. Tadi pagi diantar pacarnya…”

“Ji Ryeon punya pacar…?” Geum Ga kaget sekaligus penasaran.

Yu Jin refleks menutup mulutnya. Bibi Hyo Min baru saja menyuruhnya untuk tidak mengatakan yang tidak perlu mengenai Ji Ryeon.

“Jadi semalam dia dengan pacarnya?” tanya Geum Ga dengan menekan mental Yu Jin.

“Eh… saya… tidak tahu…” Yu Jin mencoba berakting. “Sepertinya tidak—”

Geum Ga berjalan ke lantai dua meninggalkan Yu Jin.

“Nyonya, di kamarnya masih ada teman-temannya—!”

Ia mendelik, “Kau pikir aku mau berbuat apa di sana?”

Yu Jin memalingkan wajahnya ke bawah, “Ti, tidak…”

Di depan kamar Ji Ryeon, ia mengetuk pintu. “Ji Ryeon-ah, aku masuk.” dan benar-benar masuk tanpa persetujuan.

“—Imo…”

“Annyeong haseyo,” sapa Han Na dan Min Ah, yang tidak berani bergerak. Geum Ga tersenyum ramah pada mereka, begitu baiknya sampai-sampai terasa tidak masuk akal dan menurut Han Na itu artinya mereka harus pergi dari sana sekarang juga.

“Eh… Ji Ryeon-ah, aku tidak bisa lama-lama, harus bikin tugas kelompok dengan teman-temanku,” kata Han Na.

“Aku juga!” sambung Min Ah yang disenggol Han Na.

“Kami pulang. Cepat sembuh ya!”

“Gomawo!”

Han Na dan Min Ah berjalan melewati Geum Ga dan menutup pintu dengan bunyi debam pelan. Caranya memperlakukan teman Ji Ryeon pantas disebut sebagai tuan rumah yang tidak sopan. Setelah tinggal berdua, Geum Ga mulai menginterogasi Ji Ryeon.

“Kau kenapa?” tanyanya, melihat keponakannya berbaring di tempat tidur, “Sakit?”

“Hanya sedikit tidak enak badan,” balas Ji Ryeon.

“Lalu kau jadi malas? Siapa suruh kau pergi dari rumah…”

“Maaf.”

Geum Ga melirik Ji Ryeon yang menunduk, kerutan masih ada di keningnya, “…Kudengar… kau sudah punya pacar… sudah jadi anak nakal ya? Sepeninggal Nenek mulai cari teman kencan?”

“—Dia bukan sekedar teman kencan!” balas Ji Ryeon kesal, “Dia temanku. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, Bibi jangan menganggap hubungan kami sembarangan—”

“Kau bermalam di tempatnya apa hubungan kalian sudah sejauh itu? Apa kalian melakukan hal yang tidak semestinya—”

“Tidak!” seru Ji Ryeon, “Aku hanya menumpang di sana. Dia menjagaku waktu sakit—”

“Kau menganggap dirimu tidak punya tempat tinggal? Jadi rumah ini kau anggap apa?!”

Ji Ryeon tak menyangka jawabannya jadi serba salah.

“Kau tidak memikirkan martabat keluargamu, begitu mudahnya keluar dengan laki-laki. Kau pikir kalau ada masalah kami bisa membantu?! Memangnya masalahku cuma ada satu?! Kau sudah besar, berpikirlah dewasa!”

“Maaf,” jawabnya lagi, namun Geum Ga keburu membanting pintu keluar dari kamarnya.


******


Di jalan pertokoan Seoul yang masih ramai, Han Na mengelu-elukan kebenaran yang diam-diam didapatkannya dari Dong Il. Ia senang bisa menang sehingga Min Ah yang mendukung Seung Wan jadi menggerutu gara-gara kecerewetannya.

“Betul kan kubilang?!” Han Na merasa menang, “Jun Sang itu suka sama Ji Ryeon!”

“Iya, iya, iya!” Mih Ah berupaya menyibukkan diri dengan mengirimi Seung Wan sms.

“Nah karena sekarang sudah jelas, kau tidak perlu ikut campur lagi, apalagi kalau kau sampai mendukung Seung Wan—”

“—Cih, oppa…! Cepat balas dong!”

Oppa…? Siapa oppamu?!”

“Hae Im.”

Han Na berpura-pura muntah. “Menjijikkan.”

“Kau pasti iri. Di antara kita, cuma kau yang belum punya pasangan.”

“Aku tidak iri kalau dibanding-bandingkan denganmu.”

“Terserah,” balas Min Ah sok, “Ji Ryeon sudah punya dunia sendiri dan aku juga sudah punya dunia sendiri juga. Ah! Tahun ini kami beruntung…!”

“Menurutmu begitu ya?” tantang Han Na, senyumnya sadis, “Coba kau lihat di sana.”

“Apa?”

Min Ah melihat apa yang dilihat Han Na, yaitu pacarnya, yang baru saja dianggapnya sebagai keberuntungan, bersama cewek lain, bergandengan tangan dan berjalan menuju sebuah cafe.

“Silahkan deh nikmati duniamu.”

“—Ngapain mereka?!”

“Sepertinya mereka kencan ya?”

“Cowok brengsek!”

Min Ah bukan perempuan yang berkepala dingin. Ia mundur untuk ambil kuda-kuda, lalu berlari sekuat-kuatnya ke arah Hae Im dan gandengan barunya itu.

BRAK!

Min Ah berhasil menghantam kepala Hae Im dengan tasnya yang seberat batu.

“—YA! SIAPA KAU?!” Hae Im sangat marah maka ia menoleh ke belakang, dan tiba-tiba saja membatu ketakutan.

“—TIDAK KENAL LAGI PADAKU?!” teriak Min Ah hilang akal, “DASAR COWOK KURANG AJAR! MAMPUS KAU! RASAKAN INI! DASAR JAHAT!”

Hae Im berusaha mengelak dari pukulan dahsyat bertubi-tubi Min Ah dan berteriak, “Mi—Min Ah-ya… sudah hentikan! Hentikan!”

“Aku tidak puas kalau belum membuatmu babak beluar—!”

“Keumanhae!” teriak Hae Im keras-keras dan berdiri tegap dengan dada membusung. Barulah Min Ah berhenti memukul Hae Im.

“—Siapa cewek kasar itu?!” tanya teman kencan Hae Im, yang malu karena sekarang mereka jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar, “Haish…! Sudah culun, kasar lagi! Lihat, penampilanku jadi kusut nih! Aku tidak mau tahu, belikan yang baru!”

“—Ya!” Min Ah meneriaki selingkuhan Hae Im yang penampilannya lebih parah dari gaya girlband Nam Hee. “Jangan ganggu pacarku ngerti?!”

MWO?!” balas si selingkuhan sinis dan meremehkan, “Ya, dia pacarmu?! Kau bilang kau masih single!

“SINGLE?!” Min Ah teriak lebih keras, “Apa maksudmu?!”

Hae Im bolak-balik memandangi si selingkuhan, Min Ah, dan Han Na yang ada di belakang Min Ah, “Eh… hahaha… ng… ahahahah—”

“Choi Hae Im!” seru Min Ah, meminta kebenaran. Sayangnya Hae Im hanya bisa cengar-cengir dan malah mempedulikan si selingkuhan yang mengomel minta dibelikan baju baru. Min Ah merasa hancur karena Hae Im tidak pernah membelikannya baju padahal mereka kan pacaran…

“Sialan! Aku tidak mau lagi bertemu denganmu, brengsek!”

Min Ah pergi setelah kembali mendaratkan pukulan ke kepala Hae Im dengan kemurkaan yang luar biasa. Han Na masih di sana, menatap dengan mata pembunuh sampai Hae Im gemetaran.

“—Mati saja kau!” gertak Han Na dengan tinjunya, kemudian mengejar Min Ah.


******


“Aku sakit hati…!” Min Ah berteriak sambil menangis di tengah jalan, “Nappeun namjaaaaaaaa…!” ia merengek lagi, orang-orang mengira Han Na yang membuatnya menangis.

“Ya, sudahlah…” kata Han Na malu, “Tidak ada gunanya menangisi orang berhati kerdil sepertinya!”

Min Ah tak peduli dan terus menangis sambil mengelap ingusnya dengan tisu.

“Makanya jangan mengumbar kemesraan!”

“—Kau bukannya menghiburku malah marah-marah?!” maskaranya luntur mengerikan.

“Siapa yang marah-marah?! Salahmu sendiri buru-buru cari pacar!”

“Aku sedih…!” Min Ah kembali nelangsa, dan menangis lagi, “Benar-benar sedih! Aku ingin mati saja! Aku sudah dikhianati!” ia linglung mendekati seorang bibi dan berteriak, “Ahjumma…! Pacarku selingkuh!”

“Anak ini apa-apaan sih?!” kata wanita itu heran dan marah, “—Ya! Dia temanmu?!”

“M—maaf!” jawab Han Na, menarik Min Ah menjauh dan sekali lagi minta maaf pada si wanita itu.

“Anak jaman  sekarang ada-ada saja!” lalu wanita itu menjauh dari Min Ah bersama teman-temannya dan mengatakan “Semoga anakku tidak begitu!”

Han Na menyeret Min Ah ke tepi jalan, ke tempat yang jauh dari keramaian sambil memarahinya, “Ya Park Min Ah! Ibumu kepala sekolah, bodoh! Bikin malu saja!”

“Aku sakit hati! Huhuhu… huweeee…”

Min Ah terus menangis sepanjang perjalanan pulang dan akhirnya bisa diam waktu sampai di rumah. Ia takut dimarahi orangtuanya kalau ketahuan.

Hae Im tak berani menatap Han Na jika berpapasan di kampus. Ia langsung menjauh begitu Dong Il mengajaknya menemui Han Na. Namun Hae Im tidak bisa mengelak lagi saat makan siang di kantin karena tak ada meja lain yang tersisa, selain meja mereka.

Hae Im terdiam menunduk menyuapi nasinya satu per satu, apalagi Han Na menggertak tidak langsung, menekan-nekan sendok ke dasar piring sampai berbunyi keras. Sayangnya tidak ada yang begitu memperhatikan kesekaratan Hae Im karena yang lain sibuk sendiri…

“Han Na, apa nasinya tidak enak?” Dong Il mencoba cari perhatian, ia curiga Han Na menyukai Hae Im karena menatap ke depan terus dengan penuh nafsu yang tentu saja disalah artikan olehnya dengan amat mudah.

“Diam.”

“Han Na, kalau tidak suka bisa tukar dengan makananku—”

“Cari mati ya?!”

Ji Ryeon dan Jun Sang yang tadinya makan dengan tenang menoleh pada mereka.

“Lanjutkan… lanjutkan…” bujuk Dong Il.

Baru setelah berpisah dengan para lelaki, Ji Ryeon diberitahu Han Na mengenai masalah Min Ah di toilet dan mereka tidak tahu bagaimana cara memecahkannya kecuali kalau mereka ikut campur dengan melabrak Hae Im, atau membujuk Min Ah. Jadi daripada mendatangi Hae Im, Han Na dan Ji Ryeon memutuskan akan pelan-pelan menyarankan Min Ah mencari hidup baru, toh ia juga belum lama mengenal Hae Im.

Selain Min Ah, Ji Ryeon juga punya masalah di rumah sehingga lebih suka menghabiskan waktunya membaca buku di perputakaan kampus. Nam He dan ibunya makin sering bertengkar dengan suara yang super besar, meski Nam Hee sudah menuruti perintahnya—batal kontrak dengan agensi yang sama dengan Seung Wan. Geum Ga acap kali berteriak di depan pintu kamar Nam Hee dengan kalimat yang hampir tak bisa dicerna otaknya karena terlalu cepat diucapkan. Setiap hari begitu, di pagi hari ketika Nam Hee tidak ingin masuk sekolah dan malam hari jika mereka mempermasalahkan soal sepele sampai masalah besar, misalnya Nam Hee pulang pagi sehabis dari kelab malam, atau menggunakan kartu kreditnya dengan sangat tidak bijaksana: menghabiskan 2 juta won untuk mentraktir teman-temannya dan belanja.

Kondisi Ji Ryeon dan Eun Yeong sangat jauh berbeda dengan mereka.

Ini sudah berlangsung sebulan. Ada saja keluhan Geum Ga baik untuk Nam Hee dan lebih-lebih untuk Ji Ryeon. Tetapi kalau Ji Ryeon berupaya memendam marah seusai dicerca Geum Ga, Nam Hee lain lagi. Ia mendatangi Ji Ryeon dan malah menumpahkan kekesalannya pada Ji Ryeon, bahkan tak segan-segan mencibir dan pernah berkata, “Kau sebaiknya tidak ada di sini, Chae Ji Ryeon.” atau “Kau masih tinggal di sini? Kukira kau sudah pulang ke kampungmu. Kau kuat juga ya…” Itu adalah isyarat pengusiran dengan cara yang halus.

Ji Ryeon harus bermuka tebal dan menahan emosinya, walaupun terkadang tidak tahan dan menangis di kamar mandi, mengingat kenangan dengan ibunya di rumah sendiri, dan mengingat bibi di kampung, di rumah mereka yang kecil dan lusuh, tapi setidaknya ia tidak mendapat penghinaan. Sungguh saat-saat yang berharga.

Ia sampai berbohong pada Bibi di Jinju yang sempat menelponnya beberapa kali karena khawatir Ji Ryeon tinggal dengan mereka. Ji Ryeon bilang baik-baik saja. Memang. Fisiknya tidak tersiksa tapi batinnya pedih luar biasa.

Tidak ada yang bisa membelanya lagi. Apa yang harus diperbuatnya jika Geum Ga dan Nam Hee nanti mengusirnya. Pelayannya? Bisa-bisa mereka dipecat. Kabur? Ia kabur ke mana? Kembali ke Jinju? Tapi ia harus kuliah. Menyewa asrama kampus? Ia tidak tahu apa tabungannya cukup. Tapi yang jelas ia harus angkat kaki dari rumah itu sebelum benar-benar diusir.

Ji Ryeon mulai mencari informasi mengenai asrama kampus dan ini sangat sulit karena ia harus menghindari Jun Sang yang hampir selalu bersamanya. Ia bahkan kedapatan baru keluar dari kantor admisnistrasi dan buru-buru menyelipkan formulir asrama ke dalam tas waktu Jun Sang menghampirinya.

“Kau ngapain ke sana?”

“Ah… tidak,” jawab Ji Ryeon.

“Ayo, temani aku ke perpustakaan,” ajak Jun Sang sambil merangkulnya tanpa curiga.

Ji Ryeon baru bisa lepas sepulang kuliah. Ia mengatakan ingin pergi ke toko pakaian dalam (supaya Jun Sang tidak ikut dengannya) padahal pergi ke Freyja, tujuannya hanya satu.

“Annyeong haseyo, seonsangnim.”

“Chae Ji Ryeon,” sapa ibu Jun Sang, “Baru pulang kuliah?”

Ri Na dengan ramah mempersilahkan Ji Ryeon masuk dan seperti biasanya, ia dijamu dengan teh dan kue-kue lezat yang selalu dipesan jika Ji Ryeon datang. Mereka bersantai di sofa  di lantai dua sambil menyaksikan pekerjaan pegawai Ri Na yang hilir mudik berupaya menyelesaikan tugas sebelum deadline.

“Persiapannya sudah 60% lho,” kata Ri Na tentang fashion shownya nanti, “Coba lihat ini, dan ini,” ia menyodorkan gambar desain pakaian musim seminya yang simpel.

“Seperti pakaian Romawi kuno,” ujar Ji Ryeon.

“Memang. Aku dapat ide waktu nonton film,” balas Ri Na tertawa. “Kau harus datang ya.”

“Pasti akan datang,” balas Ji Ryeon. “Ng… tapi… apa Freyja kekurangan tenaga?”

“Kekurangan apa?”

“…Apa… di sini membuka lowongan kerja?”

“Kenapa?” tanya Ri Na lagi.

“Ah…” Ji Ryeon bergumam sungkan, “Kupikir… aku ingin sedikit membantu… hehehe…”

“Oh…” Ri Na tersenyum dan mengerti maksudnya.

“Sebetulnya, aku ke sini untuk cari pekerjaan,” Ji Ryeon mengaku sambil cengengesan, “Tidak… ada ya…?”

“Kau ingin kerja denganku?”

“Kalau diberi kesempatan.”

“Apa kau bisa bekerja di bawah tekanan? Freyja jam terbangnya sudah tinggi, jadi sulit lho.”

“Bisa! Aku bisa kok!” balas Ji Ryeon, “Aku dulu juga pernah bekerja di bridal.”

“Benarkah?”

Ia mengangguk, “Aku sudah biasa menyelesaikan pekerjaan di saat-saat terjepit.”

Ri Na memandangnya untuk meyakinkan diri apa Ji Ryeon memang bisa menerima ‘siksaan’ darinya. Dilihat seperti itu membuat Ji Ryeon jadi tak nyaman.

“Baiklah,” Ri Na bangkit dan menepuk kedua tangan, “Kita lihat apa yang bisa kau lakukan…”

Ri Na memasuki workshop dan memberinya tugas yang lumayan ringan, yaitu membuat berbagai aksesoris pelengkap pakaiannya nanti. Itu yang Ji Ryeon pikir. Namun ternyata tugasnya tidak mudah karena ia harus membuat 40 jenis kalung  dan gelang yang berbeda model, yang dicocokkan lagi dengan copyan desain baju Ri Na, dan wajib dikembalikan dalam waktu 3 minggu. Meski ia menyanggupinya, tentu harus memutar otak untuk mencari 40 desain berbeda.

Ji Ryeon keluar dari Freyja membawa berkotak-kotak manik-manik dan tas tambahan sampai tubuhnya oleng dan matanya tak bisa melihat ke depan. Ditambah lagi ponselnya berdering minta diangkat.

“Ya!” seru Jun Sang, “Kau di mana?”

“Aku masih di toko. Wae?

“Kenapa lama sekali—kau cari apa sih?! Jangan lama-lama—ayo kencan!” perintahnya.

“Aku sibuk!” bantah Ji Ryeon, menatap tugas di depannya.

“Tugasnya kan sudah kita selesaikan tadi siang.”

“Min Ah ngajak main nih.”

“Aku mau kencan! Turuti aku!”

“Kencan saja sama monyet! Sudah ya. Kututup.”

Tepat setelah memutuskan sambungan, Ji Ryeon jatuh telentang ke tanah. Ia baru saja menabrak seorang pria paruh baya berpakaian rapi.

“Omo—jeosonghamnida!” katanya buru-buru sambil bangkit kembali.

“Kau baik-baik saja?” paman itu berbaik hati membantunya mengumpulkan ratusan butir manik-manik yang jatuh berserakan.

“Gwaenchana! Jeosonghamnida! Kamsahamnida!”

“Tidak apa-apa…”

Ji Ryeon mengepak semuanya dengan terburu-buru. Sekali lagi ia meminta maaf dan secepatnya pergi dari tempat itu karena malu dilihat orang.

Lelaki itu memperhatikan Ji Ryeon sebentar, yang jalannya saja sudah kepayahan. Saat melangkah menuju Freyja, kakinya terjanggal sesuatu.

Ia mengutip ponsel milik Ji Ryeon, melihat lagi ke arah ke mana Ji Ryeon pergi, namun anak itu sudah tidak kelihatan lagi.

Akhirnya setelah sekian lama akhirnya gw bisa mempublish part 23! Horeee!
Bagi yg menunggu cerita ini, silahkan baca ya! Ayo komen doonnggg!

Today’s Song:
Fly to the Sky – Wanna be With You

Photo credit: h23b@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on March 19, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 17 Comments.

  1. aseeeeekkkk…

    dilanjuttt.. dilanjuuuttt… \^^/

    jgn bikin penggemarmu mati penasaran T.T

    kiss dulu biar semangat bwt part berikutnya

    mmuahh.. :p

  2. yaayyy~~~
    aq ketinggalan niihhh…
    weeww
    ternyata gini yaaa…..
    heee
    ayooo zuuuyy
    smangaatt niihhh
    jdkan aq inspirasimuuuu..
    kikikikkkkkkkk
    ditunggguuu lanjutannyaaa yaaa🙂

    hehehehe
    hilda onniii
    ayo lanjutin jugaaa ff nyaaa🙂

  3. junsang akhirnya comebacckkkk!!!
    eh itu yang nabrak siapa onn?? kayaknya aku tau deh.. ihihihiii…
    eh part yang ini seungwan cuma jadi cameo ya? huaa, padahal aku nunggu seungwan. pengen tau kayak gimana. hehe
    ayooo semangat nulisnya! jangan terima hot kissnya yupina, onn! pasti ntar jadi gak bisa mikir.. wkwkwkwkwk..

  4. @yupina
    iya makasi ya udah sabar nunggu nya hiks

    @purplee
    yg nabrak jiryeon kan🙂
    haha udah tau duluan nih😛
    tenang aku udah pake garam beryodium (mempan ga yah😄 ) jadi ngga bakal kena radiasi nuklirnya yupina hohoho

  5. udah baca!! ^^
    Beuh… makin komples aja masalahnya… dan semuanya belum ada yg sampe klimaks… bahkan keknya masih jauh dari klimaks… hmm…ditunggu deh yaaa… ^^

    btw, itu 40 aksesoris maksudnya yg bikin design-nya Ji Ryeon juga?? dalam 3 minggu?! dewa deh kalo bisa selesai! hahahaha… Ji Ryeon Hwaiting!! ^^p

  6. setelah sekian lama nongol juga lanjutan FF-nya..geregetan banget ama tu Geum Ga..gw getok kalo jd Ji Ryeon…ayo lanjutakan terus Zuyu..”hwaiting “

  7. makin seru aja … nam hee kaya seseorang deh

  8. @lovemoon onn gomawo again (_ _)

    @yossy kayak sapa say? ueheheheh

  9. akhirnyaaaaaaaaaaaaaaa………… *walaupun telat*
    hehe…

    makin seru makin penasaran ma part lanjut.y…
    spa tuhh yg nabrak ji ryeon?? kyk…~

  10. kreen,,,
    ttep dlnjut ea onn,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: