[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 26)

I could make you happy
Make your dreams come true
Though there’s nothing that I wouldn’t do
I’ll go to the ends of the earth for you
To make you feel my love

Ji Ryeon menguap dan mencoba membuka matanya. Yang pertama kali dilihat adalah langit-langit yang tertutup tirai, dan di baliknya bisa terlihat sedikit kalau atapnya terbuat dari kaca. Sinar matahari yang hangat mengintip ke dalam.

Ini pasti masih dalam mimpi. Ji Ryeon berbalik ke samping sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia meraba-raba sprei ungu yang lembut itu. Mimpi terasa nyata sekali… sampai rasanya tidak masuk akal.

Ia bangkit secepatnya dan melihat ke sekeliling. Di samping kirinya ada jendela, di depannya ada tangga menuju lantai atas, dan di sebelah kanan ada ruangan lain yang tidak begitu kelihatan dari tempat dia berada. Jelas ini bukan hotel!

Ji Ryeon memperhatikan bajunya. Masih sama seperti yang kemarin. Meski begitu bukan berarti ia dalam keadaan yang aman-aman saja kan?! Lebih parahnya lagi ia tidak ingat apapun tadi malam kecuali minum sampai mabuk dan Jun Sang meninggalkannya sendirian!

Ia mengintip ke luar. Sofa, TV, rak buku, semua benda-benda yang rasanya pernah dilihatnya sebulan lebih yang lalu—dan seorang pria yang sedang memasak di dapur itu adalah Jun Sang!

Ia ingat sekarang, ini kan rumah Jun Sang!

“Ah… kau sudah bangun…” cowok itu nyengir, memegang penggorengan yang sedang memasak telur orak-arik.

“—YA!”  Ji Ryeon berjalan cepat-cepat mendekatinya.

“Jangan ribut.”

“—Kenapa aku ada di sini?!”

“Kau mabuk, sekalian saja kubawa pulang.”

“—Kau sengaja kan?! Byunttae!

“—Apanya yang sengaja?! Kau sendiri yang keenakan minum, kan sudah kularang! Aku tidak melakukan apapun—coba periksa pakaian dalammu, bergeser satu millimeter pun tidak!”

“—Hah…!”

“—Aku yang susah, menggendongmu semalaman sampai badanku pegal…” sambungnya, menuang semua telur ke dalam mangkuk, “Punggungku sakit nih. Kau berat seperti gajah sih.”

“Seret saja aku…”

“Hei…” tegur Jun Sang.

“—Aku mau pulang…”

“Pulang ke mana? Rumah saja tidak punya…”

“Ke hotel!”

Mwo? Wahahaha! Kuncinya sudah kukembalikan sih…”

“—Jun Sang!”

“Aku sedang menyiapkan makan. Duduk,” perintahnya.

Ji Ryeon masih berdiri.

“Duduk.”

Jun Sang menyajikan sarapan di meja. Nasi, sup galbitang, ikan goreng, telur dadar dan kimchi. Ji Ryeon ingin mengomel terus, tetapi tak sanggup. Makanan yang melewati mulutnya sangat enak…

“Mulai sekarang kau tinggal denganku. Tidak perlu tinggal di asrama—”

Ji Ryeon tersedak, “Kau gila?!” teriaknya, “—Apa kata orang kalau aku tinggal denganmu?!”

“Di daerah ini agak sepi,” kata Jun Sang, “Tidak perlu cemas karena tidak akan ada yang menggunjing.”

“…Se… sepi…?!”

Wae?” Jun Sang sengaja mendekatkan wajahnya, “Kau takut aku akan menyerangmu?”

“Tidak!”

Jun Sang menertawakan sikap Ji Ryeon yang gengsian seperti ini, “Anak bodoh…”

Hidup satu atap dengan seorang lelaki adalah hal baru bagi Ji Ryeon. Ia cemas barang-barang pribadinya terbongkar dan menjerit heboh saat Jun Sang dengan santainya berkeliaran di situ hanya dengan sehelai handuk sehabis mandi. Walaupun lelaki itu sudah sangat lama mengenalnya, tapi—hei! Ini Jun Sang lho! Justru karena tinggal dengan Jun Sang ia tak bisa bersikap normal. Walhasil kehisteriaan Ji Ryeon dimaanfaatkan Jun Sang untuk menggodanya, duduk di sebelahnya dan berpura-pura ingin membuka handuk. Jun Sang bilang nanti Ji Ryeon akan terbiasa, namun ia tidak tahu kapan akan terbiasa melihat tubuh kekar dengan perut rata itu lalu lalang di depan matanya.

Tak hanya sampai itu, Ji Ryeon grogi berat saat masuk ke kamar mandi Jun Sang, menggosok giginya seperti orang kedinginan dan mandi ketakutan. Takut kalau-kalau ia pingsan di sana karena bisa mengetahui semua yang ada di kamar mandi Jun Sang, wangi sabunnya, gel dan pencukur apa yang dipakainya… Keluar dari kamar mandi pun ia berjalan kaku.

Di kampus usai masuk kelas, Jun Sang memastikan Ji Ryeon tidak akan bersikeras tinggal di asrama dengan berdiri seperti pengawal di belakangnya ketika menemani ke bagian administrasi kampus untuk menginformasikan ia tidak jadi pindah. Jun Sang benar-benar lega dan nyengir terus seperti anak yang baru dibelikan mobil-mobilan, dan  tak mau melepas gandengannya meski Ji Ryeon menolak, malah ia merangkulnya seakan-akan dunia milik berdua.

Mereka berpisah setelahnya. Jun Sang seperti biasa bekerja di bengkel dan Ji Ryeon pergi ke Freyja, ia harus menyerahkan desain awalnya untuk mendapat respon Ri Na. Kalau bagus, akan dilanjutkan, kalau tidak, maka harus dibuat ulang.

Yang disukai Ji Ryeon dari Ri Na adalah, selain karena nyambung kalau ngobrol dan memberinya kerja, Ri Na juga selalu memberikan baju-baju cantik edisi terbatas, atau baju yang belum diedarkan ke pasaran. Hari ini saja ia langsung dibawa ke lantai dua untuk dijadikan manekin percobaan dan apa yang mereka pakaikan bisa dibawa pulang, gratis! Baru setelah Ri Na diingatkan asistennya, ia mau menghentikan kegiatan mendadani Ji Ryeon dan menuju topik mereka hari ini.

“Aku suka. Kerjaanmu bisa dipakai,” Ji Ryeon kaget mendengar jawabannya, ia sudah mempersiapkan diri kalau-kalau idenya ditolak karena moodnya waktu itu sedang buruk sekali, “Kau tidak mengalami kesulitan membuatnya kan?”

“Tidak.”

“Bekerja di sini tidak ringan tapi kau harus segera terbiasa,” ujarnya, bergerak ke lemari kaca dan mengambil sesuatu, “Anak buahku yang sekarang adalah orang-orang yang sukses bertahan. Tapi tidak sedikit juga yang tidak tahan sih…”

Ri Na kembali merokok.

“Nampaknya karena aku terlalu santai dan sifatku yang egois,” bibir merahnya menyungging senyum, “Padahal aku tidak galak. Ngomong-ngomong, aku mendapatkan ini, kau menjatuhkannya di depan butik.”

Bola mata Ji Ryeon melebar melihat ponsel yang sangat dikenalnya ada di tangan Ri Na. “Seseorang yang mengembalikannya padaku.”

J—jinjja?”

Ri Na mengangguk. “Ada yang berbaik hati mengembalikannya…”

Ia menatap Ri Na dengan sangat bersyukur, lalu memperhatikan ponselnya yang tidak terluka sedikitpun, yang sudah kembali padanya, “Aku sangat tertolong… kamsahamnida! Jeongmal kamsahamnida!


******


Ji Ryeon berjalan pulang ke rumah. Kompleks perumahan elit di pinggir Seoul yang menjadi tempat tinggalnya selama dua tahun. Bukannya mau kembali ke sana, hanya lewat saja. Ada rasa rindu ketika mengingat hidupnya dalam rumah di balik pagar yang jadi tempat pemberhentiannya. Namun sekarang ia orang asing, dan ia sendiri yang memutuskan hal itu.

Ia harap setelah menghilang dari sana, suasana rumah Chae tidak panas dan Nam Hee bisa leluasa tanpa pengganggu. Dan ia harap, neneknya juga tidak marah padanya, atau kalaupun marah, semoga neneknya tidak membencinya.

Ji Ryeon berbalik arah. Seseorang berseragam sekolah SMA Han Jeong mencegatnya di depan. Dengan wajah sesinis ular dan mata menyipit penuh kemarahan.

“Nam Hee-ya…”

“Ada apa ke sini?” ia melirik tumpukan tas Freyja yang digenggam Ji Ryeon, “Hah…”

Ia mengejek, berpikir Ji Ryeon menghabiskan uang yang didapat dari rumah Chae untuk membeli semua pakaian yang diberikan Ri Na. tetapi Ji Ryeon tak mau membantah.

“Egois.” cercanya tanpa basa-basi. “Kau sudah keluar dari rumah, untuk apa kau datang ke sini? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Chae Ji Ryeon.”

Justru Ji Ryeon yang tidak mengerti Nam Hee.

“Kali ini kau mau apa? Jangan harap kami mau menerimamu kembali.”

Ji Ryeon menatap ke bawah, berpikir kalau Nam Hee tidak ada bedanya.

“Aku… tidak sempat bertemu denganmu kemarin,” balasnya, memandang Nam Hee tanpa takut, tetapi tak ada niat baginya untuk menjadi ofensif. Ia ingin terlihat tegar, “Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal…”

Raut wajah Nam Hee berubah melunak.

“Kupikir karena ada aku, kau jadi sering marah-marah. Aku tidak ingin mengganggumu, sungguh,” tambahnya, “Kalau aku melakukannya, aku minta maaf. Aku minta maaf kalau tidak memperlakukanmu sebagai adik dengan baik.”

Nam Hee tak tahan dengan kata-kata Ji Ryeon, yang begitu menancap dan membuatnya, sebagai manusia normal, merasa tersindir dan malu, “…Eonni…”

Ji Ryeon tersenyum padanya, “Terima kasih sudah mau menerimaku. Kalau kau terpaksa, aku berterima kasih kau sudah mau menganggapku keluarga. Setelah ini pun, kita tetap keluarga. Semoga kau bisa merasa lega. Aku cuma ingin bilang itu.”

Ji Ryeon menunduk padanya, lalu berjalan melewati Nam Hee yang tak bergerakkarena apa yang diucapkannya tepat sasaran.

“—Eonni…!”

Nam Hee memanggil sebelum Ji Ryeon tak bisa mendengar teriakannya.

“Ya?”

“Ha—hati-hati…”

Malu mengatakannya, karena selama ini ia nyaris tak pernah mengucapkan kalimat yang baik pada Ji Ryeon.

Ji Ryeon mengangguk sedikit, dan meninggalkan Nam Hee. Ia akan pulang ke rumah barunya, dan hidup bersama Jun Sang. Sambil menantikan apa yang akan terjadi malam ini dan apa yang akan dilakukan Jun Sang untuk membuat dirinya kalap. Hatinya sudah berdetak kuat sebelum sampai di sana.


******


Jun Sang belum sampai di rumah sewaktu Ji Ryeon pulang, dan baru pulang sekitar pukul 6 sore, di saat Ji Ryeon sedang asyik menggambar di ruang TV.

“Wahhh…!” serunya dan mendekati Ji Ryeon, melihat tumpukan tas dari butik ibunya, “Kau belanja besar?”

Ji Ryeon menggeleng, “Ibumu memberikannya gratis untukku.”

“Jadi gara-gara ini kau kelihatan senang?”

“Hehehehe… ponselku juga kembali lho!” sahutnya ceria, “Ternyata jatuh di sekitar Freyja.”

Keurae? Kau beruntung juga.” pujinya.

Hari pertama di sana terasa berjalan sangat cepat. Jun Sang membeli macam-macam bahan masakan sebagai perayaan penghuni baru dalam rumahnya, dan membuka satu kemasan kotak bir. Mereka memasak barbeque di lantai atas.

Sebagai penutup, Jun Sang membuat chocolate fondue. Pantas saja ia juga membeli begitu banyak stroberi, marshmallow dan buah lain. Mereka memasang kompor mini dan melelehkan coklat, lalu menikmatinya di atap sambil ngobrol berdua dan memandangi bintang.

Mendadak Jun Sang bangkit, dan berdiri menunduk, mengulurkan tangan kanannya dan tangan kiri dilipat ke belakang, layaknya seorang bangsawan dahulu kala yang ditontonnya di film-film kerajaan.

“Wa—wae?” tanya Ji Ryeon bingung.

“Maukah kau berdansa denganku, Tuan Putri?”

Ji Ryeon ingin tertawa besar-besar, tetapi ia menutup mulutnya hingga yang terdengar adalah suara cekikikan.

“Tidak lucu.” katanya.

“…Aku tidak bisa berdansa.” ia masih tertawa.

“Akan kuajari.”

“Tapi tidak ada musik.”

“Tidak masalah.”

“Tapi…”

“—Ayo.”

Jun Sang menariknya berdiri, memegang tangannya, dan merangkul pinggangnya. Jun Sang mengajaknya mengikuti gerakannya, dan pelan-pelan, Ji Ryeon terbiasa, meski beberapa kali menginjak kaki Jun Sang.

Dansa melamban, dan akhirnya mereka hanya diam. Meski tak ada alunan suara musik klasik yang dimainkan kelompok orchestra untuk mengiring, mereka dapat mendengarkan melodi yang begitu indah hanya dengan saling memandang.

Mata itu berwarna coklat menghangatkan hati, membuat darah Ji Ryeon mengalir lebih cepat, menyebabkan sukmanya bergetar hebat. Ji Ryeon penasaran kenapa ada orang yang diciptakan sesempurna Jun Sang, kenapa ia bisa menjadi perempuan yang berhasil mendapatkan cinta darinya. Ia ingin tahu, apa yang disukai Jun Sang darinya… yang memiliki sangat banyak kelemahan.

Angin yang berhembus terasa membekukan ketika Ji Ryeon membayangkan jika suatu saat Jun Sang pergi meninggalkannya, dan tak akan kembali. Orang yang disayanginya, tak pernah bersamanya dalam waktu yang lama.

Jadi bagaimana hidupnya nanti? Apa ia masih bisa bertahan? Apa ia akan gila? Seandainya Jun Sang tidak mencintainya lagi, dan menghilang dari hadapannya, ia pasti akan mati…

Jun Sang mencium bibirnya, dan memeluknya. Dalam sekejab, semua pikiran negatif, kesialannya, ketidaksempurnaannya, sirna. Dikalahkan oleh perasaannya yang kuat pada Jun Sang.


“Selamat datang, Chae Ji Ryeon.”


Tanpa gaun dan tuxedo. Tanpa pesta dansa, Jun Sang adalah pangerannya. Dan Ji Ryeon makin mengaguminya.

Author’s Note:

Haloo halloooo!!! Bagi yang udah menunggu part ini, silahkan di baca. Maaf banget kalo merasa kurang. Gw diburu waktu buat nyelesaiannya maaf ya (_ _) dan konfliknya juga belom keluar, gw sendiri bingung kenapa gw jadi org yg lamban begini. Duh sekali lagi maaf. Hanya tak mau membuat pembaca ff ini menunggu lama. Maaf  buat kalimat2 di sini yg mnurut kalian cheesy dan selalu terulang2 hahaha…

Oke selamat baca. Ayo yang sudah baca komen ya🙂

Today’s Song:
Josh Kelley – To Make You Feel My Love

Photo credit: foxtrot1@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on April 22, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 18 Comments.

  1. wah….
    tambah seru aja nih ~~~

  2. wahhh tambah romantis

  3. omooo omoooo
    aq dicium jun sang lagiiiiiiiii >,<

  4. makasi ya udah mau baca (_ _)

  5. WHUAAAAAAAAA!!!!
    akhirnya ni FF keluar tanpa aku perlu ngerengek” minta dikeluarin. mwahahahaa.. zuyu pengertian, tumben. hehehe
    keren keren! jadi pengen satu rumah ama junsang =P
    ahuahahahaa..
    oh, aku baru ngeh kalo junsang bisa masak. ahahahahahaaa..
    wii, dansa diatap? romantissss~

  6. wah udah 2 part zuyu lagi baik nih… ngasih yg romantis2 melulu… mhehehe… sukasukasuka!! >,<

  7. finally kluar jg tp knp sdikit bgt, ak tnggu konflikny y
    kok ga da kbr siapa tuh yg nam he ska.. pdhl ak tnggu dia coz pnsarn gmn lnjutn stlh jiryeon pny jun sang

    Author LANJUT ^^

  8. wahh., makin seru makin romantis., tp makin pnasaran sm konfliknya jg., akhrnya nam hee mw baik jg ke ji ryeong., syukurlah., hwaiting author^^

  9. salam kenal author:) top banget ceritanya, ga ngebosenin soalnya banyak lucu2annya juga. hehe two thumbs up deh pokoknya~ ditunggu part 27-nyaa^^

  10. hahaha…gw gak bisa bayangin kalo gw yang tinggal ama Jun Sang pasti dah habis tu JS ama gw..hahaha..

    enak banget ya serumah ama tu cowok secakep JS..#elapiler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: