[Fan Fiction] 사랑 – Love (Part 32)

So in love with you that is blinded even when eyes are shut
So happy that can’t hold it in
Even though there’s no word, I can understand as if I’ve heard everything
About this love of mine with you

Mobil berjalan setengah mengitari air mancur tiga tingkat, dan berhenti di depan undakan tangga baru teras. Jun Sang masuk melalui pintu utama, sampai ke lobi bundar dengan tangga spiral dobel mengarah ke lantai atas. Ia sudah beberapa kali dipanggil dan tiap kali berakhir tak baik. Mungkin malam ini akan terjadi hal yang sama.

“Ibu…”

Ri Na datang dari koridor sayap kiri, membubarkan bawahannya yang dari tadi mengekor cukup dengan mengibaskan tangan sekali saja. “Kenapa kau datang ke sini?”

“Kalau tidak boleh, aku bersedia pergi.” Jun Sang lebih nampak bersiap-siap kabur dari sana.

“Ayahmu menyuruh datang, kau harus temui dia.”

Jun Sang mengangguk, memalingkan muka ke vas Versace di tengah lobi sambil garuk-garuk leher. Ri Na amat jarang membelanya.

“Tapi dia belum pulang kerja,” tambahnya, dan sebelum mendengar ocehan Jun Sang yang nampak jelas kecewa, ia menambahkan, “Kau tunggu saja di kamar.”

“Oh… aku masih punya tempat di sini?”

“Dasar!” gertak Ri Na kesal.

Jun Sang terpaksa menurut. Ia melewati tangga dan koridor berjendela besar dihiasi tirai velvet keemasan dan guci di tiap sudut. Setelah melalui kamar kakek-neneknya dan beberapa kamar kosong, Jun Sang sampai di ruang tidur pribadi yang semenjak masuk SMA tidak ditempatinya lagi. Luas, bersih dan sangat rapi, pasti bukan ibunya yang membersihkan. Koleksi replika otomotif, CD dan kumpulan miniatur karakter game berjejer dalam lemari di samping TV flat, sofa kulit hitam di tengah, sementara ruang belajarnya punya kamar khusus yang hanya disekat oleh rak hias. Begitu pula dengan kamar mandi dan lemari pakaian yang bersembunyi di balik cermin raksasa sebagai kamuflase pintunya. Tidak seperti bagian lain dari rumah itu yang kental nuansa Eropa klasik, kamar Jun Sang adalah satu-satunya tempat bergaya minimalis.

Dari balkon yang menghadap ranjang, bisa terlihat pekarangan tengah yang luas dengan hamparan rumput yang dibentuk melingkar-lingkar. Kolam renang di seberang membuatnya otaknya berpikir keras apa Ji Ryeon mau dibelikan kolam karet untuk dua orang kalau mereka tidak jadi ke mana-mana musim panas ini, sebagai rencana cadangan. Mulutnya sedang memproduksi air liur secara berlebih…

Ia melompat ke tempat tidur, kemudian berbalik ke samping. Lagi, Ji Ryeon muncul dalam bayangannya, menatap langit-langit kemudian menoleh dengan tatapan menantang. Jun Sang balas mendekati, seperti malam-malam yang mereka lewati saat ia mulai menggoda dan melakukan lelucon bodoh sehingga Ji Ryeon ngambek dan memutuskan menarik selimut membungkus diri. Tetapi bayangan Ji Ryeon perlahan menghilang dan Jun Sang sadar kalau selama ini ia melamun.

Belum pernah sangat ingin pulang. Tidak, sampai Ji Ryeon bersamanya sepanjang waktu.


******


Agassi sudah lama tinggal di sini?”

“Ah… baru saja.”

“Baru berapa lama?”

“Ya? Eh… oh… kurang lebih 2 bulan… mungkin…”

Wanita itu mengaku bernama Song Min Jung, salah satu asisten keluarga Yoon. Ia datang bersama orang-orang yang membawa Jun Sang pergi. Barangkali masih berusia awal 30-an dengan penampilan seperti ini: rambutnya diikat ketat­—digulung ke belakang, memakai blazer zamrud dan kacamatanya bersinar seperti kilat di bawah lampu silinder ruang TV, ia duduk sopan namun matanya memandang seisi rumah tanpa sungkan pada Ji Ryeon dan tak pernah tersenyum meski Ji Ryeon sudah nyengir sampai bibirnya kaku.

“S—silahkan.” Ji Ryeon menawarkan minum yang dari tadi nangkring di atas meja dan belum tersentuh tamunya.

“Cara kalian pacaran?” Nona Song membetulkan kacamatanya yang agak melorot beberapa mili.

“Biasa-biasa saja.” Ji Ryeon setengah hati menjawab. Ia tidak mau membeberkan urusan pribadinya dan Jun Sang sempat mengatakan agar menghiraukan apapun yang dikatakannya, tapi wanita ini terus menekan mental dengan pandangannya yang seperti setan.

“Pernah melakukannya? Berapa kali dalam seminggu?”

“Kalau sibuk sih… tidak pergi kencan, tapi karena bertemu tiap hari—”

“Maksud saya bukan kencan, tapi ‘itu’.” Nona Song mencoba memperhalus kalimatnya, “Berapa kali?”

“Ha??”

“Siapa yang lebih mendominasi? Apa kalian menggunakan pengaman—?”

“A—anda salah paham!” tukas Ji Ryeon dengan muka semerah udang rebus, “Hubungan kami adalah hubungan yang sehat dan tidak mengatasnamakan ‘itu’! Kami saling menghargai keputusan masing-masing!”

“—Lalu bagaimana kalian menghidupi diri?”

Hei, aku sedang tidak melamar pekerjaan!

Ji Ryeon berusaha bersikap lebih tenang meski sudah mulai jengkel, “Kami sama-sama kerja sambilan.”

“Begitu ya…” ia mengangguk paham, matanya mengarah pada mug kembar pada rak piring di balik punggung Ji Ryeon, “Bisa kulihat…”

“…Sebetulnya… ada apa?”

“Saya hanya meriset taraf hidup anggota keluarga Yoon,” jawabnya.

“Be—begitu…?” seumur-umur belum pernah Ji Ryeon kenal orang yang kerjanya seperti ini.

“Yoon Jun Sang adalah anak tunggal,” kata Nona Song. “Orangtuanya berusaha keras mendapatkannya dengan berbagai cara. Pamannya juga tidak menikah dan tak memiliki keturunan. Anggota keluarga Yoon lain yang seumuran dengannya memang masih ada beberapa orang, tapi hanya dia keturunan langsung dari kakeknya dan dirasa rugi kalau harus memberikan kuasa pada cucu lain yang bukan berasal dari anak kandungnya.”

Perkataan Nona Song membelit lehernya seperti ular melilit mangsa. Ia tak bisa bernafas dan pusing seperti habis dihantam gada di kepala, namun Ji Ryeon bisa menangkap apa maksud dari isi kalimatnya yang panjang.

“Singkat kata, Yoon Jun Sang adalah satu-satunya harapan mereka,” tambahnya, “Saya berusaha mengatakannya sehalus mungkin, semoga Nona bisa memahaminya.”

“…Maksud Anda, saya tidak diharapkan ya?”

Nona Song diam memperhatikan senyum getir Ji Ryeon.

“Kenapa saya tidak disukai?”

“Itu bukan hak saya untuk menjawabnya.”

“Apa ada cara untuk mengubahnya?”

“Tidak ada.”

Ji Ryeon tertegun, rasa-rasanya airmatanya akan mengalir tetapi tak ada setetes pun yang keluar. Kalau begitu, apa yang dikatakan Jun Sang ada benarnya? Dan sehabis fashion show itu, bukan karena ayahnya capek, tapi karena dirinya. Selama ini ia tak mau jujur dan hanya cari pembenaran untuk menceriakan suasana hati, tidak menganggap serius saran Jun Sang mengenai kabur dan sembunyi kalau bertemu lain waktu…

Suasana makin tak enak setelah Nona Song tidak berkata apa-apa dan masih menatap-natap dari balik kacamatanya. Untunglah bell berbunyi. Ji Ryeon permisi untuk membuka pintu, berharap Jun Sang pulang dan menolongnya dari Nona Song. Ia melihat layar interphone dan bukan Jun Sang yang datang, melainkan teman-teman dekat Jun Sang—Dong Il, Hee Rahm, dan Hae Im.

“Chingudeul!” Ji Ryeon membuka pintu, belum pernah merasa sangat tertolong dengan kehadiran mereka.

Dong Il malah heran melihat Ji Ryeon di depan matanya, “Lho… Ji Ryeon kenapa kau malam-malam ada di sini?”

“Eh…”

Aigoo kalian kencan ya!” cicit Hee Rahm, “Si Jun Sang berani juga bawa cewek ke rumah!”

“Kau berniat nginap di sini? Mana Jun Sang?” sela Dong Il.

“D—dia sedang pergi…”

Dong Il dan yang lain masuk dan menemukan Nona Song, langsung tak enak dan berdiri saja di depan pintu sambil terus menenteng kantong plastik belanjaan.

“Silahkan, jangan sungkan terhadap saya.” Nona Song bangkit dari sofa dan berjalan ke pintu.

Ye… ye! Kami tidak apa-apa, ayo kita masuk!”

“Eh… keurae kami sudah di dalam,” bisik Dong Il memberi jalan pada Nona Song, “Ji Ryeon-ah, kami naik ke atas saja ya!” dan mereka pun kabur ke atap.

Agassi, saya undur diri.”

“Oh… ya…” Ji Ryeon merasa bersyukur. Ia mengantar Nona Song sampai ke depan pagar.

“Terima kasih kedatangannya.”

“Tidak. Justru saya yang berterima kasih karena membuat Anda menahan ketidaknyamanan.”

Ji Ryeon tahu ia sedang disindir.

“Saya dengar, Jang Ri Na-ssi memihak Anda,” ujarnya. “Beliau punya pemikiran yang berbeda dari suaminya. Paling tidak Anda sedikit dipermudah. Annyeonghi gyeseyo.”

“Annyeonghi gaseyo.”

Nona Song masuk ke mobilnya dan pergi. Ji Ryeon menyusul teman-temannya di atap, yang ternyata sedang menyiapkan pesta barbeque. Sekali lagi, ia bersyukur karena tak perlu membuat makan malam. Moodnya sedang buruk, dan hanya ingin santai melihat yang lain masak.

“Itu Song Min Jung kan?” kata Dong Il seraya memotong daging. Sementara itu Hee Rahm sedang memanaskan pemanggang dan Hae Im mengiris sayuran.

Ji Ryeon berhenti memereteli paprika, “Kau tahu?”

“Yah… sedikit,” katanya pura-pura rendah hati, “Dia pernah mengurus kasus-kasus kenalakan kami waktu SMP. Termasuk orang kepercayaan keluarga mereka, tapi lebih memihak pada ayah Jun Sang. Oh ya, walau menikah, orangtua Jun Sang punya kubu masing-masing yang berasal dari keluarga asal.”

Jinjja? Tak masuk akal!”

“Keluarga mereka memang tak masuk akal,” jelas Dong Il dari samping mereka, “Kediaman Yoon termasuk salah satu dari ketidak-masuk-akalan. Aku pernah hampir nyasar waktu berkeliling rumah mereka.”

“Ei… mana mungkin rumah bisa bikin kesasar!”

“Kau tidak pernah ke sana?” tanya Dong Il dan bergumam lagi sewaktu Ji Ryeon menggeleng, “Aneh. Kalian kan teman dekat dari dulu…”

Masalahnya bukan pada Jun Sang, ibunya yang melarang Ji Ryeon datang ke sana sekalipun.

“Di sana kau akan merasa tidak di Korea. Halamannya sangat luas dan dikelilingi hutan, dan ada danau buatan juga. Kalau ke sana waktu musim semi, kau bisa menghirup wangi bunga dari dalam kamar di lantai dua.”

“Harga tanah di Seoul sangat mahal!”

“Bukan di pusat Seoul kok, rumahnya ada di pinggir kota. Masih banyak lahan kosong dan hampir semua dimiliki keluarga mereka. Penduduknya juga tak begitu padat dan kebanyakan memang bekerja untuk keluarga mereka.”

Yang ia tahu, Jun Sang kecil mengangung-agungkan kalau dirinya bos di rumah. Ji Ryeon pikir ia hanya ingin mengangkat derajatnya lebih tinggi dari Ji Ryeon …

“Dong Il-ah… kau tahu sesuatu tentang keluarganya…?” tanya Ji Ryeon.

“Tak banyak,” balasnya, “Pengetahuan umum sih, mereka punya Daeyoon Group yang mendominasi industri tambang, minyak, hotel, asuransi—ah! Agensi Seung Wan juga masuk dalam unit bisnis mereka lho!”

“Oh… aku pernah dengar,” kata Ji Ryeon, “Bagaimana dengan ayahnya? Orangnya baik tidak?”

“Tidak pernah ketemu. Dia orang sibuk. Tapi Jun Sang kadang cerita dia dimarahi ayahnya.”

“…Lalu…?” Ji Ryeon mencoba memancingnya.

“Ayahnya menggantikan kakeknya menjadi pimpinan di Daeyoon 15 tahun lalu, sekarang semuanya dipegang ayah Jun Sang. Kecuali agensi, diambil alih wakil pimpinan yang menjabat waktu paman Jun Sang masih hidup.”

“Pamannya sudah meninggal? Kenapa?”

“Kecelakaan. Begitu yang diketahui kebanyakan orang. Tapi sisanya yakin kalau ini tak sekedar kecelakaan biasa.”

“Jinjja?”

Dong Il mengangguk dan berbisik untuk menghindari dicuri dengar oleh teman-teman yang lain “Ini rahasia lho, jangan katakan pada siapapun. Ayahku bilang, kematian pamannya ada hubungan dengan orang pemerintahan.”

“Apa?!”

“Kabarnya sih dibunuh, tapi ditutup-tutupi untuk melindungi banyak nama. Semua yang menjadi saksi diberi uang sogok yang sangat besar. Sebetulnya, ayahku juga kecipratan. Uehehehe!”

“Sampai segitunya? Tidak ada polisi yang mengurus?”

Dong Il tertawa, “Polisi saja tunduk pada mereka. Makin tinggi posisi, makin berat ujiannya,” tukas Dong Il sok bijak, “Aku sih tidak pernah bertanya langsung karena ini masalah sensitif. Mungkin Jun Sang tahu, mungkin juga tidak. Sudah jam berapa sekarang? Astaga! Aku lupa menelpon Han Na!”

Dong Il mengambil ponsel dan menelpon, “Oh… Han Na-ya,” panggilnya sambil cengengesan, “Ayo cepat ke rumah Jun Sang. Putri kita sudah besar lho!”

Ji Ryeon dapat mendengar jelas jawaban Han Na dari seberang, “APA MAKSUDMU ‘PUTRI KITA’?! KAU CARI MATI?!”

Today’s Song:
4Men ft. Navi – Baby You

Maaf ya buat yg menunggu lama apalagi setelah baca part 32 terasa hambar dan kesannya tarik ulur>.< aku sempet mikir part ini bisa cepet jalannya, tp ternyata harus ada beberapa bagian yang harus  dijelaskan (_ _) dan tetep aja ga kuat bikinnya..

Photo credit: betyzuzukid@deviantart
FF: Alois ★ あずゆ@hallyucafe

Posted on July 11, 2011, in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Yu, bagian Jun sang sama Ji Ryeon nya kok gak dipisah? agak bingung awalnya..

    ayoo fighting! jangan kelamaan lagi🙂

  2. AHUAHAHAHAHAHAAA… tiga paragraf terakhir bikin ngakak.. aduh dong il.. dong il! beneran my 2nd fave male character deh! itu maksudnya putrinya si jiryeon yak? ahuahahha.. gak sabar nunggu lanjutannya!

    eniwei, rumahnya junsaaaaaaaannnggg, kayaknya megah banget! gimana ngepelnya yak? aheuehhehe… onn, kenapa gambar rumahnya gak dimasukin juga? hhehehe, kan lumayan bisa bayangin ^^

  3. hahahaha XDD dong il dong il…ckckck
    mantaphhh!!!!!! keren keren…
    mkin cinta ma dong il [?] eh, jonghun (lho?)
    hheehe

  4. @opathebat kerasa aneh ya? iya deh aku pisah😀
    @purplee n chibaejong makasih banyakkk (_ _)

  5. Pengen baca fan fiction ini, tapi udah ketinggalan jauh bangat…seru kayaknya.

  6. akhirnyaaa.. ^^
    ckckck.kayaknya tu rumah jun sang lebih gede dari punyanya jun pyo !
    makin penasaran ma ni FF ! lanjut author !
    hwaiting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: