[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 31)

Cause it’s you and me and all of the people
With nothing to do, nothing to prove
And it’s you and me and all of the people
And I don’t know why I can’t keep my eyes off of you

Jika semua toko pakaian diibaratkan sebagai ladang bunga, maka Freyja adalah ladang bunga yang paling indah di Seoul. Di sana, gradasi warnanya sangat banyak. Begitu melimpah sampai membuat pusing dengan ratusan kode kombinasi. Ji Ryeon yang pengetahuannya terbatas, kini mengenal nama-nama aneh seperti zinnwaldite brown, sinopia, xanadu, razzmatazz, dan nama macam warm black yang sama sekali tidak berwarna hitam—hijau tua malah, wild watermelon—warna merah muda yang tidak identik dengan bagian apapun dari semangka, serta snow dan splashed white yang tak bisa ia bedakan putihnya. Tekstil warna-warni itu disimpan di gedung belakang lantai 2 Freyja, disusun berdasarkan tingkat kecerahan, jenis, motif, dan tekstur.

Ji Ryeon mencoba mempelajari semuanya, menghafal letak masing-masing dalam rak karena sekarang ia mendapat tugas yang agak lebih penting: mengambilkan kain-kain itu ke lantai bawah jika diperlukan. Nasibnya hampir sama dengan beberapa pegawai lain yang naik turun tangga mengambil dua-tiga gulung kain dari rak paling atas. Lumayan baginya yang tidak pernah berolahraga sejak lulus SMA.

Ia dipanggil ke kantor pribadi Ri Na untuk membentuk lekuk pakaian dengan menempelkan jarum ke manekin, sementara Ri Na sibuk menggoyang-goyangkan smell strip ke daerah hidungnya, meja kerjanya penuh dengan berbotol-botol minyak esensial. Ia terus mengoceh tentang produk yang sudah dilempar ke pasaran dan mendapat sambutan luar biasa, kalau ekspatriat di Seoul suka, akan dibawanya ke Milan untuk mengikuti pameran.

“Coba kau cium ini.” ia menyodorkan kertas putih itu ke depan hidung Ji Ryeon. “Bagaimana? Wangi kan?”

Ji Ryeon menghirup aroma lavender lembut, lalu mengangguk singkat dan meneruskan kerjanya.

“Aku akan membuat parfum Freyja yang ke-4.”

“Pasti akan disukai banyak wanita,” Ji Ryeon memuji.

“Tentu,” balasnya percaya diri, “Beberapa artis Hollywood mengeluarkan parfum, tapi tak ada selebritis Korea yang membuat parfum sendiri. Mereka sudah terlanjur puas dengan produk yang ada. Sangat disayangkan…”

Ri Na melanjutkan curhatnya tentang beberapa hal yang berhubungan dengan desain (Ji Ryeon menyahut kalau diminta tanggapan atau sekedar tertawa ringan), sebelum ia berkata,

“Ji Ryeon… boleh aku tanya sesuatu?”

“Ya?”

“Kau menyukai desain, kenapa tidak masuk sekolah desain saja?”

Tangan jelinya berhenti menusukkan jarum-jarum ke pakaian di manekin.

“Kau berbakat di bidang yang sama denganku. Jujur saja kukatakan, apa kau menyukai pilihanmu?”

“…Nenek menganggapku lebih cocok bekerja di Cherir,” balasnya, “Nenek bilang, aku harapan terbesarnya.”

“Apakah putri Geum Ga tidak secerdas dirimu?”

Ji Ryeon tertawa, “Dia masih kecil.”

“Ah… begitu rupanya… kukira karena kau mengikuti Jun Sang…”

“Tidak,” jawab Ji Ryeon, “Cuma kebetulan.”

“…Banyak sekali kebetulan di antara kalian…”

“Ya?”

“Kau sama dengan Jun Sang,” Ri Na buru-buru membetulkan. “Dia kuliah karena tuntutan keluarga. Tapi bedanya, kau punya cita-cita, dan anak itu kalau tidak dipaksa bisa-bisa bakal jadi preman sejati…” ucap Ri Na, “Lalu kenapa kau pindah dari rumah Chae?”

Ri Na melihatnya kembali tertegun. “Aku tidak akan menertawakanmu, dan tidak akan merendahkan keluarga kalian,” ia menenangkan, “Apa iya, kau tidak cocok dengan keluarga Chae?”

Ji Ryeon menunduk amat malu. Masa sampai Ri Na saja bisa tahu… ia tidak pernah curhat soal ini pada siapapun.

“Bagaimana?”

“Sebelum Nenek meninggal… aku memang tidak begitu dekat dengan Bibi Geum Ga dan Nam Hee,” katanya sambil menarik lepas jarum yang tertancap di bagian yang salah, “Jadi, hari-hari setelah Nenek tidak ada adalah titik terendah hubunganku dengan mereka—tapi bukan berarti mereka tidak baik. Barangkali salahku yang tidak mau bergaul.”

“Tapi nenekmu tidak seperti mereka kan?”

Ji Ryeon menggeleng, mantap dengan jawabannya. Namun  alih-alih si manekin, ia merasakan puluhan jarum menembus kulitnya waktu mengulang flashback hidup bersama ibunya.

“Maaf ya kalau aku terlalu ingin tahu.”

“Tak apa-apa.”

Ri Na bukan orang pertama yang penasaran, mungkin juga bukan orang pertama yang merasa kasihan padanya.

“Jagiya! Jagiya…!”

Jun Sang memanggil dari bawah, terdengar sampai ruang belakang di lantai atas. Ji Ryeon sedang merapikan gulungan penyimpanan tekstil saat Jun Sang masuk.

“Ayo kita pulang!”

“Sebentar.”

Jun Sang menggantikan Ji Ryeon yang lelet naik ke rak paling atas, “Ibuku sudah pulang?”

“Sudah.”

“Kita kencan ya?” bisiknya semangat dengan mata berbinar.

“—Baru pulang kerja sudah minta kencan!” bantahnya. “Aku belum bikin makan malam.”

“—Aku mau makan steak! Buatkan yang enak, jagiya!

“Iya deh,” Ji Ryeon menggoyang-goyang tangga supaya Jun Sang oleng, “Makanya cepat turun—!”

Jun Sang menuruti keinginan Ji Ryeon memutar arah ke department store besar. Bukan apa-apa, tapi Ji Ryeon harus tahu berapa banyak biaya yang harus dikeluarkannya untuk membelikan hadiah ulang tahun Jun Sang akhir Juli nanti. Ia juga berencana ambil pekerjaan sampingan lain kalau hitungan dana perkiraannya jauh dari cukup.

“—Jun Sang… yang itu bagus tidak?” Ji Ryeon menunjuk sepatu seharga 560 ribu won di yang dipajang di etalase toko.

Ia mengangguk, “Seleramu bagus juga—”

“Benarkah? Kau tidak berminat membelinya?”

“Yah… aku sih sudah lumayan lama punya yang itu…”

Duh… ia lupa meriset barang-barang di rumah.

“Pergi jalan-jalan ke sini, ada benda yang kau inginkan?” Ji Ryeon belum patah arang.

“Tidak ada.”

“Lalu kau suka apa?”

“Tidak ada,” jawab Jun Sang, “Semua benda yang kusuka sudah kubeli.”

“Bagaimana dengan jam tangan yang ini—” Ji Ryeon berhenti dan menunjuk lagi ke display waktu lewat toko arloji, “Bagus kan?”

“Aku tidak suka,” kata Jun Sang, “Itu kan untuk laki-laki… mana cocok untukmu… yang ini lebih manis!” arahnya pada arloji motif bunga dan kristal.

Grrrrr…

“Kalau yang ini?” Ji Ryeon sudah bingung karena tidak tahu apalagi yang akan ditunjuknya, maka ia asal saja memilih jam tangan kuning dengan untaian lampu neon sebagai tali. “Ini bagus loh! Lihat, sepertinya juga canggih!”

“Oh… kau mau yang itu? Seleramu aneh deh,” Jun Sang bertanya balik. “Ya sudah, biar kubelikan—”

“Eh, jangan!”

“Tapi kau bilang bagus…”

“Aku cuma tanya pendapatmu saja!” balas Ji Ryeon, “Tidak ingin beli!”

Malah Jun Sang yang sekarang jadi lupa diri. Ia masuk ke toko pakaian karena tergiur impian melihat Ji Ryeon memakai sundress putih setali dengan rompi berlengan puff di etalase, baju wajib untuk kencan musim panas mendatang. Keluar dari toko, mereka membawa dua kantong belanja, salah satunya berisi ballet flats berwarna sama. Jun Sang tidak pernah pelit, tapi juga terlalu boros.

“Jun Sang, kau suka dengar lagu kan? Music player seperti apa yang bagus?” Ji Ryeon menyeretnya lagi ke bagian elektronik.

“Milikku sama yang seperti ini,” Jun Sang menunjuk produk termahal yang diletakkan di tempat terbaik. “Tapi sudah tidak terpakai lagi sih. Kau juga suka mendengarkan musik?”

“Eh… ahahaha…”

“—Tolong bungkus yang ini.”

“—Untuk siapa?”

“Untukmu.”

“—Maaf, tidak jadi!” cegah Ji Ryeon pada pelayan di depan mereka. “Kenapa dari tadi mau membelikan terus?!”

“Kalau kau suka, ya tinggal bilang,” jawab Jun Sang bingung, “Akan kubelikan—”

“Sudahlah!”

“—Nampaknya di sana ada syuting,” Jun Sang mengalihkan pembicaraan, menunjuk kerumunan orang di sebelah eskalator. “Kau mau lihat? Mungkin drama kesukaanmu syuting di sini.”

“Tidak mau, ayo jalan!”

“Chae Ji Ryeon… kau kenapa?”

“Tidak apa-apa!” balasnya jengkel, “Kau betul-betul tidak mau barang?”

Jun Sang menggeleng.

“Ayo katakan saja… kau mau apa?”

“Aku tidak mau apapun,” katanya, “Untuk hadiah ulang tahunku ya? Hahaha! Ketahuan!”

“Dasar kegeeran…” Ji Ryeon mendegus, “Karena kau bilang tidak mau apapun, aku tidak jadi membelikan hadiah. Nanti, jangan menodongku ya!”

“Sebenarnya ada satu yang sangat kuinginkan—“

“—Apa? Apa? Apa?!”

Jun Sang cengengesan dan memandang Ji Ryeon dari atas sampai bawah. Mulanya Ji Ryeon tidak mengerti, tapi tatapan Jun Sang yang makin lama dan pupilnya yang seakan membesar membuat Ji Ryeon menggigil dan buru-buru menutupi tubuhnya dengan kedua tangan, “—Jangan macam-macam, tukang mikir jorok!”

“—Maksudku kau harus ada bersamaku!” jawab Jun Sang tersinggung. “Kau pikir aku orang mesum?! Justru otakmu perlu dicuci supaya tidak berpikir negatif. Haish…!

“Ya… ya sudah…”

“—Omo—aku lihat Hyun Bin—!”

Ji Ryeon buru-buru berbalik dan menginjit kakinya, bahkan sales girl di sana ikut-ikutan mendongak setelah mendegar suara Jun Sang. “…Itu kan… Seung Wan…?”

“…Apa?!” Jun Sang menyesal, harusnya ia tak mengatakan lelucon Hyun Bin tadi. “Ayo belanja. Aku sudah bosan, ayo pergi.”

Ji Ryeon melambaikan tangan kuat-kuat kala Seung Wan menyapanya dari jauh.

“—Cepat pergi, aku lapar.” Jun Sang menariknya.

“—Nuna! Tunggu!” Seung Wan berlari melewati kerumunan penonton. “Nuna…” wajahnya bersemu merah, namun Jun Sang membuat bunga-bunga di hatinya langsung rontok seperti kena badai.

“Kau nonton syuting ya?” tanya Ji Ryeon.

“Bukan,” balasnya berusaha cool, “Aku yang sedang syuting.”

“—Jeongmalyo?”

Ia mengangguk, “Untuk video musik debut. Tapi sedang istirahat.” Sulit baginya untuk tidak ikut nyengir, meski setelah insiden dengan Nam Hee ia bersumpah tidak akan mengindahkan atau terpukau pada Ji Ryeon lagi, tapi harus bagaimana? Mungkin pertemuan mereka yang hanya beberapa kali tidak cukup meyakinkannya kalau Ji Ryeon adalah orang baik, tapi ada satu sisi dari dirinya yang memastikan kalau kakak sangat tulus, dan ia tidak peduli kalau disebut munafik.

“Kalau kami mengganggu, kami pergi saja.”

“Tidak. Nuna tidak menggangguku… justru aku yang mengganggu kencan kalian.” Seung Wan melirik kantong belanja yang dipegang Jun Sang.

“Kami cuma ingin beli bahan makanan untuk makan malam. Sama sekali bukan kencan.”

“…Makan malam…?”

Ne.

“—Siapa yang bikin konsepnya? Kenapa harus syuting di tempat ini? Bikin rusuh.” Jun Sang tambah menghancurkan fantasi manis Seung Wan dengan kata-kata kasarnya. “Jadi susah jalan nih, kenapa tidak pilih tempat lain sih?”

“Karena diizinkan. Mall ini satu induk dengan agensiku.”

“Kalau aku, pasti sudah kusuruh syuting di Antartika—”

Seung Wan menahan emosi sampai rahangnya terkatup rapat. Motonya untuk tetap terlihat cool harus diterapkan di depan Jun Sang, tapi luntur kalau ada Ji Ryeon.

“—Nuna, setelah videonya selesai, aku akan debut di Music Bank.” Seung Wan mencueki Jun Sang. “Nuna harus datang ke sana, dan akan kubuktikan aku tidak kalah keren dari Jun Sang hyung.”


******


“Kau berlebihan. Tidak perlu sampai segitunya.” Ji Ryeon mengekor di belakang Jun Sang yang mendorong troli melewati rak sayur. “Jun Sang, kita perlu beli selada—tunggu aku!” ia mengejar sambil membawa barang-barang yang memenuhi kedua tangannya.

Jun Sang tak mau menggubris. Ia sudah cukup marah Ji Ryeon menjadikannya si nomor dua kalau ada Seung Wan dan menyeretnya menjauh dari lokasi syuting. Terpaksa Ji Ryeon mengeluarkan jurus andalan: memanggil dengan nada manja, yang dalam 90 persen kasus sukses bikin Jun Sang mengalah.

“…Jun Sang-ah…” bisiknya memelas, tapi gagal. Jun Sang berjalan seperti robot balap menghindarinya, wajahnya saja sekarang mirip penjaga neraka…

“Jun Sang… kau tidak percaya padaku, ya? Kami cuma ngobrol sebentar saja kok. Kau lihat sendiri kan?”

“Tentu saja kau sangat keren!” Jun Sang mengulang apa yang diucapkan Ji Ryeon sebelumnya kepada Seung Wan dengan gaya wanita dan seluruh bibir yang miring ke kiri-kanan-atas-bawah, “Aku pasti akan menontonmu dan jadi penggemar setiamu! Hihihi! Senang ya…”

“Tadi aku tidak tertawa kegirangan seperti itu!” ralat Ji Ryeon. “… Aku kan cuma memujinya.”

“—Kalau begitu sukanya pada idol, aku juga bisa jadi penyanyi!” balasnya emosi, memasukkan pasta gochujang ke dalam troli dengan tenaga berlebih. “Kalau aku debut, aku sudah merajai berbagai peringkat musik, tahu! Big Bang, Hyun Bin, 2PM semua lewat!”

Ji Ryeon menyodok pinggangnya dengan mentimun. “Kau cemburu ya? Hehehehe…”

“Maaf saja, levelku beda.” dia mengambil saus tomat dan mayonnaise dari rak dan melemparnya lagi ke troli.

“Aku menyukainya tidak seperti aku suka padamu kok. Bagiku, kau masih yang paling keren di dunia, Jun Sang…” penjelasan Ji Ryeon yang bodoh dan polos membuat telinga Jun Sang memerah. Biasanya Ji Ryeon malu memujinya terang-terangan, “Tapi Seung Wan itu sangat manis kan? Rasanya ingin terus melindunginya!”

“Melindungi diri sendiri saja tidak bisa. Dia sudah besar, tidak perlu dilindungi.”

“…Aku cuma ingin punya adik…”

“Kau kan sudah punya Nam Hee!”

“Bayangan adik dalam kepalaku tidak cocok dengan imej Nam Hee…”

Jun Sang mengacuhkannya selama mengelilingi department store, ia berpikir dengan begini Ji Ryeon tidak akan mengungkit-ungkit masalah adik dan Seung Wan lagi, dan akan memaksanya ke bagian makanan beku untuk beli es krim. Tetapi Ji Ryeon tidak memanggilnya sekalipun, ia cemas melihat wajah Ji Ryeon tertunduk terus dan atmosfir di antara mereka berubah dingin. “Baiklah, baiklah!” serunya, “K—kau boleh menganggap Seung Wan adikmu, tapi hanya sebagai “adik”, ngerti?!”

Ji Ryeon mengangguk patuh.  “Hehehehehe…”

“Jangan coba menyelingkuhiku. Kalau kau berbuat begitu, kau tidak akan bisa tenang selamanya.”

“Arasseo …!”

“Tapi, ada satu syarat.”

Ji Ryeon menaikkan alis matanya.

“Kalau berduaan, kau harus memanggilku ‘jagiya’ dan harus memberi ciuman waktu pagi dan sebelum tidur—”

MICHYEOSSEO?!”

“Untuk memperkuat hubungan kita, aku membuat peraturan ini,” ia berpura-pura batuk untuk menjelaskan suaranya. “Karena kita sudah tinggal serumah, jadi tidak perlu malu lagi. Sudah banyak pasangan yang bahkan melangkah lebih maju, jadi aku mau ke depannya kita bisa lebih mengakrabkan—”

“Aku beli es krim saja deh.” Ji Ryeon ngeloyor pergi tanpa mendengar kelanjutannya. Malu kan kalau harus mengikuti apa yang diinginkan Jun Sang walaupun kadang dalam otaknya juga terlintas aktivitas suami-istri yang bikin pusing kepala.

Jagiya…” Jun Sang berbisik padanya di dekat freezer.

“Berhenti memanggilku ‘jagiya’.”

Puppy…”

“—MWO?!” Ji Ryeon shock berat, kotak es krim coklatnya kembali jatuh ke dalam freezer.

Puppy…” ulang Jun Sang nyengir, “Mulai sekarang kau kupanggil Puppy… ya? Puppy yang manis…”

“—Kenapa harus aku?!”

“Jangan membantah, Puppy-ku…”

“Itu sebutan paling norak yang pernah kudengar—aku tidak mau dipanggil begitu!”

Puppy… ke sini sayang… hahahaha!”

“Byunttae!”

“Puppy…”

“Tidak mau dengar!” Ji Ryeon menutup telinganya sambil berlari.

“…Puppy…! Ahahaha! Hahahaha!”


******


“…Kalau aku mati… apa kalian akan melimpahkannya pada anakku?”


Sepenggal kalimat yang diucapkan Eun Yeong di hari terakhir mereka bertemu akhir-akhir ini membuat Ri Na tak tenang. Musim gugur sebelum Eun Yeong meninggal, ia pernah sekali mengunjunginya ke rumah sakit, dan mendengar permohonan yang masih belum bisa dikabulkannya sampai saat ini.

“Maaf, Kakak…”

Rambutnya sudah tipis dan berantakan. Bibirnya tidak lagi merona, kulitnya kering dan tubuhnya sangat kurus. Eun Yeong bukan lagi model cantik dan berani yang pernah bekerja untuk Freyja. Bukan aktris yang paling dibenci karena koneksi yang memudahkannya melebarkan karir, bukan lagi putri pemilik perusahaan kosmetik yang sedang naik daun.

Eun Yeong menoleh, tiap gerakan yang dibuatnya terasa berat meski hanya untuk tersenyum, yang dulu sangat mudah diumbarnya ke semua orang, “Maaf…”

“Jangan terus meminta maaf.”

“…Habisnya… tidak ada hal lain yang bisa kulakukan… aku tidak sekuat dulu… tidak punya apapun. Aku tidak akan berhenti sampai oppa mau memaafkan aku. Kalau aku mati—”

“Kau tidak akan pergi secepat itu!” balas Ri Na, “Sakitmu nanti juga akan sembuh! Dan Ji Ryeon masih membutuhkan ibu, kau tega meninggalkan dia?!”

“…Kalau aku mati… apa kalian akan melimpahkannya pada anakku?”

Airmatanya mengalir untuk anaknya, yang lahir karena keterpaksaan dan pernah ia besarkan setengah hati. Meski sering terlintas dalam pikiran untuk melenyapkan Ji Ryeon dari muka bumi, namun usahanya selalu gagal karena tak tega. Ia mengutuk diri, mencaci begitu kejam kelakuannya sebagai ibu yang berniat menusuk anak sendiri dari belakang. Ji Ryeon pantas mendapat ibu lain yang lebih baik, bukan wanita murahan sepertinya.

“Eun Yeong-ah… tidak akan. Itu tidak akan terjadi!”

“…Tolong… jangan membenci putriku… Aku akan menebus nyawa yang sudah kuambil dengan milikku, tapi kalian harus membiarkan putriku hidup dengan tenang. Eonni, aku rela masuk neraka, tapi Ji Ryeon tidak bersalah.” Eun Yeong memelas pada Ri Na, “Kumohon… waktuku hampir habis…”

“Kau tidak perlu bertindak sejauh ini—apa kau sedang menyiksa diri?!” Ri Na berteriak kesal, “Dia tidak mau kau hidup begini! Kau mau membuang kesempatan yang diberikannya?! Ji Seok juga tidak akan kembali menyukaimu kalau kau begini!”

“Aku tidak sanggup lagi. Pilihan yang diberikan untukku sangat berat. Kalau matipun tetap tidak bisa bertemu dengannya, mungkin memang tidak ada surga untukku.”



“Tidak ada surga untukku…”



Itu hari terakhir mereka bertatap muka. Beberapa hari berikutnya Ri Na tak bisa melacak keberadaan Eun Yeong. Ri Na juga mendengar dari pelayan di rumah kalau putranya mendadak lesu dan sering marah-marah sejak Ji Ryeon menghilang. Dua tahun lalu Jun Sang pula yang gaduh mengadu padanya mengenai kematian Eun Yeong. Ia meninggal karena kompilasi yang dideritanya selama hampir 10 tahun. Tapi Ri Na yakin, kematiannya secara tak langsung lebih dikarenakan depresi dan keinginan bunuh diri yang terus terpendam.

“Anak itu sudah tinggal bersama keluarganya, kau tidak perlu khawatir,” ucap Ga In seusai Ri Na berziarah ke makam Eun Yeong.

“Tapi Eun Yeong tidak mau Ji Ryeon tinggal dengan mereka, aku takut mereka membuat Ji Ryeon tersiksa,” bantah Ri Na. “Lebih baik dia tinggal denganku.”

“Aku justru lebih mencemaskan keluargamu. Kalianlah yang paling berbahaya.”

Ri Na tak bisa membela diri.

“Ji Ryeon tidak tahu ibunya menderita depresi, sebaiknya kau tidak pernah bercerita apapun. Dan jangan pernah buka mulut soal orangtuanya, dia sama sekali tak tahu identitas Jong Hae.”

“Aku mengerti.”

Ri Na merenungkan lagi memori selama 20 tahun itu dalam kepalanya. Lelah. Meski hanya bertindak sebagai saksi atas apa yang terjadi di antara tiga keluarga—dan ia tak punya urusan dengan mereka, tapi kejadian-kejadian yang sangat mengerikan dan tragis membuatnya merasa kasihan. Kasihan pada orang-orang yang harus terenggut nyawanya, kasihan pada mertuanya yang berkabung dalam duka, dan pada suaminya…

Ri Na keluar dari ruang kerjanya, berniat ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Bunyi mesin mobil di halaman depan membuatnya menoleh ke jendela. Ia melihat dua orang pegawai keluarga Yoon turun dari sedan hitam itu, membukakan pintu belakang.

Ri Na tidak menyuruhnya datang ke rumah, dan dia bukan orang yang mau pulang walau sudah dipaksa, tetapi Jun Sang kembali ke rumah. Sendirian.

Today’s Song:
Lifehouse – You and Me

Selesai juga!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Senang sekali bisa update ffku hari ini, maaf buat yg udah nungguin >.< Silahkan dinikmati, kalau ada yg mau nanya, aku akan menjawabnya dengan senang hati🙂

Photo credit: betyzuzukid@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on June 26, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 18 Comments.

  1. ya ampun unni! unni bisa bikin q mati penasaran kalo kayak gini terus! jelaskan semuanya yang terjadi agar lebih jelas! *sinetron mode:on* hahaha! tp beneran lho unni, q jadi penasaran bgt, sebenerny eunyoung kenapa siiihh… ayo lajoot lanjoot!!

  2. one of my favorite song >.<
    wahh..akhirnya nyampe juga [?] bru ngerti *nganguk²*
    bagian favorite pas junsang manggil jiryeon puppy XDD *lgi bayangin* lol
    -.-''

    Figthing Zuyu!!!

  3. Omooo.. penasaran.. !
    Jun Saaannggg.. Saranghae.. :p
    hahaha..
    Lanjuuutannya kapan Chingu ?

  4. @mj berszz dan kimsyun part selanjutnya akan aku kasi tau🙂, mungkin 2 minggu k depan (kalo jadi sp, kalo libur, bakal lebih cepet) doakan ya!

    @chika hihihi jgn2 kamu doyan kalo dipanggil puppy😀

  5. 🙂 semangat ya zuyu.. Aku slalu mendukungmu😀

  6. Akhirnyaaa:) ehehe itu junsangnya knp pulang sendirian ya? Uuu jd penasaraaan. Hehe jgn lama2 ya sist lanjutannya. Fighting fighting:D hehe

  7. hmm… pasti jun sang dipakasa dgn diancam ttg ji ryeon deh… *ditoyo zuyu lantaran sotoy*

  8. “..anak itu kalau tidak dipaksa bisa-bisa bakal jadi preman sejati…” ucap Ri Na –> ngakak! sumpah ya, klo si Ri Na ngomongin junsang ato lagi ngomong ama junsang selalu bikin ketawa. hubungan ibu-anak yang aneh. hahahah..

    zuyyyyyuuuu, ayoo update lagi, keburu penasaran nih..

    eniwei, ituuu intronya lagu fave aku! yuhuuu, seneng jadinya

  9. eonni, i still waiting neh wat lnjutan’y…

    uwaaaaaa palli-ya..

    cant wait anymore, nmbh pnsraaan..

  10. pasti di do’ain !! ^^
    ehe..puppy itu apa ?

  11. makin penasarannn , ditunggu lanjutannya …..aza aza fighting

  12. baru sadar kalo sifat ri na mirip sama sifat ibunya seung-jo di playful kiss

    ————————————
    “Jagiya…” Jun Sang berbisik padanya di dekat freezer.

    “Berhenti memanggilku ‘jagiya’.”

    “Puppy…”

    “—MWO?!” Ji Ryeon shock berat, kotak es krim coklatnya kembali jatuh ke dalam freezer.

    “Puppy…” ulang Jun Sang nyengir, “Mulai sekarang kau kupanggil Puppy… ya? Puppy yang manis…”

    “—Kenapa harus aku?!”

    “Jangan membantah, Puppy-ku…”

    “Itu sebutan paling norak yang pernah kudengar—aku tidak mau dipanggil begitu!”

    “Puppy… ke sini sayang… hahahaha!”

    “Byunttae!”

    “Puppy…”

    “Tidak mau dengar!” Ji Ryeon menutup telinganya sambil berlari.

    “…Puppy…! Ahahaha! Hahahaha!”
    ———————————————
    di sini serasa jadi ji ryeon
    ouh… puppy ^,^

  13. chingu.. aku dengan sabarnya menunggu .. tiap hari buka HC . menanti2 LOVE part 32 ^^

    • hahaha senangnya kalau kamu suka ^^ ini lagi bikin nih, kadang semangat bgt tapi lebih sering author’s block melulu T_T

      • hwaiting Authorr…
        semangat
        semangat..
        harus seleseee..
        jgn brenti dijalan
        do’aku menyertaimuu.. ^_^

        klo lg block… aku ada saran.. coba dengerin lagu nya michael jackson yg heal the world.. trus bayangin anak2 jalanan yg kasiaaan bgt.. meski ada bakat.. tpi g bisa tersalurkan dgn baik..krn g ada fasilitas.. naahh author yg bakatnya nulis apalagi dah ada komputer.. ada ortu yg baik..keluarga yg berkecukupan,#PLAKsokTahu*.. tpi kok Block ?? ayolahh.. dilanjutkan yah thorr

  14. Miaann zuyy,,
    Baru baca :p
    Puppy lucunyaaaa….
    Huehhh…
    G sabar pengen tau gimana critanya paz jiryeon make dress yg dibeliin junsaaanggggg… ><

  15. hehehe..bacanya ketawa sendiri..nie Jun Sang gak ada malu2nya kalo deket Ji Ryeon..kaya anak kecil mengingat dulu dia benci sangat ama tu cewek..hehehe ayo zuyu buat mereka brdua berantem..biar cepet muncul adegan slap and kiss-nya..hahaha

    Eh tu scene terakhir buat penasaran Junsang datang ke rumah ibunya sendirian..ada apakah gerangan?? makin penasaran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: