[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 25)

The word that makes me happy because I can say, the word which the pronunciation is even sweet
The word that I want to say in the best way on the best day

I love you love you love you. It is short even I say once and twice
I confess my feeling which is very honest because I can’t hide it

Secepat apapun gerakan Ji Ryeon, tenaganya masih kalah dibandingkan Jun Sang. Ia terus mencoba menutup pintu tetapi hanya sekali hentakan Jun Sang sudah cukup membuat usahanya sia-sia.

Kini mereka berhadapan. Jun Sang sedang memelototinya dan Ji Ryeon tak berani menegakkan wajah.

“Kau ngapain ada di tempat ini?”

“Kamarku sedang diperbaiki… atapnya bocor…” balas Ji Ryeon asal. “Jadi, aku tidur di sini dulu…”

“Sampai kapan?” Jun Sang bertanya seperti polisi, “Sampai kapan mau menginap?”

“Sampai… sampai selesai diperbaiki!” tukasnya ceria, “Aku tinggal di sini sebentar saja. Nanti kalau sudah beres, Bibi akan memberitahu… hahaha! Tempat ini lumayan bagus, lho!”

“Kenapa tidak numpang di kamar sepupumu?”

“Tak mungkin aku sekamar dengannya. Kau mau kami perang lagi?”

“Kalau tidak dengannya, memang di rumah sebesar itu tidak ada kamar tamu? Kalau tidak ada kenapa kau tidak tidur dengan pelayanmu? Lalu kalau mereka juga tidak mau apa kau tidak bisa tidur di sofa saja hah?!” Jun Sang bicara begitu cepat. “Bodoh! Cari alasan yang lebih logis! Kalau kau bilang rumahmu roboh atau terbakar habis sampai tidak ada yang tersisa atau kalian diusir karena tidak bayar hutang aku bisa percaya. Haish…!

Ia berjalan melewati Ji Ryeon, memasukkan kembali kertas-kertas, pensil dan batu perhiasan ke dalam tas dan menarik koper Ji Ryeon keluar.

“—Kau mau apa?!” cegah Ji Ryeon, merebut lagi koper kesayangannya yang sudah berkelana bersama sejak pindah ke kampung.

“Ikut aku pulang.”

“—Tidak mau!”

“Ikut!”

“Tidak mau!” Ji Ryeon berteriak, “Sirheo! Sirheo! Sirheo!”

“Kau keras kepala sekali!” Jun Sang menghela nafas, jengkel. “Ya, katakan. Kenapa kau ada di sini? Cepat jawab!”

“Ara!” balasnya. Ia mau menjawab setelah Jun Sang mengembalikan si koper ke tangannya, “Asramaku direnovasi jadi belum bisa ditempati… aku tidur di sini saja…”

“Kau tinggal di asrama?!”

Ji Ryeon mengangguk.

“Kenapa harus tidur di hotel, kau bisa kembali ke rumah sampai asramamu selesai renovasi!”

“Aku sudah keluar dari rumahku…” jawabnya, “Kau kan sudah tahu kalau aku tidak begitu dekat dengan mereka—”

“Kalau sedang butuh bantuan telpon aku! Sekali lagi, dasar Bodoh—!”

“—Kalau ponselku tidak hilang aku sudah menyuruhmu menyewakan hotel bintang lima untukku dan jangan panggil aku ‘Bodoh’!”

“—Karena kebodohanmu makanya ponselmu hilang, Bodoh!”

Keduanya saling mendelik dengan nafas berat menahan emosi. Baru kali ini mereka bertengkar sampai teriak-teriak seperti itu.

“Sudahlah…” ujar Jun Sang capek, duduk di kasur lipat dan mencari ke belakang lemari. “Di mana sih jatuhnya…?”

“Aku sudah periksa ke seluruh hotel, tidak ada. Di jalan sekitar sini juga tidak ada…”

“—Kau carinya kurang jauh!” selanya, “Apa ketinggalan di rumahmu?”

“Ti—tidak mungkin!” kata Ji Ryeon, “Aku sudah memastikan membawa semua barang-barangku. Kalau pun iya, pasti ada pelayan yang menyimpan dan mengangkatnya waktu kuhubungi…”

“Jangan nangis, kan cuma ponsel—”

“Kau sinting? Aku tidak nangis!”

“Iya deh, kau tidak nangis…” selanya cuek, “Nanti kubelikan yang baru.”

“Lupakan saja.”

Ya, wajahmu jangan ditekuk begitu. Sudah jelek jangan tambah jelek. Mana ada yang mau sama perempuan sepertimu,” ledeknya, “Ya, kan nanti kubelikan yang baru! Kau mau model apa? Yang paling canggih atau yang paling mahal?”

“Kau ke sini jualan ponsel ya?!” Ji Ryeon naik darah, “Aku tidak butuh.  Pulanglah, aku capek. Aku mau istirahat.”

Jun Sang kembali merebahkan tubuhnya ke kasur lipat, “Istirahat saja.”

“Pulang!” Ji Ryeon melempar bantal ke wajah Jun Sang.

“Aku juga mau tidur!”

“Pesan kamar lain, kamar ini sudah kutempati.”

“T-i-d-a-k m-a-u.”

Ya!” ia berteriak karena Jun Sang memalingkan badan dan tidur seenaknya di kasurnya. “Tidak mau pulang?!” diseretnya kasur lipat supaya Jun Sang terganggu, “Cepat pulang!”

“Iya, iya!”

“Pulang!”

“Chae Ji Ryeon,” panggilnya, “Kau tidak mau melihatku? Kau sudah bosan padaku? Apa aku semudah itu kau benci?” Jun Sang memandangi Ji Ryeon dengan mata nanar dan penuh arti, “Kau marah-marah terus hari ini. Apa mungkin kau sebenarnya terpaksa pacaran denganku…”

Aniya! Bukan begitu—!”

“…Kau bahkan menganggapku jualan ponsel… padahal aku kan bermaksud baik…”

“Kau baik kok, Jun Sang!” bujuk Ji Ryeon lagi, “Belikan aku yang paling canggih ya! Besok kita pergi pilih ke toko ponsel! Ayo kita pergi besok! Besok!”

“Kau pura-pura tidak marah…”

“Aku memang tidak marah! Jinjja!

“Keurae?”

Ia mengangguk kuat-kuat. “Aku tidak marah!”

“Baguslah, kalau begitu aku bisa tidur di sini!”

“Mwo?!”

“—Wah, ada makanan!” Jun Sang menyambar ramyeon milik Ji Ryeon, yang terlupakan di atas meja.

Ya—Jun Sang… itu punyaku!”

Jun Sang tak mau dengar dan melahapnya sampai habis, bahkan kuahnya juga tak bersisa. Ji Ryeon mengerutkan dahi dan memalingkan wajahnya, namun menurut Jun Sang, caranya marah sangat lucu dan menggemaskan hingga ia tak tahan kalau tidak menciumnya sebagai sogokan. Tetapi Ji Ryeon yang perutnya  belum kenyang, mengelap dengan penuh kemurkaan pipi yang barusan dikecup, Jun Sang malah tertawa.

“Ya…” panggil Jun Sang, “Kau lapar?”

Ji Ryeon mogok bicara. Bodohnya lagi, perutnya berbunyi saat suasana begini sepi. Ia memutar badan memunggungi Jun Sang dan duduk menekuk lutut. Jun Sang sekali lagi tertawa, merangkulnya dari belakang, memegang tangannya dan kembali menciumnya. “Ji Ryeon-ah… daripada ramyeon, kita bisa makan yang lebih enak. Mmm? Kau mau makan apa? Steak hotel bintang lima? Sushi impor dari Jepang?”

Ji Ryeon tak bergeming saking kesalnya.

Ya, ayo bicara… Ji Ryeon-ah…” bisiknya, “Kau mau makan jjajangmyun?”

Ji Ryeon mendengus keras-keras.

“Bulgogi? Galbi? Es krim?” Jun Sang terus berusaha sambil menempelkan pipinya ke pipi Ji Ryeon, “Kau suka es krim kan? Kita beli es krim! Ya? Jebal…”

Jun Sang terus merayunya, mendekatinya, mengisenginya dan segala upaya apapun agar Ji Ryeon tersenyum. Dan ia berhasil.


******


Jun Sang memesan begitu banyak daging dan memasak galbi untuk Ji Ryeon di restoran tempat mereka singgah malam ini. Tubuh Ji Ryeon yang ringan membuatnya merasa harus memberi makanan banyak-banyak, tapi ia tidak mengizinkan Ji Ryeon meneguk setetes pun soju.

“Nanti kau mabuk,” ia mencegah Ji Ryeon agar mengurungkan niat.

“Aku mau coba!” teriak Ji Ryeon, mengambil gelas soju dan menuangnya sendiri.

“Sudah cukup,” Jun Sang menarik gelasnya.

“Aku haus, mau minum,” rebut Ji Ryeon.

“Minum air putih saja.”

“Aku mau soju!

“—Anak ini…!”

“—Ahjumma, tambah satu botol lagi!”

Ya, kau sudah mabuk!”

Jun Sang terus melarang berkali-kali, dua jam kemudian dan Ji Ryeon benar-benar mabuk pun ia tak mampu melawan semangat Ji Ryeon yang sedang ‘panas-panasnya’ menikmati soju. Wajah Ji Ryeon memerah seperti kena damprat, matanya sayu dan gerak-geriknya sudah goyang. Jun Sang harus duduk di sebelahnya supaya Ji Ryeon tidak jatuh ke belakang ataupun tertungging ke depan. Ini pertama kalinya Ji Ryeon mengecap minuman keras dengan kadar alkohol tinggi, dan pertama kalinya pula mabuk.

“…Juuuuun Saaaaaaaang…” panggilnya manja, “Hehehehehehehehe…”

“Sudah, sudah.” kata Jun Sang, “Ayo pulang.”

“Aku mau di sini!” ia berteriak, “…Jun Sang… Ehehehehehe… mhehehehehe…”

“Apa?” ia salah tingkah dengan wajah Ji Ryeon yang menatapnya serius.

“Mukamu aneh deh…!” jawab Ji Ryeon, “Matamu kok bentuknya segitiga? Hehehehehehehe…”

“Kau sudah gila.”

“Mmm… terus… bibirmu juga lucu… warnanya merah seperti wanita… jangan-jangan kau pakai lipstik ya…? Hehehehehehe…”

Jun Sang kaget dan refleks saja memegang bibirnya, lalu mendengus dan mengumpat, “Cewek ini kok tidak ada manis-manisnya…”

Ji Ryeon menelungkup di atas meja, memukul-mukul meja,  lalu meraih ujungnya seakan-akan memeluk bantal dan mengigau parah, mengucapkan kata “aneh” “soju” “enak” dan “kenyang” yang tak bisa disusun Jun Sang jadi satu kalimat yang saling berhubungan.

“Hah… kau jadi bego begini,” kata Jun Sang, “Sudah puas? Anak kecil jangan terlalu banyak minum… ayo pulang.”

“—Jangan pulaaaaaang…!”

Ji Ryeon yang ada di bawah pengaruh alkohol mendadak memeluknya sangat kuat, lalu meraba-raba dadanya, dan mencari kancing untuk membuka baju Jun Sang, padahal Jun Sang tidak pakai baju berkancing.

“J—Ji Ryeon-ah… ini tempat umum…” bisik Jun Sang malu.

“Wae…?” Ji Ryeon separo tertidur.

“J—jangan di sini!” Jun Sang menahan geli dan mencegah tangan Ji Ryeon masuk ke dalam bajunya, “Nanti kita lakukan berdua saja—”

“Di sini saja…!”

“Iya, iya, di sini lalu teruskan di rumah!”

“Aku masih mau minum. Jun Sang, bawa pulang minumnya…”

“Ayo!” ia menarik Ji Ryeon, tetapi Ji Ryeon hampir terpeleset. Jun Sang membayar ongkos makan mereka dulu dan kembali  mengambilnya lagi yang sedang terkapar di meja.

Ji Ryeon tak bisa berdiri tegak dan terus menolak pergi sambil mengigau, dan Jun Sang mengeluarkan jurus andalan untuk orang mabuk yang tak sadarkan diri: piggyback. Sudah lama ia tidak melakukannya. Terakhir kali waktu Ji Ryeon jatuh tersandung kaki sendiri sampai lututnya lecet saat berusia 10 tahun. Ji Ryeon adalah ratunya tukang jatuh. Ia sering terpeleset karena berlarian di koridor sekolah, jatuh karena pernah jadi korban bullying, dan pernah menginjakkan kakinya di atas kotoran sapi waktu berkunjung ke peternakan untuk wisata. Ji Ryeon terlihat istimewa bagi Jun Sang karena sejumlah kecerobohan itu.

“…Jun Sang…” panggil Ji Ryeon, ketika berjalan di lorong yang hampir dekat dengan hotelnya menginap, “…Aku… sangat suka padamu…” ucapnya pelan, “Aku suka. Sangat suka…!”

Ji Ryeon mendadak meronta-ronta senang, ungkapan kebahagiaan yang terlalu heboh.

“Iya, iya…” Jun Sang tertawa.

“…Jun Sang… kau suka aku kan…?” nampaknya Ji Ryeon masih mengigau, “Aku suka lho padamu…! Hehehehe…”

“Aku sangat menyayangimu,” balas Jun Sang, “Gadis kecil yang bodoh…”

Setelahnya Ji Ryeon tidak bicara lagi. Kepalanya terkulai lemas bersender ke bahu Jun Sang.

Di dekat hotel, Jun Sang melihat mobilnya yang ia parkir di gang kecil dan mendadak dapat ide bagus. Ia berjalan pasti mendekati si Lamborghini, membuka pintu penumpang lalu membawa Ji Ryeon masuk ke dalamnya.

“Tunggu di sini ya, aku segera kembali.”

Jun Sang berlari ke dalam hotel, merapikan barang-barang Ji Ryeon dari kamar nomor 11, kemudian mengembalikan kunci hotel pada si resepsionis. Ia keluar dengan membawa koper Ji Ryeon, dan disimpannya ke bagasi mobil.

Jun Sang menyetir pelan-pelan, sesekali menengok ke samping untuk memastikan apakah Ji Ryeon masih tertidur pulas, menjauhkan kepala Ji Ryeon dari jendela dan merendahkan punggung jok.

Mereka sampai di rumah dalam beberapa belas menit. Jun Sang menidurkan Ji Ryeon di ranjang, melepaskan jaket, sepatu, serta menyelimutinya. Karena gemas, ia mengambil kesempatan ini untuk mencubit pipinya.

Ia tersenyum melihat Ji Ryeon tak bereaksi. Tidur yang begitu damai tanpa mengetahui apa yang akan terjadi besok. Hembusan nafas pelan dari hidungnya, tak ada gerakan dalam kelopak matanya, bibirnya yang merona dan poninya yang jatuh alami. Ji Ryeon adalah malaikatnya.

Jun Sang membelai rambutnya, yakin anak itu pasti akan marah begitu terbangun dan menemukan dirinya ada di sana. Tetapi lebih baik ia menerima caci maki Ji Ryeon daripada harus membiarkannya sendirian di hotel. Ia akan melakukan apa saja demi kebahagiaan dan keselamatan Ji Ryeon.

Malam ini, Jun Sang memberikan satu kecupan lagi di dahinya, lalu pergi tidur di ruang depan.

Akhirnya awal bab 7!!!! Meski kurang puas sama part ini, gw senang sekali karena ini satu2nya cerita yang sukses berlanjut *ehem* dan buat pembaca yang rela menghabiskan waktu kalian buat membacanya, gw ucapkan jeongmal kamsahamnida!!! Terima kasih sudah mengikutinya sejak awal *terharu*

Ohiya, sekarang gw juga menyertakan link unduh lagu yang quotenya gw tulis di atas🙂 hehehe. Kali ini tidak ada hidden picture! ^o^ disimpen buat next parts kekeke

Today’s Song:
K.Will – My Heart is Beating

Photo credit: foxtrot1@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on April 8, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Yaaa…
    Zuyyyy…
    Keren amaaadddd.. ><
    Lagiiii…

    Miaaan ga ngebaca td maleemm, sangad tewaazzz saiya mpe lappy pun abiz batereeee… T__T

    Zuuyyy…
    Jun sang ntu perfect bangeddd…
    Yayyy…
    Gw ngakak bacanyaaaa…
    Lanjudkaaaannn…

  2. Akhirnya ad link buat ngedonlod..
    Wkwkwkwk
    Ayooo yg baca dikomenn yaa..
    Hargain si izuy ngebikin ne ff…
    Jgn jd silent reader yaaaaaaaa…
    Hee

  3. mhehehehe… part ini bahagia…❤❤
    senengnyaaa… ^^/

  4. ahuahahahahhaaaa…
    part ini kocak abis!!
    ngebayangin junsang ama jiryeon ribut tereak” kayak anak kecil bikin ketawa”sendiri..
    ohohohooo
    teruskan onn!!!! ayooooooooooo lanjutkaaannn
    gak sabar nunggu jiryeon ngamuk” ama junsang. ehuehehehehheeeee

  5. suka FF nya Lanjutlanjutlanjut #maksa
    an

  6. kyaaa…kyaaa…kyaaa…. >.<
    dpet bnget tuh pas ji ryeon mabuk..like it~~~
    lanjuuuuuuuuuuutt….

  7. gw baca nie part serasa hidup ceritanya..bayangan gw mereka bertengkar terus romantis abis adegannya..good job..Lanjutkan!!haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: