[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 24)

There’s someone living in my heart
Someone breathes within me
I like it, I really like it
Should I bear this pain forever
What else can I do

Yoon Ji Seok baru kembali dari pengembangan proyek perhotelannya di Amerika Selatan dan selama tiga minggu mengelilingi beberapa negara. Namun ia ke sana lebih untuk berwisata karena toh sebetulnya tak perlu susah payah pergi kalau punya banyak anak buah yang bisa disuruh-suruh. Dan memang, ia sangat menikmati liburannya, sekedar bersenang-senang dengan musim panas, dan moqueca! (Moqueca adalah masakan tradisional Brazil yang terbuat dari ikan, bawang, tomat dan bumbu lain). Selama ini tujuan liburannya kalau tidak Eropa, ya Asia. Ia tak akan mengatakan kalau bertandang ke Freyja karena rindu pada Ri Na, dan tak berniat mengaku mempelajari tango dengan gadis-gadis eksotis di Argentina sampai lupa pada istrinya.

Ponsel yang ditemukannya tadi ada dalam saku jasnya. Si pemilik ponsel pasti bawahan Ri Na, mengingat begitu banyak pegawai yang bekerja di Freyja selalu pontang-panting kepayahan. Pelayan menyambutnya seperti yang sudah-sudah, “Annyeong haseyo, sajangnim.” dengan senyum seindah mungkin dan hormat setunduk mungkin. Namun bagi Ji Seok, cukup mengangkat tangannya sedikit, mereka sudah tahu kalau ia menerima salam mereka.

“Ah…! Yobo!” panggil Ri Na, di lantai dua saat ia sedang mengawasi mengawasi pegawainya membuat pola. “Kerjamu lancar? Omo… kulitmu jadi agak coklat.” Ri Na menyentuh kulit wajah Ji Seok, “Iklim di sana nampaknya cukup panas. Kalau hotelnya sudah jadi, aku akan mencoba liburan juga.”

Ji Seok tetap berdiri menatapnya tanpa terlalu mempedulikan basa-basi tersebut. Ri Na tahu kalau itu adalah tanda kalau Ji Seok meminta waktunya.

Yobo, aku sedang sibuk,” ujar Ri Na, memamerkan keadaan sekelilingnya.

“Kau memang tidak pernah punya waktu luang kan.”

Ri Na mengangkat kedua alis matanya, mengalah, “…Baiklah…”

Mereka, meskipun sanggup bertahan dalam pernikahan selama 26 tahun, tak mempunyai pemikiran yang sama. Jika Ri Na memilih Selatan, maka Ji Seok adalah Utara. Orang-orang tidak mengetahui akan hal ini dan mengganggap keluarga Yoon adalah contoh keluarga yang memiliki kesamaan visi misi antar suami-istri. Memang hubungan mereka tidak buruk, tetapi juga tidak mesra. Kalaupun iya, paling-paling hanya diperlihatkan oleh kolega mereka saja, atau kalau ada maunya.

“Negara di sana terkenal dengan gadis-gadis cantik,” ujar Ri Na, mulai menghidupkan lighter dan merokok lagi, “Apa kau bertemu dengan mereka? Saat latihan tango, misalnya…?”

Ji Seok menatapnya sinis, tetapi bukan karena sindiran Ri Na. Ji Seok tak suka wanita merokok.

“Bisa tidak, kau hentikan kebiasaanmu itu?”

Ri Na terdiam, lalu menggeleng dan malah tersenyum. Berkali-kali diperingatkan, ia bersikeras tak mau menghilangkan kebiasaannya itu.

Ji Seok menyeruput teh hangat di depannya, dan Ri Na bicara lagi.

“Jun Sang sudah kuliah,” katanya, “Di Seoul.”

Ia menunggu reaksi Ji Seok, tetapi sayang tak sesuai harapannya. Ri Na mengira Ji Seok akan marah tetapi pria itu bersikap tenang.

Ri Na melanjutkan, “Waktu kau pergi, aku mengunjungi Ayah dan beliau bilang Jun Sang boleh sekolah di mana saja. Ayah memihak padanya, jadi menurutku tak masalah. Dia anak yang pintar kan? Pelajaran di mana-mana juga sama.”

“Lulus SMP dia pergi dari rumah dan tak mau bertemu denganku. Kadang-kadang aku merasa menyesal, tapi sudah terlanjur…” kata Ji Seok, “Sekarang aku ingin memberikan tempat terbaik untuknya.”

“Tempat terbaik menurutmu, yobo,” balasnya, “Kau tahu, Jun Sang tidak akan pergi ke manapun. Dia sangat betah tinggal di Korea. Dan juga… kau seperti terburu-buru, padahal biasanya tidak begitu mempedulikannya. Lagipula dia sudah lama tinggal di sini sendirian sementara kita pergi terus. Kita ini orangtua yang aneh… ya kan?”

Ji Seok membiarkan Ri Na terus bicara. Ia pendengar yang baik.

“Kau tidak mengunjungi Ayah bulan ini. Dia nampaknya kesal padamu dan pada Jun Sang,” tambahnya, “Beliau sudah sangat tua meski sehat-sehat saja. Sepertinya hanya aku yang baik padanya.”

“Aku akan datang besok.”

Keurae? Wah bagus sekali,” puji Ri Na, “Omo… sudah berapa jam kita bicara?” Ri Na menengok arlojinya. Padahal baru beberapa belas menit. “Yobo, kau tidak kembali ke kantor?”

“Ya, kalau kau mengusirku,” balas Ji Seok, bangkit dan merapikan jasnya, “Aku akan pergi.”

“—Aigoo, aku tidak mungkin mengusir suamiku sendiri!” balas Ri Na.

“Yah… kusempatkan pergi ke sini tapi malah tak dianggap…”

Ri Na tertawa, “Lain kali akan kuanggap.”

“Aku hampir lupa.” Ji Seok berbalik dan menggapai saku jas dalamnya, “Tadi ada anak perempuan tak sengaja menjatuhkan ini di depan,” ia menyerahkan ponsel warna putih itu, “Dia pasti baru keluar dari butikmu. Mungkin akan kembali lagi mencarinya.”

“Ji Ryeon…?” gumam Ri Na, memandang ponsel di tangannya.

“Anak magang ya? Nampaknya masih sangat muda.”

“Dia pegawai baruku,” ujar Ri Na sambil menyimpan ponsel Ji Ryeon ke dalam laci lemari pajangnya. “Bagaimana menurutmu? Dia cantik kan?”

“Apa? Dia berjalan terburu-buru, aku tidak memperhatikan wajahnya,” balas Ji Seok.

Ri Na menyungging senyum, “Dia anak yang menarik. Kau pasti… juga akan tertarik padanya… nanti akan kukenalkan padanya.”

“Untuk apa?” tanya Ji Seok sembari berjalan keluar ditemani Ri Na.

“Lihat saja nanti…”


******


Ji Ryeon mengepak semua barang-barangnya ke dalam satu koper dan satu tas jinjing serba besar. Ia tidak akan membawa dress Anna Sui-nya, clutch bag, dan aksesoris kristal dan berlian. Hanya pakaian seperlunya, sedikit kosmetik dan perlengkapan kamar mandi, dokumen penting dan buku-buku, tabungan, serta barang-barang berharga yang dibawanya dari Jinju.

Sore ini ia siap pergi dari rumah Chae dan menempati asramanya. Lalu Ia akan bebas! Sebebas burung di langit. Tak akan ada lagi siksaan mental dan tak akan ada lagi rasa segan karena tinggal dengan orang kaya.

Ji Ryeon turun ke lantai satu tempat Geum Ga biasa menghabiskan waktu: ruang TV. Ia menghadap Geum Ga, yang agaknya sudah menduga kalau suatu saat Ji Ryeon akan pergi dari rumah itu. Tetapi Geum Ga tak memberi respon apapun, sementara pelayan muda yang tak sengaja menangkap adegan ini, pergi mengadu pada pelayan tua. Akhirnya mereka semua berdiri mengintip di pintu seperti menyaksikan orang kena usir.

Imo,” panggil Ji Ryeon, “Hari ini, aku sudah bisa menempati asrama di kampus. Aku mohon diri.”

“Kau yakin?” tanya Geum Ga, “Kau yakin bisa mengatasi semuanya setelah keluar dari sini? Kau harus tahu, begitu kau tidak tinggal di sini lagi, kau bukan tanggung jawabku.”

Ji Ryeon tinggal di situ pun tak ada bedanya. “Ne. Aku yang akan mengurus diriku. Aku sudah tahu konsekuensinya dan tidak akan merepotkan kalian.”

Geum Ga menganggung singkat.

“Terima kasih atas kebaikan Bibi,” Ji Ryeon menunduk, “Selamat tinggal.”

Ji Ryeon mundur menyeret kopernya, menuruni tangga di halaman dan dikejar oleh beberapa pelayan setianya.

“Agassi!” teriak Bibi Hyo Min, “Kenapa Nona pergi dari sini?!”

“—Nona marah pada Nyonya Geum Ga dan Nona Nam Hee makanya pergi?” sela Yu Jin, dua pelayan lain juga ikut-ikutan.

“Aku memang sempat marah pada mereka,” gumamnya, “Tapi bukan itu yang membuatku ingin pergi. Aku lebih suka tinggal sendiri saja.”

Agassi, nanti Nenek Anda sedih…”

Ji Ryeon menerawang, “Mungkin Nenek sangat kecewa pada tindakanku… tapi kurasa Nenek tidak akan marah begitu melihatku lebih leluasa di luaran. Bukannya tidak nyaman sewaktu Nenek masih ada, hanya saja… aku sudah tidak cocok lagi tinggal dengan kalian, dan aku sudah dewasa.”

Mereka masih mencegahnya dengan memegang koper Ji Ryeon dan berusaha membawa masuk lagi.

“Gwaenchanayo!” kata Ji Ryeon, “Aku sudah berpikir soal ini… Walaupun cuma dua tahun, kalian sangat baik padaku. Terima kasih.”

Bibi Hyo Min bahkan sampai menangis dan meremas-remas celemeknya.

“Aku kan masih tinggal di Seoul!” balas Ji Ryeon bingung, “Sudah ya, aku pergi dulu. Selamat tinggal.”

Ia benar-benar bukan lagi bagian dari rumah Chae. Langkahnya terasa ringan meski bawaannya berat. Di luar pagar, Ji Ryeon masih sempat menengok ke halaman. Pelayan yang selama ini cukup dekat dengannya masih ada di tangga sambil melambaikan tangan. Lalu Ji Ryeon berjalan menjauhi mereka, berjalan keluar dari komplek perumahan mewah itu hingga akhirnya menemukan taksi. Lebih baik begini. Ia tidak akan dan tidak boleh menyesali keputusannya.


******


Akhirnya ia sampai di asrama! Setelah membayar ongkos taksi Ji Ryeon langsung menemui pengurus di sana untuk mengambil kunci. Sudah bersemangat begini, hatinya mencelos begitu mendengar jawaban di penjaga.

“Maaf, Nona. Seluruh kamar di lantai tujuh dikosongkan karena sedang direnovasi,” kata wanita itu.

Mwo?! Kenapa tidak bilang lebih awal?!” seru Ji Ryeon kalap. “Aku kan tidak mungkin kembali ke rumah! Eottokhe?!

“Nona tenang saja,” balasnya, “Renovasi ini tidak akan lama, mungkin lima hari sudah selesai. Ini hal lumrah kok! Jadi selama lima hari, kau bisa menumpang di kamar lain. Anak-anak di lantai bawah juga nanti akan menginap di lantai atas karena perbaikan ini bergiliran.”

“Aku boleh coba naik ke atas?”

Maka naiklah Ji Ryeon ke lantai tujuh untuk meyakinkan diri sambil mempertimbangkan tidur sendirian di sana. Tetapi tempat itu lebih kelihatan seperti konstruksi bangunan yang belum jadi dibandingkan koridor di lantai bawah. Berantakan dan berdebu oleh semen, dan banyak kaleng cat serta berkotak-kotak lantai keramik.

Kesimpulannya, Ji Ryeon tidak bisa tinggal di sana! Kamar potensialnya pun dalam perbaikan, plesternya masih terbuka dan lantainya kotor bukan main. Ji Ryeon betul-betul bengong meratapi kemalangannya diiringi musik latar dari riuhnya para pekerja itu, bahkan ia dimarahi oleh salah satu kuli bangunan yang menganggap kehadirannya mengganggu.

Ji Ryeon turun lagi ke lantai satu dan beruntungnya ia bertemu dengan teman seangkatannya, Lee Min Sook. Gadis berpipi tembem itu mengajak Ji Ryeon tidur dengannya namun Ji Ryeon tidak tega melihat isi kamar Min Sook karena sudah ada seorang teman lagi yang menumpahkan semua barang-barangnya ke kamar sampai terasa seperti gudang.

Ji Ryeon menemui wanita penjaga itu lagi dan bertanya padanya, “Ahjumma… ini cuma untuk lima hari kan…? Tidak lebih kan?”

“Tidak lebih!” balasnya yakin.

“Bagaimana kalau lebih?”

“Anak ini!” seru si wanita, “Jinjja! Kubilang lima hari pasti lima hari!”

Ji Ryeon menelan ludah sambil memegang kopernya lagi, “Kalau begitu… aku pergi dulu… lima hari kemudian aku akan kembali ke sini… permisi…”

Ji Ryeon mulai terluntang-lantung di jalanan. Setelah ini ia tidak tahu harus ke mana. Kalau kembali ke rumah, pasti ditertawakan. Ia pun tidak tega kalau harus menumpang di rumah teman-temannya. Han Na punya banyak adik sedangkan Min Ah tinggal dengan keluarganya dan punya dua kakak laki-laki. Pasti mereka tidak akan leluasa kalau ada orang asing. Ia tak ingin menceritakan dulu kalau ia pergi dari rumah.

Satu-satunya tempat yang bisa dijadikan singgahan hanyalah losmen yang murah, yang letaknya ada di dekat pasar dan berdempet-dempet dengan toko lain. Pokoknya, tidak ada yang boleh tahu ia tinggal di sana untuk beberapa hari ke depan.

Ji Ryeon sangat takut masuk ke losmen itu. Bukan apa-apa, tetapi beberapa pelanggan yang dilihatnya adalah pegawai kantoran mabuk ditemani wanita berdandan menor. Ini kan bukan love hotel! Ingin tidur di tempat sauna, tapi kalau ribut mana bisa bikin pekerjaannya.

Ji Ryeon membongkar isi tas untuk mengambil kertas, kotak pensil dan ponselnya untuk dicharge.

Ponselnya tidak ada. Ji Ryeon membongkar kopernya, merogoh saku celana dan mengibas-ngibas roknya, mencari ke dalam kantong koper, memeriksa seluruh kamar, ke koridor, memeriksa pot bunga sampai bertanya pada resepsionis dan memakai telpon kamar untuk menghubungi nomor ponselnya, namun tidak diangkat!

Barangkali ponselnya jatuh ke sungai, tapi hari ini ia tidak melewati satu sungaipun. Atau tidak ada yang mau memungut dan dibiarkan begitu saja… atau terlindas mobil!

Ji Ryeon berteriak saking kesalnya sehingga si resepsionis kaget.

Karena dilanda mood yang terlampau buruk, Ji Ryeon memutuskan menghukum dirinya dengan makan malam satu cup ramyeon instan super pedas dan sebotol besar minuman soda sambil menemaninya mengerjakan tugas dari Ri Na.

Ji Ryeon menggambar rancangan kalung dengan garis-garis halus dahulu. Ia mengambil satu batuan dari kotak aksesoris yang diberikan Ri Na dan menggambarnya sebagai mata kalung, mencocokkannya dengan batu lain sebagai pelengkap, kemudian menggambar talinya.

Gambar pertama sampai gambar keempat masih oke. Namun ia terus teringat ponsel dan asramanya, tidak tahan untuk tidak melampiaskan kemarahannya dan malah sukses membolongi kertas dengan tekanan pensil berlebihan pada desain kelima. Benar-benar kesal sampai pundung sesaat, lalu melahap ramyeon yang sudah tercium aroma sedapnya dan berniat akan tambah dua mangkuk lagi kalau perutnya belum kenyang.

Pintu kamarnya diketuk. Ji Ryeon masih terlena oleh ramyeon hingga yang mengetuk tidak sabar dan membuat bunyi sangat besar di ketukan berikutnya.

“Sebentar!” seru Ji Ryeon ikutan tidak sabar. Siapa sih yang  berani menambah kemarahannya…

Ji Ryeon menghentikan makan malam tragisnya dan bangkit membuka pintu. Mungkin bellboy (itupun kalau begitu sebutannya di losmen murah begini) atau resepsionis yang menemukan ponselnya. Ha! Ia akan sangat berterima kasih kalau mereka mengganggunya karena membawa berita gembira. Teringat akan hal itu membuatnya sedikit lebih ceria.

“Siapa—?”

Tetapi Ji Ryeon menutupnya lagi dengan kecepatan super. Karena orang yang datang menemuinya bukanlah bellboy atau resepsionis. Seseorang itu adalah orang yang paling tidak ingin ditemuinya di losmen itu, yang baru saja menatapnya dengan mata setajam elang sambil bersender di dinding, menunggu sang tamu kamar nomor 11 membukakan pintu untuknya. Seseorang itu adalah Yoon Jun Sang.

Hoah! Ini adalah akhir dari bab 6 yang penyelesaiannya gw bikin buru2 tengah malem ini. Maaf. Hehehe.

Ohiya gw juga bakal menyertakan hidden picture di postingan tertentu, yang kalo dibuka bakal keluar foto pencitraan karakter wanita di sini tapi kalian jangan terpengaruh versi gw juga ya. *ini apaan sih gaje deh😛 Sori, buat karakter cowo, gw ngga dapet yg pas hahaha

Today’s Song:
J – 가슴에 누가 살아요

Photo credit: h23b@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on April 3, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Omooo…
    Ud lama ga ym an ud nongoll ff muuu…
    Kyaaaaa…
    Ayooo bukaiinnn jun sangnyaaaa …
    Lanjutkaann zuuuyyy ><

  2. Fotonya stju kalo begonooo…
    Soalee ngerasa ga ad seleb yg pantez disamain ama jun sang ma ji ryeooonnn ^^

  3. ya ampun malang bener deh nasibnya Ji Ryeon ini… tega bgt nih zuyu… sampe dibikin kesialan yg bertubi2 gitu…
    ayo lanjutkan! mau liat Jun Sang bakal semarah apa… hihihihi… ^^

  4. @yupina & missjutek makasi my friends!!! >3<

  5. heloooo maaapp banget yaaa azuyu onnie tercinta *ueeekk* diriku baru baca sekarang. sibuk. uehehehe..

    diriku suka bagian terakhirnyaaaa!!!
    woaaaaaaaaa aku mau didatengin junsang di depan pintu kamar kayak gitu. kereeennn!!! ahuahahahha.. kok junsang bisa tau jiryeon disitu?? mata-matain yaaaa?? ahahahahahaaa… lucuuuu banget mereka!!!
    onn, kapan karakter aku muncul? *ngarep* lol

  6. oiyaaa onn, ff nya cepet dilanjutin yaa!
    ngomong” itu jiryeonnya mirip aku deh. wkwkwkwkwkwk
    onn, cowo tampang berbaju birunya buat akuuuuuuu. hahahah

  7. hahaha tu piku mirip ama eun jo ya…imut2 tapi okelah…kapan piku Jun sangnya keluar??? harus yg ganteng ya..awas kl mirip si itu…..
    Ceritanya makin lama makin keren…konfliknya makin mantab..bayangin mata Jun sang setajam elang wuih mauuuu….hehehe, Good Job zuyu..lanjutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: