[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 29)

Maaf… tapi Ibu sungguh menyayangimu…

Jun Sang membantu Ji Ryeon membersihkan venue. Mereka menyusun kembali bangku, membawa pakaian-pakaian yang telah dipamerkan ke mobil kantor, mencabut hiasan dan merapikannya ke dalam kotak-kotak kardus. Keisengan Jun Sang kumat begitu melihat tirai panjang menganggur dan ia pergi mengendap-endap di belakang Ji Ryeon dan menutupinya dengan tirai itu.

“Hahahahaha!”

“—Ya!” teriak Ji Ryeon. Ia seperti hantu berbalut kain putih yang linglung, “Jun Sang—aku tidak bisa melihat—”

Ji Ryeon terpeleset karena menginjak kain licin itu.

Aigoojagiya kasihan… hahahaha…—!”

Setelahnya malah tak ada suara tawa lagi, digantikan oleh nada serius saat Jun Sang mengucapkan, “Abeoji…”

Buru-buru ia bangun dan melepaskan diri dari tirai, lalu menunduk segan pada seorang paman yang berdiri di depan Jun Sang. “Annyeong haseyo.”

Namun Ji Seok yang tak bereaksi apapun terhadap kehadiran Ji Ryeon, membuatnya kecewa dan merasa harus segera menarik Ji Ryeon ke balik punggungnya.

“Sedang apa di sini?”

“Tempat ini milikku. Memangnya salah kalau aku muncul tiba-tiba?” Ji Seok melirik tangan Jun Sang yang masih berpegangan erat pada Ji Ryeon. “Kulihat kau sedang bermain.”

“Aku membersihkan tempat ini, bukan sedang main—”

“Kau anak tunggal dan sudah dewasa. Sudah tahu mana yang harus kau lakukan dan yang harus kau hindari. Kuberikan kau kebebasan bukan untuk melihatmu main-main dengan perempuan, apalagi memamerkannya di sini.”

“—Abeoji!”

Ji Ryeon merasakan Jun Sang makin erat memegangnya, dan entah kenapa, hatinya sakit…

Yeobo…” untung saat itu Ri Na datang mengganggu. Jun Sang yakin ibunya muncul untuk membantu, “Mau… ikut pesta dengan kami…?”

“—Aku masih bisa maklum kalau dia mendukungmu, tapi anak ingusan ini berkeliaran terus di hotelku,” Jun Sang menahan kejengkelan yang ditimbulkan ayahnya. “Bersikaplah seperti keluarga Yoon. Ini yang kudapat setelah kau tidak mendapat pengawasan? Apa kerjamu selama ini? Tidak belajar? Sibuk dengan duniamu sendiri? Jangan membuatku malu dengan kelakuanmu yang seperti anak kecil. Kelalaian yang kau timbulkan, kau tahu sendiri apa akibatnya.”

“Masalah pribadi bicarakan nanti saja,” sela Ri Na, “—Ah! Bagaimana kalau kita makan malam?” ia menepuk tangan kuat-kuat dan bicara sekeras mungkin, “Kita sudah lama tidak berkumpul, kan? Kebetulan sekali kalian ada di sini semuanya. Ji Ryeon, kau juga ikut ya?”

“—Tidak perlu,” sanggah Jun Sang. “Kami undur diri.”

Jun Sang menarik Ji Ryeon keluar venue bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan salamnya. Barulah sewaktu ada di lobby, Jun Sang mulai mengoceh.

“Kalau ketemu ayahku lagi, kau lari saja. Ngerti?”

“Kenapa harus lari?”

“Pokoknya lari dan jangan sampai kau berpapasan dengannya.”

“Ayahmu kan bukan hantu.”

“Aku tidak suka sikapnya padamu.”

“Mungkin dia sedang capek.”

Jun Sang menghentikan langkahnya, “Kau tidak takut padanya?”

Ji Ryeon diam, lalu mengangguk malu. Tak tahu kenapa ayah Jun Sang bisa berubah begitu. Entah karena memang sedang capek atau karena tidak suka melihat Jun Sang bersama seorang pegawai magang yang tidak ada apa-apanya. Sewaktu mengantarkan teh kemarin, ayah Jun Sang kelihatannya hangat dan baik. Ji Ryeon akan sangat senang kalau berkesempatan berkenalan dengannya, dan mengetahui apakah Jun Sang dan Ji Seok memiliki kesamaan sifat. Kalau ternyata pilihan kedua benar, habislah dia. Mereka kan tinggal bersama…

“Kalau takut, tidak perlu menghadapinya. Turuti kataku kalau kau mau selamat.”

Ji Ryeon mengangguk lagi.

“Kalau kau ngerti, jangan bicarakan lagi.”

“Tapi…” ia memegang perutnya, “Perutku lapar… karena ikutan grogi dengan yang lain, dari siang aku belum makan…”

Jun Sang mengelus kepalanya. “…Kita… kencan ya…?” bujuknya.

“Kau selalu minta kencan…”

“Lalu apa dong sebutannya?”

“Aku mau makan.”

“Kapan sih kau bisa berhenti bicara soal makan—?”

Ji Ryeon mendapat panggilan dari Ri Na.

Ye, seonsaengnim?” jawabnya deg-degan, saling pandang dengan Jun Sang. Ia pikir bakal dipanggil menghadap Ri Na untuk mendapat ceramah. “Ah…” balasnya lega, “Ya, aku akan ke sana. Oh… gwaenchana.”

Ji Ryeon menutup ponselnya kembali.

“Ada apa?”

“Ayo, kita ikut pesta.”

“—Pasti ada ayahku!”

Seonsaengnim bilang tidak ada.”

“Lalu bagaimana kencan kita?”

“Besok saja ya?”

Ya, Chae Ji Ryeon! Kenapa selalu menduakan aku dengan ibuku?!”

“Aku sedang memenuhi tuntutan kerja.”

“—Alasan!”

Ri Na mentraktir mereka makan foie gras dan memesan berbotol-botol wine. Memang di restoran tidak ada Ji Seok. Jun Sang tahu Ji Ryeon merasa tak nyaman saat mereka bertemu tadi. Ia kesal. Kata orang, ayahnya baik pada bawahannya, tapi kenapa pada Ji Ryeon bisa galak begitu?! Jun Sang yakin di antara para ahjussi yang pernah bertemu Ji Ryeon, hanya ayahnya yang tidak menunjukkan respon apapun, bahkan malah menyindir…

Tapi Jun Sang terlalu sibuk memikirkan lebih lanjut soal itu. Ia sedang terlena memperhatikan betapa senang gadisnya saat ini. Tak masalah mereka berpisah meja dan pegawai Ri Na menghalangi pandangannya. Dan walau ibunya punya banyak model seksi yang bisa dikenalkan padanya, di antara mereka, Ji Ryeon lah yang paling menarik.

Ji Ryeon kalap membersihkan setetes saus yang jatuh ke atas blouse motif bunga-bunganya, blouse yang dibelikan Jun Sang beberapa hari lalu karena menganggap pakaiannya begitu sedikit. Ia meneteskan air dan mengelapnya terus sampai nodanya hilang, kemudian cengengesan pada Jun Sang dari meja seberang sebelum kembali menyantap makanannya. Bukankah Ji Ryeon sangat manis?


******


Seorang laki-laki tua duduk di depan seonsaengnim saat Ji Ryeon masuk ke kantor dan mengantar teh untuk mereka. Sebelumnya ia tak berpikir apapun tentang ahjussi itu, kecuali kalau ternyata mereka adalah teman lama yang melakukan reuni.

Ia meletakkan dua cangkir teh ke meja. Kerutan di sekitar mata ahjussi saat tersenyum membentuk citra sang paman sebagai pria ramah dan baik-baik, bau kesuksesan sudah bisa terendus dari gaya penampilan, jam tangan dan sepatu mengkilat. Pastilah bapak ini punya keluarga yang bahagia dan mapan, dengan istri anak-anak yang bangga padanya.

“Lagi-lagi kau merokok…” ujar si ahjussi.

Uh… apa maksud seonsaengnim terus melihatnya menantang begitu? Ditambah lagi gayanya persis bos mafia. Bukannya seonsaengnim tidak pernah seperti itu, selalu malah. Kali ini auranya beda. Cemburu?

Ji Ryeon buru-buru menyingkir keluar dan hanya mendengar potongan kalimat terakhir yang diucapkan Ri Na.

Yeobo… kau masih ingat pada adik kesayanganmu?”

Meski tidak sempat menguping jawaban ahjussi, tapi dari ucapan Ri Na, Ji Ryeon bisa mengambil kesimpulan yang masuk akal, bahwa ia baru saja bertemu dengan salah satu anggota keluarga Yoon yang lain.

Kalau bukan terikat hubungan, mana mungkin Ri Na mau memanggilnya ‘yeobo’. Lagipula nyaris tak ada yang sama antara Ri Na dan anaknya, kecuali sama-sama perokok. Tapi Ji Ryeon juga tak menangkap adanya kemiripan pada Jun Sang dan ahjussi, kecuali kalau Ri Na selingkuh, atau kalau ternyata Jun Sang punya ayah tiri. Sayangnya Ji Ryeon tak bisa tinggal lebih lama di sana dan kembali menemui Jun Sang yang menunggu di dapur.

“Kenapa dengan dia?”

“Bukan adik kandungmu, tapi dia… Chae Eun Yeong.”

Urat di alis Ji Seok berkedut tiba-tiba. “Adikku hanya satu orang.”

“—Mereka mirip kan…?”

“Siapa?”

“Anak itu…” ungkapnya, mengibaskan debu puntung ke asbak, “…dan Eun Yeong…”

“Aku tidak ingat lagi wajah perempuan itu.”

“—Namanya Chae Ji Ryeon. Itu nama kesukaannya,” balas Ri Na, “Eun Yeong pernah bilang, dia yang beri nama saat anak itu masih dalam kandungan.”

“Jadi untuk itu ake sini?” balas Ji Seok, “Kenapa kau selalu mengundangku untuk hal-hal yang tidak penting dan membuatku marah.”

“Tapi kau selalu mau datang padaku.”

“—Pecat dia kalau kau masih ingin Freyja berdiri.”

“Ayah tidak mempermasalahkannya lagi lho… masa sih, kau masih tidak terima?”

Ji Seok bungkam dan berdiri memunggungi Ri Na, memandang jalan di bawah lewat jendela kantor. Muak sudah ia ditanya-tanya soal itu. Meskipun keluarganya sudah menasehati demi masa tuanya, lebih baik ia membiarkan kebenciannya terus tumbuh makin kuat.

“Sudah hampir dua puluh tahun lalu. Daripada selalu memikirkan kecelakaan itu—”

“Kau anggap itu kecelakaan?”

“Tentu saja. Polisi dan wartawan menerima dana yang sangat besar kan?” balasnya, “Apa yang diketahui publik, itulah yang sebenarnya terjadi. Bukannya kau mendukung? Uangnya saja asalnya dari kantongmu…”

“Ya, aku menghabiskan banyak uang untuk masalah yang disebabkan oleh orang lain.”

“Dan adikmu.”

“—Siapa yang menyuruhmu menggangguku dengan ocehan tidak bermutu begini? Wanita itu?”

“Ryang Seok.” Tukas Ri Na, “Dia tidak ingin kau terus begini. Eun Yeong juga… tapi sampai dia meninggal pun, kau tidak peduli. Orang yang paling diandalkannya malah berbalik menyerang.”

“Aku tidak akan menyerang kalau dia tidak melakukannya lebih dulu.”

“—Kau tahu kan, Eun Yeong tidak pernah menyukai keputusan ibunya. Dia terpaksa.”

“Bukan masalah terpaksa atau tidak.” Ji Seok terpancing.

“Jelas iya,” bantah Ri Na, “Ini masalah situasi.”

“—Apa yang aku alami selama ini berhubungan dengan uang! Mereka mendekat karena ingin mendapat sedikit kekuasaan dariku, semua orang seperti itu! Kalau bukan itu sebabnya, lalu dunia ini terbuat dari apa—?!”

Ri Na tersentak. Usahanya gagal lagi, tapi perkataan Ji Seok turut menusuknya…

“…Kau… salah memandang orang lain… kau tahu Eun Yeong tidak seperti itu…”

“Aku akan segera rapat, secepatnya bicarakan proyekmu saja. Atau batalkan.”

Ia benci semua keturunan Chae. Tak ada dari Chae yang baik menurutnya. Chae adalah benalu yang menusuk dari belakang. Dan anak perempuan itu, adalah salah satu bibit yang akan menghancurkan keluarganya lagi. Sudah cukup ia bersabar tidak melakukan pembalasan. Bagaimana kalau mainkan saja Cherir? Bikin mereka bangkrut? Bayar orang untuk jadi korban fiktif Cherir? Atau menyogok orang dalam untuk menyabotase produk mereka? Dari dulu ia sudah merencanakannya, hanya saja pimpinan tidak memberi izin.

“Kembali ke kantor,” perintahnya pada supir di depan, usai bertemu Ri Na.

Kenangan sembilan belas tahun lalu itu, kembali mengganggunya. Darah, kontroversi, pemberitaan di mana-mana. Tangisan dan pemakaman. Kalimat-kalimat yang tak bisa dilupakannya. Seseorang yang bersimpuh di depannya memohon maaf…

Bertahun-tahun mencoba melupakan mereka, mendadak putrinya muncul. Apa anak itu tahu apa yang sudah diperbuat keluarganya? Tahukah ia, kalau ia tak bisa lagi hidup tenang jika mengetahui betapa buruk keluarga orangtuanya?

Pimpinan terdahulu sudah pensiun. Dialah yang memegang Daeyoon sepenuhnya. Hasrat menghancurkan pengkhianat itu mencapai titik didih kedua, dan ia cukup kejam untuk mempermainkan mereka.

Part 29 sampe sini aja lah… maaf kalo kurang, gw udah kehabisan ide nih… T_T komen yaaa~~~~~~~

Photo credit: betyzuzukid@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on May 25, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. oohhhh.. jadi gitu~
    lah kenapa ibunya junsang malah ngasi tau ke bokapnya junsang klo si jiryeon anaknya eun yeong?? kan kasian jadinya si jiryeon di galakin bokapnya..

    onn, kurang panjaaangg nih ceritanya.. ayoo lanjutin ayooo! sini aku bantuin, hahahaha…

    *yey, duluan daripada si yupi.. hehe*

  2. oohhhh…………..
    tnyata ri na masi kalah ama kedinginan ji seok, wkwkwkwkwk
    kesian bgd aq y di cuekin camer gituu ><
    lanjutinn zuyyy…
    smangiiddddd… ^^

  3. @purplee
    hmmm soal itu bakal ada jawabannya sendiri🙂

    @yupina
    loh katanya ga bakal onlineeeee

  4. jadi yg dendam kel yoon n chae. masi bingung, ato jangan jangan bapaknya jiryeon itu adek bapak junsang?? aah belum jelas ayo apdet lagii!!

  5. buat penasaran aja konfliknya..ternyata keluarga mereka musuhan, kirain temenan..kasian pasti mereka akan ditentang cintanya..ya sudah junsang sini ke pelokan unnie mumun aja.wkkkkk

  6. Howaaa… semakin tersingkap nih dendam masa lalunya… roman2nya hubungan jun sang dan ji ryeon semenjak ini akan berjalan semakin sulit…

    Btw, kalo ga salah waktu itu ada yang bilang kalo jun sang dan ji ryeon adalah adik-kakak kan ya? *hadeh, lupa euy… perlukah gw baca dari awal lagi??*

  7. @lovemoon onn ehehehehehe

    @mj onn
    masa sih??? kapan tuh dibilang begitu? o.o

  8. baca part ini,,, bikin kening berkerut,,, =.=”,,, tapi gak p2 lah yahhh…

    (btw dari semua part,, baru part ini yang kejatuhan komment) wahhh chukaeeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: