[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 30)

Let’s not change
Even as time goes by
You’re my only love
Forever my only love
We love each other
In a place without sadness

Gomapta. Panas-panas memang enaknya minum jus.”

Ri Na mengambil segelas jus jeruk dingin dari nampan yang dibawa Ji Ryeon. Ia berceloteh membicarakan cuaca, sedangkan dua orang yang duduk di depannya menunggu dengan sabar untuk dimarahi, tapi Ri Na belum juga memaki-maki. “Kue ini enak sekali!” ia memotong cake untuk bagiannya sendiri dan memakannya dengan lahap.

Beberapa menit yang lalu Ri Na masih dalam perjalanan menuju rumah bertingkat dua yang dalam ingatannya begitu berantakan, berdebu seperti habis kena badai. Sekotak strawberry cheese cake menemaniya di jok samping.  Begitu turun dari mobil, ia menemukan anak dan pegawai butiknya sedang bercanda di tengah jalan dengan muka hitam belepotan, garasi rumah terbuka, air dan busa mengalir keluar. Bisa ditebaknya mereka habis bermain apa.

“…Ngomong-ngomong kalian tinggal bersama?”

Ji Ryeon tidak berani menjawab, sedangkan Jun Sang tidak mau menjawab.

“…Sejak kapan?”

Jun Sang buka mulut, “Baru saja.”

“Begitu…” jawab ibunya santai. “Dulu rumah ini persis tempat pembuangan sampah,” matanya menyelidiki sekeliling ruangan yang rapi dan bersih, tak nampak bungkus makanan instan tergeletak di manapun. Ditambah lagi barang lucu seperti hiasan imut lemari es, lonceng angin di jendela, bantal sofa motif bunga: bukan favorit Jun Sang. Begitu banyak perubahan sampai ia ingin tahu seberapa jauh Ji Ryeon bisa mempengaruhi putranya. “Kau tidak diperlakukan seperti pembantu kan?”

Aniyo,” jawab Ji Ryeon, “Jun Sang memperlakukanku sangat baik.”

“Mmmm! Tempat ini jadi harum…” Ri Na  menghirup aroma harum rempah-rempah potpourri, seperti suasana di kantornya. Bau rokok serta alkohol tajam sudah tidak ada lagi. “Untunglah ada kau…”

“Ibu sudah tahu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa bawa kue segala? Bukannya tahu aku tidak suka…”

“Aku tidak tahu kau ternyata tidak suka kue.” jawabnya, “Bukannya ini enak? Ya kan, Ji Ryeon…?”

Ji Ryeon tertawa garing.

“Lalu kalian tidur satu ranjang?”

“—Tidak!” jawab Ji Ryeon kelabakan. “Mana mungkin kami berbuat lancang begitu! Diberi tumpangan saja sudah bersyukur…!”

Ri Na memalingkan wajah sambil meneguk jusnya lagi, “Seranjang juga tidak masalah…”

Jun Sang dan Ji Ryeon menengadah.

“Ada yang aneh?” tanyanya melihat ekspresi bengong mereka.

“…Jadi…” Jun Sang menelan ludah seperti orang yang kehausan di padang pasir, “Boleh…?”

“Jangan tanya padaku,” jawab ibunya. “Terserah kalian mau berbagi tempat tidur atau tidak.”

“Tapi Ayah tidak tahu soal ini kan?”

“Dia akan tahu kalau aku yang bocorkan, atau kalau dia yang menyuruh bawahannya mengikutimu.”

“Kalau Ibu bilang pada Ayah, aku—“

“Mau berhenti jadi anakku?” balas ibu Jun Sang. “Alasan anak manja.”

“Ayah bisa membahayakannya!”

“Aku jamin tidak bisa.”

“Apa jaminannya?”

“Ah… dia sinis sedikit saja sudah membuatmu panik, itu karena kau terlalu sentimen padanya.”

“Karena Ayah duluan yang bersikap kejam.”

“Maaf…” sela Ji Ryeon, “Kenapa bisa begitu?”

“Tidak kenapa-kenapa kok, tanggapan Jun Sang berlebihan.”

Ji Ryeon tidak yakin Jun Sang memang hiperbola kalau jawaban Ri Na “Aku jamin tidak bisa.” Ia merinding mengingat pertemuan kedua dengan ayah Jun Sang yang bukan termasuk baik. Kesannya seperti wanita penggoda yang bersabar demi mendapatkan banyak uang dari Jun Sang.

“Kalian jangan mengganggu kami,” Jun Sang menanggapi ucapan Ri Na dalam satu obrolan yang berputar-putar selama hampir satu jam, “Ibu dan Ayah urus saja soal pekerjaan kalian.”

Ji Ryeon menyenggol kaki Jun Sang.

“Tenang saja, aku tahu anak jaman sekarang itu bagaimana. Ngomong-ngomong Ji Ryeon, kau masih tahan kerja di tempatku?”

“Ya,” angguknya.

“Aku tunggu kau secepatnya di sana. Aku pulang ya.”

“Tinggallah di sini untuk makan malam.” Bujuk Ji Ryeon.

“Maaf sekali, Ji Ryeon, aku sibuk. Lagipula, pasti Jun Sang ingin berduaan terus kan?” ia menyindir.

“Ah… tidak apa-apa kok…” balas Ji Ryeon malu, mengantarnya sampai ke depan pagar.

“Maaf hari ini tidak bisa. Lain kali ya. Sampai jumpa lagi.”

“Sampai jumpa, seonsaengnim!” ia melambaikan tangan pada Ri Na. “Besok aku akan ada di Freyja!”

“Kau semangat sekali…” ejek Jun Sang.

“Karena dia tidak marah aku ada di sini.” Ji Ryeon menatap mobil Ri Na pergi begitu gesit persis Jun Sang.

“Melihat perlakuan khususnya padamu, tentu saja tidak marah.”

“Tapi… kalau ayahmu tahu, akan sebaliknya ya?”

“Tenang saja,” balas Jun Sang, “Ibuku bisa dipercaya. Dia janji tidak akan bilang, berarti tidak ada masalah.”

“Bagaimana kalau ayahmu sudah tahu?”

“…Itu… tidak mungkin. Dia terlalu sibuk memikirkan hal enteng seperti ini… ayo masuk.”

Tentu saja selama beberapa hari ke depan mereka melakukan hal-hal lain sehingga topik pembicaraan barusan terlupakan, karena memang tidak ada masalah yang mendadak muncul dan mengacaukan rencana kencan mereka yang dibuat Jun Sang untuk satu minggu. Sekarang mereka lebih banyak main ketimbang belajar. Mudah bagi Jun Sang, tapi Ji Ryeon harus mengimbangi kecerdasan otaknya supaya tidak ketinggalan, dan mencari lebih banyak pekerjaan untuk mendanai hidupnya.

“Kerja sambilan lagi?!”

Ji Ryeon mengangguk, matanya menelusuri iklan di koran. “Aku perlu uang kuliah dan untuk keperluan lain.”

“Biar aku yang menanggung biayanya.” balas Jun Sang. “Kau tidak usah kerja.”

“Aku sudah menumpang di sini mana boleh makin merepotkanmu.”

“Kau sama sekali tidak merepotkan!”

“Tidak perlu.”

Jun Sang sudah cukup baik dengan memberikan pendapatannya untuk dikelola Ji Ryeon.

Ya, apa gaji di Freyja kurang banyak? Atau kau tidak diberi gaji?”

“Gajinya sih banyak, tapi aku ingin lebih banyak bekerja dan lebih banyak uang.”

“Matre. Pekerjaan seperti apa?” Jun Sang mendekat, duduk di sebelahnya dan membaca kotak yang dilingkari Ji Ryeon. Rata-rata adalah lowongan belajar di tempat les.

“Apa saja, asalkan masih bisa kukerjakan.”

“Bagaimana kalau kau kerja di sini? Hanya perlu membereskan rumah dan memasak. Gajimu tiga kali lipat dari pekerjaan ini.”

“Tidak perlu digaji, rumah juga akan bersih. Sebaiknya kau cepat berangkat. Nanti telat bisa dimarahi bosmu—cepat kerja!”


******


Kecemasan Ji Ryeon bertambah di hari Rabu waktu mereka kuliah hingga siang dan akan jalan-jalan ke taman hiburan. Supir keluarganya datang ke kampus, menyuruhnya pulang. Bahkan sempat berdebat dengan Jun Sang sebelum ditengahi Ji Ryeon yang mengalah mengikutinya ke rumah Chae. Ji Ryeon tak melakukan pembelaan dan sudah tahu ia dipanggil karena menurut Geum Ga, ia membuat kesalahan, tapi tak menyangka kalau ini berhubungan dengan rumahnya sekarang.

“Kau benar-benar nakal, pembohong kecil!” Geum Ga membentak di ruang keluarga. Para pelayan mengintip dari balik tembok namun terlalu takut menghampiri Ji Ryeon, “Katanya tinggal di asrama kampus tapi tinggal serumah dengan seorang lelaki. Dia tidak punya hubungan darah denganmu! Bukan kakakmu, juga bukan sepupumu!”

“Jun Sang seperti kakakku sendiri.” ia membela diri.

“Aku tahu isi pikiranmu—!” Geum Ga mengeraskan suaranya, “Kita lihat apa reaksi Ga In kalau tahu kau tinggal dengan penculik itu!”

“Dia bukan penculik—aku sendiri yang datang padanya. Hanya karena Bibi tidak akrab dengan ibu Jun Sang, bukan berarti bisa membuatku memusuhinya!”

“KALIAN—TIDAK—SEPADAN!”

Ji Ryeon mundur, ia tak menundukkan wajah meski muka dan matanya nya sudah panas. Mendadak suhu di ruang keluarga jadi begitu dingin.

“Kau harus tahu diri, di mana posisimu dan siapa orangtuamu! Kau tidak boleh bersama anak itu! Bikin malu keluarga!”

“Bibi jangan ikut campur soal hidupku! Bibi sendiri yang bilang begitu aku keluar dari sini, keluarga Chae tidak punya tanggung jawab lagi terhadapku?! Apa urusannya lagi?!”

“Ikut campur!” suara Geum Ga menggelegar, “Kau pikir karena apa aku mau membawamu pulang ke sini?! Supaya kau tidak menyesal nanti! Supaya kau tidak malu pada siapa yang telah melahirkanmu—”

Ji Ryeon benci kalau ibunya mulai disebut-sebut.

“—Chae Ji Ryeon kau mau ke mana?!”

“Aku mau pulang.”

“Kau tidak punya rumah lain!”

“Aku pulang ke rumahnya.”

Geum Ga menarik tangan Ji Ryeon dan berbisik kejam, “Menurutmu kau akan diterima? Kau yakin keluarganya mau menerimamu—?”

“Aku tidak peduli!”

“Kau akan merasa bersyukur kalau tidak mengenalnya—!”

Ji Ryeon menghentak tangan Geum Ga, berlari menuruni undakan tangga batu dan membanting pagar begitu kuat.

Bagian mana darinya yang tidak sepadan dengan Jun Sang? Baginya, ia sudah cukup cantik bila mereka disandingkan bersama. Apa karena tidak punya asal-usul yang jelas? Karena tidak punya uang? Atau jangan-jangan ini kerjaan Nam Hee? Mungkin Nam Hee mengintipnya di suatu tempat sambil tertawa senang pembalasan dendamnya terlaksana. Tahu dari mana dia kalau mereka tinggal bersama?

Yang tahu soal ini hanya Ri Na. Ri Na memang tidak bercerita pada suaminya, tapi bukan berarti bisa tahan untuk tidak memanasi Geum Ga. Jun Sang bilang ibunya bisa dipercaya. Apa mungkin? Ah! Ia benar-benar bingung. Dalam kondisi begini, semua jadi tersangka. Tetapi Ji Ryeon paling takut pada Bibi Ga In. Pada beberapa percakapan lewat telpon, ia selalu berbohong pada Bibi Ga In kalau ia tinggal di asrama. Jika Bibi Ga In tahu, ia tak tahu harus berkata apa.

Gelisah, belanja menjadi obat penenangnya. Ji Ryeon berhenti di sebuah departemen store dalam perjalanan pulang. Ia mengambil apa saja yang ada di depan mata, mulai dari bahan makanan hingga peralatan masak dan keperluan untuk kamar mandi, sampai harus menyewa taksi karena tak sanggup membawanya sambil jalan kaki. Isi dompetnya habis. Untung Jun Sang belum pulang dari bengkel, wajahnya saat ini sangat kusut dan tidak cantik sama sekali.

Mereka makan malam setelah Jun Sang pulang dan mandi. Ji Ryeon tak banyak bicara dan tersenyum sedikit waktu Jun Sang memuji masakannya.

“Ada apa? Kenapa kau mendadak diam?” waktu menyambutnya di depan pintu tadi, Ji Ryeon sangat ceria.

“Aku sedang makan,” ia menggigit sepotong kimchi.

“Bagaimana dengan kunjunganmu ke rumah? Aku tidak merasa kau baik-baik saja di sana.”

Ia menggeleng, “Bibi ingin ngobrol denganku. Dia memberi uang saku. Hehehe…”

“Jeongmal?”

“Tapi semuanya habis untuk belanja. Oh iya! aku beli banyak bir! Malam ini kita bisa minum sampai mabuk, hehehe!”

Pengalihan pembicaraan ini sukses, tapi dikarenakan Jun Sang tak mau menginterupsi kebohongannya. Aksi bisu Ji Ryeon sebetulnya bikin kesal. Jun Sang berusaha membuatnya marah dengan mencipratkan air keran di saat mencuci piring. Lagi-lagi Ji Ryeon hanya nyengir kaku, ia memperlakukan Jun Sang seperti perlakuan kepada anak TK yang tak boleh menggunakan kekerasan.

“Jun Sang… aku… apa tidak sepadan untukmu?”

“—Kau bilang apa?” Jun Sang menatapnya serius setelah gagal berkali-kali mengganggunya. Pertandingan sepak bola di TV pun tak diperhatikannya lagi.

“Aku tidak sepadan untukmu?” ulang Ji Ryeon dengan mata sayu, menimbulkan rasa simpati yang amat sangat di hati Jun Sang. Ji Ryeon merasa ngantuk.

“Hanya orang sirik yang bilang begitu.”

“Kalau memang kita tidak serasi, bagaimana ya?”

Ya, kau tidak perhatikan? Kalau aku jalan, semua mata tertuju padaku. Kalau aku jalan denganmu, mereka merasa iri padamu.”

“Aku tanya serius.” balasnya, “Bukan dari sisi itu maksudku. Kau tahu, pandangan orang tua dan anak muda kan berbeda…”

“Menurutmu?”

“Apa?”

“Menurutmu, bagaimana kita?” Jun Sang bertanya balik. “Serasi atau tidak?”

Wajah Ji Ryeon merona malu “…Se…serasi sekali…”

“—Nah!” serunya, “Sudah jelas kan? Kita serasi!”

Ji Ryeon mengejek.

“Tidak perlu takut apa yang dikatakan orang. Kita yang pacaran, kenapa harus memikirkan mereka?”

Ji Ryeon mengangguk.

“Lupakan saja,” sahutnya, “—Kau bilang mau minum sampai mabuk kan? Kita taruhan, yang bisa tahan seminggu ini akan mengerjakan semua pekerjaan rumah.”


******


Ga In terduduk lemas. Sendinya mau copot dan lantai di bawahnya terasa bergetar hebat. Yang paling tak ingin didengarnya malah disampaikan Geum Ga lewat telpon.

“Ji Ryeon tinggal dengan anak Yoon itu!”

Di antara ucapan Geum Ga yang menjelaskan betapa jengkelnya ia gara-gara ada yang pegawai Cherir mengadu padanya kalau Ji Ryeon tinggal dengan laki-laki, bagian itu yang paling memukul Ga In. Yoon yang pernah menginap di rumahnya kan? Yang beribukan perancang busana dan punya banyak perusahaan itu? Harusnya dari dulu ia mencegah Ji Ryeon agar tak terlalu dekat dengannya, tapi sudah terlambat. Mereka tinggal serumah! Ia tak sanggup memikirkan apa saja yang sudah mereka lakukan di sana, keduanya baru lulus SMA dan belum matang secara mental. Ji Ryeon sepertinya benar-benar senang tinggal bersama si anak Yoon kalau ia sampai berani membohonginya.

“Aku harus menutup mulut pegawaiku supaya tidak menyebarkan berita ini,” ia ingat begitu yang Geum Ga katakan, “Aku tidak mau turun tangan lagi. Dia sudah pernah bertemu Jang Ri Na, mungkin tidak apa-apa. Tapi aku tidak mau jamin dia baik-baik saja kalau mereka mencoba menghasutnya.”

Keluarga Yoon itu bisa mengancamnya. Ji Ryeon, jangan sampai tahu, jangan sampai mendengar apa yang mereka katakan. Dia akan hancur. Seperti ibunya.

Today’s Song:
The One ft Taeyeon – Like a Star

Senangnya bisa lanjut sampe part 30😄
Baca yaaaa… komen jugaaa hehehe

Photo credit: betyzuzukid@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on June 2, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 19 Comments.

  1. mwahahahahahahahhh…
    junsang ngebet banget pengen tidur satu kasur sama jiryeon! dasar anak bandeeellll.. *padahal pengen* (lho?)

    ah, baca yang part ini jadi deg”an. kasian si jiryeon, pasti bentar lagi dimarahin sama bibi ga in + bokapnya junsang *feeling pembaca*
    wokeeeh, next part ditungguuu!

  2. haha untung buka twitter! ck cakep deh! q suka bgt ma RiNa disini. kesanny bad girl (girl? Women kali) gimanaaa gitu. Jd pingin puny ibu kaya RiNa. Junsang nakal!! Sekarang kenapa gambaran junsang-jiryeon d kepala aku malah jadi rainie yang-mike he di devil beside you ya?? 0_0 lanjuuut!

  3. @purplee saksikan kelanjutannya😛

    @MJ-Berszz emang devil beside you itu film apa sih? ceritanya ga sama kan kayak ff ku? T_T #jangansampe #kaloiyaakusedih

  4. uhuhuhu… PENASARAN!!!
    bagian kek gini nih kalo di drama paling aku “benci”, tapi justru emang ini yang bikin ceritanya jadi seru… hahahha…

  5. farah dhila

    asiiik, makin seru euy. ditunggu lanjutannya sist:)

  6. mantaphhhh….!!
    wah wah..si junsang ngebet (?)
    wkwk~~
    31 nya ditunggu🙂

  7. @thanks udah baca!!!🙂 #terharu

  8. Aaa…
    Ga tauuu TT__TT
    Ok bca duluu

  9. Ooo tidaaakkk…
    Bagian yg tidak kusukaaaaa…
    Tp semangadd zuyyy, lanjutin lagiiii, biarpun ud deket final test, wkwkwkwk

  10. aaaaaaaawwwwww.. *nyengir kuda*

  11. konfliknya makin ribet ya..makin penasaran ama masa lalu ortu mereka..aishh jangan ampe masa lalu ortunya membuat mereka pisah..hikhikhik..gak tega bacanya…

  12. Di lanjut dong !! jangan putus disini pliss !😀
    seruuuu

  13. @lovemoon @kimsyun
    makasih banyaaakk!!! (_ _)

  14. udah ni yuu.. udah kubaca sampe sini…
    hmm, udah mau masuk ke bab serius yak? mo tamat ding? :mr.green:

  15. ya,, koment ke dua,,, lebih membingungkan lagii >.<
    tapi aku suka saat2 anak berdua itu setengah bertengkar..^^

    and after all,,, cerita ini seperti membuka memory lama ku,, *ehemmm*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: