Kenapa Wanita Korea Tak Bisa Menemukan Pria yang Tepat

Image and video hosting by TinyPic

Nona Ahn berusia 33 tahun, menarik dan punya pekerjaan di daerah Gwanghamun, pusat kota Seoul. Dia mendapat gelar sarjana dari universitas swasta terkemuka.

Ahn ingin menemukan lelaki yang pantas, namun ‘perburuan’ tidak berjalan baik.

“Tiap kali bertemu teman, aku meminta mereka menjodohkanku dengan seseorang,” ujarnya. “Dan tiap kali pula, mereka menghela dan berkata, ‘Tak ada orang yang cukup pantas’.”

Ahn tidak sendiri. Untuk wanita Korea yang berpendidikan tinggi di akhir usia 20-an, tak cukup banyak pria yang bisa mengimbangi.

Ini bukan sekedar isapan jempol belaka. Faktanya didukung ileh statistik. Di Korea, wanita biasanya menikah di akhir usia 20-an dan lebih suka pria yang beberapa tahun lebih tua. Usia menkah rata-rata untuk wanita adalah 28.9, dan untuk pria adalah 31.8 menurut statistik Korea.

Yang kedua, seperti wanita di kebanyakan negara lain, orang Korea mencari pria yang memiliki tingkat pendidikan yang sama, atau lebih baik. Menurut data dari sensus Korea tahun 2010, ada 820,029 wanita lajang berusia 29 tahun ke atas dengan gelas sarjana. Namun jumlah pria lajang berusia 32 ke atas dengan tingkat pendidikan yang sama hanya ada 715,564. Ada gap lebih dari 100,000.

Dan sebelum menyimpulkan bahwa pria Korea umumnya berbahagia, pikirkan yang satu ini: ada 881,665 pria lajang berusia 32 ke atas yang memiliki ijazah SMA tapi tak ada gelar sarjana.

Jumlah wanita single yang baru lulus SMA hanya 472,370 – selisih 409,295.

“Ini berarti lebih dari 500,000 wanita dan pria akan sulit menemukan teman kencan karena wanita biasanya lebih suka latar belakang pendidikan yang sama atau lebih tinggi,” kata Jun Kwang Hee, professor sosiologi di Universitas Nasional Chungnam.

Geografi dan industri memainkan peran tersendiri dalam ketidakcocokan pernikahan masyarakat Korea. Menurut statistik, lebih banyak wanita single di usia layak menikah bermukim di area Seoul, sementara pria ada di daerah pinggiran tempat pabrik banyak dibuka.

Pada 1 November tahun lalu, ada 417,254 wanita single berusia lebih dari 29 tahun hidup di Seoul, dan 22,700 pria yang berusia di atas 32 tahun. Ada 78,918 lebih wanita berusia di atas 29 tahun dengan gelar sarjana tinggal di Seoul daripada pria yang berusia 32 tahun ke atas dengan pendidikan yang sama. Di tiga distrik bagian selatan Sungai Han – Gangnam, Seocho dan Songpa – ada 11,415 wanita yang beru menyelesaikan sekolah dan hanya 5,313 pria di tingkat yang sama.

Para pria lebih banyak tinggal di bagian selatan, tempat kerja mereka. Di Ansan, Gyeonggi, rumahnya Banwol Industrial Complex, ada 26,069 pria bujang sementara jumlah wanita lajang ada 15,160. Di Geoje, Gyeongsang, tempat pabrik Daewoo Shipbuilding dan Marine Engineering, ada 7,648 pria lajang, dan hanya 3,165 wanita lajang. Pekerja di pabrik elektronik, baja, dan perkapalan umumnya laki-laki, dan banyak dari mereka yang masih sendiri. 71% pegawai single yang bekerja di LG Display di Paju, Gyeonggi, adalah pria.

Di pabrik baja Dangjin (Chungcheong Selatan), 96% dari 1,030 pegawai lajang adalah pria.

Perusahaan besar mengatakan pekerja yang belum menikah biasanya tidak memiliki motivasi dan lebih rentan terhadap perubahan pekerjaan. Beberapa perusahaan bahkan mencoba membantu pekerjanya untuk menikah.

Kantor LG Display di Paju dan Gumi, Gyeongsang Utara, menyewa perusahaan konsultasi pernikahan dan mengadakan kencan buta masal tiap musim gugur. Menurut mereka, acara ini dimulai sejak tahun 2009 tergantung permintaan pegawai. Pertama kalinya, perusahaan meminta 200 sukarela: 1,000 pria yang datang.

Bahkan pria dengan gelar sarjana pun ternyata sulit berkencan. Mereka tak menemukan pacar selama kuliah karena ada berkuliah di jurusan teknik yang didominasi pria.

“Kami tak menyadari statistik secara tepatnya karena belum pernah mensurvei pada orang lajang di negara kami,” kata salah satu pihak mengenai kebijakan tingkat kelahiran yang rendah di Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan. “Kami yakin pernikahan yang tertunda adalah masalah karena banyak perempuan yang menikah terlambat karena pekerjaan. Kami berfokus pada kebijakan yang akan menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga mereka.”

Source: JoongAng Daily via Hancinema

Posted on July 3, 2011, in KCulture, Korean Life, News and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: