[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 28)

Rain falls angry on the tin roof
As we lie awake in my bed
And you’re my survival, you’re my living proof
My love is alive, and not dead

Ya, kembali. Kau tak boleh begitu.”

“Diam.”

“—Nam Hee jadi aneh karena kau. Cepat kembali.”


“—Hyung…”


Monster dalam dadanya berteriak ingin keluar dan berambisi mencabik-cabik Jun Sang ketika ia menoleh. Lagipula, mereka ada di sebuah gang kecil. Situasi sedang bagus… Saat itu, di pikirannya adalah, bagaimana caranya agar bisa melenyapkan Jun Sang.

“Ternyata… kau munafik…”

“Maksudmu?” tanya Jun Sang, dan langsung mengarahkan pembicaraan tentang Ji Ryeon, “Ah… dia…” gumamnya menang, “Kau tidak tahu apa-apa…”

Seung Wan tak membalas, dan tak lagi menengok ke belakang. Tetapi monsternya sangat kelaparan…

“Kau mengira aku merebutnya darimu?” Jun Sang merespon cibirannya, “Sudah berapa lama kalian saling kenal? Dua tahun? Empat tahun?”

“Aku tak peduli soal itu.”

“Kau marah karena tak mampu menandingiku. Hahaha…”

“Terserah…”

“Aku anggap kau menyerah,” timpal Jun Sang, “Jadi, karena kau kalah, kau tahu diri kan?”

Seung Wan berhenti, hanya untuk mengepalkan tinju dan menahannya, kemudian pergi menjauhi Jun Sang.

Seharian luntang-lantung, di kantor agensi pun ia kena ceramah karena tak konsentrasi menyerap pelajaran. Hanya ada Ji Ryeon dan Jun Sang dalam otaknya. Hubungan yang membuatnya iri setengah mati, yang membuatnya mengutuk Jun Sang supaya berubah jadi alien agar Ji Ryeon beralih padanya.

Dan apa-apaan mereka. Meminta pertanggungjawaban atas sikap Nam Hee. Bukan urusannya kalau Nam Hee ingin telanjang, atau bunuh diri sekalipun.

Seung Wan berdiri di depan sebuah rumah, menekan tombol-tombol angka pada digital lock, tetapi tak terbuka. Kejadian ini sudah berlangsung beberapa kali, bukan karena ia tak mengingat passwordnya.

Seorang wanita muda membukakan pintu. “Kau tahu jam berapa sekarang?!” lalu membiarkannya masuk tanpa mencela lagi.

Ia punya dua orang kakak perempuan, salah satunya adalah yang sedang berdiri di depan sambil memegang buku kedokteran. Namun wanita yang tak cemberut padanya di rumah hanyalah ibunya.

Nuna kesal bukan karena ia pulang terlambat, bukan karena mencemaskan adiknya yang sering keluyuran, dan tetap melempar tatapan sinis meski tahu ia harus menghadiri sekolah hingga tengah malam.

Peri itu tidak ada. Tapi Ji Ryeon nyata. Ia ingin nuna seperti Ji Ryeon, yang tidak bicara dengan nada kasar dan mau tersenyum untuknya. Haruskah merasa iri pada Nam Hee? Dan seiring perubahan perasaannya, ia tidak menginginkannya lagi. Tak mau. Ia ingin Ji Ryeon jadi lebih dari seorang kakak.


******


“Jun Sang—apa yang lakukan?!”

“Aku mau tidur.” Mereka terus berkutat. Jun Sang menghempasnya lagi ke ranjang.

“—Jun Sang hentikan—!” susah payah Ji Ryeon memegang erat wajah Jun Sang agar menjauhinya. “Kugigit ya!”

“Wahh… kau suka main kasar ya? Aku ingin coba deh. Hahahaha!”

“APA—?!”

“Hahahahaha! Kau bergairah sekali, Sayang…”

Ji Ryeon tak bisa lagi membentengi diri dengan tangannya yang dikendalikan Jun Sang. Jun Sang tenggelam dalam semerbak aroma tubuh semanis karamel, menikmatinya seperti bocah melahap gulali dengan rakus, seperti ular memangsa tikus… menjebak dan mematikan.

Dan jangan salahkan Ji Ryeon kalau bulu kuduknya berdiri. Jangan salahkan kalau ia sulit bernafas…

“—Jun—Sang… minggir…”

“Jangan banyak gerak…” bisiknya.

Ji Ryeon tak sanggup menahan dan mulai gemetaran. Daerah sensitif di tubuhnya menangkap sinyal kuat sewaktu ia merasakan lehernya basah dan itu bukan karena keringat.

“AHHH!!!!!!! TIDAK MAU!!!”

“—ARRGGHHHHHH!!!!!!!!”

Jun Sang terduduk memegang selangkangannya sampai tertunduk-tunduk. Tendangan Ji Ryeon pasti tepat mengenai ‘itu’.

“—Ya! ini asetku!” teriaknya marah, “Kalau rusak kau harus tanggung jawab!”

“Baguslah kalau rusak!”

Ji Ryeon menarik selimut dan berbaring memunggunginya.

Haish… kau kasar sekali. Aku kan tidak melakukan apapun padamu!”

Jun Sang mematikan lampu tidur di sebelahnya, lalu membetulkan posisi tidur dengan suara berisik yang berlebihan. Lima belas menit kemudian, Ji Ryeon mencoba mengintip ke belakang.

Jun Sang betulan tidur.

Bagaimanapun juga, ia menyukai cara Jun Sang menggodanya tadi… tapi kan malu kalau harus melakukan perbuatan yang seperti itu…

Ji Ryeon tersentak kembali sewaktu Jun Sang memegang bahunya dan menariknya masuk dalam pelukan. Ia amat sangat malu karena tak hanya berhadapan dengan dada Jun Sang, bahkan bisa merasakan degup jantungnya hanya dengan menyandarkan kepala.

“J­—Jun Sang—”

“Mmm…”

Ia juga tidur berbantalkan lengan… dan rambutnya dibelai pelan-pelan sekali…

“Wah… gadis kecilku sudah dewasa…” gumam Jun Sang setengah terjaga, “…Sejak kapan jadi sebesar ini…?”

Ji Ryeon tidak paham hingga Jun Sang menambahkan, “Berapa ukurannya ya… aku ingin lihat—”

“Byunttae—!”

“—Jangan menendang lagi, atau aku akan menyerangmu…”


******


Tanggal deadline pekerjaan Ji Ryeon semakin dekat, namun makin senang pula Jun Sang mengganggunya. Jun Sang tidak suka melihat Ji Ryeon terus bekerja dan tak menyambutnya dengan mata berbinar seperti biasa. Ia ingin Ji Ryeon berlari ke arahnya dan berpelukan di depan pintu kalau ia pulang. Namun hal itu tak pernah terjadi…

“Nanti kubilang pada Ibu supaya tidak membebanimu banyak tugas—”

“Tidak perlu.” Ji Ryeon masih tekun memasukkan manik-manik ke dalam tali kalung.

Ya, jangan kerja terus.”

“—Sedikit lagi selesai…”

Jun Sang selalu menerima jawaban seperti itu tetapi hingga sampai jam makan malam Ji Ryeon masih tak bergerak. Ia capek luar biasa menunggu kerjaan konyol itu, jauh lebih capek daripada bekerja seharian.

Ya… kapan selesainya sih?”

“Sedikit lagi…”

Tiga puluh menit kemudian…

“Ayo pergi kencan!” Jun Sang merengek di sofa dan mengacak-acak bantal, “Aku mau pergi!”

Ji Ryeon meliriknya begitu kejam sehingga Jun Sang terdiam. Setelah tak ada lagi suara bujukan, ia kembali bekerja.

“Jangan cuekin aku!” teriaknya, Ji Ryeon tak merespon membuatnya makin jengkel dan menjadi-jadi, “—Aku lapar…!”

Kesenangan Jun Sang berarti perpendekan waktu bagi Ji Ryeon untuk segera menuntaskan seluruh kalung dan gelang yang dijanjikannya pada Ri Na. Apa boleh buat, Jun Sang sangat senang meski mereka hanya pergi ke super market untuk beli bahan makanan, dan ketahuan kalau ia mengulur-ulur waktu berkeliling ke seluruh sudut, mencoba berbagai macam barang dan makanan meski tak membeli. Makan malam mereka sederhana, spaghetti yang dibuat berdua sambil bertengkar, penuh bumbu dan sangat pedas, plus minuman soda dan es krim stroberi kesukaan Ji Ryeon. Tapi belanjaannya begitu banyak, terdiri dari perlengkapan mandi yang tidak perlu dan makanan ringan yang tidak muat lagi disimpan dalam lemari.

Jera dengan kerewelan Jun Sang, Ji Ryeon mengungsi ke Freyja tiap kali kuliah selesai, seperti hari ini. Ji Ryeon berkumpul dengan anak magang lain, mereka bekerja di workshop dan berkenalan lebih jauh. Ia merasa punya teman sepermainan yang senasib kalau ada di workshop Freyja. Tetapi pekerjaan Ji Ryeon malah sebetulnya lebih banyak dihabiskan di dapur, karena ia anak paling baru di sana dan yang lain membutuhkan kopi.

Freyja bukan tempat persembunyian paling ideal karena Jun Sang masih bisa menemuinya, hanya saja ia tidak betah di sana. Ia naik darah waktu menemukan Ji Ryeon sedang membuat teh dan menyusun kue, bukannya mengerjakan tugas normalnya, “Ya, kau kerja di sini bukan untuk jadi pelayan! Ayo pulang.”

“Ini bagian dari pekerjaan kok…”

“Apanya yang pekerjaan?!” serunya, “Mana ibuku?!”

Seonsaengnim sedang sibuk.” cegah Ji Ryeon. “—Jangan dimakan—ini untuk tamu!” disentilnya tangan Jun Sang yang mencoba mengambil kue kering dari atas nampan.

“Tamu?”

Ji Ryeon mengangguk dan segera membawa nampan ke kantor. Di sana ia melihat seorang paman duduk berseberangan dari Ri Na. Paman itu nampaknya sudah cukup tua, jika punya anak, mungkin akan sebaya dengan Ji Ryeon. Ia memakai suit kantoran dan tersenyum sebentar, lalu bicara dengan Ri Na. Kalau tebakannya benar, barangkali ia baru saja meninggalkan kesan yang baik…

“Siapa tamunya?” Jun Sang bertanya tepat waktu Ji Ryeon masuk dapur lagi.

“Seorang laki-laki.”

“Laki-laki?”

“Iya.”

Jawaban Ji Ryeon bikin Jun Sang galau. Jun Sang mengaku kalau ibunya cantik dan terkenal, tapi pria yang berani mengunjungi wanita bersuami dengan anak berusia hampir 20 tahun sama sekali tidak keren. Sudah beberapa kali Jun Sang menangkap Ri Na makan siang dengan laki-laki yang tak pernah sama, tapi si ibu biasa menjawab, “Pria itu cuma naksir padaku.” Gara-gara ibunya juga ia bersikap posesif pada Ji Ryeon.

Ji Ryeon kembali ke workshop, sementara Jun Sang menunggu di dapur sambil sesekali mengintip ke luar lewat jendela pintu dapur, karena pintu kantor Ri Na dapat terlihat dari sana.

Belasan menit menunggu, akhirnya tiba juga saat yang dinantinya! Pintu kantor terbuka dan muncullah Ri Na dengan seorang laki-laki.

Bodohnya, itu bukan pria hidung belang, melainkan ayahnya sendiri!

Mendadak ia berprasangka, untuk apa ayahnya ke Freyja? Apa kedua orangtuanya sedang menyusun rencana untuk cerai? Jangan-jangan malah pergi keliling dunia? Atau malah—bukan maksud Jun Sang untuk kegeeran—membahas dirinya? Isi pikiran mereka terlalu sulit ditebak.

Ji Seok juga datang ke fashion show Freyja beberapa hari kemudian. Pagelaran busana musim semi Freyja adalah yang pertama kali dihadiri Ji Ryeon secara langsung. Ballroom Daeyoon Hotel—milik keluarga Yoon—disulap berisi catwalk kaca diisi air, bunga tropis dan tirai-tirai putih sebagai penghias, semua serba antik. Puluhan wartawan di bidang fashion, memotret tanpa ampun dengan sinar blitz menakutkan, selebritis yang menjadi ikon Freyja dulu dan kini, atau kenalan Ri Na, turut hadir. Ji Ryeon mengambil kesempatan mengintip sebentar waktu puluhan model seksi memeragakan baju terbaru, meski ia lebih banyak disibukkan menghias mereka.

Jun Sang senang melihat Ji Ryeon puas dengan akhir fashion show Freyja. Semua akan berjalan lancar jika ia tidak merasakan ada aura berbahaya dari ayahnya saat menemui Ji Ryeon.

Today’s Song:
Edwin McCain – I’ll Be

Hoesshhhh!!!! Part 28 selesai juga >.< senangnya!!!

Hehehehe bagi yang merasa kurang puas, maaf ya (_ _) gw sendiri bingung cerita ini mau dibawa ke mana. Apakah bakal gantung atau lanjut sampe tamat. Hmm doakan sampe tamat ya!🙂

Photo credit: foxtrot1@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on May 13, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. farah dhila

    asiik uda keluaaar, makin seru aja ni.
    junsangnya keren deh hehe:D

  2. awas aja kalo dibikin gantung! aku kutuk kau jadi batu!! *malin kundang kaleee…

    wah, akhirnya ketauan juga latar belakang Seung ri, eh seung wan deng…😛

    iihh… itu jun sang-nya mirip yunho!!

  3. Waa…
    Ga bilangg bilaanggg,, heee
    Bnyak sensornya ya zuyyy, maluuu yeee, wkwkwkwk…
    Wah pengennya tuh si seung wan maen hajar2an ama junsaaangggsuamikuuu, wkwkwkwk

    Ga bole gntung, kalo gantung ne ff, q gantung kaw zuyyyyy…
    Smangad yeeeee ^^

  4. ngakak sndiri~~ckckc
    lanjut lanjut…
    jun sangnya lumayan…*plak

  5. @all makasi banget!! (_ _)

    iya maap kalo junsangnya mirip yunho atau cuma lumayan, abis cuma yg gambarnya itu yg 60% mendekati imej junsang dlm bayanganku.

  6. seeeeeeee seeeeeee!! tu kannn, cowok biru itu emang lebih cocok jadi junsang. mwahahahahahhh

    hehehe.. junsang bandell, ngakak sendiri ngebayangin junsang berantem ama jiryeon di kasur (?)
    hahahah

    lanjuuuuttttt!!

  7. lanjoot unniiii!! ni sebab muabab kel yoon ama chae bermasalah? Hoaaa lanjoooott!!

  8. shining2min

    wuah.. akhirnya selesai juga baca ff ini dari part 1
    lanjutin eonn!!
    jangan digantung dong, selesain aja sampe tamat *maksa*
    ‘kan sayang ff bagus kayak gini tapi nanti ceritanya ngegantung
    yayaya?

  9. suka banget baca FF ne full dri part 1-28 dlm wktu 1 hari

    jadi tenggelam dlm ksah junsang n jiryeon..

    g sbar nunggu lnjutan’y..

  10. Jun Sang nya keren…untung gak mirip ama mantannya Zuyu..#tebakndiri..hahahaha

    ngiler gw bayangin adegan ranjangnya mereka berdua..gokil hahaha, knapa gak lanjut ya..#ditabok
    jangan digantung dong ceritanya musti tamat awas aja kl gantung, gw yg namatin..hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: